<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830</id><updated>2012-01-26T01:52:38.832-08:00</updated><category term='PEMIKIRAN KEAGAMAAN'/><category term='PENGEMBANGAN DIRI'/><title type='text'>PADEPOKAN PENGGING</title><subtitle type='html'>Oase Spiritualitas Islam-Jawa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>110</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-5127967867422050964</id><published>2012-01-18T05:23:00.000-08:00</published><updated>2012-01-18T05:25:50.612-08:00</updated><title type='text'>PERJALANAN MENEMUKAN JATIDIRI (BAGIAN III)</title><content type='html'>DARI CANDI GEDONG SONGO, MENUJU JUMPRIT LALU GUNUNG TIDAR&lt;br /&gt;Diskusi dengan Kang Sabdalangit di penghujung tahun 2011, membekali saya dengan sebuah tekad dan kesadaran untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di tahun 2012, pada semua aspeknya.  Dilandasi tekad dan kesadaran ini, tepat pada tanggal 1 Januari 2012, saya melanjutkan perjalanan dengan tujuan Candi Gedong Songo.  Untuk perjalanan ini, saya sudah membuat janji dengan sahabat Facebook, Mas Bayu Budi yang tinggal di Semarang.  Saya dijemput Mas Bayu di Terminal Ambarawa, dan dari sana, dengan menggunakan kendaraan Mas Bayu, saya diantar ke Candi Gedong Songo melalui kawasan Bandungan.  Puji Syukur kepada Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, keberadaan dan kesediaan Mas Bayu Budi untuk mengantar, sangat memudahkan saya untuk mencapai Candi Gedong Songo.  Tampaknya cukup sulit untuk mencapai candi ini menggunakan kendaraan umum, apalagi saat hari mulai sore, dan dalam kondisi hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Mas Bayu Budi sampai di Candi Gedong Songo ketika hujan mulai turun.  Setelah membayar tiket masuk, kami berjalan meniti jalanan berbatu yang berliku.  Saat hujan mulai deras, kami putuskan mampir ke warung dulu, menikmati wedang jahe sambil menunggu hujan reda.  Di kompleks Candi Gedong Songo ada tujuh lokasi candi.  Kami coba cari yang relatif sepi dan nyaman untuk bermeditasi; saat itu memang banyak pengunjung karena bertepatan dengan hari libur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hujan mulai mereda, kami lanjutkan perjalanan, hingga mata ini tertambat pada Candi Keempat, di lokasi agak tinggi.  Kami menuju ke situ, dan bermeditasi di situ.  Setelah menyelami dunia hening selama beberapa saat, kami keluar dari dalam candi.  Saat itu, saya mendapatkan dorongan dari dalam hati untuk menemukan lokasi meditasi lainnya di alam terbuka.  Maka, saya ajak Mas Bayu Budi untuk kembali berjalan.  Dan kaki saya seolah dituntun, untuk memasuki kawasan dengan pepohonan dan perdu yang lumayan lebat, menyisakan sebuah jalan setapak untuk dilewati. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rupanya, memang sudah jodohnya saya untuk ketemu sebuah tempat meditasi yang cukup istimewa: PATUNG ANOMAN.  Dalam legenda yang terkait dengan Gunung Ungaran, memang dinyatakan bahwa di Gunung Ungaran yang pada kakinya Candi Gedong Songo berada, Anoman “memenjarakan” Rahwana.  Maka, saya dan Mas Bayu Budipun kembali meditasi, tepat di sisi patung Anoman tersebut.  Dan sejauh saya rasakan, lalu saya konfirmasi kepada Mas Bayu Budi, meditasi di tempat ini lebih “hening”, dengan sensasi energi yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai bermeditasi di dekat Patung Anoman, hujan turun dengan lebat, sehingga kami memutuskan untuk berlindung sebelum melanjutkan perjalanan.  Cukup lama kami menunggu.  Karena tak tak kunjung reda, kami putuskan untuk berjalan, pulang, menuju kendaraan di tempat parker.  Ya, tentu saja, lumayan basah kuyup.  Tapi, memang demikianlah perjuangan yang harus dilakukan.  Proses untuk menunjukkan bakti kepada leluhur, kadang memang harus melalui kondisi yang berat.  Tapi, hasilnya pasti sepadan dengan pengorbanan yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari menjelang senja, sementara agenda saya berikutnya adalah ke Jumprit, Ngadirejo, Kabupaten Temanggung.  Untung saja Mas Bayu Budi berkenan mengantarkan saya sampai Ngadirejo, di mana di sana saya dijemput oleh Mas Turahman alias Mas Punjul, sederek di Paguyuban Cahya Buana.  Menembus hari yang mulai gelap dan hujan yang teramat deras, akhirnya saya dan Mas Bayu Budi sampai di Ngadirejo.  Kami ngaso di Warung Sate di depan pasar, dan tak lama kemudian Mas Turahman muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Bayu Budi memutuskan kembali ke Semarang, karena harus bersiap-siap ke Tuban untuk kembali berdinas.  Maka, saya menumpang sepeda motor Mas Turahman ke rumahnya, yang hanya berjarak 3 km dari Jumprit.  15 menit mengendarai sepeda motor, saya sampai di rumah Mas Turrahman.  Dan setelah beristirahat beberapa saat sambil menikmati wedang teh manis, saya diantar Mas Turrahman ke Jumprit.  Jumprit di malam hari, persis seperti dinyatakan Mas Wowo Tunggadewo yang memberi informasi awal, punya aura magis yang kuat.  Dikelilingi pohon-pohon besar dan tinggi menjulang, Jumprit yang berada di kaki Gunung Sindoro memang tempat yang menawan dan pas untuk bermeditasi.  Di situ, ada lokasi khusus untuk bermeditasi, dan ada sendang khusus untuk kungkum.  Saya dan Mas Turrahman memulai prosesi dengan meditasi beberapa waktu: menyambung rasa dan menyampaikan penghormatan kepada para leluhur khususnya yang mbahu rekso di Jumprit, lalu masuk menyelami diri menikmati hening.  Setelah itu, kami kungkum di sendang. Dan, luar biasa, airnya dingin sekali!  Saya kungkum hanya kuat beberapa menit, sambil menenggelamkan seluruh badan 3 kali, dengan niat agar energi negatif yang melekati diri bisa luruh, sebaliknya, energi positif bisa memancar makin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita dari Mas Turrahman, beberapa sederek dari Paguyuban Cahya Buana seperti Romo KRH. Sarwodadi dan Pak Darmawan Sugiyono, bisa tahan kungkum di Jumprit yang sangat dingin airnya itu berjam-jam.  Wah….saya harus mengakui ngelmu pengendalian raga saya masih kalah jauh..he, he.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari Jumprit, saya kembali ke rumah Mas Turrahman, menikmati keramahtamahan yang tulus dari Mas Turrahman sekeluarga.  Keesokan paginya saya melanjutkan perjalanan ke Magelang.  Dan tempat yang saya tuju adalah Gunung Tidar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari masih pagi dan sejuk ketika kaki saya menginjak Gunung Tidar.  Menyusuri tangga berlika-liku saya naik ke atas.  Sekarang jalan naik ke puncak Gunung Tidar memang sudah lumayan enak, karena jalannya tak lagi berupa tanah.  Di puncak Tidar, saya bermeditasi di 3 tempat: Petilasan Kyai Sepanjang, Petilasan Pangeran Puroboyo, dan Petilasan Eyang Semar.  Setelah selesai meditasi di tiga tempat itu, saya ngaso di sebuah gazebo.  Tiba-tiba muncul menyapa lelaki setengah baya berperawakan kecil.  Rupanya ia sesama peziarah Gunung Tidar, berasal dari Jombang, bernama Abdul Said akrab dipanggil Mbah Dul, dan baru saja selesai tirakat di Alas Purwo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beramah tamah beberapa saat, Mbah Dul memberi informasi tentang keberadaan satu petilasan lagi yang belum pernah saya kunjungi.  Dia mengajak saya untuk mencarinya, dan kebetulan di tengah jalan bertemu seorang ibu sepuh yang tengah mencari kayu kering.  Ibu itu memberi tahu lokasinya, lalu kamu menyusuri jalan sesuai arahannya.  Ndilalahnya kok ya ndak ketemu.  Saya putuskan untuk terus mencari, Mbah Dul kembali ke Poskonya di dekat Petilasan Syeikh Subakir.  Saya terus berjalan, ternyata petilasan dimaksud tak ditemukan.  Tapi, saya percaya pasti bisa ketemu.  Saya lalu berjalan berbalik arah, dan ketemu lagi dengan ibu sepuh yang tadi memberitahu arah.  Ternyata saya tadi keliru jalan.  Dan kali ini, tidak salah lagi, saya bertemu dengan sebuah petilasan yang belum saya kunjungi, dan menurut penuturan Ibu sepuh itu, itu adalah Petilasan Mbah Geseng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayapun mulai bermeditasi di situ, lalu tak lama kemudian, merasakan kehadiran aura energi yang dingin menyejukkan di hadapan saya.  Saya teruskan untuk hening dan berkomunikasi secara bathin.  Setelah puas, saya beranjak pergi.  Misi di Gunung Tidar sudah saya tuntaskan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sowan ke ayah saya di Magelang, dan berkunjung ke rumah Pak Adi Sri Kuning sederek dari Paguyuban Cahya Buana di Salatiga, saya pulang kembali ke Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN AKHIR&lt;br /&gt;Untuk mengungkap pesan secara utuh dari segenap perjalanan spiritual yang saya lakukan, saya masih membutuhkan bantuan dari sesepuh/guru dan sahabat saya di Cirebon, Pak Sri Sasongko dan Yudi Firmansyah.  Saya masih punya keterbatasan dalam bersentuhan dengan entitas supranatural; kekurangan saya tersebut untuk sementara ini ditutupi oleh keberadaan sesepuh/guru dan sahabat saya  itu, yang mengambil peran sebagai semacam “penerjemah alam ghaib”.  Biasanya saya dan sahabat saya sowan ke rumah sesepuh/guru saya, lalu mengalir bersama waktu, membiarkan semua rahasia mengungkapkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan apa yang saya alami dalam upaya mengungkap pesan-pesan dari dimensi lain bersama guru dan sahabat saya, bisa saya katakan sesuatu yang sebetulnya juga agak mengherankan saya pribadi: pertama, ruang dan waktu seperti terlipat – dalam bahasa lain, masa lalu, masa kini, dan masa depan seperti menjadi satu dan seluruh ruang seperti terhubung; kedua, nama-nama tokoh yang dalam pandangan masyarakat umum sering diasumsikan sebagai sekadar dongeng atau mitos, seperti tokoh wayang, ternyata hadir sebagai sesuatu yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang Jumprit misalnya, yang tertangkap di sana justru adalah keberadaan Begawan Abiyoso, dan beliau memberi sebuah pesan agar jika suatu saat nanti saya berkesempatan menjadi pejabat publik, maka saya harus bisa berlaku sebagai satria pinandhito.  Di Candi Gedong Songo, keberadaan Anoman, sosok kera putih sakti mandraguna yang membantu Rama dalam kisah Ramayana, juga nyata.  Secara visual bisa digambarkan bahwa Anoman adalah sosok manusia kera yang bertubuh besar dengan bulu putih.  Sebagaimana Anoman bisa ditemui, demikian pula Prabu Rama, yang salah satu tempat jumenengnya adalah Gunung Srandil, sementara mahkota beliau disimpan di Gunung Arjuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan sementara saya, tokoh-tokoh pewayangan sejatinya adalah para leluhur juga yang dulu pernah hidup di kawasan bernama Nusantara – mirip dengan kesimpulan dari rekan-rekan di Yayasan Turangga Seta, maupun pernyataan sesepuh seperti Sang Purbajati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, terkait dengan hal ini, kita perlu cerdas menangkap maknanya: saya tidak bermaksud mengajak Anda tenggelam dalam dunia yang susah dipahami tanpa kegunaan praktis.  Sebagai pejalan spiritual yang berorientasi memperkuat kemampuan diri agar makin berdaya dalam melaksanakan upaya hamemayu hayuning bawono, keberadaan figur-figur bathin tersebut memang diperlukan.  Jika beliau-beliau berkenan untuk mendampingi dan membantu kita, maka secara faktual, kita akan memiliki tambahan kebijaksanaan dan power/energi yang bisa menopang kiprah dan peran kita di dunia wadag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyatakan sebuah konsepsi yang saya pegang dalam menuju kesempurnaan hidup.  Saya mencoba mensinergikan kultivasi vertikal dan horizontal: di satu sisi saya coba terus menyelam ke dalam diri hingga bertemu sukma sejati saya; dan sisi lain, saya coba membangun harmoni, kolaborasi, kemitraan, dengan segenap titah urip di alam semesta baik yang bersifat wadag maupun halus.  Berdasarkan konsepsi ini, maka perjalanan spiritual saya ke berbagai tempat sakral, merupakan wahana bagi saya untuk “berkenalan”, “menyambung rasa”, atau “silaturrahmi” dengan para leluhur dan para titah urip yang mbahu rekso di tempat-tempat tersebut, di samping sebagai upaya untuk makin mengenali sejatinya diri.&lt;br /&gt;Dalam tataran bathin, mereka yang waskito memang bisa menyaksikan misalnya, di Gunung Ciremai jumeneng Ki Antaboga yang berbadan raksasa dan Naga Putih berukuran besar, yang bertugas mengelola tempat tersebut.  Maka, sebagai upaya membangun keterhubungan dan membuka kemungkinan kemitraan dengan beliau-beliau, saya sering meditasi khusus dengan lokus Gunung Ciremai.  Muara dari semua ini laku ini, adalah terbangunnya hubungan harmonis antara manusia tidak hanya dengan sesame manusia, tapi juga dengan alam semesta dan segenap titah urip yang ada di dalamnya.  Harmoni inilah yang menjadi dasar terciptanya kesetimbangan alam, dan kesetimbangan alam yang menjadi pangkal kesejahteraan dan kemakmuran umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian yang bisa saya sampaikan.  Mohon maaf atas segala kekurangan, termasuk jika ada yang keliru pada apa yang saya tulis.  Saya selalu berupaya mengembangkan kesadaran, bahwa jika sudah menyangkut fenomena spiritual/supranatural, kebenaran yang diungkapkan siapapun, pada dasarnya bersifat subyektif.  Karena itu, ia tak bisa dipaksakan untuk diterima siapapun; kita hanya bisa berbagi dengan harapan pihak lain mendapatkan inspirasi, tanpa tendensi untuk dibenarkan apalagi diikuti secara membabi buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahayu.  Rahayu.  Rahayu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-5127967867422050964?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/5127967867422050964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=5127967867422050964' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/5127967867422050964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/5127967867422050964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2012/01/perjalanan-menemukan-jatidiri-bagian.html' title='PERJALANAN MENEMUKAN JATIDIRI (BAGIAN III)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-2981490258218101888</id><published>2012-01-18T05:21:00.001-08:00</published><updated>2012-01-18T05:22:46.404-08:00</updated><title type='text'>PERJALANAN MENEMUKAN JATIDIRI (BAGIAN II)</title><content type='html'>NGANGSU KAWRUH DARI KANG SABDALANGIT&lt;br /&gt;Sore hari, usai dari agenda di Kota Gede, saya ke rumah Kang Sabdalangit dan Bu Untari, yang dalam beberapa tahun terakhir ini, menjadi salah satu tempat saya bertanya tentang ilmu kehidupan.  Rumah ini telah menjadi seperti rumah sendiri setiap saya ke Jogja..tentu saja karena Kang Sabdalangit dan Bu Untari, sebagaimana Mbah Gatho, memberikan sambutan dan keramahtamahan kelas 1….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu adalah hari terakhir di tahun 2011, tengah malam nanti tahun akan berganti menjadi 2012.  Dan saya bertekad, untuk mendapatkan sesuatu yang menguatkan bathin dan meneguhkan langkah saya ke depan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar diskusi tentang beberapa perkembangan keseharian, menjelang tengah malam, saya dan Kang Sabdalangit terlibat dalam diskusi serius seputar makna MENGENAL JATIDIRI.  Dan ijinkan saya membagi paparan Kang Sabdalangit tentang makna MENGENAL JATIDIRI.  Tentu saja, sebatas yang bisa saya tangkap, dan saya sajikan dengan bahasa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang mengenal jatidiri, adalah seseorang yang telah mengetahui tentang apa sejatinya manusia dan apa dimensi-dimensi dari seorang manusia, darimana asalnya dan kemana ia akan menuju, apa hubungan antara diri manusia dengan semesta dan penghuni lain di dalamnya, apa arti hidup yang dijalani sang diri, dan bagaimana bisa menjalani hidup yang sejati.   Tentu saja, pengetahuan itu tak berhenti sebatas menjadi pengetahuan, melainkan menjadi satu kesadaran yang hidup di dalam diri dan termanifestasi dalam perilaku yang sesuai dengan kesadaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelisik ke dalam diri kita, kita akan menemukan gambaran titah urip dengan konfigurasi dan struktur yang kompleks.  Di dalam diri kita, terdapat SANG AKU yang menyadari keberadaannya, dan SANG AKU ini terbungkus oleh badan yang berlapis-lapis, dengan segala instrumennya.  Dengan keadaan inilah SANG AKU dikenali sebagai manusia yang hidup di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lapis terluarnya, SANG AKU memiliki badan fisik atau badan ragawi, yang dilengkapi panca indera.  Dengan panca indera inilah SANG AKU berhubungan dengan semesta dan segenap penghuni di dalamnya.  Masih dalam lingkup dimensi ragawinya, SANG AKU memiliki otak yang menjadi perangkat berpikir, dan hawa nafsu atau rahsaning karep yang menjadi daya dorong untuk tetap hidup dalam dunia fisik.&lt;br /&gt;Di balik dimensi ragawinya, SANG AKU memiliki dimensi ruhani atau spiritual, yang pada lapis terluarnya membentuk sebuah entitas halus bernama sukma.  Di balik sukma tersebut terdapat rahsa sejati, dan sukma sejati yang merupakan guru sejati manusia, dan di balik itu, bersembunyilah esensi terdalam manusia yang merupakan manifestasi dari Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembatan penghubung atau tali perekat antara dimensi ragawi dan dimensi ruhani manusia adalah apa yang disebut dengan nyawa.  Keberadaan nyawalah yang menjadi penanda manusia masih memiliki dimensi ragawi yang hidup sehingga bisa menjalankan kegiatannya di muka bumi sebagai titah urip yang wadag.  Dan keberadaan nyawa ini sangat tergantung pada kondisi raga, ketika raga rusak pada organ-organ vitalnya, nyawapun sirna.  Ketika nyawa ini tiada,  berpisahlah sukma dengan raganya yang segera akan mengalami proses pembusukan hingga hancur melebur dengan bumi yang menjadi asalnya.  Dan sukma memasuki dimensi kehidupan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas seorang manusia, ditentukan pada dimensi mana lokus kesadarannya berada.  Manusia yang laksana hewan, lokus kesadarannya terletak pada lapis luar dimensi ragawinya, dengan hawa nafsu sebagai pendorong utama apa yang dipikirkan dan apa yang dilakukan.  Manusia yang lebih tinggi derajatnya, memiliki lokus kesadaran pada pikirannya.  Dan yang lebih tinggi lagi derajatnya, adalah manusia yang lokus kesadarannya terletak pada dimensi ruhaninya: hidupnya dibimbing oleh rahsa sejatinya, atau lebih tinggi lagi, dibimbing oleh sukma sejati/guru sejatinya yang telah bisa ditemui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang telah mengenal lapisan demi lapisan keberadaan dirinya, akan memiliki kejelasan arah dalam menuju kesempurnaan.  Setiap dimensi diri bisa diolah agar mencapai atau setidaknya mendekati titik kesempurnaan.  Untuk mencapai kondisi raga yang optimal, kita bisa mengolah raga kita dengan berbagai cara; kegiatan ini yang disebut dengan OLAH RAGA.  Untuk mengembangkan kemampuan berpikir kita, kita belajar tentang filsafat dan sains – secara sederhana ini bisa kita sebut dengan OLAH PIKIR.  Jika kita sadar bahwa ternyata otak juga mengandung kekuatan bawah sadar, kita bisa mengolahnya melalui berbagai metode pembangkitan kekuatan bawah sadar.  Kita juga bisa melakukan OLAH NAFAS  untuk membangkitkan tenaga dalam yang ada di dalam tubuh setiap orang secara potensial.  Namun, sampai pada titik ini, yang kita kembangkan barulah dimensi ragawi dari seorang manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin lebih dalam mengembangkan potensi diri manusia, yang kita lakukan adalah OLAH BATHIN.  Sehingga kita memiliki kesadaran yang berlokus pada rahsa sejati atau sukma sejati, sekaligus memiliki KEKUATAN BATHIN yang bisa melampaui segenap kekuatan ragawi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin menemukan model faktual sosok manusia yang terbukti mengolah semua dimensi dirinya, salah satu yang bisa saya rekomendasikan adalah Kang Sabdalangit, karena memang Kang Sabdalangit yang saya kenal adalah seorang pendekar silat, seorang pemikir, sekaligus praktisi kebathinan…..…(ngapunten Kang, saya punya bakat ‘nyaloin’, jadi suka promosi….he, he, he).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang secara konsisten menjalankan proses ngangsu kawruh dan laku bathin, akan sampai pada kesadaran tentang DZAT KANG URIP (Hidup) dan NGURIPKE (Menghidupkan) di dalam diri kita.  Inilah yang disebut dengan GUSTI (Baguse ning Ati).  Karena itulah, seseorang yang menekuni spiritualitas Jawa, biasanya akan sadar bahwa mencari Tuhan itu tidak perlu kemana-mana, karena Dia ada di dalam diri.  Itu sejalan dengan apa yang disabdakan oleh filsuf Yunani, Socrates, bahwa barangsiapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya – istilah inilah yang kemudian diadopsi ke dalam khazanah tasawuf menjadi man arofa nafsahu faqod arofa robbahu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manifestasi kesadaran bahwa di dalam diri kita ada Dzat yang Urip dan Nguripke diri kita, adalah komitmen kita untuk Nguripi (Menghidupi) sesama, melalui mekanisme hamemayu hayuning pribadi, hamemayu hayuning bebrayan, dan hamemayu hayuning bawono.&lt;br /&gt;Dari gambaran di atas, kita juga bisa menangkap bahwa sejatinya asal muasal kita pada dasarnya adalah DZAT MAHA HIDUP yang menghidupkan diri kita sekaligus menjadi dasar kehidupan semesta.  Diri kita dan keseluruhan elemen semesta adalah manifestasi dari DZAT YANG MAHA HIDUP ini.  DZAT MAHA HIDUP inilah yang dipanggil dengan nama berbeda-beda oleh berbagai agama dan tradisi spiritual: GUSTI, HYANG WIDI, ALLAH, ELOHIM, CAUSA PRIMA, dan semacamnya.  Perbedaan orang per orang atau kelompok demi kelompok, adalah dalam memahami lebih jelas bagaimana sebetulnya keberadaan DZAT YANG MAHA HIDUP DAN MENGHIDUPKAN ini.  Sebagian pihak memandangnya sebagai satu sosok, sebagai sebuah pribadi yang dilabeli berbagai sifat, yang dibayangkan berada nun jauh di luar diri kita.  Ada yang kemudian menyimbolkannya dalam bentuk-bentuk terinderai, ada pula yang bersikukuh dalam tataran konseptual semata: Tuhan dihadirkan dalam bentuk konstruksi pikiran/imaji.  Dalam kajian filsafat ketuhanan, mereka yang seperti ini, disebut kaum transendentalis.  Lepas dari benar atau salahnya pemahaman ini, ia mengindikasikan kesadaran manusia akan keberadaan DZAT YANG MENGHIDUPKAN dirinya.  Dan yang terpenting adalah bagaimana umat manusia yang menyadari Tuhan secara transenden ini bisa berlaku baik sesuai pemahaman mereka akan “KEHENDAK DZAT YANG MAHA HIDUP DAN MENGHIDUPKAN” tersebut.&lt;br /&gt;Sementara itu, sebagian pihak lainnya memahami keberadaan DZAT MAHA HIDUP DAN MENGHIDUPKAN itu tidak dalam bentuk sosok atau pribadi: IA disadari sebagai sosok tan kena kinira tan kena kinaya ngapa, tanpo pangenan tanpo panggonan, (KEBERADAAN yang tidak bisa dibayangkan dan dikira-kira, yang tidak memiliki batasan ruang dan waktu), sehingga IA tak bisa dipersepsi pikiran bentuk, rupa dan sifatnya.  Lebih jauh, kelompok yang dalam kajian filsafat ketuhanan disebut kaum imanen ini memahami Tuhan sebagai Yang Serba Meliputi, Yang jejak keberadaan-Nya ada di dalam diri sekaligus di luar diri, tetapi tidak bisa disebutkan IA ada di mana karena memang keberadaan-Nya tidak bisa dibatasi.  Tetapi, walau disadari bahwa DZAT YANG MAHA HIDUP DAN MENGHIDUPKAN ini tidak bisa disebutkan tempat spesifik keberadaan-Nya, kaum imanen mengembangkan kesadaran bahwa jalan untuk berjumpa dengan-Nya adalah dengan menyelam ke dalam diri, karena di dalam diri inilah terdapat manifestasi-Nya yang paling agung.&lt;br /&gt;Sebagian pihak lainnya dengan tegas menyangkal konsepsi ketuhanan dari kaum beragama yang cenderung menempatkan Tuhan sebagai sebuah sosok, karena mereka menyadari bahwa yang demikian itu memang tidak ada.  Pada konteks inilah Mbah Gatho sering mengatakan TUHAN ITU TIDAK ADA.  Dan mereka yang berada di luar tradisi kaum beragama ini melabeli KEBERADAAN YANG HIDUP DAN MENGHIDUPKAN, dan menjadi sebab primer dari semua keberadaan lainnya, yang bersifat melingkupi segalanya, sebagai ALAM SEMESTA atau THE UNIVERSE.  Dan kalau direnungkan dengan dalam, sebetulnya sifat dari The Universe ini mirip dengan sifat Tuhannya kaum imanen: IA TAK TERBATASI RUANG DAN WAKTU.  Lebih jelasnya,  tak ada batas buat alam semesta dari segi ruang karena setiap batas yang ada hanyalah batas dari pandangan kita, di balik itu masih ada ruang yang bisa disebut bagian dari alam semesta.  Demikian pula, dari segi waktu, ALAM SEMESTA itu tidak pernah tidak ada, sejak dulu ia ada dan akan selalu ada.  Ini harus dibedakan dengan unsur-unsur alam semesta seperti bumi, matahari, dan semacamnya yang punya batasan ruang dan waktu sehingga bisa didefinisikan dan bisa diinderai (walau kadang harus dengan alat bantu).&lt;br /&gt;Issue berikut yang menarik untuk dibahas adalah, bagaimana sebetulnya sifat kehidupan manusia: apakah kehidupan manusia di muka bumi ini adalah kehidupan satu-satunya bagi SANG AKU; lalu, setelah SANG AKU yang berbungkus badan sukma berpisah dengan sang raga, apa yang akan terjadi dengannya?  Menyangkut issue ini, setidaknya ada tiga pandangan: pertama, pandangan bahwa hidup di muka bumi hanya punya sekali siklus sebagaimana pandangan mayoritas agamawan Islam dan Kristen; kedua, pandangan kaum agamawan Budha, Hindu, dan sebagian penghayat tradisi spiritual Jawa/Nusantara bahwa hidup di muka bumi punya siklus tak terbatas melalui sistem reinkarnasi atau tumimbal lahir; dan ketiga, pandangan sesepuh Kejawen bahwa hidup ini terus berkelanjutan, kita hanya berganti baju dan dimensi hidup – sekalipun ada kemungkinan secara terbatas kita kembali ke dunia ini untuk menebus sebuah kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakah yang benar dari ketiga pandangan tersebut?  Semua kembali kepada kesadaran yang berakar pada pengetahuan dan pengalaman kita masing-masing.  Dalam tulisan ini, saya hanya ingin menjelaskan ketiga pandangan di atas secara lebih jelas, supaya kita punya perbandingan dan bisa memilih secara lebih akurat mana pandangan yang cocok bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi mayoritas agamawan Islam dan Kristen, hidup di muka bumi ini dinyatakan hanya satu kali – setelah kematian/perpisahan raga dan sukma, seseorang akan punya pilihan nasib: berada di surga atau neraka tanpa ada kemungkinan kembali ke muka bumi.  Penentu semua ini, adalah Iman, dan atau kualitas perbuatan seseorang.  Dalam Islam, pada umumnya diyakini, bahwa seseorang yang telah meninggal, terlebih dahulu berada di alam kubur/alam barzakh, sambil menunggu Kiamat dan Hari Pengadilan setelahnya, untuk kemudian mendapatkan vonis surga atau neraka.  Karena Iman menjadi penentu, maka pada tradisi Islam dan Kristen dikenal istilah orang beriman dan orang kafir: yang pertama adalah calon penghuni surga, yang terakhir adalah calon penghuni neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam tradisi Hindu, Budha dan sebagian penghayat agama lokal di Nusantara, reinkarnasi atau peristiwa tumimbal lahir berjalan melalui prinsip darma dan karma.  Sebelum seseorang benar-benar mencapai taraf moksa atau bisa mencapai nirwana karena sudah bisa lepas dari seluruh kemelekatan sehingga tak menanggung karma setitikpun, ia harus kembali ke dunia untuk membayar hutang-hutang (karma) dan menjalankan kebajikan (darma) yang tertunda.  Berdasarkan prinsip ini, maka siapapun kita, yang memiliki kehidupan pada saat ini, pasti di masa lalu telah memiliki kehidupan pula.  Kita hanya berganti raga, dengan sukma atau jiwa yang sama.  Sukma telah ada sebelum pertemuan ibu dan bapak, bahkan ia memilih ibu dan bapak itu sesuai skenario hidup yang harus dijalani.  Dan kualitas kehidupan kita pada saat ini, ditentukan oleh apa yang kita lakukan di masa lalu.  Maka, orang-orang yang pada masa kini menanggung derita dalam berbagai bentuknya, sejatinya tengah membayar hutang karma yang diperbuat di masa lalu.  Lepas dari benar dan salahnya konsep ini, ia memang lebih bisa menjelaskan tentang makna keadilan ketika kita melihat manusia yang sejak lahirnya telah menderita, baik menderita cacat atau mengalami peristiwa yang buruk.  Dengan mudah kita mengatakan, bahwa itu adalah buah dari perbuatannya selama kehidupan di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara berdasarkan pandangan yang ketiga, sukma itu sejatinya baru dibentuk melalui pertemuan ibu dan bapak.  Ia hadir ke dunia, sesuai dengan warisan genetik yang diterimanya.  Sehingga bakat, karakter, dan peristiwa yang dialami dalam hidup, sangat ditentukan oleh apa yang diturunkan oleh orang tua/garis keturunan sebelumnya.  Berdasarkan konsep ini, ada pribadi-pribadi tertentu yang harus menanggung akibat dari kesalahan orang tuanya; lepas dari itu layak disebut adil atau tidak, dengan kondisi buruk akibat kesalahan orang tuanya, pribadi seperti itu punya kesempatan hidup mulia dengan menanggung dan membayar kesalahan yang diperbuat orang tuanya melalui sikap hidup nrimo ing pandum.  Berdasarkan konsep ini pula, nasib seseorang setelah sukma berpisah dengan raga, sangat tergantung pada bagaimana seseorang menjalani hidup saat ini.  Jika seseorang gagal untuk menjalani urip kang sejati, hingga pada taraf berbuat kesalahan yang sangat fatal, maka ia punya kemungkinan untuk kembali ke dunia dan menempati raga binatang.  Dan binatang yang dimasuki raganya ini tergantung pada tingkat kesalahan yang dilakukan; semakin besar kesalahan, semakin ‘hina’ raga binatang yang dimasuki.  Hanya orang yang memenuhi ‘standar’ perilaku hidup yang benar yang bisa melanjutkan kehidupan di alam berikut yang lebih sejati.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang perilakunya pas-pasan, walau terbilang lulus masuk ke kehidupan berikutnya, di sana akan menempati strata rendah, tanpa memiliki banyak otoritas dan kekuatan – termasuk dalam menolong anak keturunannya.  Sementara mereka yang berhasil menjalani urip kang sejati, akan masuk ke alam kamulyan, alam kamulyan sejati, dan seterusnya, dan dianugerahi otoritas dan kekuatan tertentu.  Berdasarkan konsepsi inilah kita bisa memahami makna leluhur yang bisa menolong anak cucunya melalui mekanisme ngampingi, njangkung dan semacamnya.  Para leluhur yang hidup di alam kamulyan, alam kamulyan sejati dan seterusnya, punya energi yang memadai untuk berinteraksi dengan dunia wadag dan memberi pengaruh tertentu.  Berdasarkan pandangan yang ketiga ini, juga bisa dijelaskan bahwa orang-orang yang punya kesalahan tertentu tapi tak terlalu fatal, tidak kembali ke dunia dengan memasuki raga binatang, tapi juga belum bisa melanjutkan perjalanan.  Mereka tersangkut di dunia halus yang tergolong rendah, dengan menjadi kuntilanak, pocong, dan sebangsa – itu adalah bagian dari proses penebusan kesalahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi, sejujurnya, belum bisa menentukan mana konsep yang benar: saya masih membutuhkan banyak pengalaman untuk bisa menentukan kebenaran dalam kasus ini.  Yang pasti, kesamaan dari ketiga pandangan itu adalah hidup ini terus berjalan, dan apa yang kita terima di masa mendatang tergantung pada apa yang kita lakukan pada masa kini.  Sesepuh bilang, hidup ini pada dasarnya berjalan berdasarkan prinsip ngunduh wohing pekerti (memetik buah prilaku kita sendiri).  Lebih dari itu, pada dasarnya kita sedang berjalan dari asal muasal kehidupan menuju muara kehidupan yang sebetulnya SAMA– itulah yang disebut dengan sangkan paraning dumadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-2981490258218101888?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/2981490258218101888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=2981490258218101888' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2981490258218101888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2981490258218101888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2012/01/perjalanan-menemukan-jatidiri-bagian-ii.html' title='PERJALANAN MENEMUKAN JATIDIRI (BAGIAN II)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-1154305024733237495</id><published>2012-01-18T05:18:00.000-08:00</published><updated>2012-01-18T05:20:33.408-08:00</updated><title type='text'>PERJALANAN MENEMUKAN JATIDIRI (BAGIAN I)</title><content type='html'>PERJALANANAN MENEMUKAN JATIDIRI&lt;br /&gt;Menjelang tahun 2011 berakhir, kuat sekali dorongan untuk menjejaki beberapa tempat beraura magis di Jawa Tengah dan Jogja, lalu tenggelam dalam pesona spiritual di sana.  Ada hasrat menggelegak: saya ingin menyempurnakan laku prihatin sepanjang 2011 agar punya kesiapan dalam menghadapi 2012.  Dasarnya adalah kesadaran reflektif: walau telah cukup panjang proses untuk menggembleng diri melalui pembelajaran dari beberapa sesepuh/guru dan perjalanan spiritual ke berbagai tempat sakral di Nusantara – termasuk 2 minggu sebelumnya saya ke Gunung Srandil dan Gunung Selok (Jambe Lima dan Jampe Tujuh) di Cilacap, tetap saya “merasa belum apa-apa”. Pencapaian saya masihlah belum seberapa: bahkan saya belum sepenuhnya mengenal siapa sesungguhnya diri saya dan peran yang harus saya jalani di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghadapi 2012 yang dalam pemahaman saya akan menjadi tahun penuh dinamika bahkan kejutan, kesadaran yang kukuh akan DIRI SEJATI merupakan suatu keharusan.  Itu yang menjadi fondasi untuk bisa menjalankan peran dan kiprah terbaik di tahun 2012.  Itu pula yang bisa menjadi semacam garansi agar hidup tetap dalam kendali; dan kehendak akan gesang ayem tentrem bisa diraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIALEKTIKA DENGAN MBAH GATHO&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan satu urusan pekerjaan di Jogja, saat itu sudah mulai malam, saya bertemu dengan Mbah Gatholoyo yang berbaik hati menjemput saya di sekitar Gedung Wanitatama Jogjakarta.  Mbah Gatho adalah sesepuh yang aktif terlibat dalam diskusi di Grup Debat Agama dan Budaya yang saya dirikan bersama beberapa teman.  Sudah lama saya ingin bertemu Mbah Gatho, tapi baru kali ini keinginan itu terpenuhi.  Saya diajak Mbah Gatho menyusuri beberapa ruas jalan di Jogja yang mulai gelap dan diguyur hujan menuju tempat kediamannya di Dusun Gathak Desa Turi Sleman.  Kurang lebih 30 menit perjalanan, sampailah saya di rumah Mbah Gatho: sebuah rumah di pedesaan, dengan pekarangan yang luas, dan dalam gelap, keasrian rumah Mbah Gatho tampak terbayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang ingin saya sampaikan: kunjungan ke rumah Mbah Gatho sungguh sangat mengesankan.  Saya mendapatkan sambutan dan keramahtamahan kelas 1!  Rumah Mbah Gatho yang sejatinya ada di kaki Gunung Merapi yang dingin, terasa member kehangatan dalam jiwa saya.  Sajian makan malam yang nikmat, air panas untuk mandi, buah salak dan manggis, pisang goreng, dan teh manis, yang disuguhkan Mbah Putri istri Mbah Gatho adalah sesuatu yang tak terlupakan.  Itu adalah semacam pengantar untuk diskusi yang juga tak terlupakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ringkas bisa saya katakan, bahwa diskusi dengan Mbah Gatho membawa saya pada sebuah refleksi mendalam tentang pandangan kehidupan saya selama ini.  Dialog dengan  Mbah Gatho seputar keberadaan Atma manusia, karakternya, cara berkultivasi, dan berbagai hal terkait, sejujurnya cukup mengguncang.  Mengapa?  Karena dalam beberapa hal, Mbah Gatho berbeda dengan saya, saya berbeda dengan Mbah Gatho..dan saya terkesima oleh ketenangan Mbah Gatho, sehingga mulai berpikir sayalah yang keliru.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, proses kultivasi atau pertumbuhan spiritual yang saya jalankan, coba mengharmonikan antara perjalanan menemukan esensi jagad cilik dengan upaya membangun relasi yang baik dengan berbagai unsur jagad ageng, termasuk yang ada di dimensi non-fisik, seperti para leluhur.   Itu yang menjadi dasar, mengapa saya selain sering bermeditasi sumeleh total untuk merasakan hening dan menghayati keberadaan jiwa terdalam, saya sering berkelana ker berbagai petilasan leluhur.  Yang saya saksikan, Mbah Gatho bisa mencapai tingkat ketenangan dan kebijaksanaan yang layak saya kagumi justru dengan pendekatan berbeda: Mbah Gatho lebih fokus pada meditasi sumeleh pasrah total di rumah tanpa pergi kemana-mana.  Mbah Gatho menapak naik dalam perjalanan spiritual melalui metode yang menurut Mbah Gatho anti-kemelekatan pada apapun: hidup sewajarnya, tanpa perlu banyak direpotkan bersentuhan dengan dimensi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pendekatan itu Mbah Gatho bertemu dengan Diri Sejati/Atma, dan hidup senantiasa dalam bimbingan Diri Sejati/Atma itu.  Itu yang menjadi pangkal kedamaian dan kemuliaan hidup.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He..he..he….di satu sisi saya tergoda untuk mengikuti Mbah Gatho.  Tetapi di sisi lain, saya begitu “mencintai” jalan atau metode yang telah saya pilih.  Karena dalam prosesnya pun saya menemukan banyak kenikmatan.  Saya harus bagaimana?&lt;br /&gt;Inilah sebuah dialektika internal di dalam bathin yang menjadi “oleh-oleh” saya saat meninggalkan rumah Mbah Gatho pada keesokan harinya. Matur sembah nuwun Mbah Gatho……!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NGADEM DI KOTAGEDE&lt;br /&gt;“Oleh-oleh” dari Mbah Gatho mendorong saya untuk berpikir keras, mengevaluasi semua hal yang saya lakukan, dan pada akhirnya, membuat saya linglung, karena tak kuasa mengelola bimbang yang kuat menyeruak.  Dalam situasi seperti ini, saya tergerak untuk ke Kotagede, komplek Makam Raja-raja Mataram: untuk menemukan jawab yang mengatasi semua bimbang.  Hari itu hari Sabtu.  Sesungguhnya merupakan hari libur untuk kunjungan.  Tapi karena saya tergolong “langganan” berkunjung ke tempat itu, saya mendapatkan ijin dari abdi dalem penjaga untuk masuk ke ruang utama komplek makam.   Bagi saya, ada suatu kemendesakan untuk bisa mendapatkan jawaban: terlebih saat itu bertepatan dengan weton saya, Sabtu Pon.  Dan duduk bersimpuh di makam leluhur, bagi saya merupakan cara mencari jawaban yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kali ini menjadi momen sowan ke leluhur di Kotagede dengan suasana bathin yang berbeda.  Saya seperti tak punya pijakan; raga saya ada di komplek makam, tapi energi hidup saya entah sedang pergi ke mana.  Ya…saya selesaikan proses sowan ke leluhur, mulai dari Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati hingga Ki Ageng Mangir.  Tapi, keluar dari situ, saya tetap dalam sebuah pertanyaan tak berjawab: saya tak tahu mesti bagaimana……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digerakkan oleh rasa gelisah, saya menuju Sendang di komplek makam di situ, mandi di situ, mengguyur seluruh tubuh 9 kali, dengan harapan memiliki energi baru untuk bisa berdiri kokoh dengan sebuah sikap hidup yang jelas, termasuk dalam hal sikap berspiritual. Setelah itu, saya duduk bermeditasi di salah satu gazebo: tenggelam dalam hening, pasrah……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses meditasi dan mandi di sendang ini yang membuat saya relatif terpulihkan.  Kegelisahan yang berlebihan, terkikis perlahan-lahan, dan saya kembali dalam situasi tenang untuk melanjutkan perjalanan menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul, termasuk untuk menemukan JATIDIRI.  Satu hal: saya mulai muncul kesadaran untuk tetap menekuni jalan yang sudah saya tempuh.  Tak ada yang salah dengan itu.  Setidaknya untuk saya, itulah jalan terbaik pada saat ini…….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-1154305024733237495?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/1154305024733237495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=1154305024733237495' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/1154305024733237495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/1154305024733237495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2012/01/perjalanan-menemukan-jatidiri-bagian-i.html' title='PERJALANAN MENEMUKAN JATIDIRI (BAGIAN I)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-1804536842698759260</id><published>2011-08-25T01:39:00.000-07:00</published><updated>2011-08-25T01:40:10.312-07:00</updated><title type='text'>Tempat Menjalankan Laku Prihatin (Sowan ke Leluhur) di Jawa dan Luar Jawa - Bagian 3</title><content type='html'>Petilasan Kyai Jogja&lt;br /&gt;Saya mengetahui keberadaan petilasan ini dari Ki Sabdalangit, dan beliaulah yang menyarankan saya berkunjung ke situ.  Kyai Jogja, adalah perintis keberadaan tlatah Jogja, jadi lebih tua usianya ketimbang para pendiri Kesultanan Jogja.  Makam beliau menyatu dengan pemakaman umum. Secara tepat, saya tidak ingat apa nama wilayahnya, tapi yang pasti, posisinya tidak jauh dari Kraton Jogja – termasuk tidak jauh dari rumah Ki Sabdalangit di Plengkung Wijilan yang banyak warung gudegnya.  Seingat saya, ada jalan di sebelah K24 – satu barisan dengan Jogja Electronic Centre – masuk ke jalan itu, lalu belok kanan, lalu ada gang di sebelah kanan, masuk, dan makam ada di ujung.  Yang mau sowan ke Kyai Jogja, dengan demikian, lebih baik mampir saja dulu ke rumah Ki Sabdalangit, biar dapat petunjuk yang lebih rinci.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makam Raja-raja Mangkunegaran&lt;br /&gt;Komplek pemakaman raja-raja Mangkunegaran berada di kaki Gunung Lawu, tidak terlalu jauh dari Candi Sukuh, di sebelah timur pusat Kecamatan Matesih.  Menuju ke sini, kita melewati hutan lebat di kanan kiri.  Dan komplek pemakamannya sendiri, sungguh rimbun, hijau, karena penuh dengan pohon besar, memberi aura kedamaian tersendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu komplek pemakaman itu disebut Astana Mangadeg (ngadeg: berdiri), tepatnya berada di Bukit Mangadeg.  Yang sumare di sini adalah penguasa awal ("Mangkunagara") dan kerabat dekat (dhalem) Praja Mangkunegaran. Di kompleks ini dimakamkan Mangkunagara I (MN I), MN II, dan MN III; masing-masing dengan mausoleum tersendiri. Selain itu di dalam kompleks ini juga dimakamkan sejumlah kerabat dekat dan para pembantu perjuangan dalam peperangan melawanKesultanan Mataram dan VOC hingga berakhir dengan disepakatinya Perjanjian Salatiga (1758).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tempat ini sendiri sebelumnya adalah tempat Mangkunagara I bersemedi pada masa perjuangannya (sebelum menjadi raja ia bernama R.M. Said dan dikenal dengan gelar Pangeran Sambernyawa).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Komplek lain yang berdekatan, disebut Astana Girilayu (giri: gunung/bukit, layu=mati. Di kompleks ini dimakamkan Mangkunagara IV, Mangkunagara V, Mangkunagara VII, dan Mangkunagara VIII (penguasa terakhir yang mangkat); masing-masing dengan mausoleum tersendiri.  Melihat makam Gusti Mangkunegara IV yang terbuat dari marmer, sehingga tak hanya indah tapi juga megah, terbayangkan betapa makmurnya Kraton Mangkunegaran saat itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melengkapi informasi tentang Astana Girililayu, saya ingin menampilkan cerita singkat soal Gusti Mangkunegara IV.  Beliau, yang nama lengkap ketika bertahta adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV) lahir pada tanggal 3 Maret 1811 (Senin Pahing, 8 Sapar 1738 tahun Jawa Jumakir, Windu Sancaya) dengan nama kecil Raden Mas Sudira. Ayahnya bernama KPH Adiwijaya I sementara ibunya adalah putri KGPAA Mangkunagara II bernama Raden Ajeng Sekeli. Oleh karena KPH Adiwijaya I adalah putera Raden Mas Tumenggung Kusumadiningrat yang menjadi menantu Sri Susuhunan Pakubuwono III, sedangkan R.A Sekeli adalah puteri dari KGPAAMangkunagara II, maka secara garis keturunan R.M. Sudira silsilahnya adalah sebagai cucu dari KGPAA Mangkunagara II dan cicit dari Sri Susuhunan Pakubuwono III. Selain itu beliau merupakan cicit dari K.P.A. Adiwijaya Kartasura yang terkenal dengan sebutan Pangeran seda ing lepen abu yang gugur ketika melawan kompeni Belanda. Masa pemerintahannya adalah sejak 1853 hingga wafatnya 1881.&lt;br /&gt;Selama bertahta, MN IV mendirikan pabrik gula di Colomadu (sebelah barat laut kota Surakarta) dan Tasikmadu, memprakarsai berdirinyaStasiun Solo Balapan sebagai bagian pembangunan rel kereta api Solo – Semarang, kanalisasi kota, serta penataan ruang kota. Ia menulis kurang lebih 42 buku, di antaranya Serat Wedhatama. MN IV wafat tahun 1881 dan dikebumikan di Astana Girilayu. Dapat dikatakan bahwa pada masa pemerintahannya, Mangkunagaran berada pada puncak kebesarannya.&lt;br /&gt;Berdekatan dengan Astana Mangadeg dan Astana Girilayu, berdiri Astana Giribangun, tempat dimakamkannya Presiden RI Kedua, Soeharto, beserta Ibu Tien, dan kerabatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian, ada satu raja Mangkunegaran yang posisi makamnya terpisah, malah berada di dalam Kota Solo, dan komplek makam itu disebut Astana Nayu.  Beliau adalah  Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI (1896-1916).  Nama aslinya adalah RM. Suyitno atau KPA. Dayaningrat adik dari Mangkunegara V dan memerintah di Mangkunegaran sebelum kemudian digantikan oleh keponakannya Mangkunegara VII. Lahir 1 Maret 1857, ayahnya adalah Mangkunegara IV dan ibundanya adalah R.Ay. Dunuk putri dari Mangkunegara III.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai raja yang dihadapkan pada keterpurukan kerajaan yang terancam bangkrut, Mangkunegara VI telah menorehkan beberapa prestasi bagi keberlangsungan Praja Mangkunegaran yang antara lain sangat tidak berlebihan disebutkan sebagai berikut;&lt;br /&gt;1. Mangkunegara VI berhasil dalam melaksanakan reformasi Praja dari situasi bangkrut karena tenggelam dalam hutang kepada kerajaan Belanda menjadi terlunasinya hutang kerajaan bahkan mencapai nilai surplus (Suryo Danisworo,Hendri Tanjung,2004). Stabilitas perekonomian kerajaan menjadi meningkat sehingga standar hidup masyarakat mulai membaik kembali.Imbasnya pasar pasar baru bermunculan disekitar perkebunan.&lt;br /&gt;2. Membangun kembali kekuatan Legiun Mangkunegaran dengan pendanaan yang lebih dari cukup sehingga kekuatan korps yang sempat berkurang menjadi kuat kembali seperti sedia kala.&lt;br /&gt;3. Menciptakan iklim pluralisme di Praja Mangkunegaran dengan mengijinkan para kerabat memeluk Kristen yang kemudian akan dilanjutkan dalam masa pemerintahan Mangkunegara VII.&lt;br /&gt;4. keberhasilannya memulihkan keuangan dan perekonomian Mangkunegaran tidak lepas dari prinsip prinsip manajemen Jawa yang diajarkan oleh ayahnya Mangkunegara IV yaitu adanya keteraturan dalam hidup, keteraturan berusaha dan keterauran dalam bekerja.Dengan demikian Mangkunegara VI berjasa dalam memperkenalkan kembali prinsip prinsip manajemen Jawa buah karya ayahnya dan diterapkan dalam mengatasi kebangkrutan Praja.&lt;br /&gt;5. Mangkunegara VI adalah penegak keuangan dinasti Mangkunegaran (Tempo, 16 Mei 1987)&lt;br /&gt;6. Menciptakan kesenian wayang pada yaitu kesenian dengan pertunjukan semalam suntuk menjadi empat jam tanpa penyimpangan isi ceritera (Reksa Pustaka 1978: 7).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Candi Agung&lt;br /&gt;Saya berkesempatan dua kali berkunjung ke Candi Agung.  Candi Agung adalah sebuah situs candi Hindu berukuran kecil yang terdapat di kawasan Sungai Malang, kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Negara Dipa yang keberadaannya sejaman dengan Kerajaan Majapahit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerajaan Negera Dipa dirintis oleh Empu Jatmika, berasal dari Kalingga, pada abad ke XIV Masehi. Ia dalah ayah dari Lambung Mangkurat , yang kemudian menjadi patih.  Dari kerajaan ini akhirnya melahirkan Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin. Menurut cerita, Kerajaan Hindu Negaradipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga aliran sungai. Tabalong, Balangan, dan Negara. Cikal bakal Kerajaan Banjar itu diperintah pertama kali oleh Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negaradipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai. Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Bahan material Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Kondisinya masih sangat kokoh. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun SM. Batu yang digunakan untuk mendirikan Candi ini pun masih terdapat disana. Batunya sekilas mirip sekali dengan batu bata merah. Namun bila disentuh terdapat perbedaannya, lebih berat dan lebih kuat dari bata merah biasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makam Raja-raja Kutai Kartanegara&lt;br /&gt;Makam raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara terletak di belakang Museum Kutai Kartanegara, di lingkungan Istana Kutai Kartanegara, di Kota Tenggarong, di sisi Sungai Mahakam. Sultan-sultan yang dimakamkan disini di antaranya adalah Sultan Muslihuddin, Sultan Salehuddin, Sultan Sulaiman dan Sultan Parikesit.  Saya berkesempatan 4 hari berturut-turut sowan ke makam ini – karena kebetulan menginap di hotel yang berada di dekatnya, persis di sisi Sungai Mahakam.&lt;br /&gt;Jirat atau nisan Sultan dan keluarga kerajaan ini kebanyakan terbuat dari kayu besi yang dapat tahan lama dengan tulisan huruf Arab yang diukir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melengkapi informasi tentang makam ini, saya ingin ketengahkan informasi sekilas tentang Kesultanan Kutai atau lebih lengkap disebut Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura (Martapura).  Ini merupakan kesultanan bercorak Islam yang berdiri pada tahun 1300 oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti di Kutai Lama dan berakhir pada 1960. Kemudian pada tahun 2001 kembali eksis di Kalimantan Timur setelah dihidupkan lagi oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai upaya untuk melestarikan budaya dan adat Kutai Keraton.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dihidupkannya kembali Kesultanan Kutai ditandai dengan dinobatkannya sang pewaris tahta yakni putera mahkota Aji Pangeran Prabu Anum Surya Adiningratmenjadi Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura dengan gelar H. Adji Mohamad Salehoeddin II pada tanggal 22 September 2001.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri pada awal abad ke-13 di daerah yang bernama Tepian&lt;br /&gt;Batu atau Kutai Lama (kini menjadi sebuah desa di wilayah Kecamatan Anggana) dengan rajanya yang pertama yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti(1300-1325). Kerajaan ini disebut dengan nama Kerajaan Tanjung Kute dalam Kakawin Nagarakretagama (1365), yaitu salah satu daerah taklukan di negara bagian Pulau Tanjungnagara oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit[1].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada abad ke-16, Kerajaan Kutai Kartanegara dibawah pimpinan raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai (atau disebut pula: Kerajaan Kutai Martadipura atau Kerajaan Kutai Martapura atau Kerajaan Mulawarman) yang terletak di Muara Kaman. Raja Kutai Kartanegara pun kemudian menamakan kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sebagai peleburan antara dua kerajaan tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada abad ke-17, agama Islam yang disebarkan Tuan Tunggang Parangan diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu dipimpin Aji Raja Mahkota Mulia Alam. Setelah beberapa puluh tahun, sebutan Raja diganti dengan sebutan Sultan. Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778) merupakan sultan Kutai Kartanegara pertama yang menggunakan nama Islami. Dan kemudian sebutan kerajaan pun berganti menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura[1].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Leluhur Kutai yang memiliki hubungan baik dengan Ki Sabdalangit – dan karena itulah beliau menyarankan saya sowan ke makam ini, adalah Sultan Sulaeman – yang turut ngamping-ngampingi (mendampingi) Pak Isran Noor, Bupati Kutai Timur, dan Sultan Parikesit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hutan Keramat Dayak Loksado.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Loksado terletak kurang lebih 40 Km di sebelah timur Kandangan, di kawasan Pegunungan Meratus merupakan wilayah yang menjadi tempat tinggal sisa-sisa masyarakat/orang banjar (orang dayak) yang sebagian besar masih menganut Kepercayaan animisme. Di sekitar Loksado terdapat sejumlah Desa yang dihuni oleh orang Dayak. Mereka tinggal di rumah panjang (Balai) yang merupakan rumah tradisional orang Dayak di wilayah ini. Kemajuan peradapan akibat dari arus informasi yang mengglobal menyebabkan orang-orang Dayak Loksado yang dulunya tinggal di Balai saat ini sebagian kecil sudah memiliki rumah sendiri sebagaimana kebanyakan rumah-rumah di pedalaman lainnya. Sehingga Balai digunakan mereka untuk melaksanakan Aruh Ganal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Loksado merupakan desa pasar yang cukup penting bagi wilayah sekitarnya. Desa ini merupakan satu-satunya tempat yang masih bisa dicapai dengan mobil. Tempat ini merupakan titik awal bagi wisatawan untuk memulai trekking jika ingin mengeksplorasi wilayah ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang Dayak Loksado adalah bagian dari rumpun besar masyarakat Dayak Meratus yang tinggal di sepanjang lereng pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai selatan, Kalimantan Selatan. Rumah tangga orang Loksado dicirikan oleh sumber penghidupan ekonomi dari peladangan padi (oryza sativa) secara berpindah (shifting cultivation). Berjalannya sistem peladangan tradisional tersebut dilandasi oleh religi lokal yang disebut Aruh. Keseharian orang Loksado diwarnai oleh interaksi yang intensif dengan Orang Banjar di Kandangan. Kedua kelompok etnik tersebut telah ratusan tahun berinteraksi, karena kesalingtergantungan mereka secara sosial dan ekonomi. Relasi yang cenderung harmonis di antara kedua kelompok etnik ini dilandasi oleh ajaran lisan dalam religi Aruh, yaitu berupa mitos Datu Ayuh dan Datu Bambang Siwara yang menggambarkan “persaudaraan fiktif” antara orang Banjar dan orang Loksado. Diceritakan dalam mitos tersebut bahwa di antara orang Loksado yang bermukim di “atas” atau di Hulu Sungai Amandit Perbukitan Meratus dengan orang Banjar Islam yang berada di “bawah” atau di Hilir sungai Amandit di wilayah Kandangan, merupakan saudara kandung atau dangsanak. Meskipun dianggap bersaudara, namun kehidupan keseharian kedua etnis dibedakan oleh praktek dari sistem kepercayaan yang dianut. Orang Loksado masih menganut agama leluhur yang mereka sebut Aruh. Adapun orang Banjar di Kandangan telah menganut Islam.&lt;br /&gt;Selain orang Banjar, ternyata di kampung yang bersebelahan dengan kampung Dayak Loksado, ada juga beberapa keluarga dari Jawa – termasuk yang membuka usaha warung nasi di depan Wisma Loksado, penginapan untuk para turis di Loksado.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat saya ke sana, dalam dua kali kesempatan, saya diijinkan untuk meditasi di Hutan Keramat, yang biasa dijadikan tempat upacara warga Dayak Loksado setahu sekali.  Dalam keyakinan warga Dayak Loksado, hutan keramat ini adalah tempat tinggal para leluhur mereka yang telah berpindah dimensi.  Karena itu tak sembarang orang boleh masuk – dan orang yang masuk tidak diperkenankan bertingkah keliru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya pribadi, berkesempatan dua kali meditasi di sana, karena diantar oleh Amad, pemuda Dayak Loksado, yang sering berada di Balai Pusat Informasi Dayak Loksado.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Muara Banjar&lt;br /&gt;Saya ke Muara Banjar, untuk sowan dan menyambung rasa dengan Datuk Muara Sakti, atas rekomendasi Ki Sabdalangit.  Datuk Muara Sakti – titah ghaib yang menjadi danyang di kawasan Banjar - pernah membantu Ki Sabdalangit ketika coba menemukan salah satu jenazah korban pesawat yang jatuh di perairan Laut Cina Selatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk ke tempat ini, saya menggunakan perahu klotok, menyusuri Sungai Barito, dari salah satu titik di Kota Banjarmasin.  Sungai Barito atau sungai Banjar Besar atau Sungai Banjarmasin adalah wilayah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Barito. Nama Barito diambil berdasarkan nama daerah Barito yang berada di hulu termasuk wilayah provinsi Kalimantan Tengah, tetapi sering dipakai untuk menamakan seluruh daerah aliran sungai ini hingga ke muaranya pada Laut Jawa di Kalimantan Selatan yang dinamakan Muara Banjar/Kuala Banjar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Muara Banjar, terdapat beberapa pulau, dengan perahu saya mengelilingi pulau-pulau itu.  Di pulau-pulau itu, saya lihat banyak bekantan yang beratraksi, mulai dari bekantan dewasa hingga bekantan yang masih imut-imut – seolah menyambut kedatangan tamu dari Jawa (Ge Er…he, he).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk menyambung rasa dengan Datuk Muara Sakti, saya meditasi di atas perahu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gunung Kelud&lt;br /&gt;Untuk mendekati puncak Gunung Kelud, kita bisa masuk dari salah satu titik di Kabupaten Kediri – tapi mohon maaf saya lupa namanya.  Kendaraan pribadi, bisa naik sampai ke atas, mendekati puncak, karena sudah disiapkan jalan beraspak.  Gunung ini sendiri sudah menjadi tempat wisata, karena itu banyak turis yang berkunjung ke situ.&lt;br /&gt;Saya melakukan meditasi di salah satu titik, setelah menyeberangi terowongan sepanjang sekitar 500 meter.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Catatan Akhir:&lt;br /&gt;Perjalanan saya, bisa terlaksana atas bantuan berbagai pihak.  Karena itu, ijinkan saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas berbagai pihak berikut:&lt;br /&gt;Ki Sabdalangit dan Nyi Untari, yang telah mengarahkan saya untuk melaksanakan perjalanan ke beberapa tempat untuk nyambung rasa dengan leluhur – dan khususnya di dua tempat di Jogja, yaitu Astana Kota Gedhe dan Astana Imogiri, saya harus katakan, bahwa saya berkesempatan mendapatkan sensasi istimewa ketika marak sowan bersama rombongan beliau.&lt;br /&gt;Mas Hermawan Dewobroto yang telah memandu saya ke Gunung Kelud dan Sanghyang Ci Arca.&lt;br /&gt;Mas Winta Aditya Guspara, yang telah ngerjain saya (he, he) dengan mendorong saya ke Bukit Turgo, dan menjadi teman perjalanan untuk menyusuri kabuyutan di Cigugur.&lt;br /&gt;Mas Okky Satrio Jati, yang pertama kali mengajak saya menikmati pesona meditasi di Sanghyang Ci Arja, Sagarahyang dan Cipari.&lt;br /&gt;Mas Bandhu Hermawan yang telah menunjukkan jalan dan menemani saya ke Puncak Bukit Turgo, di tengah malam, menembus kabut yang tebal.&lt;br /&gt;Mas Wawan yang telah menemani saya sowan ke Parangkusumo dan meditasi di situ.&lt;br /&gt;Mas Hernawan Wibisono dan Mas Bagus Sardulo Aji yang telah berkenan bersama-sama saya ke Gunung Kelud dan ke Trowulan.&lt;br /&gt;Mas Irfan Risantono, yang menemani saya ke Candi Agung, Hutan Keramat Loksado, dan Muara Banjar.&lt;br /&gt;Mas Harry Kusumo dan Mbak Etha Indria yang telah berkenan mengajak saya ke Candi Sukuh, Astana Mangadeg, Astana Girilayu, Astana Giribangun, dan Astana Nayu.&lt;br /&gt;Dan tentu saja, terima kasih kepada istri dan anak2 saya yang rela (kadang tidak rela) membiarkan saja menjelajah untuk menemukan sebuah makna.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-1804536842698759260?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/1804536842698759260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=1804536842698759260' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/1804536842698759260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/1804536842698759260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2011/08/tempat-menjalankan-laku-prihatin-sowan.html' title='Tempat Menjalankan Laku Prihatin (Sowan ke Leluhur) di Jawa dan Luar Jawa - Bagian 3'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-6301214329682969336</id><published>2011-08-25T01:38:00.000-07:00</published><updated>2011-08-25T01:39:27.273-07:00</updated><title type='text'>Tempat-tempat Menjalankan Laku Prihatin di Tanah Jawa (II)</title><content type='html'>Gunung Tidar&lt;br /&gt;Gunung Tidar adalah gunung di Kota Magelang Jawa Tengah. Gunung yang dalam legenda dikenal sebagai "Pakunya tanah Jawa" itu terletak di tengah Kota Magelang. Berada pada ketinggian 503 meter dari permukaan laut,&lt;br /&gt;Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk sampai di puncak Tidar. Secara umum, Gunung Tidar memang masih cukup alami. Banyak tanaman pinus dan tanaman buah-buahan tahunan seperti salak hasil penghijauan era tahun 1960an menjadikan Gunung Tidar sangat rimbun.&lt;br /&gt;Beberapa saat menapaki jalanan setapak pendakian kita akan bertemu dengan Makam Syaikh Subakir. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak jauh dari Makam Syaikh Subakir, kita akan berjumpa dengan sebuah makam yang panjangnya mencapai 7 meter. Itulah Makam Kyai Sepanjang. Kyai Sepanjang bukanlah sesosok alim ulama, namun adalah nama tombak yang dibawa dan dipergunakan oleh Syaikh Subakir mengalahkan jin penunggu Gunung Tidar kala itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Situs makam terakhir yang kita jumpai sewaktu mendaki Gunung Tidar adalah Makam Kyai Semar. Namun menurut beberapa versi ini bukanlah makam kyai Semar yang ada dalam pewayangan. Tetapi Kyai Semar, jin penunggu Gunung Tidar waktu itu. Meski demikian banyak yang percaya ini memang makam Kyai Semar yang ada dalam pewayangan itu. Dan mana yang benar, adalah tinggal kita mau mempercayai yang mana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di puncak Gunung Tidar ada lapangan yang cukup luas. Di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah Tugu dengan simbol huruf Sa (dibaca seperti pada kata Solok) dalam tulisan Jawa pada tiga sisinya. Menurut penuturan juru kunci, itu bermakna Sapa Salah Seleh (Siapa Salah Ketahuan Salahnya). Tugu inilah yang dipercaya sebagian orang sebagai Pakunya Tanah Jawa, yang membuat tanah Jawa tetap tenang dan aman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makam Kota Gede&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Situs Makam Raja-raja Dinasti Mataram Islam serta Masjid Besar Mataram terletak hanya beberapa ratus meter di sebelah selatan Pasar Kotagede sekarang. Di kanan jalan, akan kita jumpai pohon beringin besar pada sebuah halaman yang cukup luas untuk ukuran Kotagede. Inilah pintu gerbang utama memasuki kedua situs itu. Di sisi kiri dan kanan halaman ini terdapat sepasang bangsal terbuka yang dipergunakan para peziarah untuk beristirahat. Bangsal sebelah selatan dipayungi oleh pohon beringin besar dan rindang, yang disebut Waringin Sepuh. Konon, pohon yang sangat tua ini ditanam oleh Kanjeng Sunan Kalijaga yang sudah ada sejak tempat ini dibangun hampir 5 abad yang lalu. Sebagian orang percaya, daun-daunnya yang berguguran ke tanah memiliki tuah tertentu. Mereka mencari 2 helai daun yang jatuh dalam kondisi terbuka dan tertutup, lalu membawanya dalam perjalanan sebagai bekal keselamatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sebelah barat sana, berdiri gapura besar yang disebut Gapura Padureksa. Pada kiri kanan jalan menuju gapura, berjajar sejumlah rumah tradisional yang yang disebut Dondhongan. Ini adalah tempat tinggal keluarga Dondhong, para abdi dalem yang bertugas membersihkan halaman makam dan masjid, sekaligus sebagai juru do’a kepada arwah para leluhur yang disemayamkan di makam para raja, yang lazim disebut Makam Senopaten.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gapura Padureksa merupakan pintu gerbang masuk halaman masjid yang ada di sebelah timur. Hiasan kala yang terdapat pada bagian atas gapura serta hiasan-hiasan pada tembok di sekitarnya, mengingatkan kita pada ornamen dekoratif yang banyak dijumpai pada bangunan bergaya Hindu. Gapura ini dilengkapi dengan tembok pembatas atau kelir yang juga terbuat dari batu bata. Dibalik kelir inilah terdapat halaman besar dimana Masjid Besar Mataram berada.&lt;br /&gt;Selain Gapura Padureksa di sisi timur, masih terdapat 2 buah gapura sejenis yang terdapat di sisi utara dan selatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gapura yang berada di sisi selatan, menghubungkan halaman Masjid dengan kompleks Makam Senopaten. Pada halaman pertama yang kita jumpai, berdiri sebuah bangunan yang disebut Bangsal Duda. Bangunan ini dibangun pada tahun 1644 oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma, cucu Panembahan Senopati, yang bertahta di Kerajaan Mataram antara tahun 1613 hingga 1645. Bangsal ini adalah salah satu tempat yang digunakan sebagai tempat jaga para abdi dalem Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang secara bergilir melakukan tugas jaga di seputar makam.&lt;br /&gt;Di sebelah barat Bangsal Duda terdapat pintu gerbang yang disebut Regol Sri Manganti, lengkap dengan kelir atau tembok pembatasnya. Dibalik Regol Sri Manganti inilah akan dijumpai halaman utama sebelum memasuki Makam Senopaten. Di sini terdapat beberapa bangunan yang dipergunakan sebagai tempat jaga para abdi dalem yang bertugas di Makam Senopaten, sekaligus menjadi tempat bagi para peziarah untuk beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum memasuki kompleks makam. 2 bangunan yang berada di sebelah barat disebut Bangsal Pengapit. Bangsal sebelah utara dikhususkan bagi peziarah putri, sedangkan yang selatan dikhususkan bagi peziarah putra. Untuk memasuki kompleks makam, para peziarah diwajibkan mengikuti sejumlah tata tertib, diantara yaitu kewajiban untuk memakai pakaian tradisional tertentu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di dalam makam terdapat sejumlah makam yang kesemuanya adalah raja atau kerabat dekatnya. Mereka yang disemayamkan di makam ini diantaranya : Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Sedo ing Krapak, Kanjeng Ratu Kalinyamat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Nyai Ageng Nis, Nyai Ageng Mataram, Nyai Ageng Juru Mertani, serta sejumlah tokoh lainnya. Pada bangunan Prabayeksa dalam kompleks makam terdapat sebuah makam yang unik, karena separuh bagian berada di sisi dalam dan separuh bagian lainnya di sisi luar. Ini adalah makam Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Konon, ini dimaksudkan sebagai lambang statusnya, sebagai menantu sekaligus musuh Panembahan Senopati. Di makam ini juga disemayamkan Sri Sultan Hamengku Buwono II , satu-satunya raja Kasultanan Yogyakarta yang tidak dimakamkan di Imogiri, serta makam saudaranya, Pangeran Adipati Pakualam I.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peziarah yang mengunjungi makam atau ingin bertirakat juga disyaratkan untuk mandi atau berendam di kolam yang terletak di sebelah selatan makam. Kolam ini disebut Sendhang Selirang. Ada 2 buah sendhang, Sendhang Kakung berada di sebelah utara dan Sendhang Putri di sebelah selatan. Mata air Sendhang Kakung konon berada tepat di bawah makam. Sementara Sendhang Putri memiliki sumber mata air yang berasal dari bawah pohon beringin yang terletak di jalan masuk kompleks makam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makam Imogiri&lt;br /&gt;Pajimatan Imogiri merupakan makam raja-raja Mataram (Surakarta dan Yogyakarta) yang terletak 17 kilometer ke arah selatan dari Kota Yogyakarta melalui Jalan Pramuka - Imogiri. Di kawasan itu bagi warga masyarakat disediakan lapangan parkir yang terletak di sebelah barat gerbang masuk sebelum naik tangga. Sedangkan bagi kerabat istana dan tamu VIP disediakan parkir di bagian atas mendekati makam sehingga tidak perlu meniti tangga. Mitos setempat menyatakan bahwa barang siapa bisa menghitung jumlah tangga secara benar (jumlahnya ada 345 anak tangga) maka cita-citanya akan terkabul. Tata cara memasuki makam di tempat itu sama dengan di Astana Kotagede, dimana setiap pengunjung diharuskan memakai pakaian tradisonil Mataram, pria harus mengenakan pakaian peranakan berupa beskap berwarna hitam atau biru tua bergaris-garis, tanpa memakai keris, atau hanya memakai kain/jarit tanpa baju. Sedangkan bagi wanita harus mengenakan kemben.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa selama berziarah pengunjung tidak diperkenankan memakai perhiasan. Bagi para peziarah yang tidak mempersiapkan pakaian dimaksud dari rumah bisa menyewa pada abdi dalem sebelum memasuki komplek makam. Bagi kerabat istana khususnya putra-putri raja ada peraturan tersendiri, pria memakai beskap tanpa keris, puteri dewasa mengenakan kebaya dengan ukel tekuk, sedangkan puteri yang masih kecil memakai sabuk wolo ukel konde.&lt;br /&gt;Menurut buku Riwayat Pasarean Imogiri Mataram, Makam Imogiri memang sejak awal telah disiapkan oleh Sultan Agung dengan susah payah. Diceritakan Sultan Agung yang sakti itu setiap Jumat sholat di Mekkah, dan akhirnya ia merasa tertarik untuk dimakamkan di Mekkah. Namun karena berbagai alasan keinginan tersebut ditolak dengan halus oleh Pejabat Agama di Mekkah, sebagai gantinya ia memperoleh segenggam pasir dari Mekkah. Sultan Agung disarankan untuk melempar pasir tersebut ke tanah Jawa, dimana pasir itu jatuh maka di tempat itulah yang akan menjadi makam Sultan Agung. Pasir tersebut jatuh di Giriloyo, tetapi di sana Pamannya, Gusti Pangeran Juminah (Sultan Cirebon) telah menunggu dan meminta untuk dimakamkan di tempat itu. Sultan Agung marah dan meminta Sultan Cirebon untuk segera meninggal, maka wafatlah ia. Selanjutnya pasir tersebut dilemparkan kembali oleh Sultan Agung dan jatuh di Pegunungan Merak yang kini menjadi makam Imogiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Raja-raja Mataram yang dimakamkan di tempat itu antara lain : Sultan Agung Hanyakrakusuma, Sri Ratu Batang, Amangkurat Amral, Amangkurat Mas, Paku Buwana I, Amangkurat Jawi, Paku Buwana II s/d Paku Buwana XI. Sedangkan dari Kasultanan Yogyakarta antara lain : Hamengku Buwana I s/d Hamengku Buwana IX, kecuali HB II yang dimakamkan di Astana Kotagede. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Situs Watugilang&lt;br /&gt;Watu Gilangmerupakan batu hitam berbentuk persegi, berukuran 2 m di setiap sisinya, tingginya 30 cm dan terletak di sebuah ruangan yang sengaja dibuat untuk untuk melindungi batu ini. Oleh penduduk, batu ini dipercaya dulunya merupakan dampar atau singgasana Panembahan Senopati. Pada sisi timur batu ini terdapat kikisan seperti bekas bekas pukulan sesuatu. Dulu batu ini terletak di Pendopo, tapi peninggalan Pendopo sudah tidak ada lagi sejak runtuhnya kerajaan Mataram ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ruangan tempat Watu Gilang ini berukuran 3×3 m di tengah pelataran yang dulunya berupa keraton. Dalam ruangan ini juga terdapat tiga batu kuning berbentuk bola yang biasa disebut Watu Gatheng(batu yang mangagumkan) dengan ukuran berbeda-beda.. Ketiga batu ini terletak di sebelah selatan pintu masuk. Di sisi pintu sebelah utara terdapat gentong dari batu hitam setinggi 80 cm dengan beberapa cekungan sebesar jari tangan di sisi depannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Petilasan Pangeran Purbaya (Astana Wotgaleh)&lt;br /&gt;Makam itu terletak di Dusun Karangmoncol, Kelurahan Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Sleman (tepatnya diselatan bandara Adisutjipto, bahkan katanya pembuatan bandarapun bergeser ke utara gara-gara makam ini) dikenal sebagai Makam Wotgaleh, dimana di dalam makam tersebut terdapat makam Panembahan Purubaya.&lt;br /&gt;SELAIN terdapat nisan Panembahan Purubaya dan istri, di kompleks tersebut juga terdapat makam Kanjeng Ratu Giring, Kiai Wirasaba, Panembahan Purubaya II, Panembahan Purubaya III, dan lain-lain. Kompleks dipagari tembok setinggi 2 meter dengan ketebalan 40 cm.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siapa Panembahan Purubaya ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nama aslinya adalah Jaka Umbaran. Ia merupakan putra dari Panembahan Senopati yang lahir dari istri putri Ki Ageng Giring.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Candi Sukuh&lt;br /&gt;Candi Sukuh letaknya yang terpencil di lereng Gunung Lawu pada ketinggian lebih dari seribu meter dpl. Dari Terminal Tirtonadi Solo, Anda bisa naik bis umum jurusan Solo-Tawangmangu dan turun di Karang Pandan, dilanjutkan dengan minibus jurusan Kemuning dan disambung dengan ojek hingga ke kawasan candi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bentuk candi ini yang berupa trapezium memang tak lazim seperti umumnya candi-candi lain di Indonesia. Sekilas tampak menyerupai bangunan suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Situs candi Sukuh ditemukan kembali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Kemudian setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, yang berwarganegara Belanda melakukan penelitian. Lalu pada tahun 1928, pemugaran dimulai. &lt;br /&gt;Candi Sukuh dibangun dalam tiga susunan trap (teras), dimana semakin kebelakang semakin tinggi. Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada gapura ini ada sebuah candrasangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Dilantai dasar dari gapura ini terdapat relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vagina. Sepintas memang nampak porno, tetapi tidak demikian maksud si pembuat. Sebab tidakmungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno. Relief ini mengandung makna yang mendalam. Relief ini mirip lingga-yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja di pahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada teras kedua juga terdapat gapura namun kondisinya kini telah rusak. Di kanan dan kiri gapura yang biasanya terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, didapati pula, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama !&lt;br /&gt;Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Konon arsitektur ini sengaja dibuat demikian. Sebab candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar, sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan struktur bangunan seperti ini boleh dibilang Candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya. Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candhi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang ditengah itulah tempat yang paling suci. Sedangkan ikwal Candi Sukuh ternyata menyimpang dari aturan-aturan itu, hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, sebab ketika Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah memudar, dan mengalami pasang surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada candhi Sukuh ini. Karena trap ketiga ini trap paling suci, maka maklumlah bila ada banyak petilasan. Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini juga dibagi dua oleh jalan setapa yang terbuat dari batu. Jalan batu di tengah pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sebelah selatan jalan batu, di pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil “ngruwat” Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil “ngruwat” Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari.di kayangan dengan nama bethari Uma Sudamala maknanya ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil “ngruwat”.Adapun Cerita Sudamala diambil dari buku Kidung Sudamala.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada lokasi ini  terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian Tirta Amerta yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti. Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari Tirta Amerta.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Istana Ratu Boko&lt;br /&gt;Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri Vihara (berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual.&lt;br /&gt;Istana ini terletak di 196 meter di atas permukaan laut. Areal istana seluas 250.000 m2 terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi Pendopo, Balai-Balai, 3 candi, kolam, dan kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam terdapat di bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila masuk dari pintu gerbang istana, anda akan langsung menuju ke bagian tengah. Dua buah gapura tinggi akan menyambut anda. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Bila anda cermat, pada gapura pertama akan ditemukan tulisan 'Panabwara'. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara, (keturunan Rakai Panangkaran) yang mengambil alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi kekuasaan, memberi 'kekuatan' sehingga lebih agung dan memberi tanda bahwa bangunan itu adalah bangunan utama.&lt;br /&gt;Sekitar 45 meter dari gapura kedua, anda akan menemui bangungan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ, akan ditemukan pula Candi Pembakaran. Candi itu berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai namanya, candi itu digunakan untuk pembakaran jenasah. Selain kedua candi itu, sebuah batu berumpak dan kolam akan ditemui kemudian bila anda berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi Pembakaran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumur penuh misteri akan ditemui bila berjalan ke arah tenggara dari Candi Pembakaran. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang diberikan mantra. Kini, airnya pun masih sering dipakai. Masyarakat setempat mengatakan, air sumur itu dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya. Sementara orang-orang Hindu menggunakannya untuk Upacara Tawur agung sehari sebelum Nyepi. Penggunaan air dalam upacara diyakini dapat mendukung tujuannya, yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi dan isinya pada harmoni awalnya. Melangkah ke bagian timur istana, anda akan menjumpai dua buah gua, kolam besar berukuran 20 meter x 50 meter dan stupa Budha yang terlihat tenang. Dua buah gua itu terbentuk dari batuan sedimen yang disebut Breksi Pumis. Gua yang berada lebih atas dinamakan Gua Lanang sedangkan yang berada di bawah disebut Gua Wadon. Persis di muka Gua Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa. Berdasarkan sebuah penelitian, diketahui bahwa stupa itu merupakan Aksobya, salah satu Pantheon Budha.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski didirikan oleh seorang Budha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat dilihat dengan adanya Lingga dan Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan "Om Rudra ya namah swaha" sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Memang, saat itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.&lt;br /&gt;Di Istana Ratu Boko ini, kita bisa coba menyambung rasa dengan Eyang Bandung Bondowoso.  Beliau adalah salah satu leluhur agung tanah Jawa yang sakti mandraguna, putra Prabu Damar Maya dari Kraton Pengging yang pada jamannya terkenal gemah ripah loh jinawi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Candi Prambanan&lt;br /&gt;Candi Prambanan adalah mahakarya kebudayaan Hindu dari abad ke-10. Bangunannya yang langsing dan menjulang setinggi 47 meter membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dariCandi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.&lt;br /&gt;Memasuki candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, anda akan menemui 4 buah ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3 ruangan yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang dalam legenda yang diceritakan di atas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang terletak di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca Brahma.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti 'terbit' atau 'bersinar', biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemampuan menyelamatkan itu yang dikagumi oleh banyak orang sampai sekarang dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Indonesia menggunakannya untuk lambang negara. Konon, pencipta lambang Garuda Pancasila mencari inspirasi di candi ini. Negara lain yang juga menggunakannya untuk lambang negara adalah Thailand, dengan alasan sama tapi adaptasi bentuk dan kenampakan yang berbeda. Di Thailand, Garuda dikenal dengan istilah Krut atau Pha Krut.&lt;br /&gt;Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masuklah ke dalam salah satu atau semua candi yang ada di komplek Prambanan, meditasi di situ, dan rasakan sensasinya!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Candi Arjuna&lt;br /&gt;Candi Arjuna adalah sebuah kompleks candi Hindu peninggalan dari abad ke-7-8 yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dibangun pada tahun 809, Candi Arjuna merupakan salah satu dari delapan kompleks candi yang ada di Dieng. Ketujuh candi lainnya adalah Semar, Gatotkaca, Puntadewa, Srikandi, Sembadra,Bima dan Dwarawati.&lt;br /&gt;Di kompleks candi ini terdapat 19 candi namun hanya 8 yang masih berdiri. Bangunan-bangunan candi ini saat ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Batu-batu candi ada yang telah rontok, sementara di beberapa bagian bangunan ini terlihat retakan yang memanjang selebar 5 cm. Selain itu, bangunan ini sudah mulai miring ke arah barat. Fondasi timurnya telah amblas sekitar 15 hingga 20 cm.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya berkesempatan meditasi di 6 titik: Situs Dwarawati – saat pertama kali masuk ke kompleks Candi Arjuna, diteruskan di Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Puntadewa, Candi Srikandi, dan Candi Sumbadra.  Sejauh pengalaman, meditasi di setiap titik ini menghasilkan pesan atau kesadaran yang berbeda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lebih dari itu, selepas meditas di candi-candi yang ada di sana, sempatkan untuk menikmati suasana alam Dieng yang penuh pesona mistis.  Yah, tak salah kalau Dieng, disebut orang sebagai tempatnya para dewa dan dewi.  Harum wangi.  Mempesona!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pantai Laut Selatan&lt;br /&gt;Pantai Laut Selatan, seperti Parangkusumo dan Parangtritis, adalah sebagian titik di mana kita bisa menyambungkan rasa kita dan sowan kepada salang satu pamong Nusantara, Kanjeng Ratu Kidul.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kanjeng Ratu Kidul, harus dibedakan dengan Nyi Roro Kidul.  Karena antara "Roro kidul" dengan "Ratu kidul" memang sangatlah berbeda. Pada mitologi jawa, Ratu Kidul merupakan ciptaan dari Dewa Kaping telu yang kemudian mengisi alam kehidupan sebagai Dewi Padi (Dewi Sri), Bambu dll. Sedangkan Roro Kidul merupakan Putri dari Prabu Siliwangi yang terusir oleh ayahandanya sendiri karena ulah dari saudaranya sendiri yang kemudian menjelma menjadi sosok penguasa di laut selatan setelah menceburkan diri di laut selatan. Dan cerita terkait antara "Ratu Kidul" dengan "Roro Kidul" bisa dikatakan beda fase tahapan kehidupan menurut mitologi jawa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi orang jawa, sosok Ratu Kidul merupakan sosok agung dalam sejarah jawa dan kehidupan bagi orang jawa. Karena orang jawa mengenal sebuah istilah "telu-teluning atunggal" yaitu 3 sosok yang menjadi satu kekuatan. Yaitu, Eyang resi proyopati, panembahan senopati, dan ratu kidul. Panembahan merupakan pendiri kerajaan mataram pertama, yang dipertemukan oleh Ratu Kidul ketika bertiwikrama guna memenuhi wangsit yang diterimanya membangun sebuah keraton yang sebelumnya sebuah hutan dengan nama "alas mentaok" (sekarang Daerah Istimewa Yogyakarta). Pada proses bertapa, diceritakan semua alam menjadi kacau, ombak besar, hujan badai, gempa, gunung meletus, dll.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukin Turgo&lt;br /&gt;Bukit Turgo, yang terletak di Desa Turgo, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, terhubung dengan nama Kyai Turgo.  Kyai Turgo adalah nama lain dari Pangran Bracakngelo.  Beliau adalah salah satu putra dari Prabu Brawijaya V, yang menyelamatkan diri ketika Kraton Majapahit dihancurkan oleh pasukan Demak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat itu. Prabu Brawijaya V dengan disertai putra dan putri serta prajurit yang masih setia meninggalkan Keraton Majapahit mencari perlindungan ke daerah lain yang dianggap aman. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari sekian putra dan putri beliau, salah seorang Pangeran yang bernama Bracakngelo menyelamatkan diri menuju ke arah barat yang akhirnya sampai di Karanglo dekat lereng Merapi. Kemudian pindah ke Turgo dekat puncak Merapi, disana beliau menetap dan berusaha menolong penduduk yang sering terkena musibah letusan Gunung Merapi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pangeran Bracakngelo terkenal sebagai seorang yang sangat sakti. Dengan kesaktiannya ia berusaha mencegah apabila Gunung Merapi meletus, awan panas tidak mengarah ke selatan. Berkat keberhasilannya oleh penduduk setempat, Pangeran Bracakngelo diberi gelar Kyai Ageng Turgo&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari sekian putra dan putri beliau, salah seorang Pangeran yang bernama Bracakngelo menyelamatkan diri menuju ke arah barat yang akhirnya sampai di Karanglo dekat lereng Merapi. Kemudian pindah ke Turgo dekat puncak Merapi, disana beliau menetap dan berusaha menolong penduduk yang sering terkena musibah letusan Gunung Merapi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pangeran Bracakngelo terkenal sebagai seorang yang sangat sakti. Dengan kesaktiannya ia berusaha mencegah apabila Gunung Merapi meletus, awan panas tidak mengarah ke selatan. Berkat keberhasilannya oleh penduduk setempat, Pangeran Bracakngelo diberi gelar Kyai Ageng Turgo&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Taman Purbakala Cipari&lt;br /&gt;Situs Cipari adalah sebuah situs di Kabupaten Kuningan, yang tepatnya terletak di Desa Cipari Kecamatan Cigugur. Situs Cipari sendiri terletak di daerah lembah di atas ketinggian 700 m dpl dan pada koordinat 1080 28' 156" BT, 060 57' 723" LS, sekitar 3 km ke arah barat dari pusat kota Kuningan. Untuk mencapai situs ini pengunjung dapat menggunakan baik kendaraan roda dua maupun roda empat dengan mudah karena jalan menuju situs ini cukup lebar dan beraspal. Luas situs ini sendiri mencapai 700 m2 dan menjadi bagian dari areal Taman Purbakala Cipari yang luasnya mencapai 2500 m. Dan karena berada dalam lingkungan Taman Purbakala maka situs Cipari pun lebih dikenal dengan Taman Purbakala Cipari. Sejak pertama kali ditemukan yaitu pada tahun 1971/1972 oleh penduduk setempat yang kemudian dilakukan penggalian oleh Pemda Kuningan situs ini pun kemudian di buka untuk umum sebagai pilihan sarana wisata Budaya yang lebih menitik beratkan pada sisi pendidikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Situs Cipari berdasarkan tipologi dan statigrafi diperkirakan pernah mengalami 2 kali masa pemukiman yaitu pemukiman manusia pada akhir masa neolitik dan awal pengenalan masa perunggu (masa perundagian) yang berkisar antara tahun 1000 SM s.d 500 SM. Bukti-bukti peninggalan manusia pada akhir masa neolitik dan awal pengenalan masa perunggu sendiri dapat ditemukan dalam berbagai artefak yang terdapat di situs ini yang antara lain fragmen tembikar seperti pernik, kendi, piring, pedupaan dan cawan, gelang batu, beliung persegi, kapak perunggu dan manik-manik, tulang hewan yang kesemuanya didapat dari hasil penggalian dua peti kubur. Sayangnya dalam penggalian dua kuburan batu (yang satu lengkap dengan penutup kuburnya yang berukuran 16 x 56 x 59 cm) di dalam peti kubur tersebut tidak ditemukan sisa jasad manusia melainkan hanya bekal kuburnya saja seperti yang Portal Cirebon sebutkan di atas. Karena melihat temuan-temuan di atas tadi maka dari itulah situs Cipari di duga kuat berasal dari masa perundagian (paleometalik atau perunggu besi) yaitu zaman manusia di masa transisi antara zaman megalitik menuju ke zaman perunggu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak hanya artefak-artefak seperti yang saya sebutkan di atas saja yang terdapat dalam situs Cipari ini melainkan masih banyak juga peninggalan-peninggalan sejarah lain yang tak kalah menakjubkan seperti misalnya pintu gerbang arah kiri ke kanan akan dijumpai menhir dengan tatanan batu, menhir dengan tatanan lempengan batu sekeliling di bagian bawah kuburan, dan juga kapak batu sebagai hasil kebudayaan manusia pada zaman itu. Kondisi objek situs pun masih tetap sama sesuai dengan kondisi pertama kali ditemukan meski ada beberapa bagian yang ditambahkan pada situs ini seperti misalnya lantai jalan setapak di taman purbakala Cipari yang ditambahkan susunan lempeng batu yang diupayakan agar serasi dengan tinggalan megalitik yang dominant terbuat dari batu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk bermeditasi, coba pilih lokasi di tengah  salah satu lingkaran bebatuan yang ada di situs itu, tepat di tengah-tengah antara dua menhir yang saling berseberangan.  Di titik itulah salah satu lokus energi Situs Cipari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Situs Sang Hyang Ci Arca&lt;br /&gt;Jika Anda mencari tempat dengan energi yang kuat, dengan suasana mistik yang menghanyutkan, kunjungilah Situs Sanghyang Ci Arca di Desa Sagarahyang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Situs ini berada di kaki Gunung Ciremai. Di titik ini, telah terbangun kerajaan sejak 2000 tahun sebelum Masehi.  Di sini, Keratuan Sunda pernah menegakkan keberadaannya.  Salah satu raja Sunda yang dihubungkan dengan situs ini adalah Rahyang Tangkukuh.   Dalam sejarah Rahyang Tangkukuh/Sang Seuweukarma melakukan perjanjian Galuh I tahun 737 Masehi, di wilayah Cigugur. Yang mendamaikan Rahyang Banga ( cucu Rahyang Sanjaya Harisdharma) dengan Sang Manarah. &lt;br /&gt;Di situs ini, kita bisa menemukan batu lingga yoni, dan beberapa bebatuan yang terbentuk menyerupai binatang.  Bentuk-bentuk batu tersebut menggambarkan tuanya situs ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sini, bersemayam juga 7 karuhun Tanah Sunda: Sanghyang Sanggawinata, Nyai Sanghyang Sanggawinata, Dangyang Penganten,  Nyai Bokor Kencana, Nyai Pucuking Manah, Nyai Rambut Galing, dan Nyai Boros Ngora.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Trowulan&lt;br /&gt;Trowulan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Kecamatan ini terletak di bagian barat Kabupaten Mojokerto, berbatasan dengan wilayahKabupaten Jombang. Trowulan terletak di jalan nasional yang menghubungkanSurabaya-Solo.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di kecamatan ini terdapat puluhan situs seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, temuan arca, gerabah, dan pemakaman peninggalan Kerajaan Majapahit. Diduga kuat, pusat kerajaan berada di wilayah ini yang ditulis oleh Mpu Prapanca dalam kitabKakawin Nagarakretagama dan dalam sebuah sumber Cina dari abad ke-15. Trowulan dihancurkan pada tahun 1478 saat Girindrawardhana berhasil mengalahkan Kertabumi, sejak saat itu ibukota Majapahit berpindah ke Daha.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa tempat yang pernah saya jadikan tempat meditasi adalah Sitihinggil, di mana di situ ada petilasan Raden Wijaya, pendiri Kraton Majapahit bersama para garwo, dan Tambak Segaran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tambak atau Kolam Segaran adalah kolam besar berbentuk persegi panjang dengan ukuran 800 x 500 meter persegi. Nama Segaran berasal dari bahasa Jawa 'segara' yang berarti 'laut', mungkin masyarakat setempat mengibaratkan kolam besar ini sebagai miniatur laut. Tembok dan tanggul bata merah mengelilingi kolam yang sekaligus memberi bentuk pada kolam tersebut. Saat ditemukan oleh Maclain Pont pada tahun 1926, struktur tanggul dan tembok bata merah tertimbun tanah dan lumpur. Pemugaran dilakukan beberapa tahun kemudian dan kini kolam Segaran difungsikan oleh masyarakat setempat sebagai tempat rekreasi dan kolam pemancingan. Fungsi asli kolam ini belum diketahui, akan tetapi penelitian menunjukkan bahwa kolam ini memiliki beberapa fungsi, antar lain sebagai kolam penampungan untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk kota Majapahit yang padat, terutama pada saat musim kemarau. Dugaan populer lainnya adalah kolam ini digunakan sebagai tempat mandi dan kolam latihan renang prajurit Majapahit, disamping itu kolam ini diduga menjadi bagian taman hiburan tempat para bangsawan Majapahit menjamu para duta dan tamu kerajaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-6301214329682969336?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/6301214329682969336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=6301214329682969336' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/6301214329682969336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/6301214329682969336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2011/08/tempat-tempat-menjalankan-laku-prihatin_25.html' title='Tempat-tempat Menjalankan Laku Prihatin di Tanah Jawa (II)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-9110905811596871918</id><published>2011-08-25T01:36:00.000-07:00</published><updated>2011-08-25T01:38:18.676-07:00</updated><title type='text'>Tempat-Tempat Menjalankan Laku Prihatin di Tanah Jawa</title><content type='html'>Lelaku, atau melakukan perjalanan spiritual, menapaktilasi jejak para leluhur, adalah satu kegiatan yang lazim dilakukan para spiritualis di Tanah Jawa.  Dalam tulisan ini, ijinkan saya untuk berbagi cerita dan infromasi, tentang tempat-tempat yang telah saya datangi dalam rangka lelaku tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro&lt;br /&gt;Petilasan dalam bentuk makam ini, berada di lembah dua gunung yang berdampingan, yaitu Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.   Tepatnya, ia berada di Selo, termasuk  Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.  Menuju tempat ini, bisa melalui Boyololali, dari arah Cempaga, atau masuk dari Kabupaten Magelang,   tepatnya dari Wekas (Kaponan / Magelang).&lt;br /&gt;Raja-raja Mataram, hingga Raja-raja dari Keraton Jogja, sering menjadikan petilasan ini sebagai tempat bertapa.&lt;br /&gt;Ki Ageng Kebo Kanigoro adalah putra dari Adipati Pengging, yang menikah dengan Retno Pembayun, putri dari Prabu Brawijaya V.  Beliau adalah kakak dari Ki Ageng Kebo Kenongo.  Karena kegemarannya mencari ilmu kesejatian, beliau meninggalkan Kraton Pengging, dan lebih suka mengembara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal menarik yang terekam di benak saya adalah, betapa indahnya tempat ini.  Petilasan ini dikelilingi pohon-pohon besar.  Tanahnya hijau berlumut..laksana dilapisi karpet hijau nan indah.  Suasananya sungguh membuat hati tergetar, sekaligus damai.  Apalagi jika kita berada di sana, saat kabut turun.  Wow…sungguh menakjubkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Petilasan Pengging&lt;br /&gt;Di Desa Pengging, Kec. Banyudono, kita bisa menemukan beberapa petilasan leluhur dari Kraton Pengging yang saling berdekatan.  Yang pernah saya kunjungi adalah satu komplek makam, di sana terdapat makam Eyang Pengging Sepuh, Eyang Retno Pembayun, dan Ki Ageng Kebo Kanigoro.  Tentu saja, bukan makam sebenarnya, hanya sebuah tanda/petilasan, tempat kita bisa sowan pada beliau-beliau.  Tak jauh dari situ, kita bisa temukan makam Ki Ageng Kebo Kenongo, yang menyatu dengan makam umum.&lt;br /&gt;Di samping makam, di Desa Pengging, kita bisa menemukan beberapa tuk, atau mata air, tempat kita bisa kungkum, berendam, atau sekadar menikmati segarnya air di situ untuk membasuh muka dan badan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Petilasan Ki Ageng Tarub&lt;br /&gt;Ki Ageng Tarub adalah leluhur yang menurunkan raja-raja Jawa.  Letak makam beliau adalah di Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan.  Satu komplek dengan makam beliau, terdapat makam Raden Mas Bondan Kejawan atau disebut juga dengan Ki Lembu Peteng yang di berijulukan juga sebagai Ki Ageng Tarub II beliau Putra dari Raja Majapahit Maha Prabu Brawijaya V yang menjadi murid sekaligus putra menantu Ki Ageng Tarub.  Eyang Bondan Kejawan ini menikah dengan Dewi Nawang Sih, putri Ki Ageng Tarub dari pernikahannya dengan Dewi Nawang Wulan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lebih jelas, sejarah singkat beliau adalah sebagai berikut: Ki Ageng Tarub adalah nama lain dari Jaka Tarub, yang bersahabat dengan Prabu Brawijaya V raja Majapahit. Pada suatu hari Prabu Brawijaya V  mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Utusan Prabu Brawijaya V yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Prabu Brawijaya V. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.&lt;br /&gt;Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Petilasan Ki Ageng Selo&lt;br /&gt;Makam Ki Ageng Selo, berada di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo Purwodai, persis berseberangan jalan dengan makam Ki Ageng Tarub.  Ki Ageng Selo, adalah cucu dari Ki Ageng Tarub, dari putra beliau Ki Ageng Getas Pendawa.  Ki Ageng Sela tercatat pernah mendaftar sebagai perwira di Kesultanan Demak. Ia berhasil membunuh seekor banteng sebagai persyaratan seleksi, namun ngeri melihat darah si banteng. Akibatnya, Sultan menolaknya masuk ketentaraan Demak. Ki Ageng Sela kemudian menyepi di desa Sela sebagai petani sekaligus guru spiritual. Ia pernah menjadi guru Jaka Tingkir, pendiri Kesultanan Pajang. Ia kemudian mempersaudarakan Jaka Tingkir dengan cucu-cucunya, yaitu Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ki Ageng Sela juga pernah dikisahkan menangkap petir ketika sedang bertani. Petir itu kemudian berubah menjadi seorang kakek tua yang dipersembahkan sebagai tawanan pada Kesultanan Demak. Namun, kakek tua itu kemudian berhasil kabur dari penjara. Untuk mengenang kesaktian Ki Ageng Sela, pintu masuk Masjid Agung Demak kemudian disebut Lawang Bledheg (pintu petir), dengan dihiasi ukiran berupa ornamen tanaman berkepala binatang bergigi runcing, sebagai simbol petir yang pernah ditangkap Ki Ageng. Bahkan, sebagian masyarakatJawa sampai saat ini apabila dikejutkan bunyi petir akan segera mengatakan bahwa dirinya adalah cucu Ki Ageng Sela, dengan harapan petir tidak akan menyambarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ki Ageng Sela juga berkaitan dengan asal-usul pusaka Mataram yang bernama Bende Kyai Bicak. Dikisahkan pada suatu hari Ki Ageng Sela menggelar pertunjukan wayang dengan dalang bernama Ki Bicak. Ki Ageng jatuh hati pada istri dalang yang kebetulan ikut membantu suaminya. Maka, Ki Ageng pun membunuh Ki Bicak untuk merebut Nyi Bicak. Akan tetapi, perhatian Ki Ageng kemudian beralih pada bende milik Ki Bicak. Ia tidak jadi menikahi Nyi Bicak dan memilih mengambil bende tersebut. Bende Ki Bicak kemudian menjadi warisan turun temurun keluarga Mataram. Roh Ki Bicak dipercaya menyatu dalam bende tersebut. Apabila hendak maju perang, pasukan Matarambiasanya lebih dulu menabuh bende Ki Bicak. Bila berbunyi nyaring pertanda pihak Mataram akan menang. Tapi bila tidak berbunyi pertanda musuh yang akan menang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain pusaka, Ki Ageng Sela meninggalkan warisan berupa ajaran moral yang dianut keturunannya di Mataram. Ajaran tersebut berisi larangan-larangan yang harus dipatuhi apabila ingin mendapatkan keselamatan, yang kemudian ditulis para pujangga dalam bentuk syair macapat berjudul Pepali Ki Ageng Sela.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gua Langse&lt;br /&gt;GUA Langse berada di kaki tebing pantai Parangtritis. Warga sekitar juga menyebut Gua Langse sebagai Gua Kanjeng Ratu Kidul. Gua ini sering dikunjungi oleh raja-raja Mataram.  Yang paling terkenal terkait dengan gua ini, adalah kisah pertemuan antara Panembahan Senopati, pendiri Kraton Mataram, dengan Kanjeng Ratu Kidul.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari pantai Parangtritis untuk menuju Gua Langse masih harus berjalan sekitar 3 km ke arah timur menaiki perbukitan. Sebelum menuju ke gua, di pos jaga, kita akan diminta mengisi buku tamu dan memberi donasi bagi perawatan gua. Dari sini kita masih harus berjalan kaki sekitar 750 m menyusuri jalan setapak di antara rerimbunan ladang. Kita juga bisa diantar oleh salah seorang penjaga, langsung menuju ke gua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesampainya di bibir tebing atas Gua Langse, kita masih harus menuruni tebing tempat Gua Langse berada, dengan jalan turun berupa campuran antara tangga yang sudah lapuk, akar, dan tonjolan bebatuan. Ya, kita harus menaklukkan tebing dengan ketinggian 300-400 m dan nyaris tegak lurus dengan suara deburan ombak yang keras menerjang tebing dan karang-karang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sendang Beji&lt;br /&gt;Sendang Beji terletak di Dusun Girijati, Parangrejo, Panggang, Gunung Kidul. Tempat ini dapat dicapai melalui jalan aspal yang menghubungkan Prangtritis-Panggang. Lokasi ini akan mudah dicapai dengan engikuti jalan aspal di sebelah timur parkiran bus pariwisata Pantai Parangtritis. Setelah sampai di pertigaan jalan aspal pengunjung dapat mengikuti arah ke timur (kanan)-arah ke Gua Langse.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah sampai di pertigaan kampung yang mengarah ke Candi Gembirawati dan Gua Langse, pengunjung dapat mengikuti jalan ke arah Candi Gembirawati. Jika pengunjung berkendaraan, maka kendaraan harus dititipkan ke rumah penduduk setempat sebab jalan menuju lokasi Sendang Beji adalah jalan setapak dengan menembus tegalan, sawah, dan kebun. Rumah terdekat dari lokasi Sendang Beji untuk penitipan kendaraan berada di sisi selatan Candi Gembirawati.&lt;br /&gt;Sendang Beji ini sekarang telah dibuatkan talud yang juga berfungsi sebagai penampung utama dari kucuran airnya. Talud yang berfungsi sebagai bak penampung ini memiliki ukuran panjang sekitar 20 meter, lebar bagian hilir 6 meter, lebar bagian hulu 13 meter. Kedalaman rata-rata dari sendang ini sekitar 0,5 meter.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sendang ini juga dilengkapi dengan tempat peristirahatan sebanyak satu buah. Tempat peristirahatan ini kira-kira berukuran 7,5 meter X 9 meter. Kecuali itu tempat ini juga dilengkapi dengan mushala dengan ukuran kira-kira 7,5 X 12 meter. Sendang juga dilengkapi dengan kamar mandi berukuran sekitar 4 meter X 4 meter. Sedangkan bak penampungan yang berfungsi untuk membagi air berukuran sekitar 3 X 8 meter.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keberadaan sendang ini juga dikengkapi dengan tempat pemujaan sebanyak 4 buah. Tempat pemujaan I (terletak di tengah sendang) memiliki ukuran sekitar 2 meter X 4 meter. Pemujaan di tengah sendang ini diperkeras dengan lantaikeramik warna merah dan putih. Ukuran keramik 20 cm x 20 cm. Pemujaan yang kedua (di sisi atas sendang) memiliki ukuran sekitar 2,5 meter X 5 meter. Pada tempat pemujaan kedua ini dilengkapi juga dengan arca batu setinggi kira-kira 2 meteran. Demikian pula tempat pemujaan yang ketiga (di sisi atas pemujaan yang kedua) juga dilengkapi arca batu setinggi 2 meteran. Tempat pemujaan yang ketiga ini memiliki ukuran sekitar 4 X 8 meteran. Sedangkan pemujaan yang ke-4 terletak di dinding timur tempat peristirahatan. Tempat pemujaan yang keempat ini berukuran sekitar 80 Cm X 80 Cm.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sendang Beji di Girijati adalah tempat yang dulunya pernah digunakan mandi oleh serombongan bidadari dari Kahyangan. Karena pada zaman dulu keletakan sendang dengan air jernih yang tidak pernah kering ini berada di punggung bukit dalam lindungan hutan yang lebat, maka keletakannya menjadi disukai para bidadari. Salah satu bidadari yang mandi di sendang ini menurut sumber setempat bernama Dewi Nawangwulan (istri Jaka Tarub).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-9110905811596871918?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/9110905811596871918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=9110905811596871918' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/9110905811596871918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/9110905811596871918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2011/08/tempat-tempat-menjalankan-laku-prihatin.html' title='Tempat-Tempat Menjalankan Laku Prihatin di Tanah Jawa'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-8787222937546115687</id><published>2011-03-09T21:50:00.000-08:00</published><updated>2011-03-09T21:51:15.899-08:00</updated><title type='text'>MEREGUK PESONA SPIRITUAL BUGIS</title><content type='html'>Akhir Januari 2011, saya berkesempatan menjejakkan kaki di Tlatah Sulawesi.  Agenda resmi saya sebetulnya melakukan penelitian menyangkut pendidikan pesantren dalam kaitannya dengan pembentukan nilai-nilai kebangsaan.  Namun, sudah saya niatkan, bahwa saya harus melakukan hal tambahan yang bisa memperkaya khazanah spiritual saya.  Di satu sisi, saya memang sangat ingin menyambungkan rasa saya dengan para leluhur dan komunitas spiritual di Tlatah Sulawesi, sebagai bagian dari mengembangkan persaudaraan antar warga Nusantara – khususnya yang sama-sama punya gairah untuk melanggengkan tradisi spiritual Nusantara yang agung.  Di sisi lain, saya memandang penting untuk bisa menyerap energi dari berbagai tempat di Nusantara yang bisa memperkuat diri saya – yang memungkinkan saya berbuat lebih banyak dan efektif untuk kepentingan sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya awalnya tidak tahu sama sekali peta budaya spiritual di Sulawesi.  Saya mendapatkan titik terang setelah saya menelusuri informasi via Google.  Dari situ saya bertemu dua kata yang saya ingin lihat realitasnya di lapangan: Bissu, dan Komunitas Tolotang.  Berbekal informasi itu, saya mencoba mencari jalan agar bisa bertemu dengan Bissu dan pimpinan Komunitas Tolotang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucuk dicinta ulam tiba, di mana ada kemauan di situ ada jalan.  Dari sahabat saya, Uki Marzuki, yang alumnus Pesantren Tebu Ireng, saya mendapatkan jalan untuk berkenalan dengan Taufiqurrohman, Pengasuh Pesantren Al-Fakhriyyah di Makasar yang juga alumnus Tebu Ireng.   Olehnya, saya disambungkan dengan Mubarak Idrus,  pengajar di Pesantren Al-Fakhriyah yang juga sama-sama alumnus Tebu Ireng sekaligus aktivis di LSM Lapar di Makasar.  Dari Mubarak Idrus, saya mendapatkan nama Adi, aktivis Sekolah Demokrasi di Pangkep yang bisa saya jumpai dan membantu saya bertemu dengan Bissu di Pangkep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan tugas penelitian di Makasar, saya menuju ke Pangkep sebelum melanjutkan perjalanan ke Sengkang.  Di Pangkep, saya dimudahkan bertemu dengan Adi, karena setelah saya kontak via telepon, dia siap untuk menjemput saya begitu saya tiba di Pangkep.  Namun, saya tak langsung bisa diantar bertemu Bissu.  Untuk bertemu Bissu, saya harus dibuatkan jadwal dulu sesuai konfirmasi Bissu yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, ngomong-ngomong, tahukah Anda Bissu itu apa?  He, he, maaf, bagi yang belum tahu, ijinkan saya untuk menjelaskan bahwa Bissu adalah pendeta atau pemimpin spiritual Bugis kuno.  Saat ini ada beberapa Bissu di Sulawesi Selatan, tapi yang dianggap paling senior atau paling mumpuni keilmuannya adalah Bissu Puang Matowa Saidi yang tinggal di Pangkep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bissu punya peran besar di awal pembentukan masyarakat Bugis. Keberadaan Bissu Berdasarkan sejarah manusia Bugis, Bissu  dianggap sezaman dengan kelahiran suku Bugis itu sendiri. Ketika Batara Guru sebagai cikal bakal manusia Bugis dalam sure’La Galigo, turun ke bumi dari dunia atas ( botinglangik) dan bertemu dengan permaisurinya We Nyili Timo yang berasal dari dunia bawah (borikliung), bersamaan dengan itu turun pula seorang Bissu pertama bernama Lae-lae sebagai penyempurna kehadiran leluhur orang Bugis tersebut. Menurut tutur lisan Hajji Baco’, seorang Bissu, Batara Guru yang ditugasi oleh Dewata mengatur bumi rupanya tidak punya kemampuan management yang handal, karenanya diperlukan bissu dari botinglangik untuk mengatur segala sesuatu mengenai kehidupan. Ketika Bissu ini turun ke bumi, maka terciptalah pranata-pranata masyarakat Bugis melalui daya kreasi mereka, menciptakan bahasa, budaya, adat istiadat dan semua hal yang diperlukan untuk menjalankan kehidupan di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui perantara bissu inilah, para manusia biasa dapat berkomunikasi dengan para dewata yang bersemayam di langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari seorang Bissu adalah bahwa ia dianggap menampung dua elemen gender manusia, lelaki dan perempuan ( hermaphroditic beings who embody female and male elements), juga mampu mengalami dua alam; alam makhluk dan alam  roh (Spirit). Ketua para bissu adalah seorang yang bergelar Puang Matowa atau Puang Towa. Secara biologis, sekarang, bissu kebanyakan diperankan oleh laki-laki yang memiliki sifat-sifat perempuan walau ada juga yang asli perempuan, yang biasanya dari kalangan bangsawan tinggi, walau tidak mudah membedakan mana bissu yang laki-laki dan mana bissu yang perempuan. Dalam kesehariannya, bissu berpenampilan layaknya perempuan dengan pakaian dan tata rias feminim, namun juga tetap membawa atribut maskulin, dengan membawa badik misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam struktur budaya bugis, peran Bissu tergolong istimewa karena dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai satu-satunya operator komunikasi antara manusia dan dewa melalui upacara ritual tradisionalnya dengan menggunakan bahasa dewa/langit ( basa Torilangi), karenanya Bissu juga berperan sebagai penjaga tradisi tutur lisan sastra Bugis Kuno sure’ La Galigo. Apabila sure’ ini hendak dibacakan, maka sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, orang menabuh gendang dengan irama tertentu dan membakar kemenyan. Setelah tabuhan gendang berhenti, tampillah Bissu mengucapkan pujaan dan meminta ampunan kepada dewa-dewa yang namanya akan disebut dalam pembacaan sure’ itu. Bissu juga berperan mengatur semua pelaksanaan upacara tradisional, seperti upacara kehamilan, kelahiran, perkawinan ( indo’ botting), kematian, pelepasan nazar, persembahan, tolak bala, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, saya dijanjikan oleh Adi untuk bisa bertemu Bissu beberapa hari lagi.  Tepatnya, saya diminta menginformasikan kapan saya bisa selesai dari kerja penelitian di Wajo, dan saat itu dipertemukan dengan Bissu Puang Matowa Saidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kesepakatan ini, berangkatlah saya ke Wajo, dengan hasrat yang sangat kuat bahwa pada akhirnya saya bisa bertemu dengan pemimpin spiritual Bugis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Wajo, saya meneliti Pesantren As’adiyah.  Tapi, saya juga ingin sekali bertemu dengan sesepuh komunitas Tolotang yang sejauh informasi awal yang saya terima, tempat tinggalnya di sekitar Wajo.  Lagi-lagi saya beruntung, karena di Wajo saya bertemu dengan Abdul Malik, alumnus Pesantren As’adiyah yang kini menjadi dosen di STAIN Bone, dan pernah bersekolah di Madarasah Aliyah Putra Asadiyah di Macanang, bertetangga dengan komunitas Tolotang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Tolotang adalah para penganut ajaran spiritual asli Bugis.  Menyangkut kaum Tolotang ini, ada paparan sejarah yang diungkap seorang pemilik akun di Facebook yang memilih nama Nurani Batara Guru sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Patau Mulajaji, Arung Peneki Arung Singkang. Beliau menerima Islam dan sebagai raja beliau menganjurkan seluruh Pabbanua untuk memeluk Islam pula. Salah satu Raja atau arung yaitu DatuToni (nama lengkapnya tdk ada sumber) dengan pengikutnya yang di sebut To Toni atau Pattotoni, masih enggan menerima Islam karena harus meninggalkan banyak tradisi yang tidak diperbolehkan lagi oleh Islam. Kelompok ini tinggal di sekitar Tanasitolo (dulu disebut Wajo Ri Aja), sekarang pusatnya di sebelah timur Ujunge Pajalele, situsnya di Bujung Lapalloro. Ajakan Armawa lasangkuru untuk memeluk Islam kepada kelompok ini terus menerus datang. Suatu ketika Datu Toni menyampaikan kepada seluruh pengikutnya bahwa dia akan mencari tahu apa itu Islam, apa benar ada atau tidak, kabarnya pusatnya di negeri Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat, beliau memesankan kepada pengikutnya bahwa kalau beliau bertemu dan Islam benar benar ada maka beliau akan kembali untuk menyampaikan Islam tersebut atau kelau beliau tdk datang akan ada pemberitahuan beliau. Kalau tidak ada kabar, berarti Islam itu tidak ada. Lama kelamaan Beliau berangkat, ada yg berasumsi bahwa beliau sampai di Mekah tapi meninggal di sana. Semua pengiikutnya mengatakan bahwa Islam tidak ada karena baginda tdk pulang dan tidak kabar dari beliau. Suatu saat salah satu warga menimba air di Bujung lapalloro dan tiba tiba dalam timba ada badik Baginda Datu Toni (model badik = Cobo Sasa'), hal ini menjadi gempar sehingga sebagian beranggapan bahwa ini adalah kabar dari Baginda dan ini perintah untuk masuk islam dan sebagian pula beranggapan bahwa kalau bukan baginda yang pulang berarti tidak ada perintah untuk masuk Islam. kelompok yang yakin bahwa ini adalah kabar, masuk kota untuk bergabung dengan Islam dan sebagian yg tdk yakin tetap menganut kepercayaan lama. mendengar hal ini, Lasangkuru mengutus orang untuk memberikan pilihan kepada kelompok yang masih bertahan dengan adat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya yang masih menganut kepercayaan lama meninggalkan lokasi ini mencari tempat yng baru ke arah Utara, sampailah mereka di wilayah Raja Sidenreng yng juga sdh menganut Islam, akan tetapi mereka di berikan tanah baru di Bulu Lautang. AKhirnya mereka menetap di Bulu Lautang dan di gelari To Bulu Lautang atau Tolotang. Penjelasan saya bukan ingin mempertegas perbedaaan kepercayaan antara mereka dengan nenek moyang kita, akan tetapi saya ingin mempertegas bahwa Tolotang adalah keluarga, kerabat dan Saudara dengan Orang Wajo. Yang menjadi perhatian saya adalah Badik Cobo Sasa' ini masih di simpan oleh pemimpin mereka keturunan Datu Toni yng menjadi pemimpin Tolotang walaupun beliau adalah Orang Islam Polll. Saya pernah bertemu dengan salah satu keturunannya dan menjadi salah satu sumber cerita ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, mayoritas kaum Tolotang tinggal di Amparita, Kabupaten Sidenrang Rappang, berjarak sekitar 50 km dari Wajo.  Sebagian tinggal di Macanang yang masih termasuk Kabupaten Wajo.  Tanggal 1 Februari 2011, dengan diantar oleh Abdul Malik dan beberapa kawan aktivis PMII yang sekaligus alumnus Pesantren As’adiyah, saya coba menemui sesepuh Tolotang.  Mula-mula kami ke Macanang.  Setelah mencari-cari berdasarkan informasi dari salah satu kenalan dari Abdul Malik yang warga Tolotang, kami tiba di rumah sesepuh Tolotang.  Kami coba menyampaikan maksud kami untuk silaturrahmi dan dialog.  Tapi, dia tak bersedia untuk berkomunikasi lebih banyak, dan menyarankan saya agar ke Amparita saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memahami penolakannya itu, sebagai bentuk kehati-hatian yang dilandasi pengalaman traumatis.  Karena sejak awal abad 20, kaum Tolotang berada pada posisi yang tidak menyenangkan.  Mereka dianggap sebagai kaum sesat, penyembah berhala, dan oleh mereka yang terlalu bergairah dalam dakwah, dipaksa masuk Islam.  Dan di era kemerdekaan, mereka mengalami dua periode yang mengerikan, yaitu ketika coba dimusnahkan oleh gerombolan DI/TII dan ketika dipaksa masuk Islam oleh TNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan kawan-kawan seperjalanan memutuskan untuk ke Amparita.  Dan kami beruntung karena kami bisa bertemu dengan Ketua Pemangku Adat di sana, yaitu Mappajanci SH, seorang Jaksa di Sidrap yang digelari Uwwa Ambih.  Saya dan teman2 diterima dengan ramah oleh Uwwa Ambih di Rumah Adat Tolotang– kami dipersilakan duduk di semacam ranjang bambu di mana kami bisa bersila, serta disuguhi dengan teh hangat dan aneka kue.  Beberapa warga Tolotang duduk di sekitar kami, ikut mendengarkan perbincangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengungkapkan bahwa tujuan kehadiran saya adalah untuk menjalin ikatan persaudaraan dengan Uwwa Ambih dan warga Tolotang, sekaligus mendapatkan wawasan spiritualitas Tolotang.  Lalu mengalirlah diskusi kami.  Uwwa Ambih antara lain mengungkapkan keberadaan diri dan warganya sebagai pengamal setia kebudayaan Bugis.  Seringkali, dia mengatakan, orang menganggap mereka sebagai kelompok yang antik.  Dia dengan tersenyum bertanya, sebetulnya siapa yang sebetulnya antik (aneh)?  Sebetulnya yang dilakukan oleh warga Tolotang sekadar meneruskan tradisi dari leluhur mereka.  Justru yang antik atau aneh itu sebenarnya adalah mereka yang tidak lagi meneruskan tradisi leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari diskusi dengan Uwwa Ambih saya bisa menyimpulkan secara sederhana bahwa unsur ajaran Tolotang itu terdiri atas pengakuan dan penyembahan kepada Maha Pencipta, ritual penghormatan kepada leluhur, penghargaan kepada alam, dan etika kemanusiaan yang universal.  Dalam banyak hal, itu mirip - tetapi tidak sama persis - dengan Kejawen atau Sunda Wiwitan.  Berbagai praktek mereka seringkali oleh para penganut agama mayoritas sebagai penyembahan berhala; dan jelas itu dianggap sebagai tuduhan yang tidak berdasar yang dilandasi ketidakpahaman pada tradisi spiritual lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbincang-bincang sekitar 1 jam.  Sebetulnya kami masih ingin lebih lama diskusi, tapi kami khawatir tuan rumah sedang sibuk, apalagi kami hadir tanpa perjanjian.  Namun, Uwwa Ambih mengungkapkan harapannya saya dan kawan-kawan bisa hadir lagi untuk diskusi lebih lama.  Dalam hati saya berharapa punya kesempatan untuk bisa datang lagi ke Amparita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa bertemu Uwwa Ambih membuat saya merasa puas, dan memberi optimisme untuk bisa bertemu dengan Bissu yang juga menjadi agenda penting.  Hari itu juga saya mengontak Adi, untuk mengatur jadwal pertemuan dengan Bissu Puang Matowa Saidi, pada tanggal 2 Februari 2011.  Dan Adi menyanggupi permintaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 2 Februari 2011 saya meluncur dari Wajo menuju Pangkep.  Transit sebentar di Sekretariat Sekolah Demokrasi Pangkep, saya diiringi 4 kawan aktivis di Sekolah Demokrasi bersama-sama menuju rumah adat di mana Bissu Puang Matowa Saidi tinggal.  Tiba di tujuan, kami disambut oleh Bissu Puang Matowa Saidi yang kemudian bergegas berganti pakaian.  Saya dengan penasaran mencoba mencermati bagaimana sebetulnya wujud seorang pendeta yang bukan laki-laki dan bukan perempuan.  Dan yang saya saksikan, sebetulnya adalah sosok laki-laki yang berpenampilan halus karena unsur feminin di dalam dirinya cukup kuat. Bissu Puang Matowa Saidi menjumpai kami dengan kostum layaknya laki-laki Bugis: bersarung, berkemeja panjang warna putih, berpeci, dan berjanggut panjang tapi tanpa kumis.  Unsur feminin ternyata tampak lebih pada tindak tanduk yang halus.  Di luar itu yang menonjol dalam tangkapan mata saya adalah wajah Bissu yang bersih dan membiaskan cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bissu Puang Matowa Saidi sebetulnya bisa berbahasa Indonesia, tapi memilih berkomunikasi hanya dengan bahasa Bugis.  Jadi, saya beruntung karena didampingi kawan yang bisa menjadi penterjemah.  Jadi pola komunikasi di antara kami, saya menyampaikan kata-kata saya dalam bahasa Indonesia, Bissu menanggapinya, dan kawan saya yang menterjemahkannya kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, kami berbincang-bincang di teras rumah adat yang berbentuk rumah panggung khas Bugis.  Pada sessi diskusi di teras inilah Bissu mengungkapkan nujuman soal gejolak alam di Nusantara, sebagai imbas dari perilaku manusia Nusantara yang tidak selaras dengan alam Nusantara.  Kawan-kawan saya menjelaskan, bahwa Bissu memang terbukti beberapa kali punya pandangan yang tajam tentang apa yang terjadi.  Setiap akan ada gejolak alam yang besar, atau ada kejadian yang penting, biasanya Bissu menyampaikan pralambang tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak kegiatan saya dalam kunjungan ke tempat Bissu adalah ketika Bissu setuju untuk “mendoakan” saya, seperti yang dilakukan Puun Jahadi di Cibeo, Kanekes, Banten.  Permintaan “didoakan” ini saya lakukan karena saya memang menginginkannya, merujuk pada sensasi dan dampak positif yang saya rasakan setelah “didoakan” oleh Puun Cibeo.  Di samping, saya juga juga disarankan oleh Mas Okky Satrio Jati, yang menjelaskan bahwa Bissu itu bisa menjadi medium untuk menyerap energi murni dari Tlatah Sulawesi.  Saya diundang masuk ke bagian ruangan dalam rumah adat.  Di ruangan itu terdapat perangkat-perangkat untuk proses atau ritual oleh Bissu.  Di situ, kemenyan sudah mengebul menguarkan harum yang khas.  Saya diminta untuk duduk, berkonsentrasi, rileks, meditatif.  Bissu juga kemudian bermeditasi.  Setelah itu, Bissu menyampaikan pesan-pesan tertentu, yang tentu saja saya bisa mengerti setelah diterjemahkan oleh pendamping saya.  Saya mendapatkan pesan-pesan yang mengafirmasi beberapa hal, dan membuat saya makin termotivasi.  Di samping saya juga diingatkan tentang beberapa hal yang lalai saya lakukan, dan harus saya perbaiki.  Terakhir, Bissu mengambil sebuah badik kecil, memasukkannya ke dalam rongga mulut, sambil berkonsentrasi, setelah mengeluarkan badik itu dari rongga mulut, lalu melingkarkan tangannya ke tubuh saya, yang juga berkonsentrasi.  Itu dilakukan dalam rangka memperkuat energi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tuntasnya “ritual” di Rumah Adat Bissu Puang Matowa Saidi, terpenuhilah apa yang saya hasratkan ketika menjejakkan kaki di Tlatah Sulawesi.  Saya bisa kembali ke Jawa dengan hati penuh kepuasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kisah singkat ini bermanfaat.  Rahayu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-8787222937546115687?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/8787222937546115687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=8787222937546115687' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/8787222937546115687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/8787222937546115687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2011/03/mereguk-pesona-spiritual-bugis.html' title='MEREGUK PESONA SPIRITUAL BUGIS'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-7672315116615609266</id><published>2011-03-09T21:48:00.000-08:00</published><updated>2011-03-09T21:50:17.975-08:00</updated><title type='text'>MEREGUK PESONA SPIRITUAL KANEKES</title><content type='html'>Kisah Perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama sebetulnya saya tertarik untuk berkunjung ke Desa Kanekes Kabupaten Lebak Provinsi Banten, tempat bermukim salah satu gugus masyarakat Sunda Wiwitan – yang oleh kalangan akademisi, pemerintahan, maupun masyarakat umum disebut dengan masyarakat Baduy.  Dulu, motif saya semata-mata karena ingin tahu, ingin mengecap satu bentuk kehidupan yang terdengar eksotis.  Akhirnya, niatan itu terlaksana pada tanggal 3 Januari 2011 yang lalu.  Yang mendorong saya untuk menyempatkan diri ke Kanekes adalah dawuh dari guru spiritual saya, menindaklanjuti wisik yang didapatkan ketika saya tirakat di Sagarahyang, Kuningan pada akhir Desember 2010.  Saya diminta guru saya untuk sowan kepada sesepuh masyarakat Baduy, guna menggenapi perjumpaan pada dimensi bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 2 Januari 2011, saya meluncur dari Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, menuju Serang, menggunakan bis umum jurusan Merak.  Tiba di sana, hari ternyata sudah cukup sore, sekitar pukul 4.  Setelah ngobrol dengan beberapa orang di Terminal Serang, saya akhirnya tahu bahwa angkutan umum menuju Rangkasbitung, kota terdekat dengan Desa Kanekes, sudah habis.  Karena itu, saya memutuskan untuk memakai ojeg.  Maka, dengan ojeglah akhirnya saya sampai di Rangkasbitung, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam.  Tukang ojeg yang mengantar saya menyarankan agar saya menginap dulu di Rangkasbitung, karena malam hari memang tak ada angkutan umum menuju Desa Kanekes.  Saya mengikuti saran itu dan memilih sebuah hotel sederhana untuk beristirahat hingga esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari, sekitar jam 7.30, saya keluar dari hotel dan melanjutkan perjalanan.  Sesuai petunjuk karyawan hotel, saya terlebih dahulu menuju Terminal Aweh, satu dari dua terminal di Rangkasbitung selain Terminal Mandala.  Di Terminal Aweh, saya bertanya-tanya bagaimana saya bisa sampai ke tempat bermukim masyarakat Baduy.  Petugas terminal memberi info, ada dua rute yang bisa diambil.  Pertama, saya menuju Ciboleger, jika yang dituju adalah Kampung Cibeo, salah satu dari tiga kampung Baduy Dalam.  Atau, saya ambil rute menuju Parigi, jika saya hendak menuju Cikeusik, kampung Baduy Dalam yang lain.  Saya memutuskan ke Ciboleger, terlebih karena saya mendapatkan saran dari Mas Okky Satrio Jati untuk terlebih dahulu menuju Kampung Cikadu, menemui Pak Sahari yang pernah berkunjung ke Cigugur, pada acara Serentaun baru-baru ini – sementara Cikadu lebih dekat ditempuh dari Ciboleger.  Menunggu cukup lama, ternyata angkutan elf ke Ciboleger tak kunjung berangkat.  Akhirnya, saya putuskan kembali menggunakan jasa tukang ojeg.  Maka, berangkatlah saya ke Ciboleger menggunakan ojeg.  Saat itu, langit sudah mendung, dan di tengah perjalanan hujan turun, sehingga motorpun tak bisa mengebut karena jalanan licin.  Kurang lebih 1 jam perjalanan, saya sampai juga di Ciboleger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sana, saya disambut beberapa pemuda yang rupanya menawarkan diri jadi pemandu.  Salah satu pemuda itu menawarkan tarif 300 ribu rupiah, jika saya ingin diantar sampai ke Cikadu.  Mengapa semahal itu?  Dia berargumentasi karena jaraknya jauh, 15 km dan harus ditempuh berjalan kaki.  Tentu saja saya keberatan dengan tarif semahal itu.  Setelah negosiasi, akhirnya disepakati bahwa tarif untuk pemandu saya adalah 100 ribu rupiah: ada 2 orang dari kumpulan pemuda tersebut yang siap menemani saya dengan tarif sebesar it.  Dan rupanya alam memang selalu menyediakan pertolongan: dua orang pemandu itu kelak terbukti sebagai teman perjalanan yang sangat baik dan pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah istirahat sebentar, tepat pukul 10 pagi, saya memulai perjalanan, dengan tujuan awal ke Cikadu menemui Mang Sahari.  Sekitar 300 meter dari Ciboleger, saya menjumpai salah satu kampung Baduy Luar, yaitu Kampung Kaduketug.  Di sini saya menyaksikan sajian visual yang eksotis: rumah-rumah panggung dari bambu dengan atap rumbia, gadis-gadis dan ibu-ibu yang rata-rata berpakaian biru tua sedang menenun kain khas Baduy, juga sederet lumbung padi.  Karena kampung ini bukan tujuan saya, saya hanya melintas.  Selepas itu, saya menyeberangi sungai melalui jembatan bambu, lalu masuk ke kawasan leuweung (hutan) dan kebun.  Suasana hujan rintik membuat perjalanan saya terasa sangat syahdu.  Saya niatkan betul diri saya untuk menyatu dengan alam yang masih murni, tanpa bunyi dan asap kendaraan, tanpa dibisingkan gejolak dan dinamika manusia modern.  Selama melintasi leuweung dan kebun itu, beberapa kali saya melihat tanaman padi yang berjejer.  Rupanya, masyarakat Baduy pantang menanam padi dengan membuka sawah, mereka lebih memilih pola padi huma.  Padi ditanam di sela-sela pohon di leuweung atau kebun.  Mengapa demikian?  Pemandu saya yang rupanya sangat paham sejarah dan kehidupan sosial masyarakat Baduy, menjelaskan bahwa itu karena masyarakat Baduy tidak ingin merusak hutan.  Jika sawah dibuka, hutan pasti berkurang.  Mereka tidak mau melakukan itu karena itu bisa merusak keharmonian alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjalan beberapa saat – mungkin beberapa kilometer telah dilalui, saya dan para pemandu saya tiba di Kambung Babakan Balimbing.  Di kampung yang masih masuk kategori Baduy Luar ini kami memilih untuk beristirahat sejenak, di salah satu rumah warga, yang berfungsi sebagai warung minimalis.  Di situ, kami bisa memesan susu atau kopi hangat.  Lumayan, sungguh segar rasanya menghirup susu panas setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk ukuran saya yang jarang berjalan kaki.  Di rumah warga itu, pemandu saya juga menyarankan agar saya sekalian membawa persyaratan yang menurut adat harus disediakan jika mau bertemu Pu’un atau sesepuh di Baduy Dalam.  Persyaratan itu berupa minyak dan menyan.  Itu harus dibeli di Baduy Luar karena di Baduy Dalam tak ada warung.  Maka, saya ikuti saran itu, saya beli sebotol kecil minyak wangi dan sepotong menyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup beristirahat, saya dan para pemandu saya mulai melanjutkan perjalanan.  Dan pada etape kali ini, perjalanan mulai terasa sangat berat.  Bukan saja karena saya sudah mulai merasa sangat lelah, tapi juga karena jalan yang harus dilalui lebih berat dibandingkan tadi.  Sekarang, saya harus melalui jalanan yang naik dan turun, plus licin karena baru saja diguyur hujan.  Untunglah, para pemandu saya cukup pengertian dengan menawarkan diri membawa dua buah tas yang saya bawa.  Itu sangat meringankan!  Memang kebaikan bisa ditemukan di mana-mana!  Pada perjalanan kali ini, saya mengalami terpeleset pertama kalinya.  Saat melintasi jalanan menurun yang licin, saya kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh dengan bertumpu pada tangan kiri.  Waduh, lumayan “nikmat”, he, he.  Tapi saya tak boleh menyerah, maka saya bergegas bangun lagi dan mengabaikan rasa sakit.  Maka perjalananpun diteruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan para pemandu saya kemudian melintasi sebuah Kambug Baduy Luar lagi, sebelum kemudian tiba di Kampung Cipaler, juga masih masuk kategori Baduy Luar.  Di sini, kami memutuskan untuk kembali beristirahat.  Dan untunglah kami bisa menemukan rumah warga yang juga berfungsi sebagai warung minimalis. Di sini, kami bisa memesan mi rebus dan kopi hangat. Duh, nikmat sekali rasanya makan mie dan minum kopi kali ini.  Di sini, kami juga sempat ngobrol dengan beberapa warga, termasuk menanyakan apakah mereka mengenal Mang Sahari dari Kampung Cikadu.  Ternyata mereka mengenalnya, bahkan tahu bahwa Mang Sahari pernah ke Cigugur Kuningan membawa rombongan pemain angklung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai beristirahat, kami melanjutkan perjalanan.  Di tengah perjalanan, pemandu saya kembali mengkonfirmasi tujuan saya.  Saya bilang bahwa saya mau ke Cikadu bertemu Mang Sahari, tetapi itu kunjungan antara, karena saya sebetulnya ingin bertemu sesepuh di Baduy Dalam.  Pemandu saya yang baik hati itu menawarkan, bagaimana jika dia antar saya langsung ke Cibeo, karena kalaupun ke Cikadu sia-sia, tak mungkin bertemu Mang Sahari.  Sebab Mang Sahari sedang berhuma di Gunung Kencana, dan biasanya tidak pulang ke rumah karena tinggal di saung.  Saran itu masuk akal sehingga saya menyetujuinya.  Maka, kamipun memutuskan langsung ke Cibeo, tidak jadi ke Cikadu.  Di sebuah saung milik warga Kampung Baduy Dalam menjelang masuk Kampung Cibeo, kami berhenti.  Di situ, pemandu saya mengkonfirmasi apa sebetulnya tujuan saya, supaya dia bisa menyampaikannya kepada Pu’un.  Saya bilang, bahwa kedatangan saya adalah mengikuti petunjuk guru spiritual saya.  Dan saya punya dua tujuan, pertama, saya ingin makin mengenal Ilmu Sejati.  Kedua, saya mohon doa dan restu agar bisa menjadi seorang satria pinandhita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati jalan menaik dan menurun, yang licin karena hujan, membuat saya akhirnya terpeleset lagi.  He, he, untung saja kali ini tidak terasa sakit.  Saya berkata kepada teman2 pemandu saya, “Jatuhnya ini yang bikin asyik...”  Saya jalan terus, dan tibalah di Kampung Cibeo.  Bentuk lumbung maupun rumah di kampung ini ternyata berbeda dengan di Baduy Luar.  Lumbungnya punya tiang-tiang lebih tinggi.  Sementara rumah mereka, selain berbeda dalam fondasi yang tidak rata – sehingga panjang tiang-tiang penyangganya tidak sama karena mengikuti kontur alam – juga hanya punya satu pintu, tidak berjendela, hanya ada lubang2 kecil dari pori-pori bilik .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan kami akhirnya sampai ke pusat kampung, di mana ada bangunan tempat warga berkumpul dan bermusyawarah.  Di hadapannya, ada rumah Pu’un.  Nah, ternyata tidak sembarang orang bisa mendekat ke rumah Pu’un.  Ada pembatas yang dijaga oleh petugas, mereka yang mencegah orang tak berhak untuk mendekat ke rumah Pu’un.  Sejenak bertegur sapa dengan beberapa warga yang bertugas menjaga, kami melanjutkan perjalanan, menuju saung tempat Puun Jahadi sedang bekerja.  Perlu saya sampaikan, di Kampung Baduy Dalam tidak ada warung atau rumah yang difungsikan sebagai warung.  Tapi ada penjual keliling, tentu saja dengan barang dagangan yang sangat minimalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 30 menit berjalan, kami sampai di saung Pu’un Jahadi, yang saat itu sedang ditemani beberapa warga.   Pu’un Jahadi adalah sosok yang sudah sepuh, mengenakan iket/sorban, dengan pakaian sederhana berwarna putih hitam.  Bagian bawah seperti menggunakan rok.  Demikianlah rata-rata cara berpakain masyarakat Baduy Dalam.  Pemandu saya mengutarakan maksud kedatangan dan asal saya.  Maka sang Pu’un bergegas membersihkan diri lalu masuk ke saung.  Saya dan pemandu saya diajak masuk ke saung.  Lalu dia mempersiapkan perangkat ritual, berupa tungku pembakar kemenyan.  Saya diminta duduk berhadapan, ditanya usia, dan ketika saya katakan 36 tahun, dia bilang, “Budak keneh...urang mah nggeus 90 tahun”.  He, he, benar, jika dibandingkan sang Pu’un saya jelas belum ada apa-apanya..termasuk dalam soal usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Pu’un lantas merafalkan beberapa saya sambil mendekatkan tangan saya ke tungku.  Beberapa kali ia meniup ke dalam kantong putih yang sudah diisi menyan dan minyak, sembari menengok ke arah Selatan.  Saya tak bisa menangkap rafalan Sang Pu’un, tapi saya menikmati auara magisnya.  Setelah tuntas, saya diminta segera pergi, mengikuti arahan dari Sang Pu’un: 4 langkah harus menahan langkah, 7 langkah jangan menengok ke belakang.  Dan jangan bersalaman.  Menurut pemandu saya, itu karena diyakini bersalaman dan menengok ke belakang akan membuat kekuatan yang telah dihadirkan sang Pu’un akan hilang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayapun bergegas pergi, namun, setelah menahan nafas 4 langkah, secara otomatis saya nyaris menengok, karena kebiasaan untuk berpamitan.  Untuk saya ingat bahwa itu adalah pantangan, sehingga leher ini saya tarik kembali ke depan dan lalu melangkah maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntas urusan dengan Pu’un Jahadi, saya dan para pemandu saya beranjak pulang, kembali ke Ciboleger.  Tapi kali ini melewati rute yang berbeda.  Sebelum kami sampai ke Kampung Kadu Kentug yang berbatasan dengan Ciboleger, kami hanya singgah ke Kampung Kadu Keter.  Namun, jaraknya ternyata sama.  Melintasi beberapa bukit, naik turun, dengan jalanan yang bervariasi, kadang cadas, kadang bebatuan, kadang tanah lembut, kadang tanah lumpur.  Yang pasti, jalanan juga masih licin.  Pada perjalanan kali ini, saya kembali terpeleset.  Tapi saya sudah niatkan, cukup tiga kali saya terpeleset, dan terpeleset kali ini adalah yang terakhir.  He, he, niat ini nyaris terkabul: pada akhirnya saya bisa dibilang 3 ½ kali terpeleset karena menjelang masuk Kampung Kadu Keter saya jatuh terduduk, tapi tak sampai terbanting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandu saya yang baik hati menawari saya untuk bertemu dengan satu sesepuh lagi, di Kampung Kaduketer.  Saya setujui tawaran itu dengan senang hati.  Dan yang saya temui adalah Aki Arna, sesepuh Baduy Luar yang dulu pernah menjadi sahabat Bung Karno ketika Bung Karno mblusuk-mblusuk ke Baduy.  Dan lagi-lagi saya beruntung karena Aki Arna ada di rumah.  Seperti di saung Pu’un Jahadi, Aki Arna juga melakukan ritual setelah mendapatkan penjelasan tentang maksud kedatangan saya.  Dia menyalakan tungku, membakar menyan, merafalkan beberapa mantra, dan meniup kantung berisi menyan dan minyak wangi yang tadi telah dirituali oleh Pu’un Jahadi.  Yang membuat saya terheran-heran, dalam rafalan mantranya, beberapa kali Aki Arna menyebut nama Nabi Muhammad.  He, he, saya heran karena semua warga Baduy adalah penghayat ajaran Sunda Wiwitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ritual tuntas, saya juga diminta segera bergegas, tapi kali ini dengan 3 langkah menahan nafas, dan 7 langkah tidak boleh menengok ke belakang.  Kali ini saya mulus mengerjakan apa yang diminta oleh Aki Arna, tidak lagi tergoda untuk menengok ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas rasanya bisa menemui dua sesepuh Baduy, satu Baduy Dalam, satu Baduy Luar.  Kini tinggal melanjutkan perjalanan pulang ke Ciboleger yang berjarak 5 km dari Kampung Kaduketer.  Maka, setelah kembali melintasi beberapa bukit, sekitar pukul 18.30 kami sampai ke Ciboleger.  Dan di sana, saya ditawari untuk menginap di rumah pemandu saya yang baik hati, Kang Wahyudin.  Dengan senang hati saya terima.  Lumayan, ada waktu untuk mengobrol dengannya, dan melepas lelah, setelah lebih dari 8 jam berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas Tentang Kearifan Lokal Masyarakat Baduy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, sebutan masyarakat Baduy lebih mencerminkan cara pandang pihak luar.  Mereka yang kita sebut sebagai masyarakat Baduy itu sebetulnya adalah urang Sunda Wiwitan (orang Sunda yang paling dulu).  Nama Baduy disematkan kepada mereka, karena mereka dianalogikan dengan masyarakat Baduy di Arab yang belum berperadaban.  Menyangkut asal muasal komunitas Sunda Wiwitan yang kini tinggal di Desa Kanekes itu, juga ada banyak silang pendapat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pihak, menganggap mereka adalah anak keturunan para prajurit Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran yang lari ke hutan setelah Prabu Siliwangi ngahyang (moksa atau pindah dimensi kehidupan).  Mereka lari ke hutan karena tidak mau memeluk Islam, sebagaimana ajakan  Sunan Gunung Jati dan para perwiranya  dari Kesultanan Cirebon yang didukung oleh Kesultanan Demak.  Namun, sejarah seperti itu – sebagaimana dituturkan oleh pemandu saya – dianggap menyakitkan buat mereka.  Mereka justru meyakini bahwa mereka adalah anak turun dari masyarakat Sunda jaman baheula, yang secara genetis terkait langsung dengan manusia pertama di Nusantara (dalam cara pandang yang dipengaruhi tradisi Islam, masyarakat Baduy kemudian dikaitkan dengan Nabi Adam sebagai manusia pertama – dalam hal ini masyarakat Baduy dianggap sebagai penjaga tradisi ala Nabi Adam yang sangat alami).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori lain menyebutkan bahwa memang sebenarnya Pegunungan Kendeng, di mana komunitas Sunda Wiwitan itu bertempat tinggal, sejak jaman dahulu sebetulnya merupakan mandala atau tempat suci bagi kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda.  Para Pu’un dan pengikutnya, adalah keturunan komunitas yang sejak dulu merupakan para penjaga mandala, yang mengemban mandat mempertahankan kekuatan spiritual penopang keberadaan kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kini, komunitas Sunda Wiwitan di Kanekes, tetap menjalin hubungan baik dengan pihak yang berkuasa, melalui mekanisme seba (sowan) setiap tahun ke Serang, ke Gubernur Banten – sebagai kelanjutan Kesultanan Banten dan Kerajaan2 Sunda yang lebih tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi, secara intuitif lebih memilih pendapat bahwa mereka memang bagian dari komunitas Sunda Wiwitan yang sejak dulu memang berdiam di situ, dan sejak dulu menjadi semacam penjaga kesetimbangan secara mistis.  Bagi saya, merekalah sebetulnya pertapa-pertapa di jaman modern: mirip dengan komunitas Dayak Segandu di Indramayu.  Mereka membuktikan sanggup hidup secara minimalis, memegang teguh adat yang berkecenderungan sangat asketik, dan membuat sesuatu yang “asli” masih bisa dilihat orang, walau dunia sudah berubah demikian dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan, sungguh tak mudah menjadi penghayat ajaran Sunda Wiwitan ala masyarakat di Kanekes.  Di tengah arus modernitas yang menawarkan berbagai kemudahan dalam hidup – melalui berbagai produk ilmu dan teknologi – anggota masyarakat Baduy Dalam misalnya, tetap setia berjalan kaki kemanapun mereka pergi.  Bahkan, ada sebuah hukum yang dipegang teguh: warga Baduy Dalam yang sedang berada dalam perjalanan ke tempat lain, lalu tergoda untuk naik mobil, pasti akan ketahuan dan harus bersiap menghadapi sanksi adat dari baris kolot (para sesepuh).  Warga Baduy Dalam juga masih berpantang dari sabun, odol, dan berbagai produk sabun buatan pabrik.  Mereka mempergunakan semua bahan pembersih alami.  Sementara mereka yang hidup di Baduy Luar, masih diperbolehkan memakai produk pabrik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk seseorang yang hidupnya tak bisa dipisahkan dari huruf dan buku, sungguh tak masuk akal menjalani hidup tanpa tulis menulis dan buku.  Tapi memang itulah yang dijalani masyarakat Baduy baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar.  Rumah-rumah mereka tetap tanpa listrik hingga sekarang, hanya menggunakan lentera yang dipergunakan secara sangat terbatas.  Hingga kini mereka juga tidak mengenal institusi sekolah.  Pendidikan bagi generasi penerus dilaksanakan melalui bimbingan langsung dari orang tua dan anggota komunitas.  Sejak kecil, anak-anak di Baduy Luar dan Baduy Dalam diajak terjun berhuma dan melakukan berbagai kegiatan sosial lain yang dilakukan para orang tua.  Melalui proses demikianlah pengetahuan dan keterampilan diturunkan dari generasi ke generasi.  (Jadi, jangan membayangkan Anda akan menemukan seorang warga Baduy asyik membaca koran atau buku di teras rumah..he, he, he).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal mencari nafkah, masyarakat Baduy Dalam maupun Baduy Luar benar-benar mengandalkan alam.  Mereka menanam padi di sela-sela tanaman keras tanpa membuka sawah.  Upaya mereka lainnya adalah menyadap nira dan membuat gula, atau menanam dan memanen buah-buahan seperti pisang dan durian.  Komoditas-komoditas itu dipasarkan kepada masyarakat di kawasan sekitar.  Biasanya mereka yang ada di Baduy Dalam bermitra dengan relasi mereka di Baduy Luar yang lebih punya akses ke pasar-pasar tradisional di sekitar Desa Kanekes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut ternak, yang menarik adalah bahwa mereka hanya berternak ayam.  Sehinga dalam hal makananpun, yang daging yang boleh mereka makan adalah sejenis unggas seperti ayam.  Mereka pantang memakan daging dan beternak kambing, atau sapi.  Alasannya, ternak seperti itu berpotensi membuat repot tetangga: kambing atau sapi bisa memakan tanaman di kebun tetangga, dan itu bisa menimbulkan konflik atau memaksa orang jadi tambah repot dengan memasang pagar.  Dalam cara pandang mereka – sejauh yang bisa saya telusuri - daripada hal demikian terjadi, lebih baik cari jalan yang lebih aman.  Ternak ayam lebih aman karena ayam tak mungkin makan tanaman di kebun tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi kepemilikan tanah yang menjadi asset utama dalam berladang, terjadi perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar.  Masyarakat Baduy Dalam tidak mengenal kepemilikan tanah.  Semua tanah adalah milik institusi adat: siapa yang sanggup berhak mengolahnya.  Sementara di Baduy Luar sudah ada konsep kepemilikan tanah, tapi tanpa pengaturan negara, sehingga tanah-tanah mereka tidak bersertifikat dan tidak dibebani pajak.  Dalam hal ada warga yang kekurangan tanah, biasanya mereka menyewa atau bermitra dengan pemilik tanah di luar kawasan Baduy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain yang sudah saya paparkan, ada beberapa hal menarik lainnya yang sempat saya gali.  Misalkan menyangkut adat perkawinan.  Di Baduy Dalam, ada hukum yang mengatur keharusan bermonogami dan anti cerai.  Semua pasangan di Baduy Dalam yang sudah diikat melalui perkawinan (yang diberkati oleh Pu’un), tidak boleh bercerai.  Dan tidak ada peluang sedikitpun untuk berpoligami.  Sementara di Baduy Luar, mereka boleh bercerai, tapi tetap tidak boleh berpoligami.  Kata pemandu saya, “Jadi kalau ada yang kepingin poligami, ya harus diampet (sebisa mungkin ditahan)...” Ha, ha, ha......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, masyarakat Baduy Dalam maupun Baduy Luar, memegang konsep moralitas seksual yang sangat ketat.  Setiap tindakan tidak senonoh, selalu diancam dengan tulah (atau balasan berupa musibah dari alam).   Putera-puteri Sunda Wiwitan itu, biasanya juga sudah saling dijodohkan sejak kecil.  Jadi mereka tidak mencari jodoh sendiri.  Seiring dengan itu, tentu saja tidak ada konsep pacaran, apel pada malam minggu, dan seterusnya.  Pasangan yang mau menikahpun, jika belum sah, tidak boleh berduaan.  Jika sang calon pengantin pria berkunjung ke calon pengantin wanita, ia hanya boleh bertemu dengan orang tuanya - sementara  sang calon pengantin wanita sendiri tetap harus ada di ruang terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal lain yang juga cukup menarik perhatian saya: pada masyarakat Sunda Wiwitan di Kanekes, relatif tidak dikenal ritual khusus semacam shalat, misa, ataupun meditasi.  Ibadah mereka secara umum lebih berdimensi sosial.  Yang mereka lakukan untuk menunjukkan ketaatan pada Tuhan, adalah berbuat baik kepada sesama dan kepada alam.  Namun pada skala komunitas, ada upaca adat yang dilaksanakan setelah panen dan mempersiapkan masa tanam berikutnya yang disebut Kawalu.  Upacara adat ini mirip Serentaun pada berbagai komunitas Sunda Wiwitan di berbagai tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara mistis, sebetulnya masih ada misteri yang susah dikuak orang luar.  Misalnya adalah keberadaan Arca Kadomas, yang hanya bisa diakses oleh Pu’un dan bariskolot atau sesepuh.  Pusat kekuatan spiritual masyarakat Sunda Wiwitan di Kanekes diduga berada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah gambaran sekilas tentang pola kehidupan masyarakat Sunda Wiwitan di Kanekes yang bisa saya gali.  Kehidupan yang sangat dipagari adat istiadat yang diwarisi dari para karuhun,  sepertinya berpengaruh terhadap minimalnya kasus-kasus bertendensi negatif seperti kriminalitas dalam kehidupan sosial mereka.  Kita juga bisa melihat bahwa kehidupan masyarakat di Baduy Dalam jauh lebih ketat dibandingkan di Baduy Luar.  Dalam hal ini, saya mendapatkan informasi bahwa ada semacam kebijakan memberi pilihan kepada semua warga: mereka yang siap dengan aturat dan adat yang ketat, bisa tinggal di Baduy Dalam.  Tetapi jika mereka keberatan dan ingin kehidupan yang lebih leluasa, mereka bisa pindah ke Baduy Luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, apa yang saya bisa gali masih jauh dari lengkap, dan sebagian mengandalkan cerita dari pemandu saya.  Namun, itu cukup berharga bagi saya yang hanya sempat  1 hari mencicipi aura mistik di Baduy Dalam dan Baduy Luar.  Saya berjanji untuk datang lagi.  Terima kasih untuk Kang Wahyudin dan Kang Numeng, 2 orang pemandu saya yang sungguh baik hati!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-7672315116615609266?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/7672315116615609266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=7672315116615609266' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/7672315116615609266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/7672315116615609266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2011/03/mereguk-pesona-spiritual-kanekes.html' title='MEREGUK PESONA SPIRITUAL KANEKES'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-7259231558196553917</id><published>2010-12-27T08:50:00.001-08:00</published><updated>2010-12-27T08:50:54.917-08:00</updated><title type='text'>MAKNA MENJADI SEORANG KEJAWEN, SEBUAH CATATAN PRIBADI</title><content type='html'>Saya menuliskan catatan ini, berdasarkan pengalaman nyata: pengalaman menjalani hidup yang menawarkan banyak pelajaran.  Beberapa hari yang lalu, saya menjalani terapi pemulihan sakit fisik.  Sakit fisik itu sebetulnya tidak terlalu nyata, dari luar saya tampak sehat2 saja.  Indikator yang paling tampak hanyalah meningkatnya hobby saya untuk tidur; karena hal ini, anak2 saya mengatakan saya tukang tidur! (He, he, he...anak2 memang selalu jujur...).  Penyakit itu baru tampak ketika terapi dijalankan.  Melalui pijat refleksi terhadap beberapa titik syaraf, diketahui dengan jelas bahwa memang ada yang salah dengan tubuh ini.  Indikatornya, saya betul-betul merasa kesakitan saat beberapa titik syaraf dipijat, walau hanya perlahan.  Maka, guru saya yang melakukan terapi itu membimbing saya untuk merenung: apa yang menyebabkan semua rasa sakit itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akhirnya disadarkan, bahwa memang ada yang salah dengan diri saya.  Tubuh ini adalah pembawa pesannya.  Dan apa akar rasa sakit itu?  Ternyata ia berakar pada dunia bathin saya, pada kondisi emosi saya.  Melalui perenungan, saya tahu bahwa di dalam diri ini, ternyata ada konflik bathin yang belum tuntas.  Konflik itu berakar pada dendam, pada amarah.  Di dunia bathin itu, juga masih berkobar api kekhawatiran dan ketakutan.  Emosi negatif seperti demikianlah yang menyebabkan gangguan pada sistem energi, dan akhirnya termanifestasikan dalam penyakit fisik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana dendam dan amarah itu berasal?  Rupanya ini terkait dengan perjalanan bathin dan transformasi diri.  Ini ada kaitannya dengan tumbuhnya spirit saya sebagai orang Jawa: saya mendapat kesadaran untuk kembali pada Kejawen, kearifan lokal dari Tanah Jawa!  Perjalan bathin dan transformasi diri ini ternyata bukan tanpa resiko dan kendala.  Tentu saja, resiko dan kendala ini sebetulnya sekadar cermin dari kebelummatangan saya pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamika Perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses saya menjadi seorang Kejawen, dibarengi dengan peningkatan intensitas hubungan dengan para leluhur, baik melalui pendekatan reinkarnasi, nitis, maupun nyengkuyungi dan njangkungi.  Semakin dekatnya saya dengan para leluhur, ternyata tidak hanya membuat saya sering menerima anugerah berupa  kesadaran dan ilmu yang hadir tanpa proses belajar formal (di mana harus ada guru).  Tapi, saya juga harus “menanggung” beban sejarah dari masa lalu.  Rentang 500 tahun, ternyata belum menghilangkan kenangan pahit di masa lalu: saat terjadi transformasi budaya dan politik di Tanah Jawa dan Nusantara.  Salah satu tokoh masa lalu yang jiwanya hadir kembali melalui raga ini, dahulu memang berada dalam posisi benar-benar dianiaya oleh kekuatan politik otoriter yang bertopengkan agama!   Rasa sakit akibat penganiayaan itu benar-benar terasa, dan itu mengobarkan amarah, bahkan dendam.  Maka, walau mengalami penghalusan, amarah dan dendam itu bisa benar-benar dilihat oleh mereka yang titis (berpandangan tajam) pada sikap, ekspresi, dan kata-kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amarah dan dendam inilah yang menjadi sumber konflik bathin: karena sesungguhnya ia bertentangan dengan nilai-nilai yang sedang saya geluti untuk mencapai puncak perjalanan ruhani.  Untuk menggapai puncak perjalanan ruhani, seseorang haruslah memiliki sikap welas asih yang utuh.  Pada kenyataannya, pada kasus saya, itu belum bisa terjadi karena saya masih memendam dendam dan amarah.  Maka, terjadilah konflik bathin yang menguras energi vital di dalam tubuh, bahkan merusak kesetimbangan sistem energi di dalam tubuh yang akhirnya menyebabkan penyakit fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru saya membimbing saya untuk menyadari, bahwa dendam dan amarah ini harus diselesaikan.  Cakra manggilingan memang hukum alam.  Tapi kita sebagai manusia selayaknya menerapkan model perjalanan spiral di mana walau kita berputar kita tidak kembali ke titik yang sama, namun justru bergerak maju mendekati kesempurnaan.  Mata rantai dendam dan amarah itu harus diputus: kewelasasihan harus dimunculkan bahkan kepada mereka yang telah berlaku aniaya kepada diri kita.  Sebuah cahaya terang menyelimuti kesadaran saya.  Saya tergerak untuk segera memutus mata rantai amarah dan dendam itu, lalu menancapkan kewelasasihan yang utuh, bahkan kepada mereka yang pada tataran fenomena merupakan “lawan” atau “musuh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, saat ini, saya sedang memulai proses penyembuhan diri, yang dimulai dari menyelesaikan konflik bathin, memadamkan gejolak amarah dan dendam, lalu menumbuhkan kewelasasihan, sikap memaafkan, dan kepasrahan diri yang total.  Indikator keberhasilan proses ini adalah ketika tubuh ini kembali pulih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka,kepada saudara-saudaraku yang telah dipanggil oleh Ibu Pertiwi untuk kembali pada ajaran leluhur, patut kiranya pengalaman saya ini menjadi sebuah bahan renungan.  Kita memang tak bisa mengingkari fakta, bahwa 500 tahun yang lalu, Trowulan dihancurkan oleh pasukan Demak.   Kita juga tak bisa menutupi kenyataan bahwa Ki Ageng Kebo Kenongo yang bahkan sudah melepaskan tahta adipati dan tidak menuntut tahta sebagai raja Jawa, dibunuh oleh Sunan Kudus.  Kita juga tak bisa menyembunyikan sejarah dimana para praktisi kebathinan Jawa, walau mereka telah mengikrarkan diri sebagai Muslim- seperti Sunan Panggung, Sunan Geseng, coba dieksekusi dan para pengikutnya dibantai.  Namun, demi pertumbuhan spiritual kita dan nasib Nusantara di masa depan, mari kita kedepankan sikap welas asih dan memaafkan.  Kita buat diri kita menjadi lapang dada.  Kita tutup semua masa lalu itu, kita petik pelajaran darinya tanpa memperpanjang kisah pahitnya.  Kita memulai kehidupan baru, dengan sikap ngemong, sikap memaafkan dan memaklumi, baik kepada pelaku aniaya di masa lalu maupun kepada penerusnya di masa kini.  Tentu saja, sikap welasasih dan memaafkan ini jangan mengaburkan pentingnya sikap tegas dan waspada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinisipnya, kita lebih berfokus pada upaya-upaya yang berkontribusi langsung pada terciptanya kondisi masa depan yang terang.  Kita ciptakan dunia yang terang dengan menyalakan lilin kebajikan, bukan dengan memaki kegelapan dan penyebab kegelapan itu.   Setiap penyebab kegelapan sudah mendapatkan balasan tersendiri dari alam semesta; tugas kita adalah memastikan agar yang terjadi di masa depan adalah tidak banyak lagi anak Nusantara yang terjebak untuk menjadi penyebab kegelapan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Kejawen = Menjadi Pejalan Ruhani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Kejawen, sebaiknya tidak kita pahami sebagai proses berganti agama.  Di mana kita hanya memindah keyakinan (tanpa diiringi oleh pertumbuhan bathin), atau berganti dari satu prasangka kepada prasangka lainnya.  Tapi, menjadi Kejawen sebaiknya kita pahami sebagai proses untuk menukik pada hakikat kebenaran, memahami hakikat terdalam sebuah jalan ruhani, serta meningkatkan kesadaran dan pengenalan terhadap diri sejati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, menjadi Kejawen lebih baik tidak dipahami seperti kita berpindah rumah.  Tapi ia adalah proses penuh kesadaran untuk memahami hakikat dari rumahyang kita huni saat ini, serta mengenali unsur-unsurnya yang paling halus.  Lalu, setelah kita memahami itu semua, kita lanjutkan prosesnya dengan menciptakan sendiri rumah yang memang lebih sesuai dengan kebutuhan kita, yang sesuai dengan diri dan alam sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah, bisa kita pahami sebagai sistem keyakinan dan jalan ruhani yang telah disistematisasi.  Pada konteks kehidupan kita di Indonesia, rata-rata kita memang telah dimasukkan ke sebuah rumah, entah kita setuju atau tidak.  Nah, persentuhan kita dengan Kejawen, semestinya dimaknai sebagai pemicu kita untuk menemukan hakikat dari rumah yang telah kita masuki itu, atau agama resmi kita itu.  Demi menjaga stabilitas (saran ini terbatas bagi yang membutuhkan hal demikian), sebaiknya tak perlu  kita memproklamasikan diri berpindah rumah atau berganti agama.  Karena memang Kejawen bukanlah agama, jika agama kita pahami sebagai sistem keyakinan yang isinya adalah dogma dan peraturan yang bersifat eksternal.  Kejawen itu adalah sikap hidup, way of life, filsafat kehidupan.  Walau rumah kita lama, tapi dengan sentuhan Kejawen, kita akan menemukan nuansa yang berbeda.  Rumah kita akan menjadi lebih serasi dengan alam sekitar.  Hingga, pada titik tertentu, jika sudah tiba waktunya, kita mendewasakan diri dengan mengkreasi rumah versi kita sendiri, sebagai simbol kemerdekaan puncak sebagai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam hal menjadi Kejawen, yang terpenting kita lakukan adalah memulai proses serius untuk mentransformasi bathin kita,  menciptakan hidup yang penuh kesadaran!  Tujuan menjadi Kejawen adalah mencapai apa yang juga menjadi tujuan dari setiap agama: kehidupan yang bahagia, tenteram, damai secara berkekalan, tanpa dicampuri sifat lawannya.  Yang membedakan Kejawen dengan agama resmi adalah soal bentuk: Kejawen adalah kreasi lokal, dan tidak mengarahkan penghayatnya pada sebuah bentuk dan ajaran yang kaku.  Pada tataran substansi, Kejawen setara dengan agama apapun: ia adalah manifestasi dari Kebenaran Universal.  Nah, tapi Kejawen itu fleksibel dan terbuka, sehingga membuatnya bisa menerima bentuk-bentuk dari luar, selama ia tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran universal dan kearifan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara menjalani transformasi bathin ala Kejawen ini?  Apapun agama – atau seperti apapun rumah Anda  - pada saat ini, sebagai penghayat Kejawen, yang harus Anda lakukan adalah mengintensifkan kegiatan pasamaden (olah bathin untuk mencapai keheningan), dibarengi laku prihatin dengan lokus berbakti kepada leluhur, dan berbuat baik kepada sesama ciptaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, indikator keberhasilan semua proses itu, salah satunya adalah mulai tumbuhnya budi pekerti luhur, dan Anda semakin mudah untuk mempraktekkan lakutama (perbuatan utama).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari Rumah Ego&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda tingginya spiritualitas seseorang adalah ketika ia mampu keluar dari rumah ego, ketika ia tidak lagi mementingkan diri sendiri dan mulai berfokus pada kebahagiaan pihak lain.  Menyangkut soal ini, saya baru saja mendapatkan pelajaran penting, yang menyadarkan bahwa ternyata saya belum jauh melangkah.  Beberapa hari yang lalu, saya yang berkendara memakai sepeda motor dengan istri dan anak, nyaris tertabrak oleh kendaraan umum jenis elf.  Saya merasa sudah berlaku benar karena telah memberi sinyal berbelok atau menyeberang, tapi mobil elf itu seperti malah mengikuti arah sepeda motor saya dengan laju yang sangat kencang.  Saya selamat di detik terakhir ketika pada akhirnya mobil elf itu bisa berhenti dan agak berbelok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beserta istri dan anak saya memang selamat.  Dan bagi saya ini sebetulnya bukan hal yang aneh; sudah sering saya terselamatkan ketika nyaris celaka, dan saya yakin (atau tahu) bahwa memang ada yang selalu melindungi saya (dan keluarga) selama ini.  Hanya saja, yang membuat saya terhentak adalah rasa yang muncul setelah peristiwa itu.  Saya disadarkan bahwa saya ternyata hanya berpikir tentang diri saya, tentang keselamatan saya, tentang perasaan saya.   Saya melupakan bagaimana perasaan supir mobil elf itu dan penumpang di dalamnya.  Bahkan saya sempat terpancing untuk “ngerjain” sang sopir mobil elf itu lewat kekuatan tak terlihat, sebagai ekspresi kekesalan sekaligus agar dia mendapat “pelajaran”.  Untunglah, ada kekuatan tak terlihat yang menyadarkan saya bahwa sikap itu salah!  Saya egoistis!  Dan itu menunjukkan secara spiritual saya masih sangat bodoh!  Saya belum keluar dari rumah ego!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Sang Maha Pengasih.  Terima kasih bagi para leluhur yang telah membimbing saya selama ini.  Sebagaimana saya mendapatkan kesadaran untuk menyelesaikan persoalan dendam dan amarah, saya ternyata juga mendapatkan anugerah kesadaran tentang pentingnya mencapai tahap “penghancuran keakuan atau egoisme”.  Ya, seorang spiritualis sejati adalah dia yang tak lagi berpikir tentang dirinya, tentang kebahagiaan dirinya, tetapi sudah harus menggeser perhatian bagaimana bisa memenuhi kepentingan dan membahagiakan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kepada saudara-saudaraku, khususnya yang baru mulai menghayati Kejawen, saya sarankan agar sejak sekarang mulai “berjuang” untuk menjadi pelayan kemanusiaan.  Mulailah berpikir sebagai manusia yang hidupnya difokuskan untuk melayani sesama.  Ya, praktekkanlah hamemayu hayuning bawono!  Termasuk yang harus kita lakukan, adalah bagaimana kita mulai berpikir bagaimana kita bisa menciptakan kebahagiaan bagi mereka yang pernah melukai kita, menistakan kita, membuat kita menjadi tamu di rumah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan demikian, hidup kita mengalami transformasi ke arah hidup yang berkualitas dan berkelimpahan.  Alam ini memiliki sebuah hukum yang pasti: mereka yang berhak menerima adalah mereka yang telah memberi.  Yang berhak mendapatkan kebahagiaan adalah mereka yang telah memberi kebahagiaan kepada pihak lain.  Sebagai penghayat Kejawen, Anda semua bisa mencapai puncak perjalan ruhani dan bisa mengecap surga kehidupan, jika telah menjadi sosok yang konsisten berbuat baik, melayani, memberi dan membahagiakan sesama!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-7259231558196553917?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/7259231558196553917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=7259231558196553917' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/7259231558196553917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/7259231558196553917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/12/makna-menjadi-seorang-kejawen-sebuah.html' title='MAKNA MENJADI SEORANG KEJAWEN, SEBUAH CATATAN PRIBADI'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-8134279748136320725</id><published>2010-12-27T08:49:00.001-08:00</published><updated>2010-12-27T08:49:54.697-08:00</updated><title type='text'>MEMINTA TOLONG KEPADA LELUHUR, MENGAPA TIDAK?</title><content type='html'>Sahabatku…sesungguhnya tak mungkin kita menjangkau Yang Mahamisteri itu tanpa melalui jembatan bakti kepada orang tua atau leluhur kita.  Orang tua atau leluhur kita adalah jalur yang memungkinkan kita hadir di muka bumi.  Tanpa mereka kita bukanlah apa-apa.  Bahkan pada prakteknya, para orang tua dan leluhur itulah wujud ghaib tetapi nyata yang punya daya dan kuasa untuk mempengaruhi hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsep agama2 Semitik dikenal istilah malaikat/angel, yang punya daya kuasa dan menangani urusan2 tertentu yang terkait dengan kehidupan umat manusia.  Siapakah malaikat/angel ini?  Secara hakiki, mereka adalah entitas berbadan cahaya (nur).  Lalu siapakah sesungguhnya entitas berbadan cahaya dalam konteks tradisi Nusantara itu?  Merekalah para leluhur.  Para leluhur karena kemuliaan dan perilaku luhur selama hidup, bisa menjadi mahkluk2 berbadan cahaya di alam keabadian, dengan kilau yang setara dengan kualitas spiritual mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, terkait dengan kehidupan kita di muka bumi…saat kita membutuhkan sebuah pertolongan..kepada siapakah seharusnya kita meminta pertolongan?  Agama2 mewajibkan kita meminta kepada Tuhan.  Mari kita renungkan..mengapa kita selalu meminta kepada Tuhan, sementara Dia sudah memberikan segalanya.  Bukankah Tuhan Sang Pemberi Hidup sudah member kita segala bekal yang dibutuhkan untuk menjalani hidup kita?  Termasuk yang telah diberikan kepada kita itu adalah wujud2 yang bisa menolong kita…..Wujud yang kasat mata dan bisa menolong kita itu, diantaranya adalah para sahabat, orang tua yang masih jumeneng di muka bumi, para tetangga….dan yang lainnya.  Nah, wujud yang tak kasat mata dan secara actual maupun potensial bisa menolong kita adalah para leluhur, entitas berbadan cahaya yang ada di dimensi kehidupan yang lain.  Selain titah alus di 4 kiblat yang sesungguhnya merupakan saudara kita juga….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, lebih pantas kita meminta pertolongan kepada mereka..sebagai bentuk interdependensi kita..bahwa sebagai sesama makhluk Tuhan kita saling tergantung dan saling membutuhkan.  Saat  rumah kita rusak..kepada siapa kita minta tolong?  Dan siapa yang menolong kita?  Faktanya yang menolong kita adalah tukang bangunan atau tetangga yang punya keahlian di bidang itu.  Saat kerabat kita sakit, siapa yang kita mintai tolong dan secara factual menolong kita?   Dokter  atau ahli pengobatan lainnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah..apa bedanya meminta tolong kepada tetangga, kepada seorang ahli di bidang khusus, dan minta tolong kepada para leluhur?   Faktanya….para leluhur itu sejatinya masih hidup.  Hanya wilayah kehidupan mereka yang berbeda.  Dan mereka punya daya kuasa untuk menolong kita jika kita memintanya, mirip dengan orang tua yang masih jumeneng di muka bumi.  Hanya orang bodoh yang mengingkari dan tidak memanfaatkan peluang ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kebaikan hidup Anda semua…mulailah sambungkan diri Anda dengan leluhur!  Ada banyak hal yang tidak bisa Anda kerjakan sendiri, dan hanya bisa dituntaskan melalui pertolongan para leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan saya cuma satu, dalam hal meminta pertolongan kepada leluhur..Anda harus terlebih dahulu menunjukkan rasa bakti, rasa terima kasih atas peran mereka dalam kehidupan Anda, dan jangan mendikte!  Leluhur lebih tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah Anda dan apa yang Anda butuhkan…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-8134279748136320725?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/8134279748136320725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=8134279748136320725' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/8134279748136320725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/8134279748136320725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/12/meminta-tolong-kepada-leluhur-mengapa.html' title='MEMINTA TOLONG KEPADA LELUHUR, MENGAPA TIDAK?'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-2907368482233003681</id><published>2010-12-27T08:48:00.002-08:00</published><updated>2010-12-27T08:49:12.805-08:00</updated><title type='text'>OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (V)</title><content type='html'>TANGGUNG JAWAB GENERASI MUDA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, para leluhur gung binatoro tengah bekerja, demikian juga para penghuni alam ghaib di Nusantara.  Melengkapi kerja mereka, kita, generasi muda di Jawa/Nusantara juga harus bekerja.  Seiring sejalan dengan ritme yang tengah diatur oleh Eyang Sabdapalon.  Orientasi awal dari kerja kita adalah membuat diri kita menyerap esensi dari konsep Satria Piningit dan Ratu Adil.  Pintu gerbang dari hal itu adalah berbakti pada leluhur, berikutnya adalah mengurai rahasia Alas Ketonggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama proses napak tilas sejarah Panembahan Senopati, saya mendapatkan kesadaran terkait bagaimana semestinya pola relasi kita dengan para leluhur.  Jika kita telaah sejarah para leluhur kita, sungguh, kita patut berbangga menjadi manusia Jawa/Nusantara.  Leluhur kita adalah manusia-manusia hebat, manusia pilih tanding, yang pernah membuat Nusantara ini mencorong namanya dalam pergaulan antar bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Negeri-negeri Timur Tengah dan Eropa luluh lantak oleh ekspansi pasukan Tartar; pasukan itu tak berkutik ketika mencoba menaklukkan Nusantara.  Baik ketika pada masa kekuasaan Prabu Kertanegara dari Singosari yang berhasil menyuruh pulang Meng Khi, utusan Kaisar Kubilai Khan, dalam keadaan terhina.  Maupun ketika pasukan itu kembali lagi saat Raden Sanggramawijaya – menantu Prabu Kertanegara - sedang berjuang mewujudkan sebuah kerajaan yang di kelak kemudian hari menjadi demikian terkenal: Majapahit.  Fenomena ini jelaslah bukan hal sepele: leluhur kita dulu mampu bertahan dari serbuah pasukan Tartar itu – bahkan bisa memukul balik mereka - karena memang memiliki kedigdayaan, kekuatan bathin, sekaligus kegemilangan taktik dan strategi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hal demikian terjadi?  Karena leluhur kita sejak jaman dahulu kala memiliki ajaran kehidupan, filosofi, sistem kebudayaan, yang membuat mereka benar-benar berdaya atau powerfull sebagai manusia.  Mereka unggul dalam hal kedigdayaan, kualitas spiritual, sekaligus juga mumpuni dalam hal mengelola negara.  Jangan keliru dengan menganggap itu semua semata-mata sebagai buah dari adopsi terhadap peradaban Hindu dan Budha yang berasal dari India.  Tidak demikian!  Leluhur kita cukup cerdik untuk mengambil nilai-nilai peradaban luar yang dianggap mendorong kemajuan, dan saat yang sama berpegang teguh pada jatidiri, dan berani mengembangkan inovasi yang demikian kreatif.  Di bidang agama, inovasi kreatif itu adalah munculnya ajaran khas Indonesia: Syiwa-Budha!  Ajaran ini memadukan antara kearifan lokal, dengan ajaran Budha dan Hindu.  Bahkan Hindu dan Budha yang ditempat asalnya selalu bertentangan dan terlibat konflik, di Indonesia bisa dipersatukan!  Di bidang teknologi, inovasi itu antara lain dengan keberhasilan Majapahit untuk mentranfer keahlian membuat perahu besar dari Sriwijaya dan Tumasek (Singapura) sehingga akhirnya Majapahit memiliki pasukan Maritim yang kuat dan sanggup mempersatukan Nusantara yang demikian luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik inilah, saya ingin menggugah kesadaran para generasi muda, untuk bergegas menapaktilasi kiprah dan sejarah leluhur gung binatoro, para leluhur agung di Nusantara, untuk mendapatkan pelajaran tentang bagaimana mesti menjalani kehidupan, dan mengelola Nusantara.  Pelajaran dari para leluhur inilah yang disebut dengan kearifan lokal.  Dengan menghayati kearifan lokal, sesungguhnya kita sedang mem-benchmark keunggulan dari masa silam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, dalam hal menapaktilasi sejarah dan kiprah para leluhur, kita juga harus jujur dengan segala dinamika yang terjadi di masa lalu, termasuk dinamika yang dalam kacamata sekarang bisa kita kategorikan sebagai aib atau kegelapan.  Sejarah Nusantara memang bukan hanya terdiri dari sejarah manis, yang menggambarkan keluhuran budi pekerti.  Tetapi ia juga mengungkapkan nafsu manusia, yang mewujud dalam konflik, bahkan yang terekam pada saat ini demikian pahitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa awal Majapahit, dalam proses menuju negara yang besar, ada banyak kisah suram: terbunuhnya Adipati Ranggalawe oleh Senopati Mahisa Anabrang, yang dilanjutkan dengan pembunuhan Mahisa Anabrang oleh paman Adipati Ranggalawe, Senopati Lembu Sora.  Kita juga membaca kisah pemberontakan Senopati Ra Kuti, Senopati Semi, hingga Ra Tanca yang berhasil membunuh Prabu Jayanegara.  Padahal, nama-nama itu adalah para pendekar di jamannya, yang ikut serta menaklukkan tentara Tartar!  Mereka semua para pejuang yang harus menjadi korban sebuah konspirasi politik akibat nafsu gelap segelintir orang di masa lalu yang juga ingin berkuasa, tapi tak berani mengambil jalan terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa Kesultanan Mataram, juga tak sedikit kisah suram.  Panembahan Senopati berkonflik dengan Ki Ageng Mangir, padahal Ki Ageng Mangir sendiri adalah seorang tokoh besar.  Konflik itu berakhir lewat sebuah siasat, Ki Ageng Mangir dijebak untuk menjadi menantu Panembahan Senopati, lalu harus sowan ke Kraton Mataram, dan melucuti senjata andalannya yang bernama Tombak Kyai Plered atau Baru Klinting, lalu di situ dieksekusi.   Simbol konflik ini terpapar jelas di Pesarean Kota Gedhe: makam Ki Ageng Mangir sebagian berada satu ruangan dengan makam Panembahan Senopati dan para pembesar Maram lainnya, sementara sebagian lainnya berada di luar.  Itu simbol keserbasalahan pihak Mataram: di satu sisi Ki Ageng Mangir adalah menantu yang harus diayomi dan merupakan bagian tak terpisahkan dari keluarga, tapi di sisi lain, Ki Ageng Mangir terbukti memberontak kepada negara dan karenanya merupakan musuh.  yangJelas, hati nurani kita juga akan bertanya-tanya, mengapa leluhur kita melakukan hal demikian?  (Tentu saja, jika kita coba berempati, menempatkan diri pada situasi dan kondisi masa lalu, mungkin kita akan berkata bahwa kitapun akan sulit menghindar dari tragedi itu!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, kita tak usah menutup diri dari fakta gelap tersebut.  Kita harus mengakuinya dengan jujur.  Namun, saat yang sama, kita praktekkan ajaran luhur yang sudah lama mengakar di masyarakat Jawa: Mikul dhuwur, mendhem jero.  Kita angkat setinggi-tingginya semua prestasi yang telah dibuat para leluhur agung yang bagaimanapun telah pernah membuat kita benjadi bangsa yang hebat.  Saat yang sama, kita tutupi semjua kesalahan yang pernah dilakukan para leluhur.  Kita tutupi bukanlah dengan menganggapnya tidak ada, tetapi tidak perlu kita jadikan noda yang menghalangi bakti kita pada para leluhur.  Sebab faktanya, kekeliruan itu telah terimbangi oleh laku mulia yang sangat banyak jumlahnya.   Bahkan, lebih dari itu, lewat konsep nitis yang menjadi salah satu jembatan bagi para leluhur untuk berkiprah masa kini, kita bisa membayarkan karma dari para leluhur itu, sekaligus meneruskan darma yang belum tuntas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang lebih penting, adalah kita sadar bahwa tak ada satupun teks atau ajaran luhur Jawa yang membenarkan tindakan-tindakan keliru para leluhur di masa lalu.  Para leluhur agung itu, bukanlah manusia yang tidak bernoda.  Keagungan mereka disebabkan oleh prestasi besar mereka, juga oleh watak kesatria mereka, bukan oleh tiadanya setitikpun dosa.  Kesadaran ini yang membuat kita juga harus cerdik dalam meneladani leluhur: yang kita teladani adalah laku utamanya, kita bukan mengulang seluruh sejarahnya, apalagi mengulang sejarah yang kelam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, sebagai bagian dari kontribusi kita untuk menciptakan kejayaan Nusantara, maka kita harus berupaya untuk menyambung rasa melalui ritual penghormatan baik dengan sowan ke pesarean maupun melalui ritual di rumah kita masing-masing, sekaligus  meneladani lakutama (tindakan utama, sikap mulia), dari para leluhur kita.  Lambat laun, kita akan mendapatkan energi dari masa lalu yang membuat diri kita menjadi sosok yang berdaya, powerfull, yang ujungnya adalah kehidupan yang berkelimpahan, yang disimbolkan oleh kalimat suket godong dadi rewang: hidup kita benar-benar menjadi ringan karena mendapatkan bantuan dari seluruh unsur alam semesta, juga kehidupan yang penuh makna karena mengekspresikan kesadaran ruhani yang tinggi.   Melalui berbakti pada leluhur, maka terbukalah peluang leluhur untuk menitis, njampangi, ataupun njangkungi kita sebagai anak keturunannya.  Itulah yang akan mempersingkat proses belajar dan pertumbuhan spiritual kita: itu pula yang membuat kita cepat bisa berkiprah di tengah laju perubahan Nusantara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan proses berhubungan dengan leluhur, dan membangun kapasitas diri hingga kita bisa menyerap esensi Satrio Piningit dan Ratu Adil, dalam tulisan ini saya merasa perlu membabarkan rahasia Alas Ketonggo.  Alas Ketonggo sering dijadikan sebagai  jembatan bagi para spiritualis Jawa untuk melejitkan tingkatan dan kualitas mereka.     Apa sebetulnya makna sesungguhnya dari Alas Ketonggo?  Saya harus menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada sahabat saya, Ki Alang-alang Kumitir, yang menjadi  pintu gerbang saya untuk memahami makna Alas Ketonggo, lewat uraianny, “Alas ketonggo dalam pengertian jagat cilik adalah fenomena kehidupan kita, yang pada dasarnya sulit dikendalikan tetapi harus mampu kita kendalikan. Sedangkan alas ketonggo dalam arti makro atau dalam pengertian nyata, seperti Kraton beserta Raja-nya sebagai sentral budaya, tempat-tempat yang dimitoskan atau disakralkan dalam kegiatan peziarahan. Arti pesan yang mendalam bahwa kita tidak boleh meninggalkan budaya dan sejarah masa lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alas Ketonggo dalam maknanya sebagai jagad ageng, adalah tempat arwah-arwah para leluhur yang telah meninggalkan dunia puluhan hingga ratusan tahun, namun belum berpulang dihadirat Tuhan, dan masih menyimpan rapi segenap kekuatan di dalam tubuh halus maniknya.  Banyak pengetahuan masa silam yang sebagai simbol jati diri dan identitas bangsa yang tersembunyi di Alas Ketonggo.  Untuk itulah, makna membuka rahasia Alas Ketonggo adalah mengakses energi masa silam, men-download kekuatan dari para peluhur, menemukan jatidiri dan akar yang tersandikan dalam sejarah dan kiprah para leluhur.  Hanya dengan melakukan itu, kita bisa melampaui setengah tangga yang dibutuhkan untuk mencapai puncak perjalanan di mana esensi dari Satria Piningit dan Ratu Adil bisa kita serap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah tangga lainnya adalah memahami Alas Ketonggo dalam dimensinya sebagai jagad cilik: diri kita sesungguhnya sebuah alas atau hutan yang menyimpan banyak misteri.  Di dalam diri kita bersemayam berbagai jiwa binatang, yang harus ditaklukkan dan dikendalikan agar misteri itu terungkap.  Misteri itulah Sang Sukma Sejati, Kesadaran Murni, yang hanya bisa terungkap ketika kita sudah menjadi manusia yang sanggup mengendalikan berbagai jiwa binatang di dalam diri, menemukan kemanusiaan kita, lalu menyatu dengan manifestasi dari Gusti Ingkang Murbeng Dumadi yang gilang gemilang.  Untuk mencapai keadaan inilah, kita harus terus melakukan laku prihatin dan ngangsu kawruh sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat generasi muda yang terpilih di Jawa/Nusantara telah tuntas menjalani proses menyelami rahasia Alas Ketonggo ini, melalui proses mengembangkan kegiatan berbakti kepada para leluhur sehingga manunggal rasa dan karsa dengan para leluhur, sekaligus  terus menerus melakukan laku prihatin hingga manunggal rasa dan karsa dengan Sukma Sejati, maka mereka bisa menjadi Satrio Piningit.  Dan para Satrio Piningit inilah yang bisa menjalankan peran sebagai Ratu Adil di Nusantara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas kita bukanlah berongkang-ongkang kaki menunggu kedatangan Satrio Piningit dan Ratu Adil.  Tetapi justru kita harus berjuang untuk menyerap hakikat Satrio Piningit dan Ratu Adil itu ke dalam diri dan kehidupan kita.  Lebih lugasnya, kita semua harus berproses menjadi Satria Piningit dan Ratu Adil sesuai kodrat kita masing-masing, sehingga kita bisa betul-betul menjadi pribadi dengan laku utama yang sanggup menjalankan titahing Gusti, hamemayu hayuning bawono!  Tentu saja, pada akhirnya, ada salah seorang Satria Piningit dan Ratu Adil yang menjadi pemimpin utama.  Tapi, sosok tersebut hanya bisa hadir di persemaian yang subur: di tengah komunitas yang berjiwa satria pinandhito: mereka yang tanpa pamrih menegakkan kebenaran dan keadilan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menyongsong jaman baru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-2907368482233003681?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/2907368482233003681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=2907368482233003681' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2907368482233003681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2907368482233003681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/12/oleh-oleh-napak-tilas-menyongsong-jaman_2627.html' title='OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (V)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-3418815284956707287</id><published>2010-12-27T08:48:00.001-08:00</published><updated>2010-12-27T08:48:26.037-08:00</updated><title type='text'>OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (IV)</title><content type='html'>NASIB AGAMA-AGAMA IMPORT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi kebudayaan yang terjadi di Jawa/Nusantara, jelas akan bersinggungan dengan agama-agama yang saat ini terlihat demikian dominan bahkan menjadi agama resmi negara.  Revolusi kebudayaan yang hakikatnya adalah gerakan kembali ke asal, kembali ke jatidiri, jelas akan mengubah konstelasi umat beragama di Indonesia.  Pada titik tertentu, manusia Jawa/Nusantara akan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, dan hidup di atas landasan spiritualitas khas Jawa/Nusantara.  Orang Jawa/Nusantara akan berganti ageman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hal demikian terjadi?  Karena selama ini agama import tersebut telah dimanipulasi oleh sebagian pemuka/pemeluknya untuk menghegemoni Jawa/Nusantara demi mendapatkan kuasa politik dan manfaat ekonomi.  Lebih dari itu, agama import itu telah membuat manusia Jawa/Nusantara tidak lagi berpegang pada kearifan lokal, bahkan banyak di antara manusia Jawa/Nusantara yang menistakan kearifan lokal karena dianggap melanggar ajaran Tuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limaratus tahun manusia Jawa/Nusantara dimabukkan oleh agama import, membuat mereka kehilangan hubungan yang harmonis dengan alam, dengan para sesepuh ingkang Mbahurekso, dengan Kanjeng Ratu Kidul pengayom Nusantara, juga dengan para leluhur gung binatoro.  Itu yang menjadi penyebab munculnya berbagai bencana: manusia Jawa/Nusantara tertolak oleh tanah dan airnya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, jika gerakan kembali ke asal dan jatidiri ini mulai mewujud sempurna, bagaimana dengan nasib agama-agama import?  Semuanya tergantung dari apa yang dilakukan oleh para pemuka dan pemeluk agama-agama tersebut.  Pada kasus agama Islam misalnya, semuanya tergantung pada pilihan yang diambil: bersediakah untuk memperbaiki segenap pelanggaran terhadap rambu-rambu yang dulu pernah diberikan oleh Dang Hyang Ismoyo kepada Syaih Subakir (Muhammad al Baqir), pendakwah Islam pertama asal Persia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Tidar, di mana terdapat petilasan Syeikh Subakir dan Dang Hyang Ismoyo, semestinya menjadi pembangkit memori kaum Muslimin akan legenda masa lalu itu.    Rambu-rambu yang diberikan kepada Syeikh Subakir adalah bahwa Islam boleh disebarkan di Tanah Jawa/Nusantara, dengan catatan tetap mempertahankan akar keyakinan dan budaya khas Jawa/Nusantara, serta mengayomi sistem keyakinan yang sudah ada.  Faktanya, saat ini gerakan Islam fundamentalis menguat, pemurnian agama kian menjadi-jadi, sehingga Islamisasi (penegakan tatatan yang menyelamatkan) telah bergeser menjadi Arabisasi yang membuat manusia Jawa/Nusantara kehilangan jatidiri mereka.  Itu yang membuat kekuatan yang bersemayam di Gunung Tidar menggugat, yang saat ini terwakili oleh Merapi, sebelum kelak Gunung Tidar akan beraksi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya, manusia Muslim bisa tetap berdampingan secara harmonis dengan para penghuni alam ghaib: bangsa kajiman, kadawatan, dan lainnya, lebih khusus dengan para pengayom dan leluhur Nusantara yang berada pada dimensi lain tapi tetap berperan besar dalam kehidupan manusia Jawa/Nusantara.  Tetapi, gerakan pemurnian Islam telah membuat sistem kebudayaan yang menjaga keselarasan manusia Jawa/Nusantara dengan para penghuni alam ghaib itu menjadi sesuatu yang nista karena diberi label musyrik, tahayul, bid’ah dan khurafat!  Karena itulah, sudah sepatutnya berbagai elemen alam di Nusantara ini berontak, termasuk para penghuni alam ghaibnya.  Saksikanlah apa yang terjadi dengan rumah-rumah/bangunan yang dilewati wedus gembel di sekitar Merapi, bukan hanya gosong tapi juga hancur seperti terinjak-injak.  Siapakah yang berbuat demikian?  Itu bukan hanya kerja si wedus gembel yang hanya memiliki daya panas, tapi juga adalah aksi dari penghuni alam ghaib Nusantara yang selama ini merasa tidak diperdulikan bahkan dilecehkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika agama Islam dan agama-agama import lainnya khususnya agama-agama dari rumpun Semitik ingin bisa bertahan di Nusantara, maka satu-satunya jalan adalah dengan kembali pada rambu-rambu yang sudah dibuat oleh Dang Hyang Ismoyo!  Lebih dari itu, mereka harus mengikuti kebijaksanaan Nabi Sulaiman (King Solomon) yang bersifat mengayomi dan mampu membangun komunikasi harmonis tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada tumbuhan, binatang, dan para penghuni alam ghaib.  Jika tidak, jangan salahkan siapapun jika agama-agama tersebut mengalami kiamat atau kehancuran akibat kehilangan pengikut dan tertolak oleh alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jembatan penyelamat untuk agama-agama import adalah ajaran mistik dari agama-agama tersebut.  Kedepankanlah aspek kebathinan, tasawuf atau gnostikisme, yang mengutaman kesatuan agama-agama, yang menyerukan persaudaraan universal, memberi ruang bagi eksperimen-eksperimen spritual, serta menghargai tradisi-tradisi lokal.  Hanya dengan mempergunakan jembatan ini agama-agama import akan bertahan di Jawa/Nusantara.  Ya, lampauilah syariat, lalu menukiklah pada hakikat, sehingga para pemeluk agama-agama import itu mengalami transformasi menjadi manusia-manusia yang berbudi luhur dan berkesadaran tinggi!  Karena itulah yang akan menjadi peneguh keberadaan agama-agama import di Nusantara!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-3418815284956707287?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/3418815284956707287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=3418815284956707287' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/3418815284956707287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/3418815284956707287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/12/oleh-oleh-napak-tilas-menyongsong-jaman_5428.html' title='OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (IV)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-2049425253917315526</id><published>2010-12-27T08:47:00.001-08:00</published><updated>2010-12-27T08:47:44.680-08:00</updated><title type='text'>OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (III)</title><content type='html'>PETUNJUK DARI MASA SILAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemilangan Nusantara, dan tanda-tanda yang mengawali terwujudnya hal tersebut, setidaknya bisa kita lihat pada dua  teks.  Teks pertama berkenaan dengan kata-kata bertuah dari Eyang Sabdapalon, dan teks kedua  adalah nujuman Prabu Jayabaya, Raja Kediri.  Teks yang memuat kata-kata bertuah dari Eyang Sabdapalon adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuh Sinom:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Pada sira ngelingana Carita ing nguni-nguni Kang kocap ing serat babad Babad nagri Mojopahit Naika duking nguni Sang-a Brawijaya Prabu Pan Samya pepanggihan Kaliyan Njeng Sunan Kali Sabda Palon Naya Genggong rencangira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang Negara Mojopahit, Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Sang – a Prabu Brawijaya Sabdanira arum manis Nuntun dhateng punakwan “Sabda palon paran karsi” Jenengsun sapuniki Wus ngrasuk agama Rosul Heh ta kakang manira Meluwa agama suci Luwih becik iki agama kang mulya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Prabu Brawijaya berkata lemah-lembut kepada punakawannya: “Sabda palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu. Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi, Ngrrasuka agama Islam Wit kula puniki yekti Ratuning Dang Hyang Jawi Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jemeneng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tidak masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digariskan kita harus berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Nung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Budha kula sebar tanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Berpisah dengan Sang Prabu kembali keasal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi (maksudnya kawruh budhi/pengetahuan budhi), saya sebar seluruh tanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5). Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajeken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen during lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus rijeblug mili lahar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Bila tidak ada yang mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6). Ngidul ngilen purugina, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar Agama Budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Lahar tesebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah pratanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Budha (maksudnya kawruh budhi/pengetahuan budhi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus berganti. Tidak dapat bila dirubah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, saat ini Merapi telah mulai meletup dan menunjukkan tanda-tanda akan  menggelegar.  Kedahsyatan Merapi bahkan menjangkau tempat-tempat yang dulu seolah tak mungkin terusik.  Ketika para pengayom Nusantara mulai lepas tangan, hal demikian memang menjadi sebuah keniscayaan.  Inilah yang menjadi pertanda ada yang keliru dengan Kraton Jogjakarta.  Tapi, memang sudah demikian hukum alam berjalan.  Semuanya akan berubah, yang semula di atas akan ada di bawah, yang semula di bawah akan ada di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Serat Jangka Jayabaya yang memuat nujuman Prabu Jayabaya, raja Kediri yang agung, mengungkapkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemah ripah harja kreta, tata tentrem ing salami-lami, ilang kang samya laku dur, murah sandang lan boga, kang hamangkuasih mring kawulanipun, lumintu salining dana, sahasta pajeg saripis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kemakmuran melimpah ruah, langgeng, tertib tenteram selamanya, hilang lah kedurjanaan, murah sandang pangan, pemimpin yang penuh tanggungjawab dan kasih sayang kepada rakyatnya, selalu tidak kekurangan uang, ibaratnya tanah satu hektar pajaknya satu rupiah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siti sajung mung sareal, tanpa ubarampe sanese malih, antinen bae meh rawuh, mulyaning tanah Jawa, awit saking tan karegon liyanipun, nakoda wus tan kuwasa, pulih asal mung gagrami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kelak, tanah yang sangat luas pajaknya hanya satu real, tidak ada tambahan pajak lainnya, tunggulah saja hampir tiba saatnya kemuliaan untuk nusantara)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terwujudnya negeri gemah ripah loh jinawi itu tidak terjadi demikian saja, melainkan melalui sebuah proses dimana kita harus ikut terlibat di dalamnya.  Oleh karena itulah Prabu Jayabaya juga mengingatkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi pesanku, waspadalah dan ingatlah, tegakkan iman mu, jadilah pengikut Ratu Adil penegak kebenaran. Carilah ‘SENJATANYA’ sampai ketemu, ikuti jalannya kemanapun perginya, jadilah, ibaratnya sebagai pasukannya Ratu Adil, tidak lama akan tampak tanda tanda datangnya ratumu yang mendapat kemuliaan agung, datangnya tiba-tiba secepat kilat, diiringi berjuta-juta “malaikat” (berjuta leluhur bumi nusantara), berdiri dengan payung kuning (kebenaran sejati), maknanya ‘bang-bang’ timur keinginannya (gerakan dari wilayah timur nusantara), maka terbitlah sinar yang terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…… tidak berapa lama segera datang Ratu Adil duduk menjadi pemimpin dan suri tauladan di wilayah tersebut, sehingga menjadi makmur diibaratkan sawah yang sangat luas pajaknya sangat kecil, diibaratkan tidak ada lagi yang harus dilakukan negara, sebab saking adil makmurnya nusantara, ibaratnya kegiatan orang-orang tinggal terfokus untuk sembahyang kepada Tuhan saja, serta memanjatkan puji-pujian tanpa henti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Ratu Adil ini, berjalan seiring dengan mulai terbongkarnya hegemoni agama-agama import di Jawa/Nusantara.  Manusia Jawa/Nusantara akan tersadarkan pada hakikat sebenarnya sebagaimana digambarkan dalam teks berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“……….iku kang ambuka agama kang samar-samar nanging sira do awas den eling, awit sadurunge ratu adil rawuh, ing tanah Jawa ana setan mindha menungsa rewa-rewa anggawa agama, dudukuh ana ing glasah wangi, dadine manungsa banjur padha salin tatane, satemah ana ilang papadhange, awit padha ninggal sarengate, dadi kapiran wiwit cilik mula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(…itu yang membuka mata hati manusia yang memaknai agama secara tidak karuan, tetapi kalian harus waspada dan selalu ingat, sebab sebelum Ratu Adil datang, di tanah Jawa ada setan berkedok manusia berbulu lebat seolah sebagai penegak agama, bertempat tinggal di ‘glasah wangi’, sehingga mengakibatkan manusia berganti tatanan, berakibat hilangnya petunjuk dan tatakrama kehidupan, sebab banyak orang meninggalkan syariat (sebelumya), sehingga menjadi terlantar hidupnya sejak kecil.)”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-2049425253917315526?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/2049425253917315526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=2049425253917315526' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2049425253917315526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2049425253917315526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/12/oleh-oleh-napak-tilas-menyongsong-jaman_9948.html' title='OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (III)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-6138997508386708095</id><published>2010-12-27T08:46:00.000-08:00</published><updated>2010-12-27T08:47:05.432-08:00</updated><title type='text'>OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (II)</title><content type='html'>MENEROPONG DAN MEMBANGUN KEGEMILANGAN NUSANTARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini, sebagai hasil dari proses ngangsu kawruh dari beberapa sesepuh, membaca berbagai teks, sekaligus menjalani tirakat untuk mendapatkan pengetahuan dari kedalaman diri, kian muncul  kesadaran bahwa memang kita tengah menyongsong momen-momen krusial, yang sangat menentukan nasib Nusantara di masa depan.  Dalam kesadaran ini, peristiwa Merapi menjadi salah satu pertanda yang paling jelas tentang mulai berjalannya proses pembentukan tatanan baru di Nusantara.  Meletusnya Merapi bukan semata-mata gejala alam.  Alih-alih demikian, Merapi telah menjadi simpul pertemuan beberapa pihak – yang tengah sama-sama bekerja untuk mewujudkan kodrat alam: lahirnya Nusantara baru yang menjadi kiblat spiritualitas dunia, sekaligus negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.   Meletusnya Merapi dan berbagai bencana lainnya, adalah momen pembayaran karma masa lalu, sekaligus sebagai instrumen seleksi alam terhadap manusia Nusantara: mana yang masih akan bertahan dan bahkan menjadi pilar perubahan Nusantara ke arah kejayaan, dan mana yang disisihkan karena tak bisa lagi diterima oleh Bumi Pertiwi.  Letusan Merapi yang meluluhlantakkan berbagai tatanan lama, juga menandai hadirnya tatanan baru.   Dua keraton di Jawa, yaitu Keraton Solo dan Yogya, akan dipaksa oleh alam untuk berubah atau tergilas.   Kraton Jogja yang selama ini menjadi pancer yang menjaga kesetimbangan Merapi dan Laut Selatan, kini memang berada pada situasi dilematis, disebabkan oleh mulai ditinggalkannya banyak pakem/anggah-ungguh, yang disimbolkan dengan kian kentalnya nuansa rib iriban di Kraton Jogja.  Konflik terbuka dengan Merapi dan Laut Selatan, kian menempatkannya pada posisi sulit bahkan terancam.    Semuanya kembali pada kebijaksanaan penguasa Kraton Jogja yaitu Sultan Hamengkubuwono X dan para kerabatnya: pilihan apapun yang diambil, itulah yang menjadi penentu bagaimana peran Kraton di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam selubung kedahsyatan Merapi, bekerjalah Eyang Sabdopalon yang dalam perwujudan lain dikenal juga dengan nama Kaki Semar atau Dang Hyang Ismoyo.  Bekerjalah juga Kanjeng Ratu Kidul dengan para manggalanya termasuk Nagabumi, para sesepuh ingkang mbahurekso di Merapi dan sekelilingnya termasuk pasukan banaspati, diiringi oleh kiprah para leluhur gung binatoro.  Dalam proses ini, alam memang menjadi nggegirisi, abot dilakoni (mencekam, berat untuk dijalani).  Tapi, selalu ada celah penyelamatan diri bagi mereka yang waspada, yang tanggap ing sasmita (tanggap terhadap tanda-tanda alam).  Bahkan, berbagai kesulitan yang muncul seiring dengan peristiwa alam yang dahsyat di Nusantara, justru menjadi pintu masuk bagi generasi muda yang hatinya terbuka dan mendapat panggilan darah untuk berkiprah menjadi satria-satria pembela Ibu Pertiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kerja besar tengah mencapai momentumnya.  Limaratus tahun, Ibu Pertiwi, para leluhur, juga para pengayom dan pengasuh manusia Jawa/Nusantara, telah bersabar.  Mereka semua membiarkan diri, dengan kelapangan dada yang tiada tara, menjadi tamu di negeri sendiri, bahkan mendapatkan kecaman dan nistaan.  Semua itu memang sesuatu yang harus dijalani – menjadi semacam laku prihatin – yang harus dilakukan agar kegemilangan Nusantara memang bisa diraih.  Hal demikian tentunya tak aneh bagi mereka yang menggeluti falsafah Jawa.  Bagi orang Jawa, satu-satunya jalan untuk menikmati surga adalah dengan nyemplung ke neraka.  Jika mau meraih kemuliaan dan kenikmatan yang besar, maka jalan satu-satunya adalah melakukan pengorbanan, menjalankan hidup yang penuh keprihatinan, membuat ego atau keakuan benar-benar ditekan habis hingga rata dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup ini berlaku hukum cakra manggilingan, semua berubah semua berputar.  Memang, keterjerembaban manusia Jawa/Nusantara adalah buah dari kekeliruan internal, yang kemudian mengundang hadirnya pihak luar yang berlaku aniaya – yang secara hakiki dapat dipahami sebagai  instrumen bagi tegaknya keadilan alam.  Dulu manusia Jawa/Nusantara pernah mencapai kejayaan secara budaya, ekonomi dan politik, disimbolkan dengan keberadaan Keraton Kediri, Singosari, Sriwijaya, maupun Majapahit dan Pajajaran.  Karena ketidakwaspadaan dan konflik internal, kejayaan itu sirna.  Lalu masuklah pihak-pihak luar yang pandai memanfaatkan keadaan untuk menancapkan hegemoninya.  Hingga akhirnya Nusantara mengalami penjajahan berkepanjangan, mulai dari sekadar penjajahan ekonomi, politik, hingga yang paling tersamar dan berjangka panjang, penjajahan budaya.  Proses membalik situasi itu, mungkin saja memakan proses lebih singkat.  Tetapi, hasilnya akan berbeda dengan proses yang membutuhkan waktu yang lebih lama.  Limaratus tahun, adalah waktu yang telah ditetapkan untuk membalik keadaan dan menyudahi masa prihatin yang teramat panjang.  Cukuplah rentang waktu itu untuk mencapai buah yang benar-benar matang dan terasa manis alami!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saatnya telah tiba: pembalikan tatanan untuk mengembalikan kejayaan Nusantara mulai berjalan.  Dimulai dengan revolusi budaya, wong jowo bali menyang jawane.  Orang-orang Jawa kembali kepada Jawanya.  Demikian pula berbagai suku di Nusantara lainnya, mereka semua kembali kepada jatidirinya.  Hegemoni kebudayaan asing perlahan-lahan akan sirna.  Agama-agama import tak akan lagi dominan, berganti dengan agama jawi (ajaran spiritualitas yang berlandaskan pada kepekaan terhadap tanda-tanda alam atau sastra jendra hayuningrat).    Dimotori oleh generasi muda yang terpilih dan mendapat asuhan dari para leluhur di bawah komando Eyang Sabdapalon, revolusi kebudayaan ini akan berlangsung dahsyat: seolah sunyi, diam, namun benar-benar membalikkan keadaan!  Sebagai buah dari revolusi kebudayaan ini, tercipta pulalah revolusi politik dan revolusi ekonomi.  Nusantara akan kembali dipimpin oleh mereka yang berjiwa satria, sekaligus punya watak pandhita.  Konsep yang mewadahi gagasan ini adalah kepemimpinan oleh Satria Piningit dan Ratu Adil.  Ya, pada waktunya Nusantara kembali dipimpin oleh sosok yang memanifestasikan kebijaksanaan Gusti Ingkang Akaryo Jagad – yang mendapat wahyu kedaton serta didukung oleh Ibu Pertiwi dan berbagai kekuatan yang ada di Nusantara.  Pemimpin demikian yang mampu mengayomi dan menegakkan keadilan, dan benar-benar sanggup menetapkan kebijakan yang memihak kepentingan bangsa.    Asset-asset Nusantara kembali bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat banyak, tatanan ekonomi yang semula timpang berubah menjadi berkeadilan, dan akhirnya terciptalah kesejahteraan yang merata.  Nah, meletusnnya Merapi adalah simbol atau pertanda hadirnya Satria Pambukaning Gapura: munculnya pemimpin keturunan dan titisan raja-raja Kutai yang secara de facto akan memimpin Nusantara.  Dan ia menjadi pintu gerbang bagi lahirnya Satria Piningit yang berdarah Majapahit/Pajajaran/Mataram (mampu melahirkan persatuan antara trah Majapahit dan Pajajaran yang sesungguhnya satu asal tapi sempat terkoyak akibat Perang Bubat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-6138997508386708095?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/6138997508386708095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=6138997508386708095' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/6138997508386708095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/6138997508386708095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/12/oleh-oleh-napak-tilas-menyongsong-jaman_27.html' title='OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (II)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-4821628960026397124</id><published>2010-12-27T08:45:00.000-08:00</published><updated>2010-12-27T08:46:12.171-08:00</updated><title type='text'>OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (I)</title><content type='html'>KISAH NAPAK TILAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung minggu pertama November 2010, terasa kuat sekali perintah dari dalam diri, untuk menapaktilasi jejak sejarah Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram.   Ada beberapa pertanyaan menggelitik yang membutuhkan jawaban, dan rasanya jawaban itu baru muncul setelah proses napak tilas itu dilakukan.  Ngelmu itu kelakoni kanthi laku, demikian KGPAA Mangkunegoro IV mengingatkan dalam Serat Wedhatama.  Salah satu tafsir dari ujaran itu adalah bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang kita butuhkan, kita memang harus memancing kemunculannya lewat sebuah laku, lewat sebuah perbuatan nyata yang menunjukkan kesediaan berkorban dan berjuang.  Tak cukup ilmu itu diraih hanya dengan membaca buku, atau sekadar merenung di rumah yang nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang berharga,  memang harus diraih melalui perjuangan keras, yang melibatkan sikap sabar, tekun dan pantang menyerah.  Itulah pelajaran berharga yang lagi-lagi saya peroleh dalam pengembaraan kali ini.  Perjuangan itu sudah dimulai di kereta api.  Perjalanan menggunakan Senja Utama dari Jakarta ke Yogyakarta yang biasanya hanya memakan waktu 8 jam, ternyata menjadi tak kurang dari 26 jam.  Karena ada kereta terguling di Telagasari Indramayu, kereta yang saya tumpangi dan berangkat dari Stasiun Senen pukul 20.00 baru bisa sampai Cirebon pukul 17.00 keesokan harinya.   Baru setelah melewati Stasiun Kejaksan Cirebon, perjalanan mulai lancar lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpenjara di kereta api selama berjam-jam, jelas memberikan pelajaran tersendiri tentang makna sabar.   Untunglah, sebelumnya saya sempat membeli satu set novel lawas berjudul Senopati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto, yang total terdiri dari 25 seri.  Di dalam kereta, sampai kemudian tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta, saya bisa melahap 12 seri.  Lumayan, karena dari novel itu saya banyak mendapatkan pelajaran penting, yang nanti akan saya urai dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, dari molornya waktu perjalanan kereta api itu, ada hikmah lain selain kesempatan untuk belajar makna sabar dan membaca sebuah novel lawas tanpa gangguan.  Kedatangan saya ke rumah Kang Sabdalangit di Plengkung Wijilan, ternyata bersamaan dengan berkumpulnya teman-teman dari Kampus Wong Alus yang sedang mempersiapkan distribusi bantuan kepada para pengungsi Merapi.  Jadi, tanpa direncanakan, saya jadi terlibat dalam aksi sosial yang dimulai malam itu dan dilanjutkan keesokan harinya.  Ini yang namanya blessing in disguess, berkah tersembunyi.  Benarlah kata para sesepuh, bahwa kalaupun kita sedang mendapatkan kesulitan, jangan nggresula (mengeluh), karena siapa tahu ada ada anugerah yang menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selama terlibat dalam aksi sosial bersama teman-teman dari Kampus Wong Alus itu, saya lagi-lagi banyak mendapatkan wawasan baru.  Pada sessi pertama pembagian bantuan, saya ada satu mobil bersama Kang Sabdalangit, istrinya Nyi Utari dan sobat asal Jombang, Mas Azizi.  Salah satu pengalaman berharga itu adalah ketika mendekati Jogja Expo Centre yang menjadi salah satu tempat penampungan pengungsi, tiba-tiba di dalam mobil yang tertutup dan ber-AC, tercium bau udang goreng.  Sementara jelas bau dari luar semestinya tak bisa tercium, terlebih tak ada pabrik udang goreng di sekitar itu.  Ternyata, bau udang goreng ini adalah sebuah pertanda – sebagaimana disampaikan Kang Sabdalangit dan Nyi Utari, itu adalah pertanda Merapi sedang punya hajatan besar.  Ini yang menjadi salah satu dasar pentingnya masyarakat di sekitar Merapi tetap waspada.  Meredanya aksi Merapi saat ini, bukan berarti Merapi sudah akan berhenti total.  Tapi itu sekadar sebuah jeda, yang dipakai Merapi untuk mengumpulkan kekuatan.  Pada waktunya, dalam jangka waktu dekat ini, hajatan Merapi berupa erupsi yang dahsyat sangat mungkin terjadi.   Terlebih, fenomena Merapi ini memang bukan sekadar fenomena alam, tapi ini memang sebuah momen di mana berbagai pihak baik yang kasat mata maupun tak kasat mata sedang beraksi.  Sungguh akan terkecoh mereka yang melihat Merapi hanya sebagai sebuah gunung, dan menyangka letusan merapi itu hanya semata-mata gejala vulkanik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sessi kedua distribusi bantuan, saya berada dalam satu kendaraan hanya dengan Kang Sabdalangit.  Karena Nyi Utari punya agenda lain dan tak bisa ikut, sementara Mas Azizi mengendarai kendaraan pengangkut barang bantuan yang lain.  Selama perjalanan inilah, diskusi yang hangat dan meluaskan pengetahuan saya terjadi.  Saya harus akui, bahwa saya sungguh bersyukur bisa mendapatkan banyak ilmu dari Kang Sabdalangit yang jauh lebih waskitho.  Beberapa topik yang kami sempat kami diskusikan antara lain menyangkut rahasia Gunung Tidar, skenario leluhur untuk Nusantara di masa depan, dan sikap-sikap yang sepatutnya menempel di kalangan generasi muda.  Hasil diskusi ini, termasuk yang akan saya uraikan dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan distribusi bantuan ini selesai melaksanakan tugas sore hari, dan berkumpul kembali di rumah Ki Sabdalangit sekitar pukul 18.30.  Setelah sempat berbincang-bincang dengan dengan para sahabat dari Kampus Wong Alus, antara lain Mas Bengawan Candhu, Mas Agus, Mas Wawan, Mas Andra, Mas Akik dan Mas Prabowo, pukul 20.00 saya dan Mas Azizi, pamitan untuk memulai prosesi napak tilas, diawali di Pesarean Kota Gedhe.  Malam itu, saya lagi-lagi merasa mendapatkan keberuntungan, karena Mas Wawan dan Mas Andra ternyata menawarkan diri untuk mengantarkan saya dan Mas Azizi ke Kota Gedhe.  Siapa nolak?  He, he.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses napaktilas Panembahan Senopati di Pesarean Kota Gedhe, dilaksanakan dengan prosesi menghaturkan sesaji kembang setaman dan ucapan pertanda bakti dari saya sebagai salah satu keturunannya.  Setelah itu, dilanjutkan dengan semedhi untuk menyatukan rasa, dengan Panembahan Senopati dan para leluhur lainnya yang ada di pesarean tersebut, seperti Sultan Hadiwijaya, Sultan Sepuh Hamengkubuwono II, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Mangir, dan lainnya.  Menjelang tengah malam, semedi sesi bertama harus saya akhiri karena Mas Azizi harus segera ke Surabaya.   Setelah sejenak ngobrol sambil ngewedang di salah satu warung, saya dan Mas Azizi akhirnya berpisah.  Mas Azizi ke Surabaya, sementara saya melanjutkan semedi di Pesarean Kota Gedhe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membuka mata, menghentikan proses semedi, dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 01.30.   Saya merasa benar-benar sangat mengantuk dan lelah.  Karena itu, saya putuskan untuk beristirahat sejenak.  Yah, lumayan, ngglosor di salah satu petak ubin yang masih kosong dengan kepala berbantalkan gulungan jaket – saat itu, malam Jum’at Pon, cukup banyak juga orang yang berziarah, dari berbagai lapisan masyarakat, dengan berbagai niat.  Sekitar pukul 03.00 saya terbangun, dengan badan yang cukup segar, rasa kantuk telah hilang.  Saya putuskan untuk melanjutkan semedi, hingga pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 05.00, saya mulai beranjak meninggalkan Kota Gede, mampir di warung angkringan sebentar, lalu menuju Parangtritis.  Pilihan ke Parangtritis ini juga muncul dari rasa di hati, saya merasa ingin sekali ke situ, untuk sowan kepada Kanjeng Ratu Kidul.  Saya tiba di Parangtritis sekitar pukul 07.00.  Matahari sudah mulai memanasi tepian Samudera Hindia itu, yang dalam khazanah orang Jawa lebih dikenal sebagai Laut Selatan.   Saya lalu melaksanakan prosesi melarung kembang setaman, sebagai simbol bakti dan hormat kepada Kanjeng Ratu Kidul sebagai pengayom Nusantara.   Setelah itu, saya memilih salah satu tempat yang cukup nyaman, di sisi sebuah batu karang, untuk bersemedi.  Semula saya semedi dengan posisi duduk, lama-lama mengantuk di sentuh angin pantai, sehingga saya ganti posisi menjadi berbaring.  Sungguh nikmat tiduran di tepi pantai, beralaskan pasir yang halus, sambil sebisa mungkin memfokuskan pikiran pada aliran nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 10.00, saya merasa tiba waktunya untuk menghentikan semedi, lalu mencari warung yang banyak bertebaran di Parangtritis, menikmati sarapan.  Mohon maklum...saya memang agak beda dengan para ahli tirakat yang suka tidak makan dan tidak minum ketika lelakon.  He, he.....saya memilih untuk lelakon sambil wisata kuliner.  Saat itu, saya tiba-tiba tergerak untuk mengirim SMS ke salah satu sahabat di Jakarta, Pak IBM Jayamartha, bahwa saya sedang berada di Parangtritis.  Sahabat itu balik bertanya lewat SMS, “Sudahkah ke Gua Langse?”.  Sejujurnya, saya semula tidak berniat  ke tempat itu, karena memang saya tidak tahu (perlu saya jelaskan, saya ini memang benar-benar pemula lho dalam dunia spiritual Jawa..he, he..jadi banyak tempat-tempat spesial yang saya belum tahu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu bertanya kepada penjaga warung, di mana letak Gua Langse itu.  Dia menjawab, “Dekat, ke arah perbukitan, terus saja nanti juga ketemu.”  Dengan berbekal kata dekat itu, saya jadi bersemangat untuk segera mencapai Gua Langse.  Ternyata, definisi dekat menurut sang penjaga warung itu agak berbeda dengan definisi dekat yang saya pahami selama ini..he, he...saya berjalan kaki menuju ke tempat itu kok tidak sampai-sampai.    Setiap saya bertemu orang di jalan, saya bertanya, dan jawabannya adalah, “Oh, terus aja, ikuti jalan naik ini, nanti belok.....”  Dan saya tetap merasa tidak sampai-sampai ke tempat yang saya tuju.  Tapi, tiada perjalanan yang tiada berujung.  Menjelang tengah hari, ketika badan ini sudah merasa sangat letih, akhirnya saya tiba juga di gerbang Gua Langse.  Di situ saya bertemu Pak Aris, Juru Kunci Gua Langse, yang kemudian menawarkan diri untuk menemani saya.  Maka, saya berjalan lagi untuk menuju ke tempat tujuan, yang saya kira sudah tinggal beberapa langkah.  He, he, ternyata saya lagi2 keliru..saya masih berjalan beberapa saat menelusuri jalan setapak dengan beraneka pepohonan di kanan dan kiri.  Lalu, tibalah saya dan Pak Aris di ujung jalan setapak itu..dan itu adalah sebuah tebing yang curam.  Dari situ, saya memandang ke bawah....hambaran samudera yang sungguh menggetarkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D i situlah Pak Aris bercerita tentang sejarah Gua Langse.  Gua ini adalah tempat pertapaan Panembahan Senopati.  Gua ini dipilih karena benar-benar tersembunyi, sehingga Panembahan Senopati benar-benar bisa menyepi dari keramaian dan hiruk pikuk manusia.  Saat bertapa di sini, Kanjeng Ratu Kidul yang tertarik karena Panembahan Senopati menebarkan aura wahyu (pulung) yang kuat, hadir dan menyapa.  Dan ini menjadi awal legenda hubungan khusus antara Kanjeng Ratu Kidul dan raja-raja Mataram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, untuk mencapai Gua Langse, masih butuh perjalanan lanjutan.  Gua Langse ada di bagian bawah tebing itu.  Jika ditarik garis lurus vertikal, jaraknya 180 meter.  Jika melalui tangga darurat, jaraknya 300 meter.  Pak Aris bertanya kepada saya, “Benar sudah niat mau ke Gua Langse?”  Pertanyaan itu bukan tanpa sebab.  Turun ke bawah melalui tangga darurat menuju Gua Langse - yang terdiri dari kombinasi tangga bambu, tangga besi, undak-undakan tebing, dan akar-akar yang menjol keluar- bukan tanpa resiko.  Jika terpeselet, ya terhempas ke bawah, dengan hasil berupa cidera parah atau kematian.  Saya jawab, saya sudah niat, maju terus pak!  Setelah perjuangan mendebarkan meniti tangga darurat, tibalah saya di dasar tebing.  Di situ, di dekat gua, ada tempat pemandian, dan Pak Aris menyarankan saya untuk mandi dulu.  Dengan senang hati saya turuti saran itu: sungguh menyegarkan dibanjur air alami!  Dalam keadaan segar, saya lalu bersemedi di dalam gua.  Beberapa saat, saya coba menyambung rasa dengan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 13.30, saya selesai bersemedi.  Lalu, seorang ibu-ibu yang membuka warung minimalis di sisi gua itu menawarkan teh tubruk panas dan makan siang.  “Di sini tempat prihatin mas, yang ada cuma tahu dan tempe.”  Dalam kondisi lelah dan lapar, tahu dan tempe pun pasti nikmat.  Jelas saya terima tawaran menarik itu.  Saya menikmati hidangan sambil berpikir, bagaimana ibu2 yang berusia sekitar 60 tahun ini berhubungan dengan dunia luar?  Apakah dia naik turun tangga darurat?  Hebat sekali jika begitu..atau bagaimana?  He, he....biarkanlah itu tetap jadi misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikmati hidangan di muka gua, saya memutuskan melanjutkan perjalanan.  Tujuan saya adalah Sendang Beji, yang petunjuk keberadaannya tadi saya lihat ketika menuju Gua Langse.  Pak Aris mengatakan sendang itu dekat dari Gua Langse, hanya sekitar 2 km.  Itu membuat saya bersemangat.  Saat pulang dari Gua Langse, ada hal yang membuat saya tertawa dalam hati.  Saya dua kali dicegat gerombolan anjing penjaga ternak.  Gerombolan anjing itu menyalak keras saat saya lewat.  Mungkin karena mereka merasa saya ini orang asing.  Tapi bisa jadi mereka melihat saya ini sebangsa tulang berjalan yang membuat mereka jadi bergairah..he, he...Tapi untunglah mereka hanya menyalak dan sedikit mendekat, tak sampai menyerang (padahal saya sudah siap-siap...siap-siap lari..he, he).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menuju Sendang Beji, saya pikir tak terlampau susah karena jaraknya sudah bisa diprediksi.  Tak lebih dari 30 menit pastilah sampai.  Ternyata, saya lagi-lagi keliru.   Saya memang mengikuti papan petunjuk, saya berbelok dari jalan utama ke arah kanan.  Saya berjalan lurus, tapi kok tak kunjung berjumpa dengan sendang itu.  Sampai saya merasa sangat letih, tetap saja tidak sampai-sampai.  Repotnya, di kanan kiri jalan yang saya lalu hanya ada kebun dan pesawahan, tak ada orang tempat bertanya.  Tapi saya yakin, bahwa justru di titik kritis, pertolongan itu akan datang, asal usaha terus dilakukan, dan jangan ada kata menyerah.  Seperti itulah yang terjadi, akhirnya saya bertemu dengan penduduk yang menunjukkan bahwa saya salah arah..kebablasan!  He, he....untung saja!  Akhirnya saya berbalik arah, dan lagi-lagi bertemu dengan salah satu penduduk, seorang nenek sepuh.  Saya ngobrol sejenak lalu mengikuti petunjuknya untuk mencapai Sendang Beji.  Akhirnya, pukul 15.00 saya sampai juga di sendang itu, lega rasanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ngobrol sejenak dengan Juru Kunci Sendang Beji, saya memutuskan untuk mandi di situ, di ruangan tertutup yang memang dikhususkan bagi peziarah yang ingin menikmati kesegaran air Sendang Beji.  Sayapun mandi dengan niat membersihkan aura.  Luar biasa segarnya!  Gerojogan dari pancurannya besar sekali...jadi bisa berfungsi juga sebagai  “alat pijat”...memulihkan tubuh dari segenap keletihan.  Usai mandi, saya bersemedi di  sebuah altar, yang dihiasi prasasti bertuliskan “Tri Soka: Ngudi Sejatining Becik, Nggayuh Urip Kepeneran, Berbudhi Bawa Laksana”.  Oh ya, perlu saya jelaskan, bahwa di Sendang Beji inilah dulu Jaka Tarub bertemu dengan Dewi Nawangwulan, widodari yang turun dari kahyangan, hingga kemudian mereka menikah dan melahirkan Dewi Nawangsih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semedi di Sendang Beji, menyatukan rasa dengan para leluhur yang terkait dengan tempat itu, sungguh memberikan rasa hening dan damai yang luar biasa!  Digabung dengan semua rasa yang saya dapatkan dari proses penziarahan sejak awal, saya merasa mendapatkan tambahan energi yang luar biasa.  Bukan hanya itu, saya juga mendapatkan berbagai kesadaran yang akan saya bagi kepada Anda semua.  Pukul 16.00, saya beranjak meninggalkan Sendang Beji, kembali ke rumah Kang Sabdalangit, untuk meneruskan perjalanan, pulang ke rumah di Lembah Ciremai pada malam harinya.  Beruntung, saya masih bisa bertemu Kang Sabdalangit, bahkan bisa berjumpa juga dengan Mas Dalbo, wong Jowo yang jauh-jauh datang dari Australia untuk menyampaikan sumbangan kepada pengungsi Merapi.   Di penghujung senja, saya berpamitan kepada Kang Sabdalangit dan menghaturkan terima kasih atas segala jamuan yang telah diberikan.  Di antar oleh Mas Dalbo sampai stasiun, sayapun meninggalkan Yogyakarta menggunakan Senja Utama.  Diiringi sebuah pertanyaan yang menggelisahkan bahkan membuat nelongso, “Masihkan bisa saya jumpai Yogyakarta, dengan keriuhan Malioboronya?”  Mudah-mudahan saya masih bisa berjumpa dengan Jogja....kalaupun ada perubahan, semoga Jogja yang saya temui kelak adalah Jogja yang lebih baik!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-4821628960026397124?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/4821628960026397124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=4821628960026397124' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/4821628960026397124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/4821628960026397124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/12/oleh-oleh-napak-tilas-menyongsong-jaman.html' title='OLEH-OLEH NAPAK TILAS: MENYONGSONG JAMAN BARU NUSANTARA (I)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-7025846008938509788</id><published>2010-12-27T08:43:00.000-08:00</published><updated>2010-12-27T08:44:59.140-08:00</updated><title type='text'>MERAPI, ISLAM, DAN MASA DEPAN BANGSA</title><content type='html'>26 Oktober 2010, Merapi beraksi.  Awan panas, lava yang berpijar, menghanguskan dan memporakporandakan kawasan sekitarnya.  Telah muncul puluhan korban, termasuk Mbah Marijan – yang dikenal sebagai juru kunci Merapi.  3 Oktober, Merapi beraksi lagi, lebih dahsyat.  Lewat mata bathin mereka yang waskito, bisa diperkirakan bahwa aksi Merapi belum akan berakhir.  Bahkan bisa saja menjadi jauh lebih dahsyat.  Dan korban yang muncul bisa lebih banyak lagi.  Daya rusak Merapi bahkan bisa memasuki Kota Jogja, sesuatu yang di luar kelaziman, karena selama ini Kota Jogja seolah terlindung dari bencana yang diakibatkan amarah Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa makna semua ini?  Perlu kita sadari bahwa apa yang tengah terjadi, sudah dinujumkan.  Ditarik 500 tahun ke belakang, pada momen yang menandai kehancuran Majapahit, Eyang Sabdapalon memyampaikan kata-kata yang menggetarkan – di hadapan Prabu Brawijaya V dan Sunan Kalijaga:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam Wit kula puniki yekti Ratuning Dang Hyang Jawi Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jemeneng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tidak masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digariskan kita harus berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Nung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Budha kula sebar tanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Berpisah dengan Sang Prabu kembali keasal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi (maksudnya kawruh budhi/pengetahuan budhi), saya sebar seluruh tanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajeken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen during lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus rijeblug mili lahar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Bila tidak ada yang mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngidul ngilen purugina, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar Agama Budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Lahar tesebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah pratanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Budha (maksudnya kawruh budhi/pengetahuan budhi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus berganti. Tidak dapat bila dirubah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Eyang Sabdapalon, sesungguhnya menggambarkan kegetiran yang mendalam.  Sebuah tatanan yang telah dirajut nama, hancur oleh kekuatan baru yang mengatasnamakan Agama yang Sempurna dan Menyempurnakan.  Kebaikan hati yang tidak diiringi kewaspadaan dan ketegasan, ternyata menjadi pintu masuk tragedi berkepanjangan.  Jawa – dan Nusantara secara keselurulah, perlahan namun pasti, luluh lantak, secara politik, ekonomi, dan budaya.  500 tahun setelah drama keruntuhan Majapahit itu, kita sama-sama bisa menyaksikan bagaimana degradasi secara politik, ekonomi, dan budaya itu, mencapai titik terendahnya.  Kita memasuki titik nadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolonialisasi oleh Belanda dan Jepang memang berakhir pada 1945, tapi secara politik dan ekonomi, Nusantara yang kini mewujud menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, masih jauh dari kata berdaulat.  Simpul-simpul kekuatan politik terbajak oleh segelintir orang yang lebih mengedepankan kepentingan pribadi, bersimbiosis dengan kekuatan asing yang berhasrat menjarah dan mengeruk sumber daya ekonomi negeri ini dengan sepuas-puasnya.  Hutan terjarah, tambang terjarah, pasarpun tak lagi merupakan ruang kemandirian ekonomi.  Hingga pelosok-pelosok desa, uang disedot oleh mesin-mesin ekonomi milik konglomerasi.  Rakyat kebanyakan betul-betul hanya bisa menikmati remah pembangunan.  Maka kemiskinan bahkan kemelaratan adalah sebuah gambaran nyata, walau digembar-gemborkan pertumbuhan ekonomi Indonesia terus membaik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang lebih mengerikan adalah hancur leburnya budaya bangsa.  Di satu sisi, modernisasi yang datang seiring dengan masuknya imperialisme politik dan ekonomi gaya baru, membuat banyak warga bangsa menjadi modern dalam pengertian yang peyoratif: mereka lupa bagaimana sebetulnya jatidiri sebagai bangsa Indonesia.  Saat yang sama, Agama yang diklaim sebagian besar pemeluknya sebagai Sempurna dan Menyempurnakan itu – dan secara politik pada 500 tahun lalu mewujud dalam Kerajaan Demak yang meluluhlantakkan Majapahit - walau terkesan bertentangan dengan modernisasi, hakikatnya sesungguhnya sewarna: membuat sebagian besar warga bangsa ini melupakan jatidirinya hingga pada titik menistakan kearifan lokal dari para leluhurnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wong Jowo ilang jawane, malah dadi rib iriban.  Orang Jawa lupa akan kejawaannya, malah berbangga-bangga dengan budaya padang pasir yang disangka sebagai Ajaran Tuhan yang paling sempurna.  Kerarifan lokal dianggap sebagai tahayul, bahkan kemusyrikan, yang pelakunya hanya layak diganjar dengan neraka jahanam.  Keberadaan para pengasuh dan pengayom Tanah Jawa, tak lagi mendapatkan tempat dalam sistem berpikir dan sistem keyakinan Wong Jowo sing wis ilang jawane.  Demikian pula, leluhur tak lagi digubris ajaran luhurnya – bahkan di tempat dimana raga para leluhur itu dikebumikan – beliau-beliau disapa dan didekati dengan bahasa padang pasir – bukan dengan bahasa Jawa – karena menganggap bahasa padang pasir itulah “bahasa Tuhan”.  Sempurna sudah sebuah pembalikan tatanan: kita bahkan tak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat itu semua, bukankah sepantasnya jika Ibu Pertiwi menjerit, dan para penjaga ghaib di Tanah Jawa ini meradang, termasuk Ki Jurutaman di Merapi?  Juga Kanjeng Ratu Kidul dengan para manggalanya yang bertahta di Laut Selatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Depan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian bencana di Tanah Jawa dan berbagai tempat lain di Nusantara, adalah pertanda bangkitnya Agama Budhi, spiritualitas ala Jawa atau Nusantara yang mengedepankan budi pekerti luhur sekaligus penuh dengan sikap toleran.  Salah satu bentuk dari spiritualitas yang mengalami kebangkitan itu adalah Kejawen, seperangkat falsafah dan nilai luhur yang lahir dan tumbuh di bumi pertiwi ini, dikreasi oleh para leluhur mulya, berlandaskan Kitab Sastra Jendra yang tidak berwujud lembaran kertas, melainkan berbentuk hati yang selalu basah karena sikap eling lan waspodo, dan alam yang menggelarkan tanda-tanda kebenaran dari Gusti Ingkang Mohogung.  Banyak anak-anak muda, tanpa disangka tanpa diduga, terpanggil dan terpilih untuk mengusung kearifan lokal Nusantara ini.  Berangkat dari baju agama yang bermacam-macam, anak-anak muda ini tiba-tiba menjangkau kesadaran spiritual yang tinggi, dan dengan berani lalu hidup berlandaskan kesadaran baru itu: menjadi pembela kearifan lokal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, di seluruh tempat di Nusantara, anak-anak muda ini tampil menyuarakan kebenaran yang lama tertindas dan tak mendapatkan tempat.  Suara-suara leluhur Nusantara, juga gagasan-gagasan besar mereka, seperti mendapatkan penyaluran lewat pikiran dan kiprah anak-anak muda ini.  Maka, demikianlah, Eyang Sabdapalon membuktikan kata-katanya: Agama Budhi akan menyebar kembali di Jawa bahkan Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan besarnya, bagaimana kemudian dengan nasib agama-agama yang selama ini mewarnai Nusantara?  Khususnya 5 agama resmi yang diakui negara?  Agama-agama yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan baru ini, akan mengalami kiamat, akan hancur luluh lantak, ditinggalkan pemeluknya yang memiliki kesadaran baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk Islam, walau diklaim sebagai agama yang sempurna dan menyempurnakan, jika tidak bisa menyesuaikan diri, dan tidak mereformasi atau bahkan merevolusi diri, maka takdirnya adalah kehancuran ditelan oleh gelombang perubahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, sudah semestinya umat Islam mengenang kembali, bagaimana Islam yang diajarkan oleh Syeikh Subakir, seorang pendakwah paling awal di Nusantara.  Pelajarilah simbol yang tertera nyata di Gunung Tidar: petilasan Syeikh Subakir bersanding dengan petilasan Dang Hyang Ismaya.  Islam bisa diterima oleh bumi nusantara pada kala itu, termasuk oleh makhluk ghaibnya, hanya ketika pemeluknya – terutama ulamanya - bersedia berkomitmen untuk tetap menyesuaikan diri dengan - bahkan melestarikan - kearifan lokal.  Orang Jawa yang menjadi Muslim – dan mengikuti garis dakwah Syeikh Subakir – tidak mesti mengikuti sepenuhnya Islam ala padang pasir.  Yang seharusnya ditangkap adalah esensi Islam: sikap berserah diri total kepada Kebenaran, juga sikap penuh damai, dan sikap menebar keselamatan terhadap diri sendiri, sesama, dan seluruh semesta alam.  Umat Islam harus cerdas memilah, mana Kebenaran Universal yang muncul dari Ruhul Qudus di dalam raga seorang Muhammad, mana yang merupakan tradisi lokal padang pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, umat Islam yang mengikuti mazhab Syeikh Subakir, tak bisa lagi berlaku sombong dengan menyatakan diri sebagai pemilik kebenaran satu-satunya.  Sadarilah bahwa ajaran agama yang dipeluk, pada dasarnya adalah setara dengan ajaran-ajaran lainnya: bahwa itu semua adalah ekspresi kemanusiaan dalam rangka mendekati Yang Mahasuci.  Buanglah klaim sebagai pemilik surga satu-satunya.  Tinggalkanlah kebiasaan melabeli orang di luar agama Islam dengan kata kafir dan musyrik.  Berendah hatilah, titilah jalan setapak spiritualitas yang diajarkan Islam dengan sikap santun, tanpa semangat menyerang apalagi menghancurkan agama dan keyakinan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai umat Islam, galilah hakikat Islam.  Tampillah sebagai kelompok manusia yang memang menawarkan kedamaian dan keselamatan, bukan menjadi kaum yang suka memaksa-maksa orang lain agar ikut dengan iming-iming surga dan ancaman neraka.   Hentikan makar terhadap Pancasila dengan usaha terang-terangan ataupun diam-diam untuk mendirikan Negara Islam, juga Pemerintah-pemerintah Daerah Islam!  Bumi Pertiwi ini sungguh tak akan membiarkan kebodohan dan kelaliman demikian terus meruyak. Tanah dan air Nusantara diperuntukkan bagi semua anak bangsa, apapun baju agamanya.  Negeri ini hanya bisa menerima mereka yang berkesadaran Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua.  Mereka yang mau memusnahkan keanekaragaman budaya dan bentuk spiritualitas di negeri ini, apalagi mau menggantinya dengan budaya padang pasir, sadarlah, hanya akan bertemu dengan kerugian bagi diri sendiri.  Alih-alih berhasil, yang akan ditemui adalah bencana alam, amukan dari penjaga ghaib Nusantara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi Merapi kali ini, semestinya menjadi pemicu kesadaran pada diri kita semua.  Bangkitlah dari ketidaksadaran, dari ketenggelaman dalam ilusi yang mengatasnamakan Tuhan!  Kembalilah kepada jatidiri, tengoklah kearifan lokal yang selama ini dinistakan.  Hanya dengan demikian, Anda bisa selamat dari “jin setan” yang dimaksud Eyang Sabdapalon.  Bencana kali ini, adalah momen untuk menyeleksi mana warga bangsa yang pantas ada di Nusantara, dan mana yang harus berpindah ke alam lain.  Nusantara akan kembali jaya, dan itu hanya bisa terjadi jika Nusantara dihuni mereka yang berkesadaran ruhani tinggi, juga mereka yang bisa menghayati agama pada tataran hakikat.  Karena proyek mewujudkan kejayaan Nusantara adalah sebuah proyek leluhur gung binatoro yang tak bisa dihentikan – sampun tekan titi wancine, kitalah yang mesti menyesuaikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat merevolusi diri, selamat kembali pada jatidiri.  Rahayu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-7025846008938509788?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/7025846008938509788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=7025846008938509788' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/7025846008938509788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/7025846008938509788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/12/merapi-islam-dan-masa-depan-bangsa.html' title='MERAPI, ISLAM, DAN MASA DEPAN BANGSA'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-2586658318147696585</id><published>2010-10-20T22:48:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T22:49:48.655-07:00</updated><title type='text'>SEKILAS MA’RIFAT: KETIKA JAWA DAN PERSIA DEMIKIAN HARMONI</title><content type='html'>Saya mengakui dengan jujur, bahwa saat ini, saya sedang meniti jalan setapak – sebuah titian ruhani, menuju puncak yang masih misteri. Jelas, saya masih belum berada di puncak itu, mungkin masih di lerengnya, kadang terperosok ke dalam lembah, lalu di kala lain, bersusah payah naik ke atas, mendaki mendekati puncak itu. Ada hasrat menggelegak untuk tahu, sebetulnya puncak itu seperti apa, dan ada apa di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, saya buka hati ini, untuk mendapatkan seberkas cahaya, dan setumpuk informasi, dari orang-orang bijak yang telah mencapai puncak itu. Lalu, saya biarkan jemari ini mengalirkan apa yang semula memasuki hati. Semoga itu merupakan salah satu bukti, terkabulnya doa saya, agar saya menjadi penebar terang, penyampai kesejatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KGPAA Mangkunegoro IV, menyampaikan pengalaman pribadinya, bahwa ketika telah sampai puncak, seseorang menjadi sadar sepenuhnya akan hakikat dan rahasia kehidupan. Beliau mendendangkan dalam Serat Wedhatama: “ Dene awas tegesipun, weruh waranane urip, miwah wisesaning tunggal, kang atunggil rina wengi, kang mukitan ing sakarsa, gumelar alam sakalir.” Mereka yang telah waspada , telah dengan jelas mengetahui rahasia kehidupan, tirai kegaiban telah terbuka. Ia menyaksikan Sang Maha Hidup di balik segenap gerak kehidupan, Wujud Yang Mahatunggal meliputi segalanya. Dia yang menggerakkan segalanya dan mewujudkan segenap kehendak, maka terhamparlah segala peristiwa alam semesta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ghaib, bagi mereka yang telah menggapai puncak, disadari sebagai sesuatu yang nyata. Semuanya menjadi demikian jelas: apa yang misteri itu telah membuka wujudnya. Namun, ternyata, saat yang sama, mereka yang telah sampai ke puncak disadarkan pada sebuah kesadaran, bahwa: “SEJATINE ORA ONO OPO-OPO, SING ONO KUWI DUDU” Sesungguhnya tidak ada apa2, yang ada itu bukan. Apa yang kita anggap ADA, tidak ada seperti lazimnya adanya yang lain, termasuk adanya kata ada itu. Apa yang kita sangka sebagai Dia, bukanlah Dia itu sendiri. Semua persangkaan kita, bukanlah Realitas itu sendiri. Dan tetaplah Dia sebagai Dzat “ingkang tan kena kinira, tan kena kinaya ngapa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang telah sampai dipuncak, akhirnya menyadari bahwa misteri itu, menjadi nyata sekaligus tetap menjadi misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sebagai ungkapan manusawi dari misteri itu, bersyairlah Mansyur Al-Hallaj:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku orang yang mencinta dan Dia yang mencinta adalah Aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami dua ruh yang melebur dalam satu tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kau memandangku, kau memandang-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kau memandang-Nya, kau memandang Kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diwan 57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruh-Mu menyerap dalam ruhku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai anggur larut pada air bening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila suatu menyentuh-Mu, ia menyentuhku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau adalah aku dalam seluruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diwan 47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Al-Hallaj yang terkesan paradoks, menjelaskan fakta bahwa dia bisa menyaksikan Yang Misteri itu dalam segala hal, termasuk dirinya sendiri, sehingga yang ada hanya Dia: bahkan dirinya, hakikinya adalah Dia juga. Dengan pernyataan seperti ini, sesungguhnya Al-Hallaj menegaskan satu hal: di balik yang kosong, sesungguhnya ada Dia, tetapi adanya Dia tak bisa sama dengan adanya wujud lain, yang terpisah dari yang mengatakan keberadaannya. Bagi al-Hallaj, yang mengatakan ada dan Yang Ada itu sebetulnya satu...tak terpisahkan...dan sebetulnya dengan demikian, tak bisa dilihat sebagai sesuatu yang ada secara obyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil......tetaplah yang misteri itu menjadi Misteri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Siti Jenar...menggapai kesadaran yang sama dengan Al-Hallaj, dan menyatakan dengan tegas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“IYA INGSUN IKI ALLAH. (IYA AKU INI TUHAN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nyatalah AKU yang Sejati, Bergelar Prabhu Sadmata ( Raja bermata enam. Shiva adalah Avatara Brahman. Jika Shiva bermata tiga, maka Brahman bermata enam. Inilah maksud 'jargon' spiritual waktu itu). Tidak ada lagi yang lain, Apa yang disebut Allah itu. Maulana Maghribi berkata, Yang anda tunjuk itu adalah jasad, Syeh Lemah Bang menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hamba membuka rahasia Ilmu Sejati, Membahas tentang Kesatuan Wujud, Tidak membahas Jasad (yang fana), Jasad sudah terlampaui, Yang saya ucapkan adalah Sejati-nya Ilmu, Membuka Segala Rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan lagi sesungguhnya semua Ilmu, Tidak ada yang berbeda, Sungguh tiada beda, Sedikitpun tidak, Menurut pendapat hamba, Meyakini bahwasanya Ilmu itu, Semuanya sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ada yang karena ada yang mengatakan keberadaannya. Bagi yang mengatakan itu, di luar sana sebetulnya yang dilihat adalah Kekosongan Abadi.....Pernyataan ada itu sesungguhnya merujuk pada keberadan diri, pada keberadaan kesadaran...rahsa sejati....yang secara kekal akan tetap menjadi misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa Yang Tak Lagi Tersekat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalaluddin Rumi, salah satu pejalan ruhani yang telah menggapai puncak, berdendang indah, “Manusia Ilahi, berada di luar kekafiran dan agama...Aku telah melihat ke dalam sanubariku sendiri; di sanalah aku melihat-Nya; Dia tidak ada di tempat yang lainnya..Aku bukan orang Kristen, atau Yahudi, atau Penyembah Api, atau Muslim; aku bukan berasal dari Timur maupun Barat, bukan dari bumi maupun laut...Aku telah mengesampingkan kemenduaan, aku telah mengetahui bahwa kedua dunia itu satu adanya. Satu saja yang kucari, Satu saja yang kukenal, Satu saja yang kulihat, Satu saja yang kuseru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumi menyaksikan bahwa semuanya berasal dari yang Satu, bayangan dari yang Satu itu, yang hakikatnya adalah kekosongan, sehingga segenap nama dan atribut itu tak lagi memadai. Setiap nama dan atribut, sesungguhnya bukanlah yang Satu itu..melainkan sekedar gumpalan imajinasi di dalam benak, yang tak mewakili Realitas sesungguhnya... yang Satu itu. Dan makna dari yang Satu ini sesungguhnya adalah Yang Maha Meliputi...yang tak menyisakan setitikpun ruang kosong....yang tak memungkinkan adanya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesadaran itu pula, maka Rumi sekaligus terhubung dengan semua lokus di mana bayangan yang Satu itu terlihat: ia terhubung dengan semua jiwa. Rumi berkesadaran, bahwa dirinya, sebagaimana diri kita, sama dengan semua manusia, yang sering menyebut dan mengatributi dirinya dengan nama Muslim, Nasrani, Majusi, dan lainnya. Rumi dan juga kita sama dengan mereka pada tataran hakikat, tapi Rumi menolak disekat oleh nama dan atribut yang membuat ia bisa menyatu dengan sebagian dan berpisah dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran tanpa sekat ini, juga yang membalut jiwa Husain Mansyur al Hallaj. Ia dengan jernih mengatakan: “Anakku, semua agama adalah milik Allah. Setiap golongan memeluknya bukan karena pilihannya, tetapi dipilihkan Tuhan. Orang yang mencaci orang lain dengan menyalahkan agamanya, dia telah memaksakan kehendaknya sendiri. Ingatlah, bahwa Yahudi, Nasrani, Islam dan lain-lain adalah sebutan-sebutan dan nama-nama yang berbeda. Tetapi tujuannya tidak berbeda dan tidak berubah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, Al-Hallaj juga mendendang sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh, aku telah merenung panjang agama-agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku temukan satu akar dengan begitu banyak cabang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kau paksa orang memeluk satu saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena akan memalingkannya dari akar yang menghunjam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya biar dia mencari akar itu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar itu akan menyingkap seluruh keanggunan dan sejuta makna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia akan mengerti"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diwan, 50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jangan dilupakan, seorang Mistikus lain, yang disebut Syaikh Al-Akbar: Muhyiddin Ibnu Arabi. Ialah sang mistikus yang terkenal dengan syairnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia merupakan padang rumput bagi menjangan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala, ka`bah tempat orang bertawaf,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;batu tulis untuk Taurat, dan mushaf bagi al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agamaku adalah agama cinta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah agama dan keimananku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang telah sampai di puncak....semuanya itu Manunggal...kita adalah sesama pancaran dari Yang Mahatunggal itu. Apa yang kita sebut sebagai kebenaran, adalah pancaran dari Kebenaran yang Tunggal. Agama-agama, adalah bentuk2 yang berbeda dan esensi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaras dengan itu, leluhur Nusantara, menyadari dengan jelas bahwa agama itu tak lebih dari sekadar jalan menuju Yang Mutlak, atau bahkan “pakaian” yang menjadi penting bukan pada aspek dan warnanya, tetapi pada aspek fungsinya. Salah satu leluhur itu adalah Empu Tantular, pengarang Kakawin Sutasoma, yang melahirkan falsafah Bhinneka Tunggal Ika:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kêna parwanosên, Mangka ng Jinattwa kalawan Śiwatattwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha &amp; Syiwa merupakan dua hal yang berbeda. Memang berbeda &amp;nkeduanya tak bisa dikenali, Akan tetapi kebenaran Jina (Buddha) dan Syiwa ... adalah tunggal, Sesungguhnya berbeda tetap satu juga tidak ada kebenaran yg mendua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Menggapai Kesadaran Puncak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada kesadaran sebagaimana terpapar di atas, susah-susag gampang. Menjadi susah, jika kita terbiasa dengan cara beragama yang doktriner, mengabaikan kecemerlangan akal budi dan keakuratan rahsa sejati. Maka, banyak orang yang dianggap ahli agama, tidak pernah bisa menyadari bahwa apa yang dinyatakan Rumi, Al-Hallaj, Ibnu Arabi dan para leluhur Jawa, sesungguhnya adalah kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sungguh menggelikan, ada cendekiawan, yang mengaku sudah membaca Futuhat Al Makiyyah dan berbagai karya Ibnu Arabi lainnya, tidak percaya bahwa Ibnu Arabi punya jiwa yang lapang dan meyakini bahwa jalan menuju Tuhan itu tak terbatas bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak menggelikan, ketika ada seorang yang mengaku ahli agama dan memahami pandangan Ibnu Arabi, mengartikan agama cinta itu sebagai agama Islam (ajaran Muhammad)....yang punya makna agama-agama yang lain bukan agama cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, seorang petani lugu, atau bahkan remaja yang polos, dengan nuraninya yang terjaga, akan dengan mudah menyadari kebenaran yang disampaikan Ibnu Arabi. Tak usah dia membaca Futuhat Al-Makiyyah, cukup dengan menengok pada rahsa sejati...akan bisa didapatkan kesadaran bahwa kita sebetulnya adalah bentuk-bentuk yang berbeda tetapi diikat oleh sesuatu yang sama: Sang Hidup yang mengalir melalui nafas kita. Dan Sang Hidup itu membuat kita ada, hidup, dengan Cinta...maka agama cinta yang sesungguhnya adalah menghayati dan menebar cinta kepada semua makhluk yang dihidupi oleh Sang Hidup itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, yang menarik untuk disimak, adalah bahwa ternyata, para mistikus Islam yang disebutkan di atas: Rumi, Al-Hallaj, dan Ibnu Arabi, punya akar yang sama, yaitu Tradisi Persia. Sintesis antara Persia dan Islam, membuat Islam ala mereka sungguh mempesona. Kita bisa melihat, Islam yang demikian, selaras, harmoni dengan ajaran leluhur di Tanah Jawa. Maka, apapun agama Anda, mengapa Anda tak hidupkan tradisi leluhur Anda sendiri? Karena itu yang akan membuat pribadi dan pandangan Anda mempesona...laksana gemintang di langit yang cahayanya menembus segenap sekat gelap....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-2586658318147696585?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/2586658318147696585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=2586658318147696585' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2586658318147696585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2586658318147696585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/10/sekilas-marifat-ketika-jawa-dan-persia.html' title='SEKILAS MA’RIFAT: KETIKA JAWA DAN PERSIA DEMIKIAN HARMONI'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-9082441901847439495</id><published>2010-10-20T22:47:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T22:48:38.257-07:00</updated><title type='text'>Manusia Super Versi Jawa</title><content type='html'>Nietzsche, dalam Bersabdalah Zarathustra menggagaskan kelahiran manusia super yang berawal dari pemakluman kematian Tuhan.  Seseorang menjadi manusia super setelah menemukan diri yang penuh; baginya musnahlah sosok Tuhan yang selama ini diyakini dan menjadi gantungan saat merasa lemah.  Ia tak lagi mendengar kata-kata Tuhan, tapi mendengarkan diri sendiri.  Tuhan yang dibunuh dan diabaikan itu adalah Tuhan yang ada di benak manusia, sesuatu yang dipercayai, bukan sesuatu yang memang Ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini saya ingin mengulas rumusan manusia super versi Jawa.  Semuanya berawal dari pertanyaan, “Siapakah hakikat diriku?  Di manakah titik terendah kelemahanku?  Di mana pula batas tertinggi kekuatanku?  Apa yang bisa dan tidak bisa kulakukan?”  Sedikit jawaban yang mulai terkuak, saya ingin bagi dengan Anda sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artadhaya, Kuasa di Dalam Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung luhure kagiri-giri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sagara agung datanpa sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pan sampun kawruhan reke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artadaya puniku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datan kena cinakreng budi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anging kang sampun prapta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ing kuwasanipun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angadeg tengahing jagad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wetan kulon lor kidul ngandap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Myang nginggil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapurba wisesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bumi sagara gunung myang kali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sagunging kang isining bawana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kasor ing artadayane&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sagara sat kang gunung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Guntur sirna guwa samyar nir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sing awruh artadaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dadya teguh timbul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Lan dadi paliyasing prang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Yen lulungan kang kapapag wedi asih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sato galak suminggah”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Gunung yang luar biasa tingginya.  Lautan pasang tiada tara.  Semua itu sudah diketahui.  Sedangkan artadaya itu!  Tak dapat dibayangkan oleh pikiran.  Tapi, bagi mereka yang sudah mencapai kekuasaannya.  Berdiri di tengah jagad, timur, barat, utara, selatan, bawah, dan atas, semuanya ada itu berada dalam kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi, lautan, gunung, dan sungai.  Semua yang menjadi isi dunia.  Takluk pada artadaya.  Lautan kering, gunung dan guntur sirna.  Gua menjadi hilang.  Barang siapa mengetahui artadayanya, akan menjadi orang yang kuat tiada tanding.  Menjadi pencegah timbulnya perang.  Bila berpergian, yang bertemu merasa segan dan timbul kasihnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arthadaya, adalah konsep berharga tentang kuasa seorang manusia yang diwariskan Sunan Kalijaga.  Konsep ini menginspirasi manusia untuk meyakini bahwa dirinya sudah memiliki semua bekal yang dibutuhkan berdiri tegak di muka bumi, dalam kesejahteraan dan kemandirian.  Menyadari keberadaan Arthadaya, membuat seorang manusia potensial untuk menciptakan berbagai karya agung dan monumental, mulai dari yang berskala personal sampai yang berskala peradaban.  Arthadaya, sebagai kekuatan yang memendar dari esensi kemanusiaan, adalah bekal sekaligus instrumen bagi seorang manusia untuk menciptakan takdir terbaik bagi dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana membuat Arthadaya ini bekerja bagi kita?  Prinsip dasarnya, ia harus dibangkitkan, berawal dari kesadaran dan konsistensi untuk terus berhubungan denganya.  Dengan bahasa lain, Arthadaya bisa menjadi sesuatu yang bermakna bagi hidup kita, ketika kita mau memasuki dimensi diri yang paling dalam, melalui proses pengheningan dan penyatuan dengan Sang Sukma Sejati.  Meditasi atau semedi, adalah langkah teknis untuk bisa memasuki alam penyatuan dengan Sang Sukma Sejati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan Ilahi di Dalam Diri Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ingsun anekseni ing Dhat Ingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun, lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku utusan Ingsun. Iya sejatine kan aran Allah iku badan Ingsun, rasul iku rasane Ingsun, muhammad iku cahayaning Ingsun. Iya Ingsun kang urip tan kena ing pati, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskitha, ora kasamaran ing sawiji-wiji. Iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerthi, byar sampurna padhang terawangan, ora kerasa apa-apa, ora ana katon apa-apa, amung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kodrat Ingsun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AKU menyaksikan pada DzatKU sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali AKU, dan menyaksikan AKU sesungguhnya muhammad itu utusanKU. Sesungguhnya yang bernama Allah itu badanKU, rasul itu rahsaKU, muhammad itu cahayaKU. AKUlah yang hidup tidak bisa mati, AKUlah yang ingat tidak bisa lupa, AKUlah yang kekal tidak bisa berubah dalam keberadaan yang sesungguhnya, AKUlah waskita, tidak ada tersamar pada sesuatu pun. AKUlah yang berkuasa berkehendak, yang kuasa bijaksana tidak kurang dalam tindakan, terang sempurna jelas terlihat, tidak terasa apa pun, tidak kelihatan apa pun, kecuali hanya AKU yang meliputi alam semua dengan kuasa (kodrat)KU."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seseorang yang terus berjalan jauh dalam pengembaraan ruhani, akan sampai pada kesadaran Kemanunggalan Keberadaan Semesta: Yang ada hanyalah Dia.  Bahkan menyangkut hidup manusia, yang hakiki ada adalah Dia.  Keberadaan kita sebagai manusia, semata-mata sekadar manifestasi ataupun bayangan dari Keberadaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tataran yang praktis, konsep ini bisa menjadi panduan pemberdayaan diri.  Karena di dalam diri kita terdapat hakikat terdalam yang merupakan Dia sendiri, maka untuk mewujudkan kekuatan pribadi, yang bisa dilakukan adalah memanunggalkan karsa dengan-Nya.  Itu bisa terjadi ketika kita memasuki dunia hening, alam kekosongan: dalam diri yang telah Kosong itulah, Dia muncul dengan segenap Kuasa-Nya.  Raga kita hanya menjadi alat-Nya dalam mewujudkan Karsa-Nya.  Dalam bahasa lain - dan ini mirip dengan ketika kita bicara tentang Arthadaya: Kuasa pribadi kita muncul, dan kita menjadi sosok powerfull, ketika yang bertindak melalui raga kita adalah Sang Sukma Sejati....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedulur Papat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Jawa, khususnya orang yang memahami tentang Kejawen, adanya para penjaga tersebut dikenal dengan sebutan “Sedulur Papat”. Siapa saja Sedulur Papat itu? Sedulur papat yang dikenal masyarakat yang memahami Kejawen adalah: 1. Kakang Kawah (Air Ketuban) 2. Adhi Ari-Ari (Ari-ari) 3. Getih (Darah) 4. Puser (Pusar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakang Kawah Yang disebut dengan Kakang Kawah adalah air ketuban yang menghantarkan kita lahir ke alam dunia ini dari rahim ibu. Seperti kita ketahui, sebelum bayi lahir, air ketuban akan keluar terlebih dahulu guna membuka jalan untuk lahirnya si jabang bayi ke dunia ini. Lantaran air ketuban (kawah) keluar terlebih dulu, maka masyarakat Kejawen menyebutnya Kakak/Kakang (saudara lebih tua) yang hingga kini dikenal dengan istilah Kakang Kawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adhi Ari-Ari Sedangkan yang disebut dengan adhi ari-ari adalah ari-ari jabang bayi itu sendiri. Urutan kelahiran jabang bayi adalah, air ketuban terlebih dulu, setelah itu jabang bayi yang keluar dan dilanjutkan dengan ari-ari. Karena ari-ari tersebut muncul setelah jabang bayi lahir, maka masyarakat Kejawen biasanya mengenal dengan sebutan Adhi/adik Ari-ari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Getih Getih memiliki arti darah. Dalam rahim ibu selain si jabang bayi dilindungi oleh air ketuban, ia juga dilindungi oleh darah. Dan darah tersebut juga mengalir dalam sekujur tubuh si jabang bayi yang akhirnya besar dan berwujud seperti kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puser Istilah Puser adalah sebutan untuk tali pusar yang menghubungkan antara seorang ibu dengan anak yang ada dalam rahimnya. Dengan adanya tali pusar tersebut, apa yang dimakan oleh sang ibu, maka anaknya pun juga ikut menikmati makanan tersebut dan disimpan di Ari-Ari. Disamping itu, pusar juga digunakan oleh si jabang bayi untuk bernapas. Oleh karena itu, hubungan antara ibu dengan anaknya pasti lebih erat lantaran terjadinya kerjasama yang rapi untuk meneruskan keturunan. Semuanya itu atas kehendak dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang jabang bayi lahir ke dunia dari rahim ibu, maka semua unsur-unsur itu keluar dari tubuh si ibu. Unsur-unsur itulah yang oleh Gusti Allah ditakdirkan untuk menjaga setiap manusia yang ada di muka bumi ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Man usia bisa menjadi berdaya, jika sedulur papat ini diakui keberadaanya, dan dijadikan mitra kehidupan.  Masyarakat Jawa coba mengundang uluran bantuan dari sedulur papat ini, yang bisa melipatgandakan kekuatan pribadi kita, dengan   menyebut saudara yang tak tampak mata itu secara lengkap yaitu “KAKANG KAWAH, ADHI ARI-ARI, GETIH, PUSER, KALIMO PANCER”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng, Ning, Nung, Nang: Metode Meraih Kekuatan dan Kemenangan Hakiki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Jawa mengenal falsafah Neng, Ning, Nung, Nang, untuk beranjak dari posisi tak berdaya menjadi penuh daya.  Secara jelas, falsafah ini dapat dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.     Neng; artinya jumeneng, berdiri, sadar atau bangun untuk melakukan tirakat, semedi, maladihening, atau mesu budi.  Konsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin, serta mematikan kesadaran jasad sebagai upaya menangkap dan menyelaraskan diri dalam frekuensi  gelombang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.     Ning; artinya dalam jumeneng kita mengheningkan daya cipta (akal-budi) agar menyambung dengan daya rasa- sejati yang menjadi sumber cahaya nan suci. Tersambungnya antara cipta dengan rahsa akan membangun keadaan yang wening. Dalam keadaan “mati raga”  kita menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/nafs) yang hening, khusuk, bagai di alam “awang-uwung” namun  jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah. Sehingga  kita dapat menangkap sinyal gaib dari sukma sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.     Nung; artinya      kesinungan. Bagi siapapun yang melakukan Neng, lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugrah agung dari Tuhan Yang Mahasuci. Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya Hyang Mahasuci melalui rahsa lalu ditangkap roh atau sukma sejati, diteruskan kepada jiwa, untuk diolah oleh jasad yang suci menjadi manifestasi perilaku utama (lakutama). Perilakunya selalu konstruktif dan hidupnya  selalu bermanfaat untuk orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.     Nang; artinya menang; orang yang terpilih dan pinilih (kesinungan), akan selalu terjaga amal perbuatan baiknya.  sehingga amal perbuatan baik yang tak  terhitung lagi akan menjadi benteng untuk diri sendiri. Ini merupakan buah kemenangan dalam laku prihatin.  Kemenangan yang berupa anugrah, kenikmatan, dalam segala bentuknya serta meraih kehidupan sejati, kehidupan yang dapat memberi manfaat  (rahmat) untuk seluruh makhluk serta alam semesta. Seseorang akan meraih kehidupan sejati, selalu kecukupan, tentram lahir batin, tak bisa dicelakai orang lain, serta selalu menemukan keberuntungan dalam hidup (meraih ngelmu beja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas sudah, bahwa falsafah Jawa menyediakan teks yang demikian kaya untuk memandu kita menjadi manusia super.  Tinggal kita yang memilih, mau memanfaatkannya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahayu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-9082441901847439495?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/9082441901847439495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=9082441901847439495' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/9082441901847439495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/9082441901847439495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/10/manusia-super-versi-jawa.html' title='Manusia Super Versi Jawa'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-6503351203434339142</id><published>2010-10-20T22:43:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T22:44:41.299-07:00</updated><title type='text'>KEBIJAKSANAAN DARI SOSOK BERSAHAJA</title><content type='html'>Sekali lagi, saya berkunjung ke rumah bersahaja ini.  Sofanya bukan sofa mahal.  Lantainya semen bolong di sana-sini.  Sudah kurang lebih 2 tahun ini, saya menjadikan rumah bersahaja ini sebagai tempat kulakan ilmu dan kebijaksanaan.  Rumah ini memang bersahaja, sama bersahajanya dengan sang pemilik rumah, yang saat itu hanya memakai sarung..tidak menggunakan baju...Soal ini, sang pemilik rumah punya alasan: "Saya ini bukan pegawai, bukan pejabat, saya ingin tampil jujur, apa adanya...." Dia menambahkan, "Tapi jika ada tamu yang keberatan, dan ingin bertemu baju saya, ya saya ambilkan baju saya yang paling bagus, lalu saya persilakan dia bercakap2 dengan baju itu..saya mau tidur aja.."  He, he, he.....siap guruku yang bijak..saya ingin bertemu dan berdialog denganmu, bukan dengan bajumu.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari guru yang satu ini, saya mendapatkan tafsir yang sangat inklusif mengenai ayat Inna diena indallahil Islam.  Menurut beliau, ayat ini artinya: Agama yang diridhoi di sisi Allah adalah agama yang selamat dan membawa keselamatan.  Apapun nama agama, atau ajaran, yang hingga detik ini masih selamat dan membawa keselamatan, itu agama yang diridhoi di sisi Allah.  Faktanya, hingga detik ini, agama Hindu, Budha, Kristen, dan bermacam2 agama lainnya, masih ada, masih eksis, dihayati dan diimani oleh pengikut masing2..berarti semua agama itu selamat.  Saat yang sama, faktanya banyak pemeluk agama terselamatkan hidupnya, batinnya, oleh agama2 tersebut.  Maka, bisa disimpulkan bahwa agama2 itu diridhoi Allah, sama halnya dengan agama yang diajarkan Muhammad Rasulullah.  Kalau tidak diridhoi Allah, pastilah agama2 itu telah punah, ditinggalkan pemeluknya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di waktu lain, beliau sangat menekankan pentingnya orang belajar tarikat, makrifat dan hakikat, tak hanya belajar syariat.  Kalau orang hanya belajar syariat, hasilnya pasti keblinger.  Contoh, orang yang belajar shalat dari sisi syariat saja...tanpa belajar hakikatnya, setidaknya orang itu malah jadi rewel...terutama rewel sama yang tidak shalat.  Lebih parah lagi, orang itu malah jadi sombong, merasa lebih hebat dan suci dari orang yang tidak shalat seperti dirinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bulan puasa, guru saya ini mengkritik spanduk yang menyuruh orang2 agar menghormati yang berpuasa.  Kata beliau, "Kalau orang yang tidak puasa itu ya rata2 pasti menghormati yang puasa.  Mestinya orang yang puasa yang disuruh menghormati yang tidak puasa..karena faknya memang banyak orang berpuasa yang tidak menghormati orang yang tidak puasa..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjumpaan terakhir, minggu kemarin, beliau mengatakan, menyangkut rukun islam, "Idealnya memang kita praktekkan semuanya.  Tapi, sebetulnya, bisa mempraktekkan salah satu rukun Islam saja sudah bagus..asal bener.."  Jika seseorang bisa mempraktekkan shalat saja, atau puasa saja, sebagai salah satu rukun islam, itu sudah lebih dari cukup...Tapi, apa maksudnya?  Apakah itu gampang dilakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, yang dimaksud guru saya itu, kalaupun mempraktekkan shalat, itu bukan sekadar jungkal2 sambil baca doa..tapi betul2 membuktikan shalat sebagai miftahul jannah...Shalat berarti mempraktekkan sebuah sikap hidup yang menghadirkan surga, khususnya di muka bumi terlebih dahulu..dan tanda orang yang memang telah mempraktekkan shalat adalah hidupnya selalu memancarkan kedamaian, ketenangan, dan keselamatan.  Mempraktekkan shalat, artinya juga membuat diri terhindar dari sikap keji dan mungkar...tidak berlaku keji dan mungkar dalam kehidupan nyata, adalah shalat yang sesungguhnya.  Jika orang shalat di masjid, bahkan jadi imamnya, tapi dia dengki pada tetangganya, maka dia itu belum shalat.  Jika seorang pemimpin tampak rajin shalat di masjid, tapi dia lalai dan tidak menjalankan tugasnya dengan baik dalam melayani rakyatnya, maka dia belum shalat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He, he, he, ternyata....mempraktekkan satu saja rukun Islam, susahnya bukan main.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-6503351203434339142?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/6503351203434339142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=6503351203434339142' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/6503351203434339142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/6503351203434339142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/10/kebijaksanaan-dari-sosok-bersahaja.html' title='KEBIJAKSANAAN DARI SOSOK BERSAHAJA'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-3607308278340434981</id><published>2010-09-08T09:37:00.000-07:00</published><updated>2010-09-08T09:38:20.722-07:00</updated><title type='text'>LAKU PRIHATIN</title><content type='html'>Wruhana raga pun iku dumadine saka alam telu Alam wadag, alam jiwa dan atmaneki Openan kanthi laku Lakune ngeningken batos &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kini ketahuilah bahwa manusia itu Terdiri dari 3 alam Alam wadah atau jasmani, alam jiwa atau rohani, dan alam atman yang maha suci Ketiganya harus kita pelihara dengan baik Dan caranya hanya dengan mengheningkan hati kita sendiri]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carane ana telu Tarak Brata, Tapa Brata iku Puja Brata iku laku kabeng katri Telu lakonono Runtut Dimen Tinampa Hyang manon &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Caranya ada tiga Yaitu tarak broto untuk jasmani kurangilah makan, tidur dan mengendalikan panca indera Topo Broto, Rohani kendalikanlah hawa nafsu Dan puja broto melaksanakan konsentrasi sepenuhnya dengan cara meditasi ketiga-tiganya harus dijalankan secara bersama-sama]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini, saya diingatkan kembali oleh berbagai peristiwa hidup, lalu dikuatkan oleh nasihat guru saya, untuk menggenapi laku prihatin.  Saya memang merasa masih ada yang kurang dalam hidup ini, ada satu celah kosong yang kadang memancing kegelisahan.  Ternyata, itu karena laku prihatin saya belum genap.  Saya harus terus bekerja menyempurnakan watak dan sikap pribadi, agar menjadi menjadi sosok yang lebih hening, bisa menebar berkah bagi sesama, dan karenanya, berhak untuk meraih kebahagiaan hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini, ijinkan saya berbagi dengan Anda semua tentang laku prihatin.  “Prihatin” adalah singkatan dari “perih ing batin” (pedih yang dirasakan oleh batin).  Mengapa pedih ? Yah, tentu saja, karena batin (jiwa) ini tidak diujo (dibiarkan semau gue) memuaskan hawa nafsu. Padahal tahu sendiri kan, betapa nikmatnya bila kita sedang keturutan (terpenuhi) hawa nafsunya.  Mereka yang menjalankan laku prihatin, benar2 mengendalikan diri agar tidak berlebihan dalam memuaskan hasrat, sekalipun itu sudah merupakan hak kita.  Tentu saja, laku prihatin menuntut kita untuk tidak mengumbar hasrat pada sesuatu yang bukan hak kita.  Ada sebuah istilah Jawa yang sangat tepat terkait hal ini, “Ngono yo ngono, ning ojo ngono..(Begitu ya begitu, tapi jangan begitu).  Kita dituntut untuk tidak berlebihan, tidak melampaui batas kewajaran, apalagi sampai merugikan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Laku prihatin” adalah upaya kita agar badan/jasad ini selalu berkiblat mengikuti kehendak guru sejati/rahsa sejati (kareping rahsa sejati) yang selalu dalam koridor kesucian (berkiblat pada kodrat Tuhan). Sehingga kecenderungan nafsu/hawa/nafs/jiwa/soul kita yang cenderung ingin berbuat negatif nuruti rahsaning karep (nafsu negatif), senaniasa kita belokkan kepada kesucian sang guru sejati dan rahsa sejati. Sehingga menjadi nafsu yang selalu berkeinginan baik (an nafsul mutmainah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara kita melakukan laku prihatin?  Tembang Gambuh di atas, memberi kita pedoman praktis. Laku prihatin yang hakikatnya adalah upaya pengendalian diri, dilaksanakan melalui Tarak Brata, Tapa Brata, dan Puja Brata.  Ketiga langkah ini terkait dengan tiga dimensi diri kita: raga, jiwa dan atma.  Diri kita, adalah kesatuan dari tiga lapis keberadaan.  Pertama, raga yang mencerminkan 4 unsur bumi: api, air, udara, dan tanah.  Kedua, sukma yang mencerminkan diri kita pada tataran yang lebih halus, yang bersinggungan dengan makhluk lain pada dimensi kegaiban (alam kasunyatan).  Dan ketiga, Atma atau Sukma Sejati, yang mencerminkan keberadaan Wujud Maha Rahasia di dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laku prihatin dilakukan dengan mengolah tiga lapis keberadaan kita tersebut.  Tarak brata dilaksanakan melalui upaya mengurangi konsumsi/pemuasan nafsu oleh raga kita: mengurangi makan, tidur, berhubungan seks, dan berbagai kegiatan lainnya yang terkait dengan panca indera kita.  Tapa brata dilaksanakan melalui olah bathin, melalui olah pikir, dengan orientasi membuat jiwa kita selalu dalam kebaikan, terjauhkan dari angkara, egosime, dengki, dan ekspresi jiwa negatif lainnya.  Dalam bahasa lain, tapa brata adalah upaya kita untuk membuat jiwa dan pikiran kita selalu dalam keadaan positif, penuh syukur, penuh kewelasasihan, punya spirit untuk selalu memberi manfaat pada sesama, dan pada tingkat tertinggi, merasa diri melebur dengan kemanusiaan ini.  Sementara puja brata adalah upaya untuk memasuki alam keheningan, menyatukan diri kita dengan Sukma Sejati, merasakan kemanunggalan dengan Atma...dengan Gusti Ingkang Murbeng Gesang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari laku prihatin, dan ini sangat vital, adalah sikap untuk berbakti kepada orang tua dan leluhur.  Berbakti kepada orang tua adalah memuliakan orang tua dan melakukan berbagai upaya agar diri ini mendapatkan kewelasasihan dari orang tua kita.  Kita memenuhi apa yang diinginkan atau dibutuhkan orang tua kita semampu kita.  Sementara itu, berbakti kepada leluhur adalah sikap memuliakan, menyambung rasa, dan upaya meneruskan amanat dari orang-orang yang menurunkan kita. Leluhur adalah para pendahulu kita yang sudah hidup di alam kehidupan sejati tanpa ragawi. Leluhur dekat adalah orang-orang yang menurunkan kita sebagai generasi penerus kehidupan ini. Apabila ortu sudah meninggal dunia, ortu disebut pula sebagai leluhur paling dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berbakti kepada para leluhur, sebagaimana dituturkan oleh guru saya Kang Sabdolangit, adalah sebagai berikut ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mendoakan ; Mendoakan di sini saya artikan sebagai upaya penyelarasan, sinergisme, yakni menyambung tali rasa dengan para leluhur yang anda doakan. Jika berdoa diartikan sebagai sarana PERUBAH NASIB para leluhur di alam kehidupan sejati, sejauh yang saya saksikan (tidak sekedar yakin) efeknya sangat tidak signifikan. Sebab nasib manusia di alam kehidupan sejati sudah paten, nasib kita kelak di alam keabadian mutlak ditentukan pada saat kita hidup di dunia ini. Maka sebaiknya kita lebih berhati-hati menjalani kehidupan ini. Berdoa untuk para leluhur bisa dilakukan dari rumah sembari tiduran leyeh-leyeh, atau sambil meditasi. Tetapi jika dilihat dari tingkat tantangan dan kesulitannya, maka mendoakan dari rumah belum termasuk kategori laku prihatin yang berkualitas tinggi. Sangat berbeda bila anda harus jauh-jauh pulang kampung lalu mendatangi makamnya, kemudian anda bersihkan, dan merawat makamnya. Tentu cara ini  memiliki efek yang jauh lebih besar bagi kehidupan anda, daripada doa dari rumah hanya sekedar ucapan lisan tanpa ada action yang konkrit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tindakan Konkrit ;  Tindakan konkrit berbeda dengan berdoa yang hanya berupa getaran jiwa yang diucapkan melalui lisan (apalagi doa yang hanya sekedar lips service).  Tindakan konkrit ini adalah upaya kita berbakti kepada para leluhur dengan cara mewujudkannya dalam tindakan nyata. Jawa itu jawabe. Maksudnya, tidak hanya sekedar mulut atau omong doang, tetapi harus dengan jawabe, atau pembuktian secara nyata. Dilakukan berbagai tindakan konkrit, dengan tujuan dapat menyambung tali rasa sejati kita dengan rasa sejati para leluhur yang sudah di alam kelanggengan. Tindakan-tindakan konkrit yang bisa dilakukan antara lain ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Mengunjungi/menziarahi makam leluhur dimulai dari leluhur terdekat.  Leluhur yang menurunkan sukma dan darah dalam jiwa dan raga kita. Kemudian leluhur bangsa yang  menurunkan bumi pertiwi, para leluhur yang dulu sangat ketat menjaga kelestarian dan keseimbangan alam, sehingga sekarang masih bisa kita nikmati. Saat ziarah kita  melakukan perenungan/refleksi betapa besar jasa para leluhur yang sudah mewariskan harta dan pusaka warisan berupa ilmu, harta benda, tanah perdikan, bumi pertiwi yang hingga kini masih bisa kita semua nikmati.  Kita contoh laku prihatin beliau sewaktu masih hidup di bumi, agar supaya anak turun kita kelak masih bisa menikmati tanah pusaka yang saat ini kita jaga kelestariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Taburkan bunga setaman, bunga-bungaan di pusara para leluhur sesuai adat dan tradisi masing-masing daerah. Bunga memiliki banyak arti dan makna, seperti sudah sering saya kemukakan di Media Tanya Jawab dan posting saya tentang Bancakan Weton. Selain itu, bunga-bunga tabur akan membuat indah dan wangi makam. Kita hargai dan luhurkan makam leluhur agar supaya berbeda dengan kuburan binatang, dan menghilangkan kesan kusam dan menyeramkan. Bagi anda yang takut dengan hantu-hantu makam, hal itu sebenarnya tak beralasan.  Sebab hantu tidak akan bertempat tinggal di kuburan. Tetapi di lingkungan luar sekitar kuburan. Misalnya makam Jerukpurut Jakarta Selatan yang terkenal angker, siangpun tampak berkeliaran karena memang saerahnya, jadi bukan bermaksud menganggu atau menakuti orang. Tetapi makhluk halus tersebut tidak singgah di dalam kuburannya, melainkan tinggal di lingkungan luar makam. Kalau mau cari “aman” (tidak melihat)  ya  justru masuklah ke dalam makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Sesaji. Sesaji di sini dimaksudkan sebagai simbol penyambutan (gayung bersambut), atau sikap penghormatan dan peluhuran terhadap para leluhur yang menurunkan kita, para leluhur perintis bangsa, dan leluhur manapun jika ada yang berkenan menengok (rawuh) ke rumah kita. Pada malam-malam tertentu, para leluhur “turun ke bumi” mengunjungi anak turunnya. Barangkali peristiwa ini sepadan dalam tradisi Hindu dengan apa yang dikatakan “para Dewa turun dari kahyangan”. Atau barangkali dalam tradisi Islam dikatakan para malaikat turun dari langit. Saya tidak mempersoalkan ragam terminologi tersebut. Saya hanya menekankan bahwa peristiwa tersebut bukan hanya sekedar mitologi tetapi sungguh ada dan nyata. Adapun malam-malam saat rawuhnya para leluhur berkunjung menengok anak turun dalam tradisi nusantara adalah setiap malam Selasa (Kliwon), Kamis malam atau malam Jumat (Legi dan Kliwon), dan pada malam-malam lainnya apabila ada sesuatu yang sifatnya darurat, misalnya memperingatkan anda melalui mimpi karena akan datang marabahaya, dan pada saat akan memberikan dawuh kepada anak turun yang dijangkungnya.  Oleh sebab itu, idealnya kita siapkan sesaji setiap malam-malam khusus tersebut, atau minimal sebulan sekali ambil waktu malam Jumat Kliwon, atau malam Selasa Kliwon, atau malam Jumat Legi (malam agung khusus untuk para leluhur). Adapun sesaji yang disiapkan adalah ; teh tubruk, kopi tubruk disuguhkan dalam gelas/cangkir tanpa ditutup. Lalu siapkan kembang setaman (kantil, melati, kenanga, mawar merah dan mawar putih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, saya pribadi, belum sepenuhnya menjalankan semua langkah teknis dalam berbakti kepada leluhur di atas, karena memang situasinya belum memungkinkan.  Saya lakukan apa yang saya bisa lakukan dengan sebaik-baiknya.  Jika Anda punya keluangan dan kesempatan untuk melaksanakan itu semua, mengapa tidak?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-3607308278340434981?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/3607308278340434981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=3607308278340434981' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/3607308278340434981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/3607308278340434981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/09/laku-prihatin.html' title='LAKU PRIHATIN'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-3118992204494966279</id><published>2010-09-08T09:36:00.000-07:00</published><updated>2010-09-08T09:37:33.776-07:00</updated><title type='text'>ISLAM KEJAWEN PILIHANKU SAAT INI</title><content type='html'>Ajaran Kejawen bukanlah agama, melainkan sebuah falsafahhidup. Karena itu, menganut danmenghayati ajaran ini, tidak mesti keluar dari agama yang semula dipeluk. Seorang Muslim yang juga menghayati AjaranKejawen, tetaplah seorang Muslim: Kejawen tak lebih dari sebuah sudut pandangatau kerangka dalam menafsirkan Islam.Dengan kata lain, seorang penganut Islam Kejawen, adalah tetap seorangMuslim yang memiliki berbagai kesamaan fundamental dengan Muslim lainnya diberbagai belahan penjuru dunia dalam hal keyakinan, sistem etika maupun praktekritual. Namun saat yang sama, iamemiliki perbedaan dalam hal citarasa keagamaan, dalam hal pandangan dunia dandalam penerapan nilai-nilai agama pada hidup keseharian, yang bertolak daripenghayatan terhadap kenyataan hidup dan kebudayaan yang melingkupinya, yangniscaya berbeda dengan Muslim di berbagai belahan dunia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berislam orang Jawa niscaya berbeda dengan caraberislam orang Badui Arab, sebagaimana berbeda pula dengan cara berislam orangIndia, Persia, Cina dan Eropa. Padakenyataannya, kebudayaan lokal – sebagaimana kepentingan politik sebuah rezim -tak bisa diabaikan dalam membangun budaya masyarakat Islam di berbagai belahandunia. Saya ingin membuat sebuahpembanding: bagaimana kebudayaan Persia menjadi titik tolak bagi kemunculansebuah cara berislam yang khas, berbeda dengan corak yang lazim berkembang ataumenjadi arus utama di Jazirah Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henry Corbin, dalam karyanya Imajinasi Kreatif SufismeIbnu Arabi yang diterbitkan Penerbis LKIS (judul aslinya L'Imagination creativedans le Soufism d"Ibn 'Arabi terbitan Princeton University Press New York),memaparkan apa yang telah dihasilkan oleh seorang jenius spiritual Persiabernama Syihabuddin Yahya Suhrawardi (1155-1191) sebagai berikut: "Meskipunhidupnya terputus begitu singkat, ia berhasil mewujudkan rencana sebuah rencanabesarm menghidupkan kembali kebijakan Persia kuno di Iran. Doktrinnya tentang cahaya dan kegelapan. Hasilnya adalah filsafat, atau tepatnyadengan mengambil istilah bahasa Arab dalam arti asal katanya, "teosofi cahaya"(hikmat al-isyraq) yang banyak kitatemukan persamaannya di halaman-halaman Ibnu Arabi. Dalam mewujudkan rencana besar ini Suhrawardimenyadari bahwa dirinya tengah mendirikan 'Kebijakan Timur' yang juga telahdicita-citakan Ibnu Sina dan yang pengetahuannya kelak akan sampai ke RogerBacon pada abad 13." Seperti apakahproduk pemikiran Suhrawardi yang diangkat dari kebijakan Persia kuno ini? Henry Corbin menjelaskan: "Salah satu ciriyang esensial adalah bahwa di dalamnya filsafat dan pengalaman mistik tidakbisa diceraikan; filsafat yang tidak berpuncak pada metafisika ekstase adalahspekulasi yang sia-sia, pengalaman mistik yang tidak dilandasi pengkajianfilsafat yang logis akan menghadapi bahaya kehinaan dan ketersesatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lebih teknis, Suhrawardi berusaha melestarikan hakistimewa imajinasi sebagai organ dunia tengah, sekaligus melestarikanrealitas-realitas khusus peristiwa-peristiwa penampakan Ilahi yang melampauiapa yang bisa dicerap oleh panca indera.Dalam karya-karyanya, Suhrawardi menampilkan sebuah tema khas: pencariandan perjumpaan dengan Roh Kudus, akal aktif, Malaikat Pengetahuan, dan wahyu,yang kesemuanya itu berada di alamal-mi'tsal (dunia citra bayangan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikerjakan oleh Suhrawardi, kemudian bertautandengan karya-karya besar Ibnu Arabi.Pemikiran kedua mistikus besar ini kemudian benar-benar bercampur baur, menjadilandasan bagi terbangunnya sebuah pandangan dunia Islam yang khas Iran. Ide dominan dari dua tokoh ini yang kemudiandilanjutkan oleh para tokoh Persia lainnya adalah mengenai keberadaan teofani(tajalli, Penampakan Tuhan) dalam bentuk manusia. Manusia ini adalah manusia yang telahmencapai tataran kesempurnaan: ia merupakan manifestasi dari Tuhan. Dalam doktrin Islam Syiah yang berkembang diIran, sosok manusia ideal sebagai manifestasi Tuhan ini dipahami sebagai paraimam suci keturunan Nabi Muhammad dari garis Imam Ali dan Fatimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara menyangkut diri Ibnu Arabi sendiri, denganbertumpu pada metode beragama yang mengedepankan Imajinasi Kreatif sebagaiorgan untuk menangkap kebenaran sejati, ia masuk pada rangkaian pengalamanspiritual yang kaya: pertemuan dengan berbagai wujud tak kasat mata sepertiNabi Khidir, juga sosok gadis jelita Sophia Aeterna, dan akhirnya pencapaian berbagai pengetahuantanpa proses belajar yang lazim. Iamisalnya, bisa melahirkan karya monumental berjudul Fushus al-Hikam (MutiaraKebijaksanaan Para Nabi), berkat suatu penampakan (vision) dalam sebuah mimpipada tahun 627 H/1230 M. Dalam mimpi ituNabi Muhammad menampakkan diri kepada Ibnu Arabi sambil memegang kitab yangjudulnya beliau ucapkan sendiri dan beliaupun memerintahkan agar ajaran-ajarandi dalam kitab itu ditulis demi kemanfaatan yang lebih besar bagimurid-muridnya. Sementara karya hebatlainnya, Futuhat al-Makiyyah fi Ma'rifah al-Asrar al-Malikiyyah wa al-Mulkiyyah(Perihal Wahyu-wahyu yang Turun di Mekkah Mengenai Pengetahuan Raja danKekuasaan), disusun berdasarkan ilham dan visi yang membanjiri Ibnu Arabiketika berthawaf mengelilingi Ka'bah dan setelah bertemu dengan sosok gadisjelita bernama Sofia yang muncul dari kegelapan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh bisa dijelaskan, melalui cara beragama yangmenekankan pentingnya pengalaman ruhani secara langsung dengan memanfaatkankeberadaan organ Imajinasi Kreatif, Suhrawardi, Ibnu Arabi dan para penerusnyakemudian memperkenalkan apa yang disebut dengan ta'wil, penafsiran bathin atauspiritual esoterik, terhadap ajaran-ajaran agama sebagaimana termaktub dalamKitab Suci maupun Hadits Nabi. Diyakinibahwa di makna lahiriahnya, ayat-ayat Al Qur'an mengandung makna bathin yanghanya bisa dilihat oleh mereka yang mata bathinnya atau Imajinasi Kreatifnyatelah teraktivasi melalui disiplin ruhani tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pendekatan seperti ini, tentu saja berbeda dengancara beragama yang yang sangat dominan di kalangan Sunni yang berbasis diJazirah Arab dan mewarnai dunia Islam lainnya: yang pertama adalah kelompokyang cenderung menolak kesahihan pengalaman mistis sekaligus menolak filsafatsebagaimana ditampilkan mayoritas Ahli Hadits atau Ulama Fiqh, yang keduaadalah kelompok tasawuf yang memuliakan pengalaman mistis tapi mengabaikanfilsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi kelompok tasawuf yang anti filsafat di kalanganSunni, merupakan andil sosok yang sangat berpengaruh: Imam Al-Ghozali yangdigelari Hujattul Islam. SeranganAl-Ghozali terhadap filsafat berperan melumpuhkan tradisi intelektual dikalangan Sunni. Sempat bangkit sesaat dimasa Ibnu Rusyid, tradisi intelektual ini kemudian hanya menjadi arus pinggiranyang dinikmati segelintir intelektual Sunni, hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara cara beragama yang legalistik, kering, bahkan padatitik tertentu membelengu potensi kemanusiaan yang menjadi tipikal mayoritasahli fikih dan ahli hadits, ironisnya justru mewabah di tempat asal muasalturunnya wahyu kepada Nabi Muhammad: Mekkah dan Madinah, yang berimbas padaJazirah Arab dan berbagai belahan dunia lainnya yang berkiblat kepadanya. Ini tak lepas dari kemenangan politikkelompok penerus Ibnu Taymiah yang anti-filsafat sekaligus anti-tasawuf. Kelompok ini menjadi dominan ketika Muhammadbin Abdul Wahhab yang berkoalisi dengan Dinasti Ibnu Suud, sukses menuaikemenangan politik dan lantas berkuasa di Arab Saudi hingga saat ini. Dan karena berada di jantung dunia Islam,pengaruhnya terhadap kawasan masyarakat Muslim lainnya jelas tak bisa diabaikan. Dengan jargon pemurnian Islam, kelompok inirelatif sukses meneguhkan hegemoninya di dunia Islam: corak Islam lain yangmengapresiasi tradisi lokal acapkali secara serampangan disebut sebagai bid'ahyang patut dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, cara beragama yang legalistik dan keringitulah yang sempat dikhawatirkan oleh Sayyidina Ali menjangkiti umat Islam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akan tiba waktunyabagi umatku, ketika tidak ada yang tersisa dari Al-Qur'an kecuali bentukluarnya dan tidak ada Islam kecuali namanya dan mereka akan memanggil dirimereka dengan nama tersebut walau mereka adalah umat yang paling jauh dari itu.Mesjid mereka akan penuh dengan jamaah tapi kosong dari petunjuk. Para pemimpinagama (fuqoha) masa itu merupakan para pemimpin agama paling jahat di bawahlangit, kemungkaran dan perselisihan akan muncul dari mereka dan kepada merekasemua itu akan dikembalikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sayyidina Ali dalam Bihar al-Anwar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pula yang dikritik oleh Fariduddin Attar, Sufi dariNishapur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua agama, seperti parateolog dan pengikut mereka memahami kata itu, adalah sesuatu yang lain dari apayang diperkirakan orang. Agama adalah sebuah kendaraan. Ekspresinya, ritualnya,moralnya, dan ajarannya yang lain dirancang untuk menimbulkan pengaruh tertentuyang memperbaiki, pada waktu tertentu, komunitas tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...agama dilembagakansebagai sebuah alat mendekati kebenaran. Bagi mereka yang berpikir dangkal,alat selalu menjadi tujuan, dan kendaraan menjadi berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya orang-orang yangbijak, bukan orang yang beragama atau berpengetahuan, yang dapat membuatkendaraan itu bergerak lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada Islam ala Jawa atau Islam Kejawen, jika kitamerujuk pada apa yang terjadi di Persia, jelas itu merupakan sebuah keniscayaanbahkan merupakan gejala yang sah. KetikaIslam hadir, Tanah Jawa ataupun Nusantara bukanlah padang tandus tanpaperadaban. Dalam beberapa hal, peradabandi kawasan ini telah demikian maju.Kejawen atau tradisi lokal Jawa yang telah diperkaya oleh KebudayaanHindu Budha dari India, merupakan sesuatu yang tak bisa dilupakan begitu sajaoleh manusia Jawa. Apalagi manusia Jawamemiliki memori kolektif bahwa dengan melandaskan kehidupan mereka pada budayaluhur sebagai hasil sintesa antara Kajewen dengan Hindu Budha, kejayaan politikdan kemakmuran ekonomi pernah dicapai, baik di masa Kerajaan Kutai, Sunda Galuhdan Pajajaran, Sriwijaya maupun Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah selayaknya, para cerdik pandai diTanah Jawa melanjutkan kebiasaan cerdas untuk mensintesiskan apa yang sudah ada(yaitu tradisi lokal) dengan apa yang baru hadir dan dipandang baik (termasukajaran Islam, baik yang dibawa oleh para mistikus Persia seperti SyeikhSubakir, maupun para pedagang Arab yang kemudian disebut sebagai parawali). Upaya sintesis antara Islam danKejawen ini, terutama dilakukan oleh raja-raja dan para pujangga dari kerajaanyang meneruskan tak hanya garis darah Majapahit tetapi juga sekaligus strategibudayanya: Pajang dan Mataram. SultanHadiwijaya, Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan beberapa penerusnya, adalahsosok raja yang memanfaatkan kekuasaan politik mereka untuk melestarikan corakkeagamaan khas Tanah Jawa: agama yang dijawakan. Pada masa lalu, Hindu Budha telah dijawakansedemikian rupa sehingga Hindu Budha di Tanah Jawa dan Nusantara berbeda denganHindu Budha di negeri asalnya, India.Demikian pula, pada masa Pajang dan Mataram, Islam dijawakan sedemikianrupa sehingga jelas tak sama lagi citarasanya dengan Islam yang disampaikanoleh para pendakwahnya dari Persia maupun Jazirah Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang sebetulnya dimaksudkandengan menjawakan Islam? MenjawakanIslam artinya adalah menafsirkan Islam sesuai dengan tradisi mistik yang telahberkembang di Tanah Jawa, baik yang berangkat dari ajaran Kejawen asli maupunKejawen yang telah diperkaya dengan Hindu dan Budha. Konsep-konsep Kejawen seperti rahsa sejati, sukma sejati, manunggalingkawula gusti, harmoni jagad alitjagad ageng, termasuk ritual-ritual masyarakat Jawa seperti slametan, dipergunakan sebagai instrumenuntuk membumikan nilai-nilai universal Islam dalam kehidupan sehari-harimanusia Jawa. Cara pandang Kejawenmengenai hakikat dan struktur ruhani manusia, asal muasal dan tujuan kehidupan,hubungan antara wadah dan isi dan pemahaman bahwa isi lebih penting ketimbangwadah, dan berbagai konsep lainnya, melandasi tindakan orang Jawa dalammenafsirkan Islam. Secara keseluruhan,kita bisa melihat bahwa Islam Kejawen adalah sebuah sistem keagamaan yangmengedepankan dimensi mistik, sangat menghargai pengalaman ruhani, dan meyakinibahwa instrumen terpenting dalam menangkap kebenaran adalah rahsa sejati, yangbisa disejajarkan dengan intuisi, dzaukataupun Imajinasi Kreatif. Akal budiatau fakultas rasional, tentu saja tidak diabaikan, tetapi dianggap bukansebagai instrumen yang paling akurat karena ia memiliki keterbatasan: akal buditidak bisa menembus alam kasunyatan yang dalam khazanah Ibnu Arabi disebutdengan alam al-mitsal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melihat, bahwa dengan corakdemikian, Islam Kejawen lebih dekat dengan corak Islam ala Persia sebagaimanadikembangkan oleh Suhrawardi dan Ibnu Arabi.Dan saat yang sama, berbeda cukup serius dengan Islam ala Timur Tengah,khususnya yang berorientasi pada purifikasi dan terpengaruh kuat oleh ajaranIbnu Taymiah dan Muhammad bin Abdul Wahab.Di Tanah Jawa sendiri, ketegangan antara Islam Kejawen dan Islam alaTimur Tengah ini muncul baik dalam dinamika politik berupa pergulatan antaraKesultanan Demak dengan Kerajaan Pajang dan Mataram, berbagai fragmenpenghukuman tokoh-tokoh mistik yang dianggap sesat seperti Syeikh Siti Jenar,Ki Ageng Kebo Kenongo, Syeikh Mutamakkin, juga dalam bentuk perdebatanintelektual antara para pujangga dan mistikus Islam Kejawen seperti RadenRonggo Warsito dan KGPAA Mangkunegoro IV dengan para lawannya. Pada masa Indonesia modern, perdebatan bahkanpergulatan antara Islam Kejawen dan Islam ala Timur Tengah ini tampak denganjelas pada masa pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalangan yang mengedepankan dimensi mistisIslam yang diujungtombaki Presiden RI pertama Soekarno, berhasil menancapkan rancangannegara ini lebih sebagai negara spiritualis tapi bukan negara agama, melaluipenetapan Pancasila yang memiliki sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa sebagaidasar negara. Konsep negara spiritualisini yang sebetulnya bisa menyatukan berbagai kalangan termasuk kalangannon-Muslim dari berbagai daerah di Indonesia.Tanpa itu, sulit dibayangkan negara ini bisa meraih kemerdekaannya,karena tak ada kemerdekaan tanpa persatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya monumentalnya Di BawahBendera Revolusi, Soekarno menulis penuh semangat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Islam is progress – Islam itukemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam satu surat yangterdahulu. Kemajuan karena fardhu,kemajuan karena sunnah, tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkanoleh djaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batas-batasnya. Progress berarti barang yang baru, yang lebihtinggi tingkatannya daripada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, ciptaanbaru, creation baru – bukan mengulang barang yang dulu, bukan mengcopy barangyang lama. Di dalam politik, Islampun orang tidak boleh meng-copy saja barang-barang yang lama, tidak boleh maumengulang saja segala sistem-sistemnya jaman kalifah-kalifah yang besar. Kenapa orang-orang Islam di sini selamanyamenganjurkan political system seperti di jamannya khalifah-khalifah besaritu? Tidakkah di dalam langkahnya zamanyang lebih dari seribu tahun itu perikemanusiaan mendapatkan sistem-sistem baruyang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatannya ketimbang dulu? Tidakkah zaman sendiri menjelmakansistem-sistem baru yang cocok dengan keperluannya – cocok dengan keperluanzaman itu sendiri? Apinya zamankhalifah-khalifah yang besar itu? Ah,lupakah kita bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yangmenganggitkan? Bahwa mereka mengambilsaja api itu dari barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yaknidari Kalam Allah dan Sunnahnya Rasul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apa yang kita ambildari Kalam Allah dan Sunnahnya Rasul itu?Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan!Abunya, debunya, ah, ya, asapnya!Abunya yang berupa celak mata dan sorban, abunya yang mencintai kemenyandan tunggangan onta, abunya yang bersifat Islam-muluk dan Islamibadat-zonder-taqwa, abunya yang tahu cuma baca Fatihah dan tahlil saja –tetapi bukan apinya yang menyala-nyala dari ujung jaman yang satu ke ujungzaman yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah saya punya seruandari Endeh. Mari kita camkan di dalamkita punya akal dan perasaan, bahwa kini kita bukan masyarakat onta, tetapimasyarakat kapal-udara. Hanya denganbegitulah kita dapat menangkap inti arti yang sebenarnya dari warisan Nabi yangmauludnya kita rayakan hari ini. Hanyadengan begitulah kita bisa menghormati Dia dalam arti penghormatan yangsehormat-hormatnya. Hanya dengan begitukita bisa sebenar-benarnya mengatakan bahwa kita adalah umat Muhammad bukanumatnya kaum faqih dan umatnya kaum ulama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, bagaimana kita bisamendapatkan api dan intisari Islam? Itutidak bisa dilakukan dengan mengikuti Islam pada lahirnya sebagaimana dilakukankebanyakan faqih dan ulama. Tetapi kitaharus menghidupkan akal budi sekaligus rasa sejati, berfilsafat sekaligusbermetafisika, sehingga kita bisa menangkap makna bathin dari Kalam Allah danSunnah Rasulnya. Itulah yang disebut apiIslam oleh Soekarno! Dan berlandaskanapi Islam dan api dari Kristen Protestan, Katholik, Hindu, Budha, bahkanagama-agama lokal itu, ia dan para foundingfathers yang bijak menetapkan Indonesia sebagai negara kebangsaanberlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan negara agama atau negara Islam alakaum faqih dan para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena panggilan darah dan kesadaranyang bersemi di relung hati yang paling dalam, saya harus dengan jujurmengatakan, bahwa saya memilih mengikuti para leluhur yang agung di Tanah JawaKi Ageng Kebo Kenongo, Sultan Hadiwijaya, Panembahan Senopati, Sultan Agung,juga Raden Ronggowarsito dan KGPAA Mangkunegoro IV. Terlebih, pada kasus saya pribadi, lewat lakuprihatin dan rangkaian meditasi dalam bimbingan guru saya, saya seperti menjadiwadah atau media bagi jiwa-jiwa masa lalu khususnya Ki Ageng Kebo Kenongo,Raden Ronggowarsito dan KGPAA Mangkunegoro untuk bisa hadir kembali pada masakini. Saya tak bisa meninggalkankeislaman saya, karena Islam telah melekat demikian kuat di dalam diri sayasebagai buah pendidikan sejak kecil, juga karena saya ditakdirkan hidup dalamkeluarga dan komunitas Islam, dan yang paling penting: saya masih bisamenemukan dimensi Islam yang teramat mempesona seperti yang ditampilkan olehIbnu Arabi, Suhrawardi, Jalaluddin Rummi dan para mistikus hebat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan menganut Islam Kejawen, di satusisi memang benar-benar buah sebuah perjalanan ruhani yang bersifat pribadi.Saya memilih Islam Kejawen karena itu yang membuat saya tenteram, damai,mantap, seiring dengan terhubungnya diri saya pada masa lalu. Selain itu, pilihan ini membuat saya seakanpunya energi memadai untuk mengundang kehidupan penuh berkah yang begitu sayadambakan. Di sisi lain, pilihan ini jugamerupakan sesuatu yang logis seiring munculnya kesadaran bahwa diri sayapribadi mesti berkontribusi untuk mencegah negara ini menjadi negara gagal –meminjam istilah Francis Fukuyama. Saatini, kita mengalami degradasi moralitas, krisis identitas, kerusakan sumberdaya alam, mewabahnya kemiskinan, merebaknya kekerasan termasuk yang kekerasanatas agama. Itu semua adalah pertandabahwa kita punya potensi menjadi negara gagal.Agar kekhawatiran itu tak terjadi, kita perlu melakukan upayarevolusioner, dan yang terpenting adalah di bidang kebudayaan. Pilihan saya terhadap Islam Kejawen adalahsimbol kembalinya saya pada ajaran leluhur, simbol kembalinya saya padajatidiri, pada fondasi kebudayaan yang kukuh.Ini, jika dilakukan dalam skala masif, adalah pencapaian penting yangbisa menjadi titik tolak bagi perbaikan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada segala aspeknya. Begitu dari segi kebudayaan kita mengalamirevolusi ke arah yang lebih baik - ketika budaya Indonesia mengalami restorasisebagaimana Restorasi Meiji hingga pada titik kembali pada jatidiri, makaperbaikan pada aspek politik dan ekonomi tinggal menunggu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahayu.Kedamaian untuk kita semua!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-3118992204494966279?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/3118992204494966279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=3118992204494966279' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/3118992204494966279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/3118992204494966279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/09/islam-kejawen-pilihanku-saat-ini.html' title='ISLAM KEJAWEN PILIHANKU SAAT INI'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-1282889879278618157</id><published>2010-09-08T09:34:00.000-07:00</published><updated>2010-09-08T09:35:45.934-07:00</updated><title type='text'>SELAYANG PANDANG KEJAWEN (2)</title><content type='html'>Muara dari perjalanan spiritual para penghayat AjaranKejawen, tidak lain untuk kebahagiaan hakiki - sebuah kehidupan yang mulia,melalui proses manunggaling kawulakalawan Gusti, atau tumbuhnya kesadaran akan sifat roroning atunggil (dwi tunggal) di dalam diri, yang ditunukkan olehkonsep Aku ing sajroning Ingsun, Ingsuning sajroning Aku. Ajaran Kejawenmembimbing para penghayatnya untuk memasuki kondisi hening, sehingga bisabertemu dengan alam sunya ruri. Mereka yang telah mencapai titik ini, akanmendapatkan ketenangan batin sekalipun menghadapai situasi dan kondisi yangsangat gawat. Karena antara manusia sebagai mahluk dengan Tuhan sebagai SangPencipta terjadi titik temu yang harmonis. Batin manusia selalu tersambungdengan getaran energi Tuhan: kehendak Tuhan menjadi dasar atas segala tindakanyang dilakukannya. Atau disitilahkan sebagai sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Sesotya adalahungkapan yang mengandaikan Tuhan bagaikan permata yang indah tiada taranya."Permata" yang menyatu ke dalam embanan. Embanan sebagai ungkapan dari jasadmanusia. Penghayat Kejawen yang sejati,adalah sosok ideal sebagaimana dilukiskan dalam The Book of Mirdad karya Mikhail Naimy, pujangga keturunan Lebanon sahabat Kahlil Gibran: Ia yang berpikir, berbicara, bertindak, bersikap, danberkehendak selaras dengan Kebenaran (karena Kebenaran, Tuhan, telah bersemayamdi dalam dirinya!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai kondisi di atas, penghayat Ajaran Kejawenperlu menumbuhkan kesadaran hakiki lapis demi lapis, melalui kegiatan semedidan rangkaian laku prihatin. Semediadalah meditasi ala Jawa: seseorang menarik diri dari kesibukan raga danpikiran, berkonsentrasi pada helaan nafas, dan perlahan-lahan memasuki alamhening. Pada titik tertentu, pelakusemedi diharapkan bisa bertemu dengan Sukma Sejati atau Guru Sejati, cerminkeberadaan Gusti Allah di dalam diri.Lebih jauh lagi, pelaku semedi juga diharapkan bisa mengalamipersentuhan dengan Kekosongan Sejati (alam sunyaruri). Melalui semedi, mata batin kita menjaditerasah. Cakrawala pandang kita, duniayang kita sentuh, akan melampaui apa yang selama ini begitu terbatas karenasekadar mengandalkan pencerapan oleh panca indera. Sementara itu, laku prihatin adalah pelengkapdari kegiatan semedi: di sini, berbagai kegiatan pengendalian hawa nafsusekaligus ekspresi kewelasasihan kepada sesama dalam rangka hamemayu hayuningbawono dikondisikan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup seorang penghayatAjaran Kejawen. Melalui peningkatanintensitas dan kualitas semedi maupun laku prihatin, diasumsikan seorang pelakuAjaran Kejawen bisa makin dekat dengan jatidirinya, makin tak berjarak denganGusti Allah (Allah ingkang papanipun ing bagusing ati), yang pada titikidealnya disebut dengan keadaan manunggaling kawulo kalawan gusti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penghayat Ajaran Kejawen yang konsisten, akanmengalami peningkatan kesadaran secara terus menerus, dari kesadaran ragawi,kesadaran rasional, hingga kesadaran sukma dan rasa sejati. Makin lama, doktrin yang beku, rumusankebenaran yang bersifat eksternal yang dikondisikan atau dijejalkan dari luar,makin ditinggalkan, seiring dengan meningkatnya kesadaran bahwa sumberkebenaran itu sebenarnya ada di dalam diri.Saat yang sama, keselarasan dengan alam semesta makin meningkat: diriini makin terasah untuk membaca tanda-tanda alam, alam telah menjadi buku suciyang menginformasikan keagungan Sang Pencipta sekaligus hukum-hukum-Nya yang kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-1282889879278618157?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/1282889879278618157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=1282889879278618157' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/1282889879278618157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/1282889879278618157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/09/selayang-pandang-kejawen-2.html' title='SELAYANG PANDANG KEJAWEN (2)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-7321177943565505639</id><published>2010-09-08T09:33:00.000-07:00</published><updated>2010-09-08T09:34:51.594-07:00</updated><title type='text'>KEJAWEN SELAYANG PANDANG (1)</title><content type='html'>Saya harus mengakui bahwa hingga bulan April 2008, saya ini benar-benar masuk kategori wong kajawan,wong jowo kang ilang jawane (sosok yang tercerabut dari akar budayanya,orang Jawa yang justru kehilangan kejawaannya). Banyak faktor yang membuat ini terjadi.Secara internal, jelas hal ini disebabkan karena ada semacamketerputusan proses pewarisan nilai-nilai budaya dari generasi terdahulu. Ayah saya ditinggalkan oleh ayahnya, yaitukakek saya, ketika masih kanak-kanak. Kakek saya yang seorang masinis, meninggal saat berusia relatifmuda. Seterusnya, ayah saya bersamasaudara-saudaranya diasuh oleh nenek, dalam suasana penuh keprihatinan: hidupmenjadi momen yang demikian sulit, sehingga yang kemudian jadi hal palingpenting adalah bagaimana bisa bertahan hidup.Saya memaklumi, karena kehidupan yang demikian sulit dan tanpa bimbinganseorang ayah itu, proses pewarisan nilai-nilai budaya Jawa kepada ayah sayamenjadi tidak optimal, dan dampaknya, ayah saya juga tidak sukses menjadikandiri saya sebagai pewaris nilai-nilai budaya Jawa. Dari sisi eksternal, sejak kecil saya dididiksebagai Muslim: yang masuk ke memori dan alam bawah sadar saya melaluipengajaran para ustadz dan guru agama adalah konsep bahwa Islam, dalambentuknya sebagai ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, adalah jalankeselamatan satu-satunya. Dan sayaingat, bahwa Islam yang banyak saya terima adalah Islam yang memilikipendekatan cenderung pada purifikasi (pemurnian): tradisi lokal adalah sesuatuyang tidak mendapatkan tempat. AjaranKejawen, menjadi sesuatu harus dianggap asing dan dijauhi, karena dianggapbukan berasal dari Allah. Ya, saya yangorang Jawa, dididik untuk meyakini berbagai ajaran leluhur saya sendiri sebagaikemusyrikan yang bisa membawa saya pada neraka jahanam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, setelah saya berkenalan dengan duniaintelektual Kejawen, saya tahu bahwa kehidupan beragama telah menjadi salahsatu ajang hegemoni satu kelompok terhadap kelompok lainnya. Dalam hal ini, kelompok Islam yang mendekatiagamanya itu dari sisi eksoterisnya, sekaligus menempatkannya sebagai mediumuntuk meneguhkan kekuasaan politik, telah sedemikian rupa menempatkan ajaranKejawen sebagai sesuatu yang nista.Citra buruk coba disematkan kepada Ajaran Kejawen: berbagai perilakuyang menyimpang dari kaidah ajaran Kejawen justru dinyatakan sebagai buktikesesatan Ajaran Kejawen. Hal ini,melengkapi apa yang terjadi pada masa lalu, khususnya ketika Kesultanan Demakmenggantikan Majapahit: dalam Serat Darmagandul dikisahkan, bagaimanabalatentara Demak dibawah pimpinan Raden Patah, menyerbu ibukota Majapahit,membuat Prabu Brawijaya tersingkir, melumpuhkan pasukan Majapahit yang tersisadi ibukota, membumihanguskan bangunan-bangunan penting di ibu kota, sekaligusmemusnahkan naskah-naskah kuno yang tak hanya berisi ajaran Hindu Budha, tetapijuga memuat kearifan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita perhatikan, hingga saat ini, di kalanganmasyarakat luas telah terjadi kesalahpahaman sedemikian rupa terhadap berbagaikonsep dalam Ajaran Kejawen. Dan ini,tentu tak terjadi begitu saja, melainkan disebabkan oleh strategi perusakanbudaya yang sistematis. Istilah-istilahKejawen seperti kejawen itu sendiri, mistik, tahayul, dan semacamnya, dibuatmengalami degradasi makna sehingga terlihat menyeramkan. Padahal, jika kita merujuk pada makna aslidari konsep-konsep tersebut, yang kita temukan adalah konsep yang adiluhung:sesuatu yang luhur! Guru saya, KangSabdalangit, memaparkan berbagai konsep Kejawen yang selama ini seringdisalahpahami. Pertama, klenik. Klenik,makna awalnya adalah pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan denganhukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidaklain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agamamanapun unsur "klenik" ini selalu ada. Kedua,mistis, Ini semestinya dipahami sebagairuang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami manusia, sebagaiupayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistikuntuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf. Ketiga,tahyul, Sejatinya ia adalah kepercayaanakan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan makhluk gaib ciptan Tuhan.Manusia Jawa sangat mempercayai adanyakekuatan gaib yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang MahaPencipta. Kepercayaan kepada yang gaibini juga terdapat di dalam rukun Islam. Keempat, tradisi. Dalam tradisi Jawa, seseorang dapatmewujudkan doa dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapidengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambangdan simbol juga mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawasebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebihdekat dengan Tuhan jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: notaction talk only), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsbsebagi simbol kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoamelibatkan empat unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan.Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baikkepada lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidupberdampingan, agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagimanusia Jawa, setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakanriil (ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapatmembuat doa terkabul. Kelima,Kejawen. Pada dasarnya, ia adalah ajaranyang berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara manusiadalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, perlahan namun pasti, setelah Majapahitruntuh pada abad 15 oleh serbuan anaknya sendiri, dengan cara serampangan dansubyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg luhur, Ajaran Kejawendicitrakan khususnya oleh para pemuka agama Islam yang berorientasi padapemurnian, sebagai biangnya kemusyrikan, kesesatan, kebobrokan moral, dankekafiran, karena itu layak dimusnahkan. Ironisnya, manusia Jawa yang sudah"kejawan" ilang jawane, justru ikut andil besar dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupabahwa nilai budaya asli nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa buminusantara ini menggapai masa kejayaannya, baik di era Majapahit, Pajajaran,Sriwijaya, bahkan Kutai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana sebetulnya Ajaran Kejawen yang kini sayapahami dan hayati? Saya inginmenjawabnya secara lugas: bagi saya, Ajaran Kejawen itu adalah sebuah jalanmistik, sebuah formula untuk mencapai pencerahan ruhani. Jalan dan formula itu telah dikreasi olehpara leluhur yang sangat cerdas karena telah mengenal jatidiri – telah bertemudengan Guru Sejati di dalam diri - sekaligus tajam dalam membaca bahasaalam. Ajaran Kejawen dalam benak sayaadalah ajaran yang membawa saya pada titik tertinggi kesadaran kemanusiaan,yang salah satu pertandanya adalah lenyapnya persepsi akan perbedaan berbagaiciptaan, semua keberadaan terhayati sebagai sesuatu yang satu, manunggal,sebagai sesama cermin dari Yang Maha Tunggal, Gusti Allah ingkang akaryo jagad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Kejawen, dengan demikian, sesungguhnya mengajakkepada setiap orang menghunjam masuk ke intisari ajaran berbagai agama. Bagi seorang Muslim seperti saya, AjaranKejawen telah mengantar saya untuk menyelami tataran hakikat, sesuatu yangsebetulnya juga ditawarkan oleh para sufi, para mistikus besar dalam tradisiIslam. Ajaran Kejawen, dengan demikian,bagi saya pribadi telah berperan menumbuhsuburkan benih-benih kesadaran akankebenaran Perenialisme yang dirintis oleh para mistikus besar seperti IbnuArabi, Jalaluddin Rumi, Fariduddin Atthar, dan lainnya termasuk Syed HosseinNasr yang menjadi salah satu promotor utama konsep ini pada era modern. Menurut Perenialisme, agama-agama sebetulnyamemiliki ruh yang sama, bersumber pada Dzat yang sama. Di balik bentuk(syariat) agama yang berbeda-beda itu sebetulnya ada hal yang mempersatukannya:itulah spiritualitas, mistisisme, atau sisi esoteris agama-agama. Mereka yang sudah menghayati hal ini,pastilah akan bersikap terbuka, toleran, penuh kasih sayang kepada sesamatermasuk yang berbeda agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa saya tidak mencukupkan diri dengan ajaranpara mistikus besar dalam tradisi Islam dan harus menengok pada Kejawen? Sederhana saja, ini persoalan berbakti padaleluhur: leluhur saya adalah Orang Jawa bukan Orang Persia, India ataupunArab. Saya membutuhkan sebuah tindakankongkrit yang membuat saya masuk kategori anak yang berbakti kepada orang tua,kepada para leluhur, sekaligus membuat saya bisa hidup harmoni dengan alamsemesta, khususnya dengan Ibu Pertiwi!Itu hanya bisa diraih dengan kembali pada ajaran leluhur saya, yaituAjaran Kejawen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, bagi saya, Ajaran Kejawen secara teoritismaupun praktis memberikan landasan konseptual yang teramat kaya untuk sikapberagama yang terbuka dan toleran. Paraleluhur di Tanah Jawa khususnya maupun Nusantara pada umumnya, telahmenunjukkan sikap terbuka kepada berbagai ajaran agama baru yang sebetulnyaasing dan berasal dari luar, tapi saat yang sama, mereka bisa mensintesiskannyadengan ajaran lokal. Para leluhur itujuga tidak terpaku pada bentuk, melainkan lebih mementingkan isi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Ajaran Kejawen bisa mengantarkan seseorang padasikap terbuka dan inklusif sebagaimana dihayati oleh para mistikus besar dariberbagai agama termasuk Islam?Sebagaimana dijelaskan di awal, bahwa muatan utama Ajaran Kejawen adalahmistisisme, dan makna mistisisme dalam Ajaran Kejawen adalah laku spiritualberdasarkan pandangan hidup atau falsafah hidup Jawa. Atau disebut jawaisme(javanism). Lebih jelasnya, yang paling utama dalam laku spiritual Jawa, adalahperilaku yang didasari oleh cinta kasih dan pengalaman nyata. Maka, bagisiapapun yang mengaku menghayati falsafah hidup Jawa namun perangainya masihmudah terbawa api emosi, angkara murka, reaksioner, sektarian, danprimordialisme, kiranya belum memahami secara baik apa itu nilai-nilai dalamfalsafah hidup Kejawen. Mistik kejawen merupakan bagian dari ribuan mistik yangada di bumi ini. Setiap masyarakat, bangsa dan budaya biasanya memilikinilai-nilai tradisi mistik yang dipegang teguh sebagai pedoman hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekalilagi perlu ditegaskan, bahwa mistisisme memang lebih fleksibel ketimbangagama-agama eksoteris (dalam konteks Islam, itu artinya Islam yangFiqh-Oriented). Sebab mistisisme tidakmempersoalkan apa latar belakang ajaran, agama, budaya orang yang inginmenghayati. Dalam tradisi mistik yang sesungguhnya, keberagaman "kulit" akandikupas, lalu diambil sisi maknawiahnya yang bersifat hakekat atau esensial.Orang Jawa, Hindu, Kristen dan Budha, bisa saja mempelajari ilmu tasawuf.Demikian pula sebaliknya, umat Islam juga bisa mempelajari falsafah hidupJawa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-7321177943565505639?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/7321177943565505639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=7321177943565505639' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/7321177943565505639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/7321177943565505639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/09/kejawen-selayang-pandang-1.html' title='KEJAWEN SELAYANG PANDANG (1)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-1968636585586766682</id><published>2010-08-11T07:17:00.002-07:00</published><updated>2010-08-11T07:18:26.311-07:00</updated><title type='text'>MOMEN TITIK BALIK (4)</title><content type='html'>Napak Tilas Lanjutan&lt;br /&gt;Mengikuti saran Kyai Makmuri, ada dua tempat lagi yang harus kuziarahi.  Yaitu Makam Gunung Pring di Muntilan, dan petilasan Syeikh Subakir di Gunung Tidar, di Kota Magelang.  Kulaksanakan saran itu.  Setelah semalam beristirahat, pagi hari aku menuju Gunung Tidar.  Kumasuki hutan pinus di gunung itu.  Menapaki jalan bebatuan yang terus naik ke atas.  Tak lama, sampailah aku di petilasan Syeikh Subakir, dan akupun bertemu dengan kuncen di situ, bernama Pak Tri.  Setelah ngobrol sejenak, Pak Tri menyarankan agar aku kembali lagi tengah malam.  Ia berjanji akan membagi beberapa kisah penting.  Kuterima tawarannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah istirahat di siang hari, menjelang tengah malam aku kembali ke Gunung Tidar.  Suasana sungguh sunyi.  Hanya ada angin berdesau, dan sesekali suara binatang menjerit.  Langit sedang pekat, nyaris tanpa bintang.  Aku harus mengumpulkan semua keberanianku untuk melakukan hal ini.  Aku sebenarnya penakut, jika berada di tempat gelap dan sunyi.  Tapi, karena sudah kadung berjanji, kutekadkan bahwa aku harus kembali menaiki Gunung Tidar dan mencapai petilasan Syeikh Subakir.  Hatiku, sejujurnya agak berdebar-debar.  Bahkan rasanya ada sedit keringat dingin, reaksi spontan tubuh karena merespon rasa takut.  Setelah berjuang cukup keras menaklukkan rasa takutku, akhirnya sampai juga aku di petilasan Syeikh Subakir, yang entah kenapa, justru berbentuk makam.  Padahal, jelas itu bukan makam Syeikh Subakir, karena sejarah mencatat beliau pulang kembali ke Persia.  Ada lampu teplok yang menerangi petilasan itu.  Tapi, ternyata Pak Tri, kuncen yang berjanji menunggu di situ malah tak ada.  Apa boleh buat, tidak lucu jika aku kembali tanpa hasil.  Maka, kuputuskan untuk duduk di situ dan mulai wirid, membaca beberapa kalimat berbahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan namun pasti, aku mulai fokus pada wiridku.  Rasa takut yang semula mencengkeram, mulai lenyap.  Berbagai bayangan buruk yang mengganggu, juga mulai mundur.  Tiba-tiba, muncul suasana kejiwaan yang baru: aku merasa berani!  Tak ada lagi yang pelu kutakuti, kalau itu berkenaan dengan makhluk bernama setan, genderuwo dan semacamnya.  Tanpa kusadari bagaimana prosesnya, keberanian itu memang muncul di hatiku, dan berpengaruh terhadap sikapku.  Semula aku tidak berani menatap kegelapan di sekeliling.  Tapi, saat itu aku mulai berani menatap kegelapan di sekeliling itu dengan pandangan mata tajam.  Kurang lebih, aku ingin mengatakan, kalau mau menggangu, mari kuhadapi.  Ternyata tak ada apa-apa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menuntaskan wirid, dan ternyata Pak Tri sang kuncen itu tak kunjung datang, akhirnya kuputuskan untuk turun dari petilasan itu.  Kali ini, dengan pembawaan yang berbeda: aku melangkah turun dengan tegap, percaya diri.  Malam, gelap yang pekat, bukan lagi sesuatu yang membuat hatiku jadi ciut!  Aku sendiri tak paham bagaimana mesti menjelaskan perubahan suasana kejiwaan seperti itu.  Mungkin, ada sejumput energi dari masa lalu yang memasuki ragaku dan menguatkanku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari segi kesejarahan, nama Syeikh Subakir memang tak bisa dilepaskan dari perintisan upaya penyebaran agama Islam di Tanah Jawa.   Bisa dibilang, dia adalah salah satu pendakwah paling awal di Tanah Jawa.  Yang menarik untuk dicatat, adalah bahwa kehadiran dan kiprah Syeikh Subakir ini, dihubung-hubungkan dengan Dang Hyang Ismaya sang penguasa makhluk halus di Tanah Jawa, yang makam atau petilasannya juga ada di Gunung Tidar, tak jauh dari petilasan Syeikh Subakir.  Konon, ada perjanjian penting antara Syeikh Subakir dan Dang Hyang Ismaya: Dang Hyang Ismaya merestui dakwah Syeikh Subakir, asal ajaran yang didakwahkan itu tidak bertentangan dengan tradisi luhur yang sudah ada di Tanah Jawa.  Kearifan lokal yang telah tertanam di Tanah Jawa ini tidak boleh sirna oleh kehadiran agama baru.  Hanya dengan demikian, maka para makhluk halus di Tanah Jawa akan berhenti mengganggu Syeikh Subakir dan pengikutnya.  Dan Syeikh Subakirpun menyetujui hal itu, sehingga gangguan para makhluk halus di Tanah Jawapun bisa dinetralisir, dan dakwah Islam bisa dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, malam itu aku tak jadi menghabiskan waktu di petilasan Syeikh Subakir.  Aku sudah merasa cukup, dan membawa pulang rasa berani yang tertanam di dalam hati, khususnya rasa berani jika harus berhadapan dengan berbagai jenis makhluk yang muncul dari tabir kegelapan malam.  Aku memilih untuk menghabiskan malam di Masjid Kauman, di pusat kota, setelah sebelumnya nongkrong di gerobak angkringan sambil ngobrol  dengan penjualnya, di alun-alun Kota Magelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada keesokan harinya, aku menjalankan ziarah terakhir, ke Makam Gunung Pring.  Ada banyak tokoh yang dimakamkan di sini.  Mereka adalah para bangsawan dan para kyai, anak keturunan raja-raja Majapahit yang memeluk Islam, dan menjadi leluhur Kyai Munawir, pendiri Pesantren Krapyak di Jogjakarta.  Tak banyak yang kuceritakan, kecuali bahwa di tempat ini aku sekali lagi menikmati eksotika memasuki dan menjemput masa lalu.  Seberkas terang dan sejumput energi seolah masuk ke dalam ragaku, dan membuatku kian siap menyambut masa depan yang lebih gemilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir Yang Bahagia&lt;br /&gt;Delapan hari kutinggalkan anak istriku, mengembara mencari setitik rahasia kehidupan.  Istriku sempat sakit keras saat kutinggal, tapi pertolongan Tuhan hadir dengan berbagai cara, hingga sakitnya itu tertangani.  Saat aku sebagai suaminya tak ada, para tetanggalah yang memberi pertolongan.  Kepulanganku disambut gembira.  Aku sendiri meyakini bahwa pilihanku meninggalkan keluargaku sejenak memang tepat.  Itu telah memberi pelajaran berharga, baik bagi diriku sendiri, maupun bagi istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, pengembaraan selama 8 hari itu yang menjadi semacam titik balik kehidupanku.  Makna simboliknya adalah bahwa seseorang baru bisa merasakan hidup yang penuh berkah dan kedamaian, manakala ia telah terhubung dengan masa lalunya dan menemukan jatidirinya.  Itu yang terjadi pada diriku.  Sejak saat itu, diriku mengalami transformasi secara intelektual dan ruhani.  Dan itu ternyata berimbas pada karier, pergaulan sosial, maupun kehidupan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajar mulai menyingsing dalam hidupku.  Awan pekat yang memayungi  perlahan-lahan sirna.  Beban berat rasanya mulai terangkat.   Rumah yang semula bagai penjara dan neraka, kini bagiku adalah surga.  Kunikmati keberadaanku di rumah, di rumahlah aku menemukan kepuasan bathin dan cinta kasih terdalam.  Hubunganku dengan istri yang semula bagai anjing dan kucing karena selalu diisi pertengkaran, kini telah bertransformasi menjadi hubungan penuh cinta yang saling menguatkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kulihat lagi perjalanan hidupku, semenjak kanak-kanak hingga saat ini, tak ada kata lain yang bisa kuucapkan selain kata syukur.  Apa yang selama ini kualami sungguh merupakan anugerah.  Terangnya anugerah, demikian juga gelapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2008, sekali lagi, adalah tahun yang bisa dibilang paling penting dalam hidupku, karena pada tahun inilah, hadir satu momen yang membuat dirikuu mulai tersambung dengan masa lalu.  Aku mulai bisa menguak jatidiri, menemukan siapa sesungguhnya diriku.  Sebelumnya, bisa dibilang aku adalah sosok yang kehilangan jatidiri, terombang kesana kemari.  Beberapa kegemilangan yang pernah kuraih, dalam kondisi itu, menjadi tidak kokoh karena ia berdiri di atas fondasi yang rapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa yang kumaksud dengan jatidiri, yang pada kasusku menjadi demikian penting itu?  Bagiku, salah satu dimensi dari jatidiri adalah akar budaya: seseorang selalu punya akar tradisi, falsafah, cara hidup, yang memandunya dalam berpikir, bertindak, melangkah.  Sebagai manusia yang lahir di Tanah Jawa, dari keluarga Jawa, maka akar budayaku itu tentu saja budaya Jawa.  Budaya Jawalah adalah perekat manusia Jawa dengan semesta di mana mereka hidup.  Itulah yang membuat manusia Jawa bisa hidup dalam harmoni, selaras, dengan langit, dengan tanah yang mereka pijak, dengan Ibu Pertiwi, dan para leluhur yang sesungguhnya senantiasa hadir bersama kita walau tak bisa kita lihat dengan mata biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang manusia Jawa terputus dari akar budaya itu, jelas ia akan terpisah pula dengan semesta di mana dia hidup.  Ia tak akan lagi hidup selaras dengan alam, karena perekatnya tak ada.  Pada skala individu, ketidakselarasan itu ditandai dengan kehidupan yang jauh dari kedamaian dan berkah.  Segala sesuatunya seperti menjadi serba salah, serba sulit, hidup menjadi penuh prahara.  Pada skala komunitas, itu mewujud dalam kehidupan sosial yang senantiasa penuh gonjang ganjing, dan diwarnai dengan bencana tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, seiring dengan kesadaran baru yang telah muncul di dalam diri, saya mulai menata hidup dengan lebih mantap.  Visi besar telah saya canangkan, agar hidup ini benar-benar bermakna.   Harapanku adalah, bahwa ketika kelak sukmaku berpisah dengan raga, aku bisa berkata kepada Gusti Allah Ingkang Akaryo Dumadi, bahwa aku telah memberikan yang terbaik dalam hidupku, sebagai pertanggungjawaban atas segenap anugerah-Nya yang tak pernah putus untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri, telah menemukan makna terdalam dari semua peristiwa dalam hidupku, termasuk pahit getir yang sekian lama kurasakan.  Makna yang kutangkap itu persis seperti yang disampaikan oleh kerabat dan salah satu guruku, Kang Sabdalangit:  “Kadang maksud suatu peristiwa sulit dipahami. Sekarang panjenengan tahu maksudnya kenapa dulu terjadi peristiwa tidak mengenakkan. Ternyata panjenengan sedang menjalani laku DUWE RASA ORA DUWE RASA DUWE, dan secara perlahan saat ini mulai tampak hasilnya. Lama kelamaan suket godhong akan dadi rewang. Semua kepahitan itu hanyalah untuk menggiring panjenengan agar menjalani sebuah perjalanan spiritual dengan laku prihatin, napak tilas, berbakti kepada para leluhur, sebagai wujud memahami SANGKAN PARANING DUMADI. Perjalanan tersebut merupakan syarat utama bilamana seseorang akan mendapat anugrah agung.   Seseorang itu harus  berbakti kepada orang tua dan para leluhurnya, barulah pintu kemudahan, berkah, rejeki menjadi terbuka lebar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, aku bersiap menyongsong kehidupan sejati, yang penuh berkah dan damai.  Kusajikan dalam buku ini, butir-butir pencerahan yang kudapatkan pasca pengembaraanku selama 8 hari itu, setelah aku mulai intensif mendengarkan suara hatiku, sabda Sukma Sejatiku.  Kuajak para pembaca, pada kesejatian, keberkahan dan kedamaian itu, yang kini telah mulai kurasakan.  Selamat membaca.  Rahayu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-1968636585586766682?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/1968636585586766682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=1968636585586766682' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/1968636585586766682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/1968636585586766682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/08/momen-titik-balik-4.html' title='MOMEN TITIK BALIK (4)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-1934472002544800763</id><published>2010-08-11T07:17:00.001-07:00</published><updated>2010-08-11T07:17:40.169-07:00</updated><title type='text'>MOMEN TITIK BALIK (3)</title><content type='html'>Pelajaran Penting tentang Menaklukkan Kesulitan Hidup&lt;br /&gt;Uang di kantong tersisa Rp 3.500 rupiah.  Jarak Selo ke rumah Paklikku di Kota Magelang sekitar 45 kilo.  Jika naik kendaraan uang yang tersisa itu jelas tak cukup.  Apa yang harus kulakukan supaya sampai ke sana?  Tak kutemukan jawaban, tapi ada dorongan dari dalam hati agar aku terus berjalan.  Setelah berjalan beberapa lama, kulihat ada mobil pickup yang melintas.  Di baknya ada beberapa ibu yang membawa bakul, mungkin mau ke pasar, atau ke sawah.  Kuacungkan tanda ingin menumpang.  Syukurlah pickup itu berhenti.  Lumayan, aku bisa melanjutkan perjalanan tanpa perlu bersusah payah, sembari melihat keindahan yang terhampar di kanan kiri.  Hatiku sumringah, menikmati momen kehidupan yang demikian menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tak lama kemudian aku kembali harus berjuang keras menaklukkan tantangan.  Mobil itu tak terus ke Kota Magelang, aku harus turun di satu tempat yang jaraknya masih sekitar 25 km dari Kota Magelang.  Aku turun, mengucapkan terima kasih sembari memberikan semua uang yang ada di kantong kepada pemilik mobil pickup itu, seorang lelaki berusia sekitar 50-an tahun dan berpeci putih.  Lalu akupun berpikir keras, bagaimana aku bisa sampai ke Kota Magelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucoba untuk mencari tumpangan, seperti tumpangan yang kudapatkan di Selo.  Namun kali ini tak ada yang mau berhenti.  Setelah berkali-kali usaha mencari tumpangan tak kunjung berhasil, aku bertanya kepada kedalaman jiwaku, apa maksud semua ini?  Apakah Tuhan memang ingin aku berjalan kaki saja karena Dia akan memberiku pelajaran lewat itu?  Aku dapatkan ilham untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.  Jadi kuhentikan usaha mencari tumpangan, dan kuniatkan berjalan kaki sampai Kota Magelang.  Toh 25 km bukan jarak yang terlalu jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perjalananpun kumulai.  Langkah demi langkah kuayunkan.  Desa demi desa kulintasi.  Lama-lama, badan ini letih juga.  Ternyata, untuk orang yang tak terbiasa, berjalan sejauh 25 km itu bukan hal yang mudah.  Sungguh berat.  Badanku tak hanya letih, tapi juga mulai merasakan nyeri.  Tapi, justru pada situasi inilah pelajaran-pelajaran berharga itu kudapatkan.  Aku mendapatkan pelatihan yang sangat nyata tentang bagaimana bisa menaklukkan kesulitan dan penderitaan, bahkan menikmati hidup di kala sulit dan penuh derita.  Kunci untuk melampaui kesulitan dan penderitaan yang menghadang di tengah perjalanan hidup kita adalah tumbuhnya spirit pantang menyerah, dan berseminya keyakinan bahwa kita pasti sampai ke tujuan.  Ya, bahkan aku belajar untuk bisa menikmati rasa sakit, penderitaan, yang niscaya kita jumpai dalam perjalanan kehidupan.  Muncul kesadaran bahwa sebetulnya peristiwa-peristiwa di mana kita menderita, adalah momen-momen penting untuk memoles jiwa agar menjadi kian bening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang sempat hampir menyerah, karena rasanya badan ini sudah sulit sekali untuk digerakkan.  Tapi, kulakukan semua cara untuk membuat badanku terus bisa bergerak dan kakiku bisa terus melangkah.  Berzikir, menyemangati diri, dan sesekali mengaso.  Kuyakinkan pada diri sendiri bahwa aku pasti bisa sampai ke rumah, aku pasti kuat!  Dan aku memang kuat.  Apalagi, memasuki Kota Magelang, hujan turun mengguyur.  Itu jelas menambah kekuatan karena dengan berhujan-hujanan tubuhku menjadi segar kembali.  Dan akhirnya, aku memang sampai ke rumah Paklikku di Kampung Pongangan, Kelurahan Gelangan, Kota Magelang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, setelah kurenungkan pada saat ini, peristiwa berjalan kaki sejauh 25 km itu, adalah sebuah pelatihan penting untuk menanamkan pola pantang menyerah pada diriku, menyempurnakan pelatihan yang telah kujalani sepanjang hidupku sebelumnya.  Kini, jika kesulitan datang menghadang, aku selalu bisa mengatakan pada diriku sendiri, bahwa aku pasti bisa mengatasinya.  Lebih dari itu, rupanya pola pantang menyerah itu memang telah mendarah daging.  Sehingga tanpa banyak dipikirpun, aku selalu siap menghadapi kesulitan seperti apapun.  Alam bawah sadarku seolah menegaskan, sebagaimana kesulitan bisa ditaklukkan pada masa lalu, demikian pula pada masa kini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-1934472002544800763?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/1934472002544800763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=1934472002544800763' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/1934472002544800763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/1934472002544800763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/08/momen-titik-balik-3.html' title='MOMEN TITIK BALIK (3)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-2377500557517581774</id><published>2010-08-11T07:15:00.001-07:00</published><updated>2010-08-11T07:15:42.376-07:00</updated><title type='text'>MOMEN TITIK BALIK (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Napak Tilas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam menemukan akar dan jatidiri, mau tidak mau kita memang harus menengok pada masa lalu.  Demikianlah, kukatakan pada diriku sendiri, aku harus menemukan diriku dengan menyibak misteri tentang asal muasalku.  Secara biologis, orang tua adalah asal muasal kehidupan kita.  Ditarik mundur ke belakang hingga sejauh-jauhnya, kita akan bertemu dengan mata rantai orang tua yang menjadi perantara keberadaan kita di muka bumi.  Secara kolektif, mereka kita sebut sebagai leluhur.  Sepatutnyalah setiap orang mengakui fakta ini, dan coba mengenal siapa saja leluhur yang menjadi perantara kehadirannya di muka bumi.  Lebih jauh lagi, sepatutnya pula ia menunaikan bakti kepada mereka semua, sebagai wujud terima kasih dan penghormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari diagram silsilah yang ada di rumah Pak Dhe-ku, aku mengetahui siapa saja leluhurku dari garis ayah hingga beberapa generasi ke belakang.  Akupun menjadi tahu makam beberapa leluhurku, tersebar mulai dari Kota Magelang, Prapag -Temanggung hingga Kota Gede – Jogjakarta.  Maka kuniatkan untuk menapaktilasi jejak kehidupan para leluhurku dengan menziarahi tempat-tempat di mana jasad para leluhurku itu dikebumikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mulai dari Kota Magelang, di situ kuziarahi makam kakekku Raden Supaat Sukandar Mangundirjo, nenekku Raden Nganten Surati Mangundirjo, juga buyutku Raden Mangundirjo.  Di Prapag – Temanggung, kuziarahi makam leluhurku generasi keempat dan kelima ke belakang, yaitu Raden Ronggo Mangundirjo, Wedana di Bandongan pada abad 19, juga ayah beliau, Kyai Ronggo Pronodirjo, salah satu pemimpin pasukan Pangeran Diponegoro yang sedha (meninggal) ketika terjadi pertempuran dengan pasukan Belanda di kawasan yang kini disebut sebagai Prapag, di Temanggung.  Sayangnya, ada satu leluhur yang terlewat karena tak kudapatkan informasi di mana makamnya, yaitu Raden Mangunsentiko, pamong praja di Secang, Kabupaten Magelang, putera dari Raden Ronggomangundirjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menziarahi makam demi makam itu, seperti menghadirkan energi baru.  Aku merasa tak sendiri lagi.  Muncul kesadaran bahwa kehadiranku di muka bumi ini, terletak pada sebuah garis keberadaan umat manusia yang sambung menyampung, dari generasi ke generasi, yang ikatannya adalah kesamaan darah yang mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulanjutkan penziarahanku, ke komplek Pemakaman Kotagede di Yogyakarta, dengan fokus ziarah ke makam Sultan Sepuh Hamengkubuwono II yang fotonya terpampang di dinding rumah salah satu Budhe-ku di Muntilan.  Belilaulah salah satu leluhur yang menjadi cikal bakal keberadaanku, dari garis puteranya yang ke-78, yaitu Pangeran Timur.  Ya, beliau memang terkenal sebagai salah satu raja Jawa yang paling banyak anak keturunannya, sekaligus juga paling banyak garwa (istri)-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kota Gede inilah, pertama kali dalam hidupku, aku mengenakan pakaian adat Jawa (Ini memang agak konyol terdengarnya, tapi demikianlah faktanya).  Karena memang untuk masuk ke Komplek Pemakaman Kota Gede harus memakai pakaian tersebut.  Di sini, coba kuheningkan diriku, kuusahakan diriku tersambung dengan ruh leluhurku.  Coba kutemukan akar diriku, sekaligus kusibak jejak leluhurku pada raga dan kehidupanku.  Dan kudapatkanlah sejumput energi baru, yang membuatku makin siap menyongsong masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kusampaikan, bahwa perjalanan sampai ke Kota Gede, tidak terlampau mudah.  Aku sempat tersasar dulu ke Imogiri, dan kehabisan ongkos.  Aku sampai ke Kota Gede karena ada kuncen di Imogiri yang berkenan mengantarku.  Dan berkat jasa baik seorang sahabat di Yogya, aku juga bisa melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jogjakarta, kulanjutkan perjalanan ke Solo, bertemu dengan beberapa kerabatku.   Lalu kuputuskan untuk meneruskan perjalanan ke Selo, menziarahi makam Ki Ageng Kebo Kanigoro, sesuai petunjuk Romo Pujiyono.  Di sinilah aku mendapatkan pengalaman bathin yang luar biasa berharga, yang menjadi landasan diriku menjadi lebih kuat menyongsong masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selo adalah nama sebuah Kecamatan di Kabupaten Boyolali.  Ia diapit dua gunung, yaitu Gunung Merapi dan Merbabu.  Saat aku tiba di sana, hari sudah menjelang senja.  Udara terasa dingin, hujan rintik-rintik, dan kabut menyaput tebal.  Menggetarkan!  Mungkin bisa dibilang berlebihan, tapi aku memang merasa memasuki kawasan dan suasana yang demikian indah, mempesona, menghanyutkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun dari bus, kulangkahkan kakiku untuk mendekati makam Ki Ageng Kebo Kanigoro.  Kususuri jalan-jalan desa yang masih membiaskan suasana Jawa kuno.  Akhirnya, ada yang menyarankan agar aku terlebih dahulu menemui Carik atau Sekretaris Desa yang bertanggung jawab secara administratif terhadap bangunan makam Ki Ageng Kebo Kanigoro.  Akhirnya kutemukan rumah Pak Carik, tapi yang bersangkutan sedang tidak ada di rumah.  Namun, aku dapatkan apa yang kutuju.  Setelah menikmati segelas teh manis hangat yang disuguhkan istri dari Carik desa itu, aku diperkenalkan dengan Mbah Tarso, sosok sepuh berusia sekitar 70 tahunan yang akan menjadi pemanduku untuk menziarahi makam Ki Ageng Kebo Kanigoro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantar oleh Mbah Tarso, mulai kumasuki kawasan makam Ki Ageng Kebo Kanigoro.  Aku melintasi beberapa dukuh, berpapasan dengan bapak-bapak dan mbok tani yang baru pulang dari sawah.  Saat itu gelap mulai membayang, hujan masih rintik-rintik, kabutpun masih cukup tebal, menghadirkan suasana yang demikian mistis!  Jiwaku larut, seperti dilemparkan ke masa silam.  Sungguh pengalaman tak terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makam Ki Ageng Kebo Kanigoro dikelilingi oleh pohon-pohon yang besar dan menjulang tinggi.  Dari cerita Mbah Tarso, aku menjadi tahu bahwa makam ini sering menjadi tempat tirakat para Sultan Jogjakarta.  Di komplek makam ini, selain ada bangunan utama makam, terdapat kamar mandi tempat penziarah berwudu, dan ruang tempat tirakat.   Dari buku tamu, aku menjadi tahu, banyak juga pengunjung makam ini, berbagai kalangan dan lapisan masyarakat, dari berbagai daerah, dengan berbagai tujuan.  Fakta demikian mungkin tak mengherankan jika kita membaca sejarah Ki Ageng Kebo Kanigoro.  Beliau adalah putera dari Adipati Andayaningrat, Adipati Pengging yang menikahi Ratu Pembayun, puteri dari Prabu Brawijaya VII, raja Majapahit terakhir.  Pada zamannya, Ki Ageng Kebo Kanigoro dikenal sebagai tokoh dari trah atau keturunan raja Majapahit yang mencoba mempertahankan eksistensi kerajaan yang pernah besar itu, dari upaya pembumihangusan secara politik dan budaya, oleh Kesultanan Demak yang dipimpin Raden Fatah.  Adik Ki Ageng Kebo Kanigoro adalah Ki Ageng Kebo Kenongo, yang dikenal juga sebagai Adipati Pengging penerus Adipati Andayaningrat sekaligus murid utama Syeikh Siti Jenar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad 15 Masehi, memang menjadi salah satu titik krusial perjalanan Nusantara.  Majapahit yang pernah demikian jaya, saat ini memasuki masa keruntuhannya.  Momen itu disimbolkan oleh kalimat Sirna Ilang Kertaning Bumi.  Namun yang terjadi memang bukan sekadar runtuhnya sebuah kerajaan.  Tapi juga bagaimana agama baru, yaitu Islam, dengan segenap pranatanya, tengah coba menggantikan agama lama, Hindu-Budha.  Komunitas-komunitas Muslim yang semula bertempat tinggal di Pesisir dan diberi hak hidup oleh raja-raja Majapahit, termasuk Prabu Brawijaya VII, terus berkembang hingga menjadi kekuatan politik tersendiri.  Hingga pada satu titik, sebagaimana digambarkan dalam Serat Darmagandul, komunitas Muslim yang dipimpin oleh Raden Fatah (Jin Bun), yang sebetulnya adalah putera Prabu Brawijaya VII sendiri dari istrinya yang bernama Retno Subanci asal Kerajaan Campa, mengambil alih kekuasaan dari sang ayah melalui penyerbuan ke pusat kerajaan.  Bermodalkan ratusan ribu balatentara dan dukungan dari beberapa Adipati di Pesisir Jawa yang telah menjadi Muslim, plus dukungan dari para tokoh agama seperti Sunan Giri dan Sunan Benang sebagai motivator utama, Raden Fatah akhirnya mengukuhkan diri sebagai penguasa.  Maka Kesultanan Demak berdiri, di atas puing-puing Kerajaan Majapahit yang runtuh.  Tak sampai di situ, proses Islamisasipun kemudian menjadi massif karena didukung oleh mesin kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Ki Ageng Kebo Kanigoro adalah sosok kesatria keturunan Majapahit yang hatinya tidak rela terhadap fenomena penyebaran agama Islam yang berkait kelindan dengan hasrat penaklukan politik dan perluasan wilayah kekuasaan.  Iapun menjadi simbol perlawanan; ia tak pernah mau takluk kepada Sultan Demak.  Apalagi, ia sendiri merasa trahnya lebih kuat dibandingkan Raden Fatah.  Dan sebaliknya, Raden Fatah dan para politisi Demak sendiri memperhitungkan bahwa Ki Ageng Kebo Kanigoro adalah salah satu musuh politik yang potensial karena statusnya sebagai salah satu cucu Prabu Brawijaya – oleh karena itu juga harus ditaklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selo, menjadi tempat Ki Ageng Kebo Kanigoro melindungi diri dari kejaran pasukan Demak, dan di sini pula, ia mengakhiri kisah hidupnya di alam fana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali bicara soal makam Ki Ageng Kebo Kanigoro, yang melekat kuat di benakku adalah betapa makam ini memang membetot rasaku.  Secara visual makam ini memang sangat indah.  Dilatari landscape Gunung Merapi dan Merbabu yang berdiri kokoh, dikelilingi pohon-pohon yang tinggi menjulang, dan berlantaikan tanah berlumut hijau yang karena tebalnya mirip dengan karpet berwarna hijau.  Suasana sore hari yang mulai gelap, dan sunyi, menjadi penguat getaran mistis yang memasuki relung jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipandu Mbah Tarso, kumasuki alam hening dan sunyi.  Coba kuhubungkan jiwaku dengan arwah Ki Ageng Kebo Kanigoro.  Kujalin komunikasi batin, kulantunkan beberapa bait doa.  Sejak saat itu, terhubunglah diriku dengan sebuah rasa yang terus menguat.  Sebuah rasa menyatu dengan para leluhur di Tanah Jawa: rasa, spirit, semangat, kehendak, untuk menghidupkan kejayaan masa lalu, meneruskan karya yang belum tuntas, membangun negeri gemah ripah loh jinawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tuntas proses penziarahan di makam Ki Ageng Kebo Kanigoro, aku berpamitan dengan Mbah Tarso untuk melanjutkan perjalanan.  Mengikuti insting, aku bertanya kepada Mbah Tarso, kyai mana yang kira-kira bisa kujumpai.  Mbah Tarso menyebut sebuah nama: Kyai Makmuri.  Maka, kulangkahkan kakiku meniti jalan menuju rumah kyai tersebut, mengikuti rute yang ditunjukkan Mbah Tarso.  Hujan masih rintik-rintik.  Uang di kantong nyaris habis.  Hari mulai gelap.  Tapi, sebuah dorongan semangat membuat aku terus bergerak maju.  Setelah memeras seluruh energi, melawan rasa dingin, juga rasa takut karena harus melewati beberapa bukit yang sunyi, sepi dan gelap, aku akhirnya sampai di rumah Kyai Makmuri.  Dari makam Ki Ageng Kebo Kanigoro, jarak rumah Kyai Makmuri ternyata sekitar 3 km.  Dekat buat para petani Selo yang biasa berjalan kaki, namun jelas lumayan jauh untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, di situ, di pesantren sederhana yang dihuni beberapa santri, aku bisa bertemu Kyai Makmuri.  Lebih kusyukuri lagi, aku diterima dengan baik dan dijamu dengan sepiring nasi plus mie instan rebus yang hangat.  Sederhana, tapi sangat berarti.  Tak hanya itu, akupun mendapatkan nasihat tentang bagaimana aku bisa memperbaiki hidupkupun kudapatkan.  Selesai berdiskusi, akupun dipersilakan tidur di salah satu kamar santri.  Malam itu, kulalui dalam damai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari, badanku segar kembali, maka akupun berpamitan kepada Kyai Makmuri.  Tak lupa, Kyai Makmuri menyebutkan beberapa tempat yang bagus untuk diziarahi.  Di Selo, ada makam Ki Hajar Saloko, murid dari Syeikh Subakir yang merupakan salah satu perintis dakwah Islam di Tanah Jawa.  Berikutnya, adalah petilasan Syeikh Subakir sendiri di Gunung Tidar, Kota Magelang.  Juga Makam Gunung Pring di Muntilan, tempat di mana para leluhur kyai-kyai di Pesantren Krapyak dimakamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuikuti saran Kyai Makmuri.  Kuziarahi makam Ki Hajar Saloko, yang bentuknya hanya seonggok pasir.  Beberapa bait doa terlantun, dan silaturahmi di alam batinpun terjalin.  Setelah selesai di sini, kulanjutkan perjalanan.  Pagi itu sangat cerah.  Hatikupun penuh semangat.  Semua terpampang indah.  Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, demikian mempesona dengan sosoknya yang kehijauan dan terlihat sangat kokoh, dengan latar langit biru yang bersih.  Semburat cahaya matahari, membuat semuanya jadi berkilau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-2377500557517581774?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/2377500557517581774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=2377500557517581774' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2377500557517581774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2377500557517581774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/08/momen-titik-balik-2.html' title='MOMEN TITIK BALIK (2)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-3884420432657954154</id><published>2010-08-11T07:13:00.000-07:00</published><updated>2010-08-11T07:14:25.223-07:00</updated><title type='text'>MOMEN TITIK BALIK (1)</title><content type='html'>Kisah Awal &lt;br /&gt;Cirebon, suatu pagi di bulan April 2008.  Ketika itu, fajar mulai menyingsing.  Langit yang semula gelap pekat, mulai menyemburatkan segaris terang.  Kulangkahkan kakiku, mengikuti dorongan hatiku yang paling dalam.  Ya, dari kedalaman hati, memang mengalun lembut bisikan untuk mengambil sebuah keputusan berat: “Sudah saatnya aku mengembalikan semua yang selama ini kurasa sebagai milikku, kepada Sang Pemilik sejati!”  Setelah bertahun-tahun aku merasakan hidup yang demikian menghimpit, memang telah tiba saatnya mengakhiri semua itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pernah kubayangkan, ternyata kehidupan yang menghimpit itu justru berakar di rumah..terkait dengan belahan jiwaku sendiri.  Kepahitan, derita, serta beragam kesulitan yang pada tingkatan terdalamnya sempat mengantarku pada jurang keputusasaan, tragisnya, memang berhubungan dengan kian memburuknya rumah tanggaku.  Rumahku telah menjadi penjara bahkan neraka bagiku!  Dan sejujurnya...aku ingin segera meluluhlantakkannya!  Aku ingin keluar dari segenap penderitaan yang sesungguhnya konyol ini....pada faktanya, aku memang sudah tak tahan lagi!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, selama ini...aku memang sangat khawatir kepada nasib anak-anaku jika bahtera yang selama ini menjadi wahana bagi anak-anakku dalam melewati samudera kehidupan harus karam.  Seburuk apapun rumah tanggaku, ia masih bisa menjadi tempat bernaung bagi anak-anakku...tempat mereka masih bisa menikmati sejumput kasih sayang.   Aku tak bisa bayangkan....jika anak-anakku mesti kehilangan ayahnya, atau ibunya, semata-mata karena ketidaksabaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu...ada kemantapan dari kedalaman hatiku untuk memulai sebuah perubahan.  Kulangkahkan kakiku ke luar rumah.  Sejuknya udara pagi hari, menemani awal perjalananku untuk menemukan pintu gerbang kebahagiaan.  Kudengar bisikan dari dalam hatiku...bahwa aku mesti mulai mencarinya di tanah kelahiranku: Magelang!  Maka...setelah berpamitan kepada orang tua dan mertuaku di Bekasi, memang ke sanalah akhirnya aku bawa diriku.  Meninggalkan istri dan anak-anakku di rumah.  Saat itu, sembari melangkahkan kakiku menjauhi rumah, dalam relung jiwaku kuucapkan dengan penuh kesungguhan serangkaian suara hati: “Wahai Tuhanku...kini kukembalikan semua yang sempat Engkau titipkan kepadaku.  Kupasrahkan istri dan anak-anakku kepada-Mu.  Engkaulah Sang Pemilik Sejati.  Engkaulah Dzat Pemberi Kehidupan.  Tanpa keberadaanku, jika Engkau kehendaki istri dan anak-anakku hidup, mereka pastilah bisa hidup.  Aku benar-benar pasrah.  Ijinkan aku untuk berkelana, menemukan sesuatu yang selama ini sungguh-sungguh kurindukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Petunjuk Awal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, orang yang pertama terlintas di benakku untuk aku kunjungi adalah Pak Dhe-ku di Muntilan, yang berjarak 13 km dari Kota Magelang.  Ia seorang dalang di Keraton Yogyakarta, yang dikenal dengan julukan Romo Siwi.  Mungkin karena memang Pak Dhe-ku itu yang aku duga paling tahu silsilah keluarga, dan pada saat yang sama, aku tiba-tiba didera kerinduan untuk mengetahui siapa sesungguhnya leluhurku.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah Pak Dhe-ku itu, pertama, kutemukan silsilah keluargaku.  Kedua, aku memperoleh kisah tentang keyakinan yang dipilih Kakek dan Nenekku dari pihak ayah.  Beliau berdua, sebagaimana Pak Dhe-ku itu, adalah penghayat ajaran Adam Ma’rifat, yang kemudian pada masa pemerintahan Gus Dur berubah nama menjadi Agama Pransuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, saat itu, sedang ada asisten Pak Dhe-ku dalam memproduksi wayang kulit.  Ia biasa disebut Romo Pujiyono, dan tercatat sebagai salah satu pengurus di Balai Suci Agama Pransuh di Muntilan.  Maka, untuk memenuhi rasa ingin tahuku tentang agama yang dipeluk oleh Kakek dan Nenekku, aku mohon ijin agar bisa bermukim di Balai Suci Pransuh barang satu dua malam, sembari berdiskusi dengan Romo Pujiyono.  Yang pasti, penampilan bersahaja Romo Pujiyono sendiri sangat mengesankan untukku.  Terlebih, akupun kemudian tahu bahwa sehari-hari ia memilih vegetarian sekaligus membiasakan “puasa mutih”, dengan hanya menyantap makanan yang tak berasa, baik rasa asin maupun manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, begitu sore menjelang, aku mengikuti Romo Pujiyono ke Balai Suci Pransuh, yang jaraknya sekitar 3 km dari rumah Pak Dhe-ku.  Malam itu kulewati dengan diskusi yang hangat plus perenungan panjang.  Dari diskusi dengan Romo Pujiyono, kudapatkan wawasan baru tentang sebuah agama lokal, yang dirintis oleh Romo Pransuh.  Sejauh kurujukkan dengan berbagai pengetahuan yang kumiliki, maka ajaran Agama Pransuh itu merupakan sintesis dari tradisi Kejawen, Sufisme, dan Hindu-Budha.  Sekalipun tentu saja, dari sudut pandang yang lain, bisa dinyatakan bahwa Agama Pransuh adalah sebuah agama yang independen dan genuine.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Pransuh, menurut penuturan Romo Pujiyono juga Pak Dhe-ku, adalah buah perjalanan ruhani Romo Pransuh, yang saat itu merupakan bagian dari keluarga istana, dan merasa prihatin karena kalangan istana tampaknya “terjajah” oleh rasa takut kepada oleh makhluk-makhluk ghaib.  Dikisahkan bahwa Romo Pransuh  mencoba menguak hakikat keghaiban yang seolah memenjara pikiran kalangan Istana, dengan pertama-tama mendatangi Pantai Laut Selatan.  Tapi di sana ia tak mendapatkan apa yang dicari.  Iapun teruskan mengelana ke Gunung Merapi.  Di sanalah ia bertemu dengan sosok yang ia persepsi sebagai Idajil, sosok raja kegelapan.  Pertempuran terjadi, yang diakhiri dengan kemenangan Romo Pransuh.  Peristiwa ini menjadi titik balik perjalanannya sebagai seorang perintis jalan spiritual made in Jawa: sejak saat itu ia sering menerima “wahyu” yang kemudian diformulasikan menjadi ajaran Adam Ma’rifat (Pransuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap penganut Agama Pransuh didorong untuk bisa bertemu dengan sukma sejatinya – dan inilah yang disebut dengan peristiwa ma’rifat.  Dalam hal mencapai ma’rifat inilah, berbagai laku prihatin harus dijalankan secara konsisten dan terus menerus.  Laku prihatin itu mencakup mengurangi makan,minum, dan berbagai kenikmatan badani lainnya.  Juga meliputi praktek berbuat baik kepada sesama makhluk.  Selain itu, Agama Pransuh memiliki ritual seperti wudhu dan shalatnya kaum Muslimin, yang biasa dilaksanakan di dalam Balai Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang sangat kuhargai, bahwa Romo Pujiyono tidak mengklaim sebagai pemilik tunggal kebenaran.  Ia memilih jalan Pransuh karena memang demikianlah panggilan jiwanya, karena itulah yang ditunjukkan akal budi dan nuraninya.  Tapi pada saat yang sama, dia menghormati mereka yang memilih jalan lain.  Tak ada klaim bahwa surga adalah semata-mata milik pemeluk Pransuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam kuhabiskan waktu di Balai Suci Pransuh.  Hati nuraniku membisikkan bahwa aku harus terus berjalan.  Sekalipun Kakek dan Nenekku penganut Pransuh, aku merasa bahwa aku tak mesti mengikuti beliau-beliau itu secara lahiriah.  Aku merasa tak perlu berganti baju agama.  Dan memang bukan itu jawaban yang aku cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kulanjutkan perjalanan.  Berdasarkan penjelasan mengenai silsilah keluarga, aku mulai merancang agenda napak tilas, dengan mengunjungi makam-makam leluhurku: Magelang, di mana di situ dimakamkan Kakek, Nenek dan Buyutku, lalu Prapag – salah satu desa di Temanggung,  di mana juga dimakamkan beberapa leluhurku, dan tak lupa, Kota Gede, di mana disitu dimakamkan Sultan Hamengkubuwono II, Panembahan Senapati, dan berbagai leluhur lainnya.  Sementara berdasarkan petunjuk dari Romo Pujiyono, akupun mencatat salah satu tempat ziarah yang harus kukunjungi: Makam Ki Kebo Kanigoro di Selo, Boyolali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-3884420432657954154?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/3884420432657954154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=3884420432657954154' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/3884420432657954154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/3884420432657954154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/08/momen-titik-balik-1.html' title='MOMEN TITIK BALIK (1)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-443321268305269467</id><published>2010-07-26T22:54:00.000-07:00</published><updated>2010-07-26T22:55:24.034-07:00</updated><title type='text'>JALAN MENUJU PUNCAK RUHANI</title><content type='html'>Telah pernah kita bahas, bahwa pertanda kita telah mencapai puncak perjalanan ruhani adalah manakala kita telah menemukan kesadaran akan kemanunggalan segala wujud sebagai tajalli, manifestasi, penampakan Dzat Yang Maha Suci. Rasa kita melebur dalam cahaya terang benderang yang memancar dari Sang Sukma Sejati. Hati menjadi damai sekaligus bergelora karena pertemuan dengan Sang Kekasih yang dirindui sekaligus merindui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang telah sampai puncak itu digambarkan sebagai berikut: “ Dene awas tegesipun, weruh waranane urip, miwah wisesaning tunggal, kang atunggil rina wengi, kang mukitan ing sakarsa, gumelar alam sakalir.” Mereka yang telah waspada , telah dengan jelas mengetahui rahasia kehidupan, tirai kegaiban telah terbuka. Ia menyaksikan Sang Maha Hidup di balik segenap gerak kehidupan, Wujud Yang Mahatunggal meliputi segalanya. Dia yang menggerakkan segalanya dan mewujudkan segenap kehendak, maka terhamparlah segala peristiwa alam semesta.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, bagaimanakah jalan untuk menggapainya? Di dalam Serat Wedhatama dipaparkan banyak nasihat kepada mereka yang berhasrat menggapai puncak perjalanan ruhani. “Marma den taberi kulup, angulah lantiping ati, rina wengi den anedya pandak-pandukung pambudi, mbengkas kardaning driya, supaya dadya utami.” Artinya adalah, “Oleh karena itu jadilah engkau manusia yang rajin dan tekun, anakku. Belajarlah untuk menajamkan perasaan. Lakukan itu siang dan malam. Tundukkan nafsu diri. Agar engkau menjadi manusia utama”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pangasahe sepi samun, aywa esah ing salami, samangsa wis kawistara, lalandhepe mingis-mingis, pasah wukir reksamuka, kekes srebedaning budi”. Cara memperdalam rasa itu adalah dengan banyak melakukan semedi atau meditasi, memasuki alam kesunyian dan keheningan. Jangan pernah berhenti. Kelak pasti rasamu tajam luar biasa, ia dapat mengiris-ngiris gunung penghalang. Maka, terkuaklah semua tirai itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, disampaikan nasihat yang tegas, “Aywa sembrana ing kalbu, wawasen wusiriki ing kono yekti karasa, dudu ucape pribadi, marma den sambudeng sedya wewesan praptaning uwis”. Janganlah sekali-kali hatimu lengah. Engkau pasti akan bisa merasakan bahwa apa yang muncul dari dalam hatimu itu bukanlah kata-katamu sendiri (yang bersumber pada keakuanmu), melainkan bisikan dari Sang Sukma Sejati, yang identik dengan Sabda Ilahi. Oleh karena itu, bertanggungjawablah. Perhatikan segala sesuatunya dengan cermat hingga tuntas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggapai kondisi batin demikian, tentunya tak bisa dilepaskan dari pendisiplinan diri. Cahaya Sang Sukma Sejati dan bisikan Tuhan yang mengalir lembut dari kedalaman hati, hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah terbiasa menundukkan keakuannya dan mengelola hawa nafsunya. Dipaparkan, “Simakna semanging kalbu, den waspada ing pangeksi, yeku dalaning kasidan, sinuda saka sathithik, pamothaning nafsu hawa, linalatiha mamrih titih.” Hilangkan keragu-raguan dan kesamaran di dalam hati. Buatlah hatimu menjadi mantap dan terang benderang. Caranya adalah dengan mengendalikan pandanganmu. Kurangi sedikit demi sedikit tuntutan hawa nafsumu. Latihlah agar sempurna, engkau bisa betul-betul selaras dengan kehendak Sukma Sejatimu! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aywa mamatuh nalutuh, tanpa tuwas tanpa kasil, kasalibuk ing sabeda marma dipun ngati-ati, urip reh rencananira, sambekala den keliling.” Jangan membiasakan diri berbuat aib atau keburukan. Karena itu tidak ada gunanya dan tak akan membawa hasil. Engkau malah akan terjerat rintangan, hijabmu dengan kenyataan sejati akan makin tebal. Bahkan hidupmupun akan penuh dengan masalah dan gangguan. Karena itu, segenap godaan harus diperhatikan agar engkau tidak terjebak di dalamnya. &lt;br /&gt;“Upamane wong lumaku, marga gawat den liwati, lamung kurang ing pangarah, sayekti karendhet ing ri, apese kasandhung padhas babak-bundhas anemahi. Lumrah bae yen kadyeku, atatamba yen wis bucik, duwea kawruh sabodhag, yen tan nartani ing kapti, dadi kawruha kinarya, ngupaha kasil lan melik.” Ibarat orang berjalan melintasi tempat berbahaya, apabila kurang perhitungan, tentulah tertusuk duri, paling tidak terantuk batu, akhirnya terluka. Yang demikian itu biasa, engkau bisa berobat setelah terluka. Namun, engkau harus tetap waspada dan penuh perhitungan agar engkau tidak jatuh terjerembab. Jangan sampai engkau punya banyak pengetahuan, tapi hatimu tak waspada, sehingga pengetahuan itu hanya dipergunakan untuk mencari isi perut dan untuk sekadar pamrih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, perjalanan menuju pencerahan ruhani di mana kebahagiaan abadi tersibak dan jiwa bertemu dengan jatidirinya, sungguh tidak mudah. Setiap orang yang berhasrat kepadanya, memang harus berjuang keras. Sebagaimana kita merindui dan ingin bertemu Sang Kekasih, sosok yang memikat hati, maka segenap perjuangan penuh kesungguhan mutlak harus dilakukan. Karena tak ada hal istimewa yang terlampau mudah didapatkan. Pertanda keistimewaan sesuatu adalah bahwa ia harus diraih melalui rangkaian pengorbanan. Agar Sang Kekasih hati bisa kita jumpai, kita harus menjemputnya dengan hati bening yang penuh cinta, dan itu hanya mungkin jika kita telah berkorban, menundukkan keakuan sehingga hati itu benar-benar bersih dari segenap kotor dan noda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah untuk menundukkan keakuan hingga tercapainya kebeningan hati, dipaparkan sebagai berikut: “Pamoting ujar iku, kudu santosa ing budi teguh, sarta sabar tawakkal legaweng ati, trima lila ambek sadu, weruh wekasing dumados”. Untuk melaksanakan petuah itu – agar sampai pada pencerahan sejati, maka engkau harus membuat dirimu penuh kedamaian. Perilakumu harus kukuh dalam kebenaran. Engkaupun harus sabar, tawakal, rela terhadap segenap yang kau hadapi dan kau terima, berjiwa lapang dilandasi kewelasasihan tanpa bata. Engkau menjadi seorang pandita – orang bijak – yang terpercaya, yang mengetahui muara dari hidup ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabaran tindak-tanduk, timindake lan sakadaripun, den ngaksama kasisipaning sasami, sumimpanga ing laku dur, ardaning budi kang ngrodon”. Engkau juga harus bertindak penuh kesabaran. Apa yang engkau lakukan itu bersahaja, dalam hal mencari kesenangan dunia engkau memilih untuk secukupnya saja, tidak berlebihan. Engkaupun harus lapang dada memaafkan sesama, serta menghindarkan diri dari tindakan tercela dan watak angkara murka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli Hakikat Palsu versi Ahli Hakikat Sejati &lt;br /&gt;Pada kehidupan sehari-hari, pasti ada juga orang yang mengaku-ngaku telah mencapai tahap sembah rasa dan mengetahui hakikat. Mereka mengaku sebagai kekasih Tuhan. Satu-satunya pihak yang Dia cintai. Padahal kenyataannya sungguh jauh mereka dari keadaan itu. Sosok-sosok yang demikian, digambarkan dalam tembang berikut: “Meloke yen arsa muluk, muluk ujare lir wali, wola-wali nora nyata, anggepe pandhita luwih, kaluwihane tan ana, kabeh tandha-tandha sepi”. Terlihat bila berbicara, muluk-muluk dan meninggikan diri agar dianggap waliyullah. Ia menganggap dirinya pendeta (ulama) hebat, padahal tak terbukti. Kehebatannya tidak ada, di dalam jiwanya kosong tak ada tanda-tanda makrifat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kawruhe mung ana wuwus, wuwuse gumaib-baib, kasliring thithik tan kena, mancereng alise gathik, apa pandhita antigakang mangkono iku kaki.” Pengetahuan orang yang demikian itu hanya di mulut saja. Kata-katanya digaib-gaibkan. Dibantah sedikit saja ia tidak mau. Mata membelalak, alisnya menjadi satu pertanda amarah tak terkendali. Yang seperti itu anakku, adalah pendeta (ulama) palsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli hakikat sejati, mereka yang telah makrifat, bisa diketahui dari paras wajah, tindakan, dan aura bathinnya. Kebajikan memancar dari kedalaman jiwanya, menghadirkan kesejukan dan keteduhan kepada segenap makhluk. Dipaparkan dengan jelas dalam tembang berikut: &lt;br /&gt;“Mangka ta kang aran laku, lakune ngelmu sejati, tan dahwen pati openan, tan panesten nora jail, tan njuringi ing kaardan, amung eneng mamrih ening.” Padahal, prasyarat menguasai ilmu sejati itu, adalah tidak membiarkan diri dikuasai iri dan dengki, tidak mudah marah dan jahil, tidak melampiaskan hawa nafsu. Mereka yang telah makrifat, diam, tenang, syahdu, hening. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaunang ing budi luhung, bangkit ajur ajer kaki, yen mangkono bakal cikal, thukul wijining utami, nadyang bener kawruhira yen ana kang nyulayani.” Mereka itu tersohor berbudi luhur. Pandai bergaul dengan siapapun, anakku. Di dalam dirinya tumbuh jiwa manusia sempurna. Ia tetap rendah hati ketika ada yang menyelisihinya, walau ia telah menguasai pengetahuan sejati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, selanjutnya menjadi tugas kita untuk menentukan jalan mana yang kita tempuh: apakah jalan pengetahuan sejati, atau jalan pengetahuan yang penuh kepalsuan. Dewasa ini, kadang pengetahuan sejati ini dinistakan, bahkan dianggap sebagai kesesatan. Sebaliknya jalan yang penuh kepalsuan malah diagung-agungkan, dan para tokohnya dipuja laksana kekasih Tuhan. Dengan jernih kita memilih, memilih sesadar-sadarnya apa yang terbaik agar kita bisa kembali ke asal. Walau sendiri di jalan ini, itu lebih baik. Karena yang terpenting adalah hadirnya cahaya hangat dari Sang Kekasih sepanjang perjalanan yang kita lalui, dan di akhir perjalanan, kita bisa bertemu dengan Sang Kekasih itu. Tak ada yang lebih berharga daripada itu. Rahayu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-443321268305269467?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/443321268305269467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=443321268305269467' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/443321268305269467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/443321268305269467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/07/jalan-menuju-puncak-ruhani.html' title='JALAN MENUJU PUNCAK RUHANI'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-5935655796102497098</id><published>2010-07-26T22:51:00.000-07:00</published><updated>2010-07-26T22:53:02.988-07:00</updated><title type='text'>PUNCAK PERJALANAN RUHANI</title><content type='html'>Perjalanan ruhani seseorang, bisa dikatakan mencapai tingkatan puncak ketika ia mulai menyelami hakikat sembah rasa. Di dalam Serat Wedhatama ditembangkan: “..sembah rasa karasa rosing dumadi, dadine wus tanpa tuduh, mung kalawan kasing batos”. Sembah rasa adalah keadaan ketika seseorang mulai mereguk pengetahuan atau makrifat tentang Rahasia Kehidupan. Pengetahuan atau makrifat ini tidak lagi berasal dari informasi atau petunjuk yang berasal dari luar diri, melainkan telah menjadi sesuatu yang memancar dari kedalaman batin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanda keadaan ini adalah ketika seseorang mulai hilang keragu-raguan, kesamaran, ketidakjelasan mengenai Hakikat Kehidupan dan Rahasia Yang Maha Menghidupkan. “Meloke ujar iku, yen wus ilang sumelanging kalbu, amung kandel kumandel ngandel mring takdir, iku den awas den emut, den memet yen arsa momot”. Seseorang yang telah memasuki tahapan sembah rasa ini, hatinya telah dipenuhi kemantapan karena telah tersibak baginya rahasia ketetapan dan hukum-hukum alam semesta, juga segenap makna di balik peristiwa di alam semesta. Ia selalu waspada, ingat, dan cermat akan kenyataan bahwa di balik semesta itu ada Gusti Ingkang Akaryo Jagad, Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, yang tiada putus berkarya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan lebih lanjut, “Dadya weruh: iya dudu, yeku minongka pandaming kalbu, ingkang mbuka Kijabullah agaib, sesengkeren kang sinerung, dumunung telenging batos.” Seseorang yang telah mencapai tingkatan sembah rasa, keputusan yang ia buat dan pilihannya akan kebenaran, didasarkan pada petunjuk dari kedalaman kalbu. Sukma Sejatinya telah dijadikan sebagai pembimbing, dan Sukma Sejati itu yang membukakan tirai kegaiban baginya. Maka, apa-apa yang semula merupakan rahasia tak terjangkau, kini telah menjadi pengetahuan yang bersemayam di dalam batin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, ia bisa merasakan hakikat terdalam kehidupan, bahwa apa yang terbabar di alam raya ini, tak lain merupakan manifestasi dari Yang Maha Ada. Wujud-Nya tertampakkan pada segenap yang ada, mulai dari bebatuan, bebungaan, samudera, awan, kawanan semut, hingga manusia. Kehidupan dan Yang Menciptakan Hidup, terpahami laksana rasa manis dan madu: rasa manis itu adalah manifestasi dari keberadaan sang madu; sang madu dianggap ada hanya ketika ada rasa manis. Secara indah, makna ini bisa kita tangkap dari bait: “Rasaning urip iku, krana momor pamoring sawujud, Wujudullah sumrambah ngalam sakalir, lir manis kalawan madu, endi arane ing kono”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Endi manis ndi madu, yen wis bisa muksmeng pasang semu, pasawuwaning Heb Ingkang Maha Suci, kasikep tyas kacakup kasat mata lair batos.” Insan yang telah mencapai sembah rasa, telah memahami gambaran madu dan rasa manis yang dihasilkannya, sebagai simbol keberadaan Tuhan dan apa yang Ia ciptakan. Maka, baginya juga telah tersingkapkan makna sabda Tuhan; lapis demi lapis makna sabda Tuhan itu telah terkuasai di dalam hati, lahir batinnya telah diketahui. “Ing batin tan kaliru, kedhap kilap liniling ing kalbu, kang minongka colok celaking Hyang Widhi, widadaning budi sadu, pandak-panduking liri nggon.” Batinnya sudah selalu menjadi penuntun terhadap kebenaran, karena Sang Sukma Sejati telah hadir dengan cahayanya yang terang benderang. Sang Sukma Sejati itu sendiri merupakan manifestasi dari Dzat Yang Maha Suci, yang bersemayam di dalam diri manusia, berada di ceruk bathin yang paling dalam, yang hanya bisa didekati oleh mereka yang telah berbudi mulia. Sebaliknya, pertanda seseorang telah diterangi oleh Sukma Sejatinya itu, adalah kemuliaan dalam budi pekertinya, yang tak lain merupakan buah dari transformasi jiwa: jiwa hewan menyingkir tergantikan oleh jiwa manusia yang sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok yang telah menggapai pengetahuan mistis demikian, ia yang telah makrifat, pada dasarnya adalah sosok yang telah memasuki alam kehidupan sejati. Laksana telur yang akan menetas, terjadi pembalikan: kuning telur yang semula di dalam menjadi di luar. Demikian pula, pada sosok yang telah makrifat ini, Sukma Sejati yang semula ada di ke ceruk jiwa yang paling dalam sehingga nyaris tak terlihat bahkan menjadi rahasia, kini justru telah menjadi sesuatu yang nyata. Sementara apa yang semula nyata, yaitu keakuan, ego, kini justru telah disirnakan, dibuat menjadi tak terlihat. Ego, keakuan itu, telah lebur menjadi seperti tiada karena demikian benderangnya cahaya dari Sang Sukma Sejati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan dengan Ajaran Ibnu Arabi &lt;br /&gt;Kesadaran bahwa alam semesta ini adalah tajalli, manifestasi, atau penampakan dari Dzat Yang Maha Suci yang, adalah milik mereka yang telah mencapai tingkatan sembah rasa atau kaum makrifat. Sekuntum bunga yang merekah, tentu saja memicu kesadaran yang berbeda kepada berbagai individu, tergantung pada aktif tidaknya instrumen di dalam diri individu itu yang terkait dengan pencerapan terhadap tajalli, manifestasi, atau penampakan dari Dzat Yang Maha Suci. Jika instrumen itu aktif, maka terceraplah tajalli, manifestasi, atau penampakan dari Dzat Yang Maha Suci itu. Jika tidak, maka apapun yang tampak, yang tercerap tak lebih dari sisi luar dari wujud itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam khazanah Jawa sebagaimana dipaparkan di atas, instrumen untuk menangkap penampakan Dzat Yang Maha Suci, kita kenal sebagai Sang Sukma Sejati. Dalam khazanah pengetahuan spiritual yang diwariskan oleh Ibnu Arabi, mistikus besar dari Andalusia yang hidup pada abad 12-13 Masehi, Sang Sukma Sejati itulah yang disebut dengan Ruhul Quds, yang dalam istilah lebih teknis terkait dengan fungsinya untuk menyibak alam gaib, disebut sebagai Imajinasi Kreatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi Kreatif adalah organ yang dipergunakan oleh para pejalan ruhani, para mistikus, untuk menguak makna dan rahasia di balik segenap realitas yang tercerap oleh panca indera, sekaligus untuk mencerap bentuk-bentuk batiniah yang tak sanggup dicerap oleh panca indera. Keberadaan Sukma Sejati, atau Ruhul Qudus ini, dengan fungsi Imajinasi Kreatifnya, dalam ajaran Ibnu Arabi tak bisa dipisahkan dari doktrin mistik tentang kerinduan Dzat Yang Maha Suci untuk dikenali sebagaimana tertera dalam hadits: “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi dan Aku rindu untuk dikenal. Maka Kuciptakan makhluk-makhluk agar Aku dikenal oleh mereka.” Kita diciptakan oleh Tuhan karena Dia ingin ada yang mengenal. Dia dikenal juga melalui ciptaan-Nya. Bahkan agar kita bisa mengenal Dia lewat ciptaan-Nya, kita harus terlebih dahulu menghidupkan wujud yang merupakan tajalli, penampakan atau manifestasi-Nya di dalam diri kita, yaitu Sang Sukma Sejati atau Ruhul Qudus itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesama Jalan Cinta &lt;br /&gt;Maka, bisa dipahami bahwa hubungan yang terjalin antara Tuhan dan manusia, antara pencipta dan yang tercipta, pada sosok seperti Ibnu Arabi dan mistikus yang segaris dengannya, justru terlihat sebagai hubungan antara yang merindu dan yang dirindu, yang mengasihi dan yang dikasihi. Tuhan rindu untuk dikenali maka terciptalah manusia, dan sebaliknya, manusia rindu mengenali Tuhan karena Tuhanlah asal muasal keberadaan-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini, penting untuk membedakan konsep Tuhan sebagai wujud yang pada dirinya sendiri tak bisa kita ketahui apa dan bagaimananya – tan kena kinira, tan kena kinaya ngapa, dan konsep Tuhan sebagai sesuatu yang bisa kita kenali sejauh keyakinan kita tentangnya. Para mistikus seperti Ibnu Arabi mengenal dan memahami Tuhan dalam wujudnya sebagai sosok sang kekasih, maka merekapun memposisikan diri mereka sebagai para kekasih Tuhan, sosok yang mengejar Tuhan dengan gairah cinta membara. Sampai pada titik tertentu, Ibnu Arabi menyaksikan manifestasi atau penampakanTuhan pada sosok gadis jelita, baik yang secara fisik ada dan bisa ia jumpai (dan kemudian menjadi sumber inspirasi baginya dalam menggubah bait-bait Tarjuman Al-Asywaq), maupun yang ia jumpai di alam al-mitsal, alam antara di mana raga merohani dan rohani meraga, yang ia masuki ketika berada dalam keadaan meditatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Cinta menjadi energi utama yang mendorong manusia mengejar Tuhannya, dan lebih dari itu, ia yang menjadi aura utama ketika sesosok manusia bisa bertemu dengan Tuhannya, kita melihat satu dampak positif: energi itu pulalah yang mewarnai hubungan antara seorang mistikus seperti Ibnu Arabi dengan sosok manusia lainnya. Jiwa yang lembut, cinta yang hangat, tak hanya diperuntukkan kepada Tuhan, tetapi juga kepada manusia lainnya. Maka, agama para mistikus itupun menjadi agama cinta: agama yang spirit utamanya adalah kewelasasihan kepada sesama, sebagai bukti limpahan cinta kepada dan dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaras dengan itu adalah apa yang bisa kita jumpai pada tradisi spiritual Jawa. Karena disadari bahwa Tuhan pada dirinya sendiri memang tak bisa kita pahami, yang menjadi lebih penting adalah bagaimana persangkaan kita terhadap Tuhan itu sendiri. Tuhan akan hadir seperti persangkaan kita. Dalam rangka hamemayu hayuning bawono, dalam rangka menciptakan kehidupan yang penuh kesentausaan, kehidupan yang rahayu – penuh keselamatan, maka para empu, para orang bijak di tanah Jawa, cenderung membuat prasangka bahwa Tuhan itu serba welas asih. Maka, dengan bercermin pada Tuhan yang welas asih itu pulalah, mereka memilih untuk menebarkan kewelasasihan kepada sesama. Maka, spiritualitas di Tanah Jawapun pada akhirnya, adalah spiritualitas penuh cinta! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tertinggi dan tertulus, ternyata, hanya bisa ditunjukkan oleh mereka yang telah menggapai puncak perjalanan ruhani. Yaitu mereka yang telah mencapai tingkatan sembah rasa, mereka yang di hatinya telah bersinar pengetahuan akan kesejatian hidup, mereka yang bisa menyaksikan Tuhan dalam segenap wujud di alam semesta! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, perlu disampaikan peringatan yang tertera di dalam Serat Wedhatama: “Rasakana kang tuwajuh. Aja kongsi kabesthoran. Karana yen kabanjur, kajantaka tumekang saumur, tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi, dadi wong ina tan weruh, dheweke den anggep dayoh”. Pikirkanlah berbagai hal di atas dengan sungguh2, jangan sampai terlanjur! Jatah kehidupan habis, tanpa sempat memahami apa makna hidup itu sendiri. Jika demikian yang terjadi, sungguh rugi saat kematian menjelang: kita tetap menjadi tamu dan malah terasing di tempat yang sesungguhnya merupakan rumah abadi kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-5935655796102497098?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/5935655796102497098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=5935655796102497098' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/5935655796102497098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/5935655796102497098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/07/puncak-perjalanan-ruhani.html' title='PUNCAK PERJALANAN RUHANI'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-8690486064411545625</id><published>2010-07-26T22:49:00.000-07:00</published><updated>2010-07-26T22:50:54.244-07:00</updated><title type='text'>SEMBAHYANG JALAN MENUJU KEMULIAAN SEJATI</title><content type='html'>Pada hakikatnya, kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan. Setiap diri berjalan melintas jaman, meniti jalan setapak kehidupan yang berhulu pada kehidupan di alam rahim, menuju muara terakhir yang entah ada di mana.  Perpisahan sukma dan raga sekadar pertanda kita berganti dunia.  Tapi perjalanan itu sendiri teruslah berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan panjang menuju muara terakhir kehidupan itu, seorang manusia mau tak mau harus melintasi rute yang dinamis: kadang kita mirip mendaki bukit dan gunung, kadang seperti menuruni lembah, kadang laksana menyeberangi samudra, sesekali tak ubahnya melewati jalan datar.   Suka duka silih berganti hadir menjadi teman setia.  Segenap energi harus dikeluarkan agar perjalanan bisa terus berlanjut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan perjalanan panjang tersebut, berbagai tradisi agama menempatkan “sembahyang” sebagai ritus penting agar manusia bisa meraih keselamatan.  Dalam tradisi Islam, sembahyang disebut juga dengan istilah shalat, yang dihayati sebagai “kunci pembuka surga” atau “mi’raj-nya kaum mu’min, sebuah momen di mana seorang Mu’min berkesempatan bertemu dengan Tuhan”.  Tentu saja, tradisi agama-agama lain memiliki nama, bentuk, dan falsafah masing-masing terkait dengan kegiatan ruhani yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam khazanah spiritual Nusantara, sembahyang bisa kita maknai sebagai tindakan untuk menyembah Hyang.  Hyang adalah sebutan untuk Tuhan.  Leluhur kita menyebut Tuhan dengan nama Hyang Manon, Hyang Tunggal, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini mencoba menghadirkan satu tafsir sekaligus pembabaran filosofis terhadap kata sembahyang, dengan  merujuk pada Serat Wedhatama.  Di dalam serat tersebut, ditembangkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Samengko ingsun tutur; Sembah catur supaya lumuntur; Dhihin raga, cipta, jiwa, rasa, kaki; Ing kono lamun tinemu; Tandha nugrahaning Manon”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Berikutnya saya bertutur.  Empat macam sembah supaya dilestarikan;  Pertama; sembah raga, kedua; sembah cipta, ketiga; sembah jiwa, dan keempat; sembah rasa, anakku !  Di situlah akan bertemu dengan pertanda anugrah Tuhan.]&lt;br /&gt;Ternyata, ada 4 tingkatan menyembah Hyang!  Sebelum saya paparkan satu persatu makna masing-masingnya, saya ingin mengajak Anda merenung dulu, siapakah sesungguhnya Dia yang kita sembah itu?  Lalu mengapa kita mesti menyembah Hyang Manon atau Hyang Tungal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perenungan di atas, tentu saja sangat penting.  Karena apa artinya kita menyembah sesuatu yang tidak kita ketahui.  Juga apa artinya kita menyembah jika kita tak tahu untuk apa ia dilakukan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Hyang Manon atau Hyang Tunggal itu?  Pada titik inilah kita bertemu dengan sebuah ironi.  Orang-orang yang telah berjalan jauh untuk mengenal-Nya, pada akhirnya berkesimpulan:&lt;br /&gt;SEJATINE ORA ONO OPO-OPO, SING ONO KUWI DUDU”. Sebenarnya tak ada apa-apa, yg ada itu pun bukan.    Ternyata, para pejalan ruhani yang telah bersusah payah untuk menjangkau-Nya harus berkata dengan pasrah, tak ada yang bisa diketahui tentang Tuhan, tentang Hyang Manon atau Hyang Tunggal itu.  Apa yang kita ketahui tentang-Nya, apalagi yang kita nyatakan lewat lidah kita tentang-Nya, itu jelas bukan Dia.  Karena, begitu akal kita merumuskan bahwa Dia adalah Wujud yang Tanpa Batas, Yang Maha Meliputi Segalanya, Yang Maha Besar, maka sesungguhnya tak ada gambaran apapun yang bisa sesuai dengan rumusan itu.  Segenap rumusan pada akhirnya terpatahkan oleh rumusan dasar tentang Tuhan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dalam falsafah Jawa, dengan segala kerendahan hati akhirnya juga Tuhan disimpulkan secara sederhana yakni :  Tan keno kinaya ngapa, tan keno kiniro. (Yang tak bisa dianalogikan/dibayang-bayangkan, dan tak bisa diandai-andaikan wujudnya).&lt;br /&gt;Tuhan hanya dapat dirasakan dalam “wujud” paling konkrit berupa sebuah kekuatan dahsyat yg bersifat dan berpola selalu dalam keseimbangan alam semesta, yg berujud pula daya magis yg terangkum dalam hukum-hukum alam semesta.  Tuhan pada akhirnya hanya bisa dikenali wajah-Nya, tanda-tanda-Nya yang tergelar di seantero jagad raya.  Lewat matahatilah kita bisa mengenal kekuatan penggerak, penghidup, dan pengatur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, Sembah Hyang, pada akhirnya, harus dimaknai sebagai upaya penundukan diri kita yang lemah ini -  yang bahkan tak tahu sedikitpun tentang Dia yang Maha Misteri, kecuali sekadar bisa merasakan tanda-tanda keberadaan-Nya melalui wajah-Nya berupa alam semesta ini - kepada Dia Yang Maha Misteri dan menggenggam kehidupan kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita harus menundukkan diri kepada-Nya?  Karena kita memang membutuhkan-Nya.  Kita ada tanpa kita sadari bahwa itu adalah kemauan kita.  Setiap helaan nafas menyambung hidup kita juga bukan atas kendali kita.  Sembah Hyang adalah sarana untuk menjalin komunikasi dengan asal muasal sekaligus tujuan, dengan sumber sekaligus muara kehidupan kita – yang selamanya akan menjadi misteri bagi kita!&lt;br /&gt;Ketika kita dengan jujur berani menyatakan kita sungguh tak tahu Tuhan itu seperti apa dan bagaimana, maka saat yang sama, bijaksanalah juga jika kita mengatakan bahwa cara sembahyang kita bukan satu-satunya jalan untuk menjangkau-Nya.  Cara yang kita lakukan tak lebih dari sebuah pendekatan, yang dirumuskan oleh seorang yang kita anggap bijak dan kita jadikan teladan, untuk mendekati Dia Yang Maha Misteri.  Orang lain tentu saja punya hak untuk memiliki pendekatan yang berbeda dengan kita.  Alih-alih menyalahkan pendekatan itu, bukankah lebih mencerminkan kewelasasihan jika kita mendoakan agar baik diri kita maupun orang lain yang memiliki pendekatan berbeda itu agar sama-sama sampai pada tujuan dari sembahyang itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut bentuk sembahyang, maupun tempat dalam menjalankan sembahyang, pada faktanya, kita bisa saja sangat berbeda.  Semua perbedaan itu mencerminkan keberadaan Dia yang tak terbatas.  Dia bisa didekati lewat Timur, Barat, Utara, Selatan – karena memang Dia bukan sesuatu yang ada di Barat, Timur, Utara, maupun Selatan.  Cara kita yang berbeda-beda juga sekaligus menjadi cermin Kemahabesaran-Nya yang telah menciptakan makhluk bernama manusia yang demikian warna-warni.&lt;br /&gt;Namun demikian, di balik perbedaan menyangkut cara dan tempat kita sembahyang, sesungguhnya ada prinsip-prinsip dasar yang layak kita jadikan bahan renungan bersama untuk mencapai tujuan dari sembahyang itu sendiri.  Salah satunya menyangkut 4 tingkatan sembahyang, yang menggambarkan hakikat dari sembahyang itu sendiri, lapis demi lapis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembahyang pada tingkat pertama disebut dengan sembah raga.  Dalam tradisi Islam, ia dikenal sebagai shalat 5 waktu yang didahului dengan pensucian diri dengan air.  Manfaat yang paling nyata dari sembah raga adalah badan yang menjadi segar, pikiran menjadi jernih, dan itu kemudian menjadi landasan tumbuhnya hati yang damai.  Hanya di hati yang damailah, kelembutan dan keagungan bisa dirasakan kehadirannya.&lt;br /&gt;Tingkat berikutnya adalah sembah kalbu.  Dalam Serat Wedhatama digambarkan sebagai berikut: “Nantinya, sembah kalbu itu, jika berkesinambungan juga menjadi olah spiritual.  Olah (spiritual) tingkat tinggi yang dimiliki Raja.  Tujuan ajaran ilmu ini;  untuk memahami yang mengasuh diri (guru sejati/pancer).”  Itu diwujudkan melalui cara berikut: “Bersucinya tidak menggunakan air; Hanya menahan nafsu di hati; Dimulai dari perilaku yang tertata, teliti dan hati-hati (eling dan waspada); Teguh, sabar dan tekun, semua menjadi watak dasar. Teladan bagi sikap waspada.”&lt;br /&gt;Lebih jauh, menyangkut Sembah Kalbu itu digambarkan fenomena-fenomena yang akan terjadi: “Dalam penglihatan yang sejati.  Menggapai sasaran dengan tata cara yang benar.  Biarpun sederhana tatalakunya dibutuhkan konsentrasi.  Sampai terbiasa mendengar suara sayup-sayup dalam keheningan.  Itulah, terbukanya alam lain, bila telah mencapai seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara agar sembah kalbu ini menemui tujuannya? Dijelaskan sebagai berikut: “Saratnya sabar segala tingkah laku.  Berhasilnya dengan cara membangun kesadaran, mengheningkan cipta,  pusatkan fikiran kepada energi Tuhan.  Dengan hilangnya rasa sayup-sayup, di situlah keadilan Tuhan terjadi. (jiwa  memasuki alam gaib rahasia Tuhan).  Gugurnya jika menuruti kemauan jasad (nafsu).  Tidak suka dengan indahnya kehendak rasa sejati.  Jika merasakan keinginan yang tidak-tidak akan gagal.  Maka awas dan ingat lah dengan yang membuat gagal tujuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan berikutnya adalah Sembah Jiwa.  Serat Wedhatama menjelaskan soal ini:&lt;br /&gt;“Sembah ketiga yang sebenarnya  diperuntukkan kepada Hyang sukma (jiwa).  Hayatilah dalam kehidupan sehari-hari.  Usahakan agar mencapai sembah jiwa ini anakku!  Sungguh lebih penting, yang disebut sebagai ujung jalan spiritual.  Tingkah laku olah batin, yakni menjaga kesucian dengan awas dan selalu ingat akan alam nan abadi kelak.  Cara menjaganya dengan menguasai, mengambil, mengikat, merangkul erat tiga jagad yang dikuasai.  Jagad besar tergulung oleh jagad kecil,Pertebal keyakinanmu anakku !  Akan kilaunya alam tersebut.  Tenggelamnya rasa melalui suasana “remang berkabut”.  Mendapat firasat dalam alam yang menghanyutkan.  Sebenarnya hal itu kenyataan, anakku !  Sejatinya jika tidak ingat, sungguh tak bisa “larut”.  Jalan keluarnya dari luyut (batas antara lahir dan batin).  Tetap sabar mengikuti “alam  yang menghanyutkan”.  Asal hati-hati dan waspada yang menuntaskan tidak lain hanyalah diri pribadinya yang tampak terlihat di situ.  Tetapi jangan salah mengerti, di situ ada cahaya sejati.  Ialah cahaya pembimbing, energi penghidup akal budi.  Bersinar lebih terang dan cemerlang, tampak bagaikan bintang.  Yaitu membukanya pintu hati, terbukanya yang kuasa-menguasai (antara cahaya/nur dengan jiwa/roh).  Cahaya itu sudah kau (roh)  kuasai.  Tapi kau (roh) juga dikuasai oleh cahaya yang seperti bintang cemerlang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralih sembah yang ke empat.  Ia disebut dengan Sembah Rasa.  Menyangkut sembah rasa ini, Serat Wedhatama menggambarkan sebagai berikut:  “Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan. Terjadinya sudah tanpa petunjuk, hanya dengan kesentosaan batin.”  Pada tingkatan ini, maka rahasia ketuhanan: “Demikian itu sebagai ketetapan hati.  Yang membuka penghalang/tabir  antara insan dan Tuhan, tersimpan dalam rahasia, terletak di dalam batin.  Rasa hidup itu dengan cara manunggal dalam satu wujud, wujud Tuhan meliputi alam semesta, bagaikan rasa manis dengan madu. Begitulah ungkapannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembah pada tingkat keempat ini diwujudkan melalui tatacara sebagai berikut: “ Melaksanakan petuah itu harus kokoh budipekertinya.  Teguh serta sabar, tawakal lapang dada.  Menerima dan ikhlas apa adanya sikapnya dapat dipercaya.  Mengerti “sangkan paraning dumadi”.  Segala tindak tanduk dilakukan ala kadarnya.  Memberi maaf atas kesalahan sesama, menghindari perbuatan tercela, (dan) watak angkara yang besar.  Sehingga tahu baik dan buruk, demikian itu sebagai ketetapan hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, sembahyang atau Sembah Hyang bisa kita pahami sebagai sebuah kegiatan yang menggulung perilaku hidup mulia pada satu momen agar bisa bertemu dengan Tuhan, lalu pada saat yang sama, buah dari pertemuan dengan Tuhan itu kita buktikan melalui perilaku mulia kepada sesama makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir..ada sebuah nasihat penting dari mursyid saya, “Jangan sekali-kali kamu menganggap rendah mereka tidak shalat (seperti kamu)!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-8690486064411545625?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/8690486064411545625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=8690486064411545625' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/8690486064411545625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/8690486064411545625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/07/pada-hakikatnya-kehidupan-manusia.html' title='SEMBAHYANG JALAN MENUJU KEMULIAAN SEJATI'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-8218600601521849893</id><published>2010-07-26T22:48:00.001-07:00</published><updated>2010-07-26T22:48:40.380-07:00</updated><title type='text'>KRITIK DAN NASIHAT BAGI PARA PENCARI ILMU</title><content type='html'>KGPAA Mangkunegoro IV - yang hidup sejaman dan menjadi sahabat Ronggowarsito pada abad 19 - dengan ke-waskito-annya, mensinyalir akan munculnya anak-anak muda yang terlalu Arab-oriented dan berbangga dengan ilmu yang sebetulnya masih dangkal. Ditembangkan sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aja kaya jaman mangkin; Keh pra mudha mundhi diri; Rapal makna; Durung becus kesusu selak besus; Amaknani rapal; Kaya sayid weton mesir; Pendhak pendhak angendhak; Gunaning jalma;&lt;br /&gt;[Jangan seperti zaman nanti. Banyak anak muda yang menyombongkan diri dengan hafalan ayat. Belum mumpuni sudah berlagak pintar. Menerangkan ayat seperti sayid dari Mesir. Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang kadyeku; Kalebu wong ngaku aku; akale alangka; Elok Jawane denmohi. Paksa langkah ngangkah met. Kawruh ing Mekah. &lt;br /&gt;[Yang seperti itu, termasuk orang mengaku-aku. Kemampuan akalnya dangkal. Keindahan ilmu Jawa malah ditolak. Sebaliknya, memaksa diri mengejar ilmu di Mekah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nora weruh rosing rasa kang rinuruh; lumeketing angga; anggere padha marsudi; kana kene kaanane nora beda; Uger lugu; Den ta mrih pralebdeng kalbu&lt;br /&gt;[Tidak memahami hakekat ilmu yang dicari, sebenarnya ada di dalam diri. Asal mau berusaha sana sini (ilmunya) tidak berbeda. Asal tidak banyak tingkah, agar supaya merasuk ke dalam sanubari].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, tidak dimaksudkan bahwa ilmu yang berasal dari Mekkah itu buruk. Bukan begitu. Sebetulnya kebajikan dan kebenaran universal itu bisa muncul dari mana saja, termasuk dari Jazirah Arab. Dan sikap terbaik kita – sebagaimana diteladankan oleh para leluhur kita - adalah terbuka terhadap ilmu atau kebijaksanaan darimanapun datangnya, selama itu memang ilmu dan kebijaksanaan yang sejati. Pada faktanya, pada masa lalu Nusantara telah mendapatkan pengayaan khazanah pengetahuan berkat jasa ilmuwan Muslim baik yang datang langsung dari Jazirah Arab, maupun dari negeri-negeri lain seperti Campa, Malaka, maupun Gujarat. Sebagaimana kita juga harus berterima kasih kepada para sarjana Hindu-Budha dari India, China, dan negeri-negeri lainnya yang juga telah berjaya menghadirkan berbagai kemajuan peradaban sehingga meningkatkan kualitas hidup masyarakat Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang dikritisi sebetulnya adalah sikap anak-anak muda pada masa kini yang membabi buta, sikap terlalu mengagungkan sesuatu yang berasal dari luar, sembari meremehkan keluhuran khazanah pengetahuan leluhur sendiri. Celakanya, yang diagungkan itu juga ternyata tak lebih dari ilmu kulit. Bukankah sungguh menyedihkan, anak-anak muda yang baru tahu ilmu kulit sudah merasa menjadi pemilik kebenaran? Sementara ilmu yang dicampakkan justru ilmu isi, ilmu hakikat, yang merupakan master piece dari leluhur atau orang tua sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak muda yang terlalu Arab-oriented, seringkali juga tak memahami, bahwa dilihat dari sudut pandang derajat kesadaran, mereka itu baru mencapai derajat kesadaran jasmani. Ilmu yang dianggap mulia dan diyakini merupakan kebenaran sejati oleh mereka itu, ternyata tak lebih dari sekadar apa yang dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga, ditransmisi dari orang lain yang dituakan, yang juga mendapatkan itu dari orang lain di masa lalu. Sementara potensi akal (yang menghasilkan kesadaran rasional) dan potensi mata batin (yang menghasilkan kesadaran ruhani) belumlah dipergunakan sungguh-sungguh. Lebih menyedihkan lagi, jika melihat sikap anak-anak muda itu, walau baru berada pada derajat kesadaran jasmani, sudah dengan semena-mena berani meremehkan orang lain, yang kadang telah lebih jauh perjalanan intelektual dan spiritualnya, sehingga memiliki derajat kesadaran jauh lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, mencari ilmu sejati tidak mesti pergi kemanapun, karena ilmu sejati ada di dalam diri. Di dalam diri ada Guru Sejati, yang menjadi perantara bagi hadirnya cahaya dan ilmu dari Sang Sumber, Gusti ingkang Akaryo Jagad. Kuncinya adalah dengan membiasakan diri memasuki alam keheningan. Belajar dari orang lain (bahkan yang kita sebut orang-orang suci), darimanapun asalnya, sebetulnya tak lebih sebagai jembatan, pemicu, dan inspirasi untuk menggali sesuatu yang ada di dalam diri kita sendiri. Maka, mereka yang telah memasuki alam keheningan itu, akan tahu bahwa ilmu dari Arab, India, Cina, maupun dari Tanah Jawa sendiri – pada wujudnya sebagai ilmu sejati – sebetulnya ya sama saja. Karena ia sama-sama sebentuk kejernihan, sama-sama sebentuk kesegaran, sama-sama sebentuk terang benderang, sama-sama bersumber dari Dia Yang Maha Tunggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari cara pandang ini, maka kita bisa maklum mengapa ajaran-ajaran spiritual yang tumbuh berkembang di Tanah Jawa, punya citarasa yang sama dengan ajaran-ajaran spiritual para tokoh besar dari berbagai belahan dunia, termasuk yang berakar pada tradisi Islam (Arab ataupun Persia). Yang paling gamblang, paradigma manunggaling kawula kalawan gusti, satu citarasa dengan paham wahdatul wujud ala Hamzah Fansuri, Ibnu Arabi maupun al-Hallaj. Keterbukaan terhadap berbagai bentuk yang menjadi watak orang-orang bijak di Tanah Jawa, sungguh mirip dengan keterbukaan ruhani seorang Jalaluddin Rumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sungguh bijaklah mereka yang menyadari bahwa memang ada kebajikan universal, dan bahwa itu bisa ditemukan oleh siapa saja dan dari mana saja, selama mereka memenuhi prasyarat yang sama: ikhlas, tulus, hanif, yang dalam istilah Serat Wedhatama: lugu, tak banyak tingkah. Tak banyak tingkah itu ya sama dengan hening, diam, tenteram. Kondisi hening ini tentu saja harus diraih melalui upaya yang gigih untuk mengendalikan diri. Serat Wedhatama memaparkan metode meraih ilmu sejati secara gamblang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basa ngelmu; Mupakate lan panemune; Pasahe lan tapa; Yen satriya tanah Jawi; Kuna kuna kang ginilut tripakara; Lila lamun kelangan nora gegetun; Trima yen ketaman; Sakserik sameng dumadi; Tri legawa nalangsa srah ing Bathara&lt;br /&gt;[Yang namanya ilmu, dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita. Dapat dicapai dengan usaha yang gigih. Bagi satria tanah Jawa, dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni; pertama, ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal; kedua, sabar jika hati disakiti sesama; ketiga ; lapang dada sambil berserah diri pada Tuhan.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kita bisa melihat bahwa mereka yang telah menggapai ilmu sejati, hidupnya selaras dengan irama semesta, harmoni sepenuhnya dengan Yang Maha Agung, sebagaimana dipaparkan secara indah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bathara gung Inguger graning jajantung Jenek Hyang wisesa; Sana pasenedan suci; Nora kaya si mudha mudhar angkara&lt;br /&gt;[Tuhan Maha Agung; diletakkan dalam setiap hela nafas; Menyatu dengan Yang Mahakuasa; Teguh mensucikan diri; Tidak seperti yang muda, mengumbar nafsu angkara.]&lt;br /&gt;Selamat menggapai ilmu sejati!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-8218600601521849893?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/8218600601521849893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=8218600601521849893' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/8218600601521849893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/8218600601521849893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/07/kritik-dan-nasihat-bagi-para-pencari.html' title='KRITIK DAN NASIHAT BAGI PARA PENCARI ILMU'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-2332249275446606189</id><published>2010-07-26T22:40:00.000-07:00</published><updated>2010-07-26T22:45:46.889-07:00</updated><title type='text'>SPIRIT NUSANTARA JAYA</title><content type='html'>Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. &lt;br /&gt;[Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Berbeda-bedalah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala langit makin gelap, itu pertanda fajar akan segera merekah dan bagaskara muncul menerangi dunia. Kegelapan di Indonesia memang makin pekat. Pemimpin lupa daratan. Perekonomian dijajah orang. Anak-anak kehilangan panutan. Hutan hijau hancur dijarah. Namun, sang bijak menyadari bahwa situasi demikian justru merupakan pertanda hadirnya jaman baru. Jaman kalatidha segera berakhir, Nusantara yang muram kan segera berganti dengan Nusantara yang jaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, takdir tak bergerak sendiri. Ia mengikuti gerak langkah dan kiprah manusia. Maka, anak-anak Nusantara harus bergerak memadu langkah untuk membalik takdir suram menjadi takdir gemilang. Nujuman Sabdapalon dan Nayagenggong tentang kembalinya agama Budhi sebagai simbol kebangkitan Nusantara telah jelas terlihat. Para kawula muda menjadi motor kebangkitan ruhani...anak-anak Nusantara itu menjadi teladan bagi kesadaran akan kesatuan kebenaran di balik berbagai ekspresi keagamaan. Kini, sungguh anak-anak Nusantara telah banyak yang kembali kepada kebijaksanaan kuno sebagaimana yang dulu dituliskan Empu Tantular dalam Kitab Sutasoma. Berbeda-beda, namun satu jua adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah bertebaran anak-anak Nusantara yang menghidupkan kembali kebijaksanaan kuno, berupa kebijaksanaan spiritual yang mementingkan isi ketimbang kulit. Yang menghargai perbedaan karena sadar bahwa di balik perbedaan itu ada kesamaan yang mendasar. Kita bisa saja beridentitas Islam, Syiwa-Budha, Katholik, atau apapun...namun kita sadari bersama kita adalah sesama anak Nusantara yang lahir dari rahim Ibu Pertiwi. Lebih dari itu, kita menyadari bahwa kita adalah sesama pejalan ruhani yang sedang bekerja menemukan jatidiri sejati..menjangkau Dzat Yang Maha Misteri. Kita menyatu dalam getaran kewelasasihan yang memancar dari Sukma Sejati masing-masing. Kita bersaudara karena memang telah diikat oleh pertalian darah yang teramat kuat sebagai sesama anak Nusantara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak Nusantara yang telah dipanggil melalui getaran darah oleh para leluhurnya, kini bahu membahu membangkitkan kejayaan Nusantara. Semangat Majapahit, Pajajaran, Kutai, Sriwijaya, hidup kembali menjadi penerang untuk kehadiran jaman baru, jaman di mana Nusantara kembali menjadi salah satu kiblat dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, anak-anak Nusantarapun terus bergerak, di lapangan kebudayaan, di lapangan ekonomi, di lapangan politik. Para satria, brahmana dan waisya bekerja seiring sejalan sesuai peran masing-masing untuk memperkuat gerak maju barisan anak-anak Nusantara. Apalagi bende mataram telah ditabuh. Maju ke gelanggang tanpa keraguan. Berjuang dan meraih kemenangan. Dengan cara bermartabat untuk membuat Ibu Pertiwi kembali tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari, wahai anak-anak Nusantara, kembalilah ke pangkuan Ibu Pertiwi. Ikuti panggilan darahmu. Temukan jatidirimu. Kenali akarmu. Lalu bangkitlah, majulah! Jadilah engkau kebanggaan Ibu Pertiwi. Nusantara jaya menyongsong kita! Negeri gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja sudah menunggu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-2332249275446606189?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/2332249275446606189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=2332249275446606189' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2332249275446606189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2332249275446606189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/07/spirit-nusantara-jaya.html' title='SPIRIT NUSANTARA JAYA'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-2244780172808267812</id><published>2010-07-11T22:14:00.002-07:00</published><updated>2010-07-11T22:15:21.000-07:00</updated><title type='text'>MEMBURU ILMU SEJATI, MEMBUKTIKAN SEJATINYA ILMU</title><content type='html'>Salah satu hal yang paling berharga dalam hidup ini adalah ilmu. Ilmu ibarat cahaya penerang. Ilmu laksana kekuatan penjaga, yang menjaga kehidupan kita. Ilmu yang membuat diri kita sanggup membumbung tinggi ke langit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian kategori ilmu, yang patut untuk kita renungkan apakah kita sudah memilikinya atau belum adalah apa yang disebut dengan ilmu sejati. Ilmu ini berkaitan dengan intisari dari hidup kita; ia menjadi penerang bagi mereka yang ingin mengecap kehidupan sejati. Ia juga penuntun jalan untuk menemukan yang Sejati dari Hidup ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disebut dengan ilmu sejati? Siapakah yang berhak atas ilmu sejati itu? Teks-teks dalam Serat Wedhatama membabarkannya secara gamblang: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iku kaki takokena, marang para sarjana kang martapi, mring tapaking tepa tulus, kawawa nahen hawa, wruhanira mungguh sanyataning ngelmu, tan mesthi neng jeneng wredha, tuwin mudha sudra kaki. &lt;br /&gt;(Anakku, tanyakan hal itu, kepada para sarjana yang berpengalaman, yang hatinya sudah menunjukkan ketulusan, dan sudah berhasil menahan hawa nafsu. Ketahuilah sesungguhnya ilmu sejati itu tak hanya bisa dimiliki orang tua, tetapi juga bisa dimiliki kaum muda, bahkan sudra) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapatuk wahyuning Allah, ya dumilah mangulah ngelmu bangit, bangkit mikat reh mangukut, kukutaning jiwangga, yen mengkono kena sinebut wong sepuh, lire sepuh sepi hawa, awas roroning atunggil. &lt;br /&gt;(Siapapun yang menerima wahyu Ilahi, lalu dapat mencerna dan menguasai ilmu, mampu menguasai ilmu kesempurnaan, yaitu kesempurnaan pribadi, orang yang demikian itu pantas disebut sebagai orang tua, orang yang sudah tidak lagi dikuasai hawa nafsu, dapat menghayati manunggalnya dua keberadaan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsipnya, ilmu sejati bisa diraih oleh setiap orang yang menghasratinya, tidak muda tidak tua, bangsawan ataupun orang biasa, yang berprofesi sebagai intelektual maupun seorang petani. Dan pertanda keberadaan ilmu ini pada seseorang adalah ketika ia telah menjadi pribadi yang hawa nafsunya sudah tunduk, dan ia menghayati keberadaan dirinya tak lebih sekadar cermin dari Yang Maha Ada. Pemilik ilmu sejati menghayati sepenuhnya makna keberadaan Yang Maha Tunggal dan keberadaan diri kita yang diliputi-Nya, bahwa sesungguhnya Aku ana ing sajroning ingsun, ingsun ana ing sajroning Aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemilik sejati adalah sosok yang telah mengenal dirinya karena itu ia juga mengenal Tuhannya. Ia tak lagi silau oleh penampilan luar, juga tak terjebak oleh sesuatu yang artifisial, yang serba kulit. Agama baginya bukan lagi identitas kelompok yang dibangga-banggakan, tetapi lebih sebagai jalan pribadi, jalan sunyi, menuju Ia yang Maha Misteri. Kerendahan hati mewarnai hatinya..karena ia sadar bahwa dirinya tak lebih dari setitik debu dalam lingkup semesta yang luasnya tak terbatas. Tapi pada saat yang sama, kepercayaan diri atau keyakinan akan kemuliaan diri, meresap kuat, karena ia sadar bahwa di dalam dirinya, sebagaimana juga di dalam setiap pribadi, bersemayam secercah Cahaya Yang Maha Ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagaimana cara meraih ilmu sejati? Kita simak teks lain dalam Serat Wedhatama berikut ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngelmu iku Kalakone kanthi laku Lekase lawan kas Tegese kas nyantosani Setya budaya pangekese dur angkara &lt;br /&gt;(Ilmu (hakekat) itu diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan, dimulai dengan kemauan. Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama, Teguh membudi daya Menaklukkan semua angkara.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu sejati diraih melalui rangkaian tindakan demi tindakan kebajikan, pengalaman demi pengalaman. Ia merupakan anugerah Sang Sumber Illmu, kepada siapapun yang dalam hidupnya, pelayanan kepada sesama menjadi prioritas utama. Ia adalah berkah bagi mereka yang hidupnya didedikasikan bagi kebahagiaan sesama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, ilmu sejati diraih dengan jalan lebih dahulu menaklukkan Sang Ego, meleburkan diri ke dalam keberadaan Yang Maha Ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, apa yang menjadi bukti bahwa seseorang itu memiliki ilmu sejati, bahwa ilmu yang dimilki seseorang itu adalah sejatinya ilmu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja bukan kepandaian berbicara dan cakupan wawasan yang luas, tetapi lebih pada soal kemampuan untuk selalu hening, damai, penuh kasih. Pemilik ilmu sejati, mereka yang ilmunya adalah sejatinya ilmu, menjadi penebar damai di kala dunia dalam kekisruhan, penebar kasih di kala dunia tenggelam dalam kebencian, penebar kesembuhan bagi mereka yang terluka, pembawa cahaya di kala orang senang berada dalam kegelapan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-2244780172808267812?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/2244780172808267812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=2244780172808267812' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2244780172808267812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2244780172808267812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/07/memburu-ilmu-sejati-membuktikan.html' title='MEMBURU ILMU SEJATI, MEMBUKTIKAN SEJATINYA ILMU'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-7374530262133647617</id><published>2010-07-11T22:14:00.001-07:00</published><updated>2010-07-11T22:14:38.533-07:00</updated><title type='text'>MENCIPTA NUSANTARA JAYA</title><content type='html'>Di dalam Serat Jangka Jayabaya, tergores sebuah visi Nusantara yang jaya. Secara jelas, demikianlah visi Prabu Jayabaya: &lt;br /&gt;“Gemah ripah harja kreta, tata tentrem ing salami-lami, ilang kang samya laku dur, murah sandang lan boga, kang hamangkuasih mring kawulanipun, lumintu salining dana, sahasta pajeg saripis” &lt;br /&gt;(Kemakmuran melimpah ruah, langgeng, tertib tenteram selamanya, hilang lah kedurjanaan, murah sandang pangan, pemimpin yang penuh tanggungjawab dan kasih sayang kepada rakyatnya, selalu tidak kekurangan uang, ibaratnya tanah satu hektar pajaknya satu rupiah) &lt;br /&gt;“Siti sajung mung sareal, tanpa ubarampe sanese malih, antinen bae meh rawuh, mulyaning tanah Jawa, awit saking tan karegon liyanipun, nakoda wus tan kuwasa, pulih asal mung gagrami.” &lt;br /&gt;(Kelak, tanah yang sangat luas pajaknya hanya satu real, tidak ada tambahan pajak lainnya, tunggulah saja hampir tiba saatnya kemuliaan untuk nusantara) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada situasi masa kini, ketika Indonesia - yang tak lain merupakan wujud Nusantara pada jaman modern – tengah mengalami masa-masa sulit, jagate gonjang-ganjing, seolah Ibu Pertiwi tak lagi mau ramah kepada anak-anaknya, visi kejayaan Nusantara jelas memiliki makna yang teramat positif. Visi itu memotivasi, memberi semangat, meyakinkan, sekaligus merupakan kekuatan penuntun kita pada sebuah kondisi yang berbeda sekaligus kita idam-idamkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Prabu Jayabaya tak hanya memberi kabar gembira. Ia juga membabarkan sikap yang harus diambil oleh putera-puteri Nusantara. Katanya: &lt;br /&gt;“Tetapi pesanku, waspadalah dan ingatlah, tegakkan iman mu, jadilah pengikut Ratu Adil penegak kebenaran. Carilah ‘SENJATANYA’ sampai ketemu, ikuti jalannya kemanapun perginya, jadilah, ibaratnya sebagai pasukannya Ratu Adil, tidak lama akan tampak tanda tanda datangnya ratumu yang mendapat kemuliaan agung, datangnya tiba-tiba secepat kilat, diiringi berjuta-juta “malaikat” (berjuta leluhur bumi nusantara), berdiri dengan payung kuning (kebenaran sejati), maknanya ‘bang-bang’ timur keinginannya (gerakan dari wilayah timur nusantara), maka terbitlah sinar yang terang. &lt;br /&gt;…… tidak berapa lama segera datang Ratu Adil duduk menjadi pemimpin dan suri tauladan di wilayah tersebut, sehingga menjadi makmur diibaratkan sawah yang sangat luas pajaknya sangat kecil, diibaratkan tidak ada lagi yang harus dilakukan negara, sebab saking adil makmurnya nusantara, ibaratnya kegiatan orang-orang tinggal terfokus untuk sembahyang kepada Tuhan saja, serta memanjatkan puji-pujian tanpa henti.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Prabu Jayabaya? Benarkah ia seorang yang waskito sehingga nujumannya layak dipercayai? Di dalam Serat Darmagandul, dituliskan sebuah penjelasan tentang sifat Prabu Brawijaya, sang raja Kediri: &lt;br /&gt;“Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya, inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos, pinaringan wahyu mulya, inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus, sumêrêp saderengipun kalampahan.” &lt;br /&gt;Dan patung itu adalah patung Prabu Jayabaya. Ia adalah kekasih-Nya Yang Maha Kuasa. Diberi wahyu yang mulia (telah disentuh Kebenaran Sejati), ia pandai, memiliki ingatan kuat, cermat penglihatannya, mengetahui sesuatu sebelum ia terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, sebuah visi tak mungkin bisa terwujud begitu saja. Ia membutuhkan proses dan prasyarat. Dalam hal ini, karena ia menyangkut nasib kita secara kolektif, pada akhirnya semuanya juga tergantung kita, putera-puteri Nusantara. Jika kita memilih mengikuti garis takdir yang memberdayakan sebagaimana nujuman Prabu Jayabaya, maka terjadilah nujuman itu, karena memang alam semesta telah mendukung. Namun...sebaliknya kita juga bisa melawan takdir itu..dengan tidak mengikuti jalan lurus yang telah digariskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti...kini adalah saatnya para satria, pandhita, maupun para semua kalangan yang mencintai Nusantara, untuk bergegas memberikan karya terbaik bagi bangsa ini. Sembari, berupaya untuk menemukan jati diri dan membangun karakter bangsa yang kukuh..yang bersambung dengan karakter bangsa ini di masa lalu: Karakter sebagai bangsa yang agung dan kreatif, yang terbuka pada kebajikan universal yang dibawa bangsa-bangsa dari luar, namun pada saat yang sama, dengan cerdik mampu membumikannya sehingga kebajikan universal itu selaras dengan tradisi luhur yang sudah ada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-7374530262133647617?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/7374530262133647617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=7374530262133647617' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/7374530262133647617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/7374530262133647617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/07/mencipta-nusantara-jaya.html' title='MENCIPTA NUSANTARA JAYA'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-3878554161912692229</id><published>2010-07-11T22:13:00.000-07:00</published><updated>2010-07-11T22:14:01.285-07:00</updated><title type='text'>TELADAN KEPEMIMPINAN DARI TANAH JAWA</title><content type='html'>Nulada laku utama, tumrape wong tanah Jawi, wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senapati, kepati amarsudi, sudane hawa lan nepsu, pinesu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, amamangun karyenak tyasing sesame.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teladanilah perilaku utama, bagi orang-orang di Tanah Jawa, sosok agung di Mataram, yaitu Panembahan Senapati. Yang sungguh tekun, dalam mengendalikan hawa nafsu, melalui laku prihatin, dan siang malam selalu berusaha membuat orang lain merasa bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samangsane pasamuwan, mamangun marta martini, sinambi ing saben mangsa, kala kalaning asepi, lelana teki-teki, nggayuh geyonganing kayun, kayungyung eninging tyas, sanityasa prihatin, pungguh panggah cegah dahar lawan nendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap pertemuan, menciptakan kebahagiaan lahir bathin, melalui sikap sabar dan tenang. Sementara pada setiap kesempatan ketika tiada kesibukan, pergi mengembara bertapa, mencapai cita-cita hati, ia terpesona oleh suasana syahdu. Ia senantiasa prihatin, mencegah dari berlebihan makan dan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saben nendra saking wisma, lelana laladan sepi, ngisep sepuhing supana, mrih pana pranaweng kapti, tis tising tyasing marsudi, mardawaning budya tulus, mesu reh kasudarman, neng tepining jala nidhi, sruning brata kataman wahyu dyatmika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pergi meninggalkan istana, berkelana ke tempat sunyi, mereguk berbagai ilmu yang mulia, agar tercapai yang dituju, maksud hati mewujudkannya. Yang utama darinya adalah kelembutan hati, ia memeras kemampuannya dalam menghayati cinta kasih. Di tepi samudera, karena kerasnya usaha dalam menjalankan laku prihatin, ia mendapatkan anugerah Ilahi (pencerahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wikan wengkoning samudera, kederan den wus ideri, kinemat kamot hing driya, rinegan sagegem dadi, dumadyo angratoni, nenggyuh Kanjeng Ratu Kidul, ndedel nggayuh nggegana, umara marak maripih, sor prabawa lan wong agung Ngeksigondo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui kekuatan samudera, sudah ia lampaui, seluruhnya sudah dihayati meresap ke dalam sanubari. Ibarat digenggam dalam satu genggaman. Terkuasai. Maka tersebutlah Kanjeng Ratu Kidul, melejit ke angkasa, datang menghadap dengan hormat, karena ia kalah wibawa dari Panembahan Senopati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahat denira aminta, sinipeket pangkat kanthi, jroning alam palimunan, ing pasaban saben sepi, sumanggem anyanggemi, ing karso kang wus tinamtu, pamrihe mung aminta, supangate teki-teki, nora ketan teken janggut suku jaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia memohon dengan sangat, agar bisa dekat dan menjadi pengikut setia, di dalam alam ghaib. Itu semua karena Panembahan Senapati, saat berkelana, siap berserah diri, kepada kehendak yang sudah ditetapkan, pamrihnya cuma meminta restu dalam laku prihatin itu, ia tidak perduli walau harus bersusah payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prajanjine abipraya, saturun turning wuri, mengkono trahing ngawirya, yen amasah mesu budi, dumadya glis dumugi, iya ing sakarsani pun, Wong Agung Ngeksigondo, nugrahane prapteng mangkin, trah tumerah dharahe padha wibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia punya janji luhur demi kemuliaan anak cucu kelak di kemudian hari. Begitulah sosok yang agung dan luhur budinya. Bila ia mempertajam hati, akhirnya kesampaian apa yang dihasratkan oleh sosok agung dari Mataram itu. Anugerah itu terus bertahan hingga sekarang, anak keturunannya berwibawa.&lt;br /&gt;Ambawani tanah Jawa, kang padha jumeneng aji, satriya dibya sumbaga, tan iyan trahing Senapati, pan iku pantes ugi, tinelad labetani pun, ing sakuwarsanira, enake lan zaman mangkin, sayektine tan bisa ngepleki kuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang memimpin tanah Jawa, sebagai para raja, satria yang berilmu tinggi, tidak lain adalah keturunan Panembahan Senopati. Karena itu pantaslah keagungan Panembahan Senopati itu diteladani pada saat ini, walaupun harus menyesuaikan dengan tuntutan zaman, karena memang kita tidak bisa mengulang sesuatu persis seperti di masa lalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-3878554161912692229?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/3878554161912692229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=3878554161912692229' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/3878554161912692229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/3878554161912692229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/07/teladan-kepemimpinan-dari-tanah-jawa.html' title='TELADAN KEPEMIMPINAN DARI TANAH JAWA'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-2134956068017720847</id><published>2010-06-22T01:04:00.000-07:00</published><updated>2010-06-22T01:05:14.369-07:00</updated><title type='text'>MENGHIDUPKAN AGAMA AGEMING AJI</title><content type='html'>Kang wus waspada ing patrap, mangayut ayat winasis, wasana wosing jiwangga, melok tanpa aling-aling, kang ngalingi kaliling, wenganing rasa tumlawung, keksi saliring jaman, angelayut tanpa tepi, yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma. (Dia yang sudah mengetahui jalan, menghayati tanda-tanda kebijaksanaan, menjangkau inti pribadi, telah bisa menyaksikan secara nyata, yang menghalangi telah menyingkir, benar-benar memasuki alam sunyi, terlihatlah segala keadaan, terlihat tanpa batas, itulah yang dinamakan bertemu dengan jejak Tuhan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkono janma utama, tuman tumanem ing sepi, ing saben dina rikala mangsa, mangsah amamasuh budi, lahire den tetepi, ing reh kasatriyanipun, susilo anoraga, wignya men tyasing sasami, yeku aran wong barek berag agama. (Seperti itulah manusia utama, senang tenggelam dalam kesunyian, setiap hari ketika dia menemukan kesempatan, mempertajam dan membersihkan jiwa, setia menjalankan peran sebagai kesatria, bertindak baik, rendah hati, pandai bergaul dan membuat hati orang terpikat, itulah yang disebut orang-orang yang menghayati agama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KGPAA Mangkunegoro IV dalam Serat Wedhatama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama, dalam cara pandang KGPAA Mangkunegoro IV yang merupakan sahabat sekaligus murid dari Ronggowarsito, adalah ageming aji, pegangan yang baik...ajaran yang harus dipegang dengan kukuh dan dihayati agar muncul kebaikan. Agama ibarat obor..ia dipegang...dijadikan penerang, agar kehidupan kita di muka bumi ini tetap berada di jalan setapak kebenaran, tidak terperosok apalagi tersesat, dan ujungnya...kita bisa kembali kepada asal muasal sekaligus tujuan akhir kita, sangkan paraning dumadi, Dialah Hyang Tunggal, Hyang Wisesa, yang disebut manusia dengan berbagai nama: Allah, God, Elli, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang kebaikan, kita mesti berbicara tentang kebaikan pada tiga dimensi: dimensi pribadi, dimensi sosial, dan dimensi semesta. Beragama yang baik, indikatornya adalah ketika ketiga dimensi yang melingkupi hidup kita itu selalu dalam keadaan baik. Baik pada dimensi pribadi, adalah bahwa kita menemukan kebahagiaan sejati, kita bisa merasakan kedamaian yang tak bercampur dengan kegelisahan, kita masuk ke dalam alam keselamatan yang tak lagi dikotori musibah. Sementara baik pada dimensi sosial, maknya kita dipersepsi baik oleh orang di sekitar kita, karena kita selalu memberikan kebahagiaan, ketenangan, rasa aman, dan keselamatan kepada mereka. Dan terakhir, baik pada dimensi semesta...kita, sebagai jagad alit, menjadi selaras dengan jagad ageng. Kita bisa merasa terhubung dengan tanah, udara, air, api...kita bisa merasa satu dengan tetumbuhan, hewan, matahari, bulan, semesta yang tak terbatas...yang wujud nyatanya, alam ini selamat dari semua kejahatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah agama membawa kebaikan bagi kita? Harus kita sendiri yang menentukannya secara jujur. Kadang ada orang yang tahu apakah kita sudah beragama dengan baik atau belum..merekalah kaum yang waskito...tapi walau mereka tahu, mereka tak bisa mengubah nasib kita. Kitalah yang bisa mengubah keadaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataan hidup saat ini, di nusantara yang kita cintai ini, terlihat apa yang disebut dengan peningkatan gairah beragama. Di mana-mana orang menunjukkan semangat untuk kembali pada agama.&lt;br /&gt;Sayang sekali..pada banyak kasus..kebangkitan itu hanya pada tataran artifisial. Orang ternyata baru kembali pada kulit agama...mereka seperti anak-anak di hari lebaran yang bangga ketika mengenakan baju baru tanpa peduli akan makna kembali pada fitrah dan kesucian. Seringkali..hakikat agama itu sendiri tak terlihat...Banyak orang yang ternyata bajunya saja yang sudah baju agama, tetapi dalamnya, lapisan jiwanya..belum diterangi oleh agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gampang sekali mengamati fenomena di atas. Kita bisa melihat orang atau kelompok yang paling merasa beragama dan paling merasa dekat Tuhan...di kalangan mereka agama diteriakkan, Tuhan juga diteriakkan...tapi hasilnya justru orang merasa tak nyaman, merasa tak aman, dan jauh dari kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda paling jelas untuk melihat kualitas keberagamaan kita adalah dengan melihat bagaimana respons alam ini. Saat ini, mengiringi bangkitnya semangat keagamaan, ternyata alam malah menjadi tak bersahabat. Bahkan alam ini, bumi pertiwi malah berduka...jagade gonjang ganjing!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas ada yang keliru! Kebaikan pada berbagai dimensinya tidak muncul ketika saat ini orang seperti telah kembali pada agama. Mengapa? Karena sesungguhnya mereka tidak kembali pada hakikat agama sebagai agama ageming aji dan aturan yang mencegah manusia dan semesta ini terperosok pada ketidakteraturan. Agama yang hanya dipahami sebagai identitas budaya, yang membuat seseorang merasa berbeda dari orang atau kelompok lainnya...Itu jelas hanya akan menciptakan keburukan pada dimensi sosial sekaligus membuat kita terputus hubungan dengan semesta. Apalagi saat ini kita juga bisa melihat banyak pihak mengulang pola yang sudah lama mewarnai Nusantara maupun berbagai belahan dunia: memanipulasi agama, baik sengaja maupun tak sengaja. Ketika agama dimanipulasi, agama dijadikan topeng untuk ambisi, hasrat, dan obsesi rendah. Jelas, pada tataran sosial yang terjadi adalah kekacauan, pada tataran alam yang muncul adalah bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mau agama kita memberikan kebaikan yang utuh..maka apa yang dituliskan dalam Serat Wedatama di atas layak jadi pegangan. Kita mulai belajar menjalani agama sebagai petunjuk untuk memasuki alam kesunyian, alam pertemuan dengan Dzat Yang Maha Misteri. Langkah praktisnya adalah menekankan aspek agama sebagai petunjuk tentang perilaku yang baik: agama sebagai pedoman akhlakul karimah. Berbagai ritual agama, ditempatkan pada konteks riyadhoh, pelatihan, agar diri ini bisa terkendalikan, dan kemudian, bisa terbiasa untuk berbuat baik kepada diri sendiri, kepada Yang Mencipta kita, dan kepada sesama ciptaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada posisi beragama seperti yang diajarkan dalam Serat Wedhatama, arogansi dalam beragama, yang muncul dalam kebiasaan mengaku-ngaku sebagai satu-satunya kelompok yang pantas menjadi kekasih Tuhan, satu-satunya umat yang selamat dan bisa menikmati surga..harus disingkirkan. Itu harus diganti dengan kerendahan hati..dengan sikap diam dalam ketekunan menjalankan laku prihatin. Keberagamaan kita tidak lagi disampaikan lewat kata-kata, tapi dibuktikan melalui perilaku mulia yang membuat orang lain tersenyum bahagia karena keberadaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, selamat merenungkannya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-2134956068017720847?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/2134956068017720847/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=2134956068017720847' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2134956068017720847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/2134956068017720847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/06/menghidupkan-agama-ageming-aji.html' title='MENGHIDUPKAN AGAMA AGEMING AJI'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-8751375837000703365</id><published>2010-06-15T20:18:00.000-07:00</published><updated>2010-06-15T20:20:24.732-07:00</updated><title type='text'>BENIH KEBAJIKAN BERBUAH KEBAHAGIAAN</title><content type='html'>Belum lama ini saya mendapatkan anugerah yang sangat istimewa: saya berkesempatan belajar abc-nya kehidupan bersama para warga binaan (narapidana) di Lapas Kesambi Cirebon. Status formal saya adalah pembimbing ruhani bagi mereka. Tapi, sungguh, saya dan mereka pada hakikatnya sama-sama murid, "orang yang berhasrat mendapatkan kebenaran". Lebih dari itu, ada banyak hal di mana saya memang harus banyak belajar dari mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara yang ada pada grup pembinaan saya itu, sekitar 20 orang, rata-rata divonis sangat berat. Sebagian hukuman mati, sebagian seumur hidup, sisanya 20. Mereka jelas lebih punya pengalaman dalam merasakan pahit getirnya kehidupan. Faktanya, saya memang belajar dari ketangguhan mereka dalam menjalani hidup yang sulit....sehari-hari teman hidup mereka adalah dinding dan jeruji penjara. Terpisah dari keluarga tercinta. Entah kapan mereka akan bisa berganti nuansa hidup dan bisa melepas rindu dengan kerabat mereka. Namun, setiap bertemu saya, mereka bisa memberikan sapaan hangat dan senyum yang terasa aura ketulusannya. Saya bayangkan, itu bukan hal mudah. Hanya bisa dilakukan oleh mereka yang tangguh mentalnya! Selain itu, di antara mereka memang ada yang "ilmu"-nya jauh lebih tinggi ketimbang saya...mata bathinnya lebih tajam...hanya karena status formal saja akhirnya seolah-olah dia belajar pada saya ...(he, he...padahal semestinya terbalik....) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpikir keras, bagaimana caranya kehadiran saya memang memberi manfaat bagi saudara-saudara di Lapas itu. Jelas...saya sadar..dalam banyak hal..saya tidak bisa membagi rumus kehidupan yang telah saya buktikan kebenarannya pada mereka, sementara kondisi mereka jelas berbeda dengan saya. Misalkan, berbicara tentang kebahagiaan, relatif mudah bagi saya untuk mereguknya. Di sekeliling saya banyak 'bahan' untuk berbahagia: istri yang rajin, anak2 yang lucu, pekerjaan yang menyenangkan, pemandangan yang indah dan mempesona hati.....Sementara bagi mereka, apa bahannya? Bagaimana caranya bahagia sementara di sekeling kita cuma ada dinding dan jeruji besi? Bagaimana bisa bahagia jika keluarga yang dirindu ada nun jauh di sana dan kita tak bisa bersama mereka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya....muncul kesadaran...betapapun..saya telah ditakdirkan untuk menjadi perantara sampainya seberkas Cahaya Ilahi kepada mereka. Saya tinggal bersikap pasrah kepada bentuk cahaya apapun yang akan disampaikan Sang Sumber Cahaya kepada hamba-hamba-Nya yang ada di Lapas Kesambi itu. &lt;br /&gt;Dan akhirnya...lidah saya ini bisa mengungkapkan rumus pasti tentang kebahagiaan, yang bisa dijalankan oleh siapa saja...oleh mereka yang ada di tanah yang bebas, ataupun di penjara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sampai pada rumus ini...saya mengajak teman-teman yang kini sedang terpenjara itu untuk merenungkan, apa yang mereka rasakan di penjara. He, he...pertanyaan naif..tapi memang itu kunci jawabannya. Yang mereka rasakan adalah penderitaan! Mereka menderita..Selama ini mereka kuat karena telah berjuang beradaptasi dengan derita yang mereka rasakan. Lalu, mengapa mereka menderita? Siapa yang bertanggung jawab atas penderitaan mereka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini, saya menanamkan sugesti...dan mereka juga sebenarnya bisa mengakui...bahwa sumber penderitaan itu adalah diri mereka sendiri. Siapapun yang menderita, yang bertanggung jawab adalah dirinya sendiri. Derita adalah buah dari perilaku diri sendiri. Tuhan tak bisa disalahkan, karena Dia yang Welas Asih tak pernah memaksa kita untuk berbuat salah...kitalah yang memilih berbuat salah! Dan buah dari kesalahan adalah derita. Semakin besar benih kesalahan yang kita tanamkan, semakin besar buah penderitaan yang dipetik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana caranya agar penderitaan itu bisa menyingkir? Itu semua tergantung dari kita sendiri. Penderitaan itu adalah cermin bahwa jiwa kita masih gelap...tertutup oleh noda demi noda kesalahan kita sendiri. Derita itu baru bisa menyingkir jika jiwa kita telah menjadi terang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa ini menjadi terang..jika noda itu kita hapus dengan titik demi titik cahaya..yang dihasilkan dari segenap perbuatan baik..dan saat yang sama, tidak diganggu dengan menambah lagi noda hitam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka...saya mengajak pada saudara-saudara di Lapas itu, untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk sama-sama membuat jiwa kita bersama menjadi terang. Saya memberikan sebuah rumus sederhana: kebahagiaan kita itu kita raih setara dengan perbuatan baik yang telah kita lakukan. Jika kita masih menderita, berarti perbuatan baik kita masih belum cukup..kita masih punya hutang akibat perbuatan buruk kita di masa lalu. Salah satu cara terbaik membayar hutang itu adalah dengan menerima penderitaan saat ini dengan hati yang lapang, karena itulah bentuk keadilan yang hidup. Jaksa, polisi, hakim, mungkin bisa salah tangkap dan salah vonis...tapi Kehidupan tak mungkin keliru. Seseorang masuk penjara, menderita, susah...pasti karena sebuah kesalahan, entah disadari ataupun tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka...saya benar-benar berusaha agar menjadi mitra bagi mereka untuk bersama-sama membuat jiwa ini bisa menjadi terang.....Nah, riyadhoh dan ritual menjadi penting untuk dijadikan sebagai bagian dari hidup sehari-hari, karena ia sesungguhnyanya itu menjadi salah satu cara efektif untuk membuat kita mudah berbuat kebaikan, dan gampang menyadari makna ilmu kehidupan. Pada titik inilah, saya mengajak mereka untuk sama-sama belajar tentang wirid, dzikir, shalat, dan semacamnya.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang juga saya sampaikan adalah, bahwa bagaimanapun keadaan kita saat ini, kita masih bisa menciptakan hidup yang lebih baik. Kita bisa menanam benih kebaikan pada masa kini agar bisa memetik buah kebahagiaan di masa depan. Maka, ada tiga hal yang saya tekankan untuk menjadi amalan bersama: pertama, nrimo ing pandum...qonaah...menerima apa yang ada sebagai bentuk karunia terbaik dari Gusti Allah. Penjara...adalah karunia terbaik untuk mereka yang telah pernah berbuat kekeliruan yang fatal. Penderitaan, adalah karunia terbaik yang bisa memicu seseorang untuk mengalami transformasi ruhani. Kedua, adalah mencoba berbuat baik dan memberi manfaat kepada siapapun yang masih bisa kita jumpai...karena itulah jalan satu-satunya untuk bisa merasakan kebahagiaan. Ketiga, terus memburu ilmu..karena ilmu adalah cahaya..yang bisa menerangi jiwa..hanya dengan ilmu, jiwa bisa dibuat terang dan kebahagiaan bisa diraih. Ilmu yang seperti apa? Tentu saja Ilmu Sejati!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-8751375837000703365?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/8751375837000703365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=8751375837000703365' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/8751375837000703365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/8751375837000703365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/06/benih-kebajikan-berbuah-kebahagiaan.html' title='BENIH KEBAJIKAN BERBUAH KEBAHAGIAAN'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-5306525824292837792</id><published>2010-06-09T05:17:00.001-07:00</published><updated>2010-06-09T05:17:40.734-07:00</updated><title type='text'>MEMBUAT  HATI  NURANI KITA BERCAHAYA</title><content type='html'>Di dalam diri kita, sesungguhnya terdapat instrumen yang membuat kita bisa bertemu dengan kebenaran. Hati nurani merupakan sumber kesadaran dan pemberi keputusan tentang sikap yang diambil dalam situasi dan kondisi tertentu yang kita hadapi. Hati nurani tak mungkin menggelincirkan diri kita kepada kekeliruan dan kenistaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam istilah Jawa, hati nurani disebut sebagai ALUSING PANDULU atau kehalusan daya cipta, yakni kekuatan yang atau kemampuan perasaan hati nurani untuk meraba, merasakan, membedakan, dan menentukan. Seperti disampaikan oleh salah satu guru saya, Alusing pandulu merupakan pangkal dari otonomi setiap individu, yakni dasar dari kemandirian pribadi. Pusat otoritas setiap pribadi berada di dalam hati nuraninya sendiri. Dengan kata lain, seseorang yang merdeka, yang otonom, adalah dia yang hanya tunduk kepada hati nuraninya, tidak kepada lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tunduk kepada hati nuraninya, selalu berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai bimbingan hati nuraninya, sesungguhnya adalah sosok yang telah selaras dengan Al-HAQQ. Dialah seorang yang tulus, tunduk, berserah diri, di hadapan Gusti Ingkang Maha Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, kebanyakan kita hanya mempergunakan nalar atau rasio kita untuk menyeleksi berbagai kemungkinan sikap, pikiran, dan tindakan yang diambil. Sayang sekali, karena nalar ternyata rentan untuk keliru...karena sangat mungkin ia disaput oleh ilusi yang berpangkal pada hawa nafsu. Hanya mereka yang nalarnya terhubung dengan hati nurani yang bisa lebih pasti bersikap, berpikir dan bertindak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih banyak lagi, mereka yang tidak mau mempergunakan nalarnya...Di antara mereka adalah orang-orang yang secara lahiriah sangat tampak shalih...selalu berhiaskan simbol-simbol agama. Mereka merasa selalu dibimbing oleh Allah, oleh Kitab Suci. Pada faktanya, mereka sesungguhnya dibimbing oleh "doktrin" yang kemudian mengendap di alam bawah sadar, lalu menjadi sebuah ilusi yang diyakini sebagai kebenaran mutlak. Pangkal soalnya adalah, mereka sekadar menerima saja apa yang merupakan buah penalaran dari orang terdahulu, yang repotnya, tidak disinari oleh cahaya hati nurani. Walaupun hasil nalar orang dulu itu belum tentu benar, ia dimutlakkan sebagai kebenaran. Maka, kesalahan dan kekeliruanpun turun temurun dari generasi ke generasi, melalui berbagai medium, antara lain rumah tangga, sekolah, tempat ibadah, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu konsep kunci agar kita bisa memahami bahwa sesungguhnya sumber kebenaran itu ada di dalam diri sendiri, adalah konsep manunggalnya kawula kalawan gusti...bahwa sesungguhnya kita dan Dzat yang Menyebabkan Kita ini ada, sungguh tidak terpisah. Ajaran Jawa membabarkan: Ingsun ing sajroning aku, Aku ing sajroning Ingsun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam diri kita, ada Sang Aku! Manifestasi Sang Aku ini adalah Sukma Sejati atau Rahsa Sejati atau Guru Sejati. Getaran darinyalah yang disebut dengan hati nurani, yang menjadi pembimbing manusia agar selalu berpikir, bersikap dan bertindak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, karena pengaruh hawa nafsu, nalar yang tak terlatih, sekaligus penjara dogma, kita sering mengabaikan suara hati nurani kita sendiri, padahal itu adalah Sapaan dan Panggilan dari Zat Yang Menggenggam Kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, bagaimana caranya agar setiap diri bisa terhubung dengan hati nuraninya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru saya mengatakan, ada beberapa hal yang harus diupayakan:&lt;br /&gt;Pertama, Beninging ati atau kejernihan kalbu. Kita harus terlebih dahulu mengikis segala kerak dosa yang ada di dalam diri kita..jangan menyengaja berbuat dosa yang membuat kerak itu makin tebal, dan berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya untuk membuat kerak yang sudah ada itu terkikis sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Sirnaning kekarepan atau sirnanya rahsaning karep. Atau lenyapnya semua maksud jahat, keburukan, dan tindakan hina-aniaya. Jangan sekali-kali membiarkan keburukan menghiasi pikiran dan perasaan Anda. Benci, dengki, sombong, adalah hal yang harus dipantang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Lereming pancadriya atau ketenangan panca indera. Jangan biarkan panca indera kita menjadi sumber masuknya kerak dosa ke dalam hati kita. Pergunakan semua panca indera kita hanya untuk kebaikan, sesuai dengan fungsi mereka semua diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, jatmikaning solah bawa atau perilaku lahir dan batin yang santun. Hati, ucapan, pikiran dan perbuatan atau tindakan nyata harus selaras dengan mengekspresikan kelemahlembutan, cinta, dan ketulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menjalani itu semua, hati nurani akan bisa kita rasakan cahayanya. Dan hanya dengan demikian, kita juga makin bisa membedakan mana yang merupakan suara hati nurani, dan mana yang merupakan hasrat hawa nafsu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-5306525824292837792?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/5306525824292837792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=5306525824292837792' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/5306525824292837792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/5306525824292837792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/06/membuat-hati-nurani-kita-bercahaya.html' title='MEMBUAT  HATI  NURANI KITA BERCAHAYA'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-1671410700096195317</id><published>2010-06-09T05:16:00.000-07:00</published><updated>2010-06-09T05:17:05.714-07:00</updated><title type='text'>BERAGAMA YANG BENAR, SEPERTI APA?</title><content type='html'>Tulisan ini saya buat sebagai tanggapan untuk sahabat saya, Yuga Nugraha. Semoga ia juga memberi manfaat buat teman2 lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diingatkan oleh sahabat saya itu untuk berhati-hati. Mungkin Kang Yuga takut saya terjerembab dalam kesesatan. Saya bahkan diingatkan bahwa beragama itu mesti arogan..karena ada ayat inna diena indallahil islam. Kemudian, disajikan juga dalil ruhama'u bainahum ..asyidda'u alal kuffar..termasuk udkhulu fissilmi kaffah. Saya haturkan terima kasih atas perhatian Kang Yuga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disampaikan Kang Yuga sudah biasa saya temukan, baik di kalangan teman2, tetangga, termasuk mereka yang rela jadi murid saya. Dan sebetulnya, itu pula yang ditanamkan kepada saya sejak kecil...bahkan, doktrin semacam demikian, sangat kuat ditanamkan ketika saya SMA dan awal-awal kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun..bagi saya sendiri...masa-masa itu adalah masa jahiliyah...masa ketika kesadaran saya tertutup, dan nalar ini terkungkung oleh doktrin yang saya terima bulat-bulat tanpa pernah saya pertanyakan kebenarannya. Seiring dengan perjalanan waktu, sebagai buah jatuh bangun perjalanan spiritual, dan sebagai dampak dari perkembangan jiwa, maka saya punya kesadaran baru: kesadaran yang bersumber dari cahaya hati....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Yuga mengatakan, yang penting itu iman dan takwa, bukan kebeningan jiwa. Saya bertanya, lalu, apa yang dimaksud dengan iman? Apa yang dimaksud dengan taqwa? Dan apa pula tujuan iman dan taqwa? Mengapa pula beriman? Dan apa dampak iman terhadap taqwa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sejauh ini kita memang diajari untuk beriman secara membuta, lalu bertaqwa secara keliru. Iman itu adalah keyakinan. Apa yang kita yakini? Kita biasa diajari untuk meyakini kata-kata yang kita kadang tak pahami makna dan hakikatnya. Beriman kepada Allah..apa makna Allah? Beriman kepada akhirat..apa makna akhirat...Maka, pada akhirnya, kita beriman pada kata-kata itu, pada persepsi kita tentang kata-kata itu, tanpa kita pahami apa maknanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin kita bisa beriman kepada sesuatu yang kita tak pahami maknanya? Secara sederhana, orang mungkin mengatakan bahwa Allah itu Tuhan yang Haq...satu-satunya Tuhan...Apa maksudnya? Samakah Sang Hyang Widhi, God dengan Allah? Apakah Allah yang Anda imani itu identik dengan Tuhan yang sesungguhnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, Kang Yuga belum pernah bertanya dan mencoba mencari jawabannya secara serius. Saya maklum..karena yang Anda ungkapkan sebagai keimanan itu hanya kata-kata yang dimasukkan kepada benak Anda tanpa boleh dipertanyakan..lalu keluar lagi melalui lisan..tanpa kurang tanpa tambah....Saya menyaksikan, bahwa selama ini bagi kebanyakan kaum Muslimin, keimanan dikukuhkan tanpa proses penalaran, apalagi proses penyinaran dari hati nurani..Ya..keimanan demikian, hanya mengandalkan proses transfer informasi dari generasi ke generasi semata-mata berbekal keyakinan bahwa informasi itu pasti benar tanpa ada upaya memverifikasinya....Dalam hal ini, manusia seolah-olah turun tingkatan menjadi sekadar kaset rekaman..bisanya sekadar mengulang2 apa yang pernah dimasukkan ke dalam memori ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa gunanya ayat-ayat Allah yang mengajak Anda untuk merenung dan berpikir; afalaa ya'qiluun...afalaa yatafakkarun...afalaa yatadabbaruun..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda mempergunakan pikiran Anda, nalar Anda, lalu dibarengi dengan membiarkan hati nurani untuk bicara, dan itu hanya bisa dilakukan jika jiwa kita bening...Anda akan menemukan bahwa keimanan yang sesungguhnya, haruslah merupakan hasil sebuah penyaksian (syahadat). Menyatakan bahwa Allah itu Tuhan kita..haruslah dilandasasi penyaksian secara rasional sekaligus intuitif tentang keberadaan Allah itu sendiri...termasuk kesadaran akan makna Allah itu sendiri (Coba tanya sam ahli bahasa Arab: Allah itu apa..itu adalah kependekan dari Al-Ilah..Ilah (tuhan, sesembahan) yang didefinitifkan melalui isim ma'rifah..sehingga artinya adalah "Dzat yang selama ini biasa dipertuhankan, disembah...dalam hal ini adalah oleh orang Arab". Apakah kata ini sudah mewakili hakikat Tuhan yang sesungguhnya? Tentu saja tidak mungkin...karena tiada satu katapun yang bisa merepresentasikan hakikat dan keberadaan Tuhan. Bacalah dalam Nahjul Balaghah, betapa Imam Ali menjelaskan bahwa Tuhan itu adalah dzat yang tak bisa dibicarakan dan didefinisikan, bahkan disifati..setiap kita membicarakan, mendefinisikan, atau menyifati..hasilnya bukanlah Tuhan itu sendiri. Kata-kata tentang Tuhan, yang kemudian kita sebut sebagai makna Tuhan..pada dasarnya adalah ekspresi manusiawi kita berkenaan dengan sesuatu yang dalam Al Qur'an disebutkan laisa kamitslihi syaiun, atau dalam bahasa Jawa, disebut 'tan kena kinira, tan kena kinaya ngapa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah Anda menyadari hal tersebut? Atau Anda masih menyembah dan memberhalakan sebuah kata? Lebih jauh..siapa yang sebetulnya Anda imani? Saya khawatir, sebetulnya Anda itu mengimani Tuhan yang dikonstruksi oleh pikiran Anda sendiri..jadi yang menciptakan Tuhan yang Anda sembah itu adalah Anda sendiri....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa pula yang disebut dengan takwa? Jangan sebutkan definisi yang sudah biasa kita dengar semenjak kita sekolah dasar....Mari kita masuk ke dalam hakikatnya....Imam Khomeini menyebutkan bahwa taqwa itu asal katanya adalah wiqoyah, yang artinya perisai. Orang yang taqwa, itu punya perisai, yang membuat dirinya terbebas dari belengu, jebakan, dan hasutan hawa nafsu. Pertanda orang taqwa itu adalah perilaku yang serba baik, pikiran yang serba baik, dan ucapan yang serba baik, kepada siapapun. Dan apa landasannya? Landasannya adalah keberadaan jiwa yang telah bersih atau hati yang telah bening. Ya, karena hanya orang yang demikianlah yang bisa secara otomatis, tanpa rekayasa, untuk senantiasa berbuat, berpikir, dan berucap benar selaras dengan Al Haq. Ya, orang yang demikian itu adalah orang yang jiwanya, keakuannya, telah tunduk, sirna, dihadapan cahaya nurani. Dan sekali lagi, cahaya nurani ini hanya efektif berlaku bagi mereka yang telah bening hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kurang sreg dengan pandangan Imam Khomeini, tengoklah ajaran Imam Ghozali..bahwa taqwa itu sebetulnya hanya sebuah stasiun, maqom, dalam perjalanan ruhani seseorang. Pada tingkat tertinggi, seseorang itu akan fana dan baqa fillah...keakuannya sirna..seseorang itu sepenuhnya tunduk patuh kepada Dzat Yang Maha Suci. Bagaimana wujudnya? Ia mengedepankan kebenarann yang disuarakan oleh dzauknya, basyirahnya, mata hatinya....doktrin dan dogma telah disingkirkan, nalarpun telah diistirahatkan, yang bersinar adalah dzauq atau basyirah.....!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pada kenyataannya, suara hati atau apa yang disuarakan oleh nurani kita, sering bertentangan dengan doktrin resmi agama? Mengapa? Karena doktrin resmi itu adalah hasil 'perselingkuhan" agama dengan kepentingan politik dan ekonomi. Bagi penguasa..lebih mudah mengatur mereka yang nalarnya beku dan basyirahnya gelap...cukup dikendalikan dengan pendekatan stick and carrot, selesai...! Atau cukup diberi iming-iming surga dan ancaman neraka, selesai juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya...saya punya kesadaran baru akan makna-makna ayat-ayat yang dulu sering saya jadikan landasan untuk bersikap arogan dalam beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna diena indalahil Islam...artinya adalah agama yang benar itu, yang diridhai Allah itu, adalah agama yang membawa keselamatan, kedamaian....apapun mereknya! Setiap agama yang membuat pengikutnya bisa menjadi penebar keselamatan dan kedamaian, itu adalah agama yang benar! Sebaliknya, walau diberi merek Islam, tapi ia tidak membuat pengikutnya sebagai penebar keselamatan dan kedamaian, sesungguhnya ia tidak diridhai Allah. Apakah ini kesadaran saya sendiri? Tidak, ternyata, mursyid saya yang secara genetis masih punya hubungan dengan Rasulullahpun ternyata punya kesadaran demikian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, tengoklah kepada Anda pribadi..sudahkah perilaku, sikap, pikiran, dan ucapan Anda membawa kedamaian dan keselamatan kepada seluruh makhluk? Kepada sesama manusia dari ras apapun dan agama apapun, kepada bebungaan, kepada gunung, laut, hutan, semut dan semuanya, termasuk bangsa jin....? Jika ia, anda adalah Islam...jika tidak, Anda telah berdusta mengaku sebagai Muslim....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu siapakah kafir itu? Kafir itu adalah orang yang mengingkari kebenaran. Orang yang hati nuraninya berkata A, tapi dia memilih B karena mengikuti hawa nafsunya. Kekafiran ini tak terkait dengan pilihan agama, tapi terkait dengan sikap dan perilaku...Jadi, di antara Muslim itu ada yang kafir ada yang mu'min..demikian juga di kalangan Hindu, Kristen, Budha..dan seterusnya...Bahkan tak sedikit yang tak punya agama resmi, pada hakikatnya dia adalah orang yang berserah diri pada Kebenaran (Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udkhulu fi silmi kaaffah? Artinya adalah masuklah ke dalam kedamaian yang total..jangan ada rasa gelisah, khawatir..takut...dan itu hanya bisa dicapai oleh mereka yang sudah Manunggal kalawan Gusti! Hanya orang-orang yang punya ambisi politiklah yang memaknai ayat itu sebagai keharusan untuk mendirikan negar Islam (yang pada faktanya adalah negara berdasar hawa nafsu, prasangka, dan kebodohan, yang ditopengi dan dilabeli Islam...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan renungkan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-1671410700096195317?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/1671410700096195317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=1671410700096195317' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/1671410700096195317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/1671410700096195317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/06/beragama-yang-benar-seperti-apa.html' title='BERAGAMA YANG BENAR, SEPERTI APA?'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-5749578352598412053</id><published>2010-06-09T05:15:00.002-07:00</published><updated>2010-06-09T05:16:24.753-07:00</updated><title type='text'>SULITKAH UNTUK MENCINTAI ORANG YAHUDI?</title><content type='html'>"Tuhanku...saat laknat bertebaran di mana-mana, jadikan aku sebagai penebar kasih.&lt;br /&gt;Saat benci membahana...banjiri aku dengan Cinta..cinta...dan cinta..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini, sumpah serapah, laknat, nada benci, memang tengah membahana, tertuju kepada Bangsa Israel, yang kita kenal juga sebagai orang-orang Yahudi. Menyimak itu semua, tergelitik hati ini untuk menulis sesuatu tentang Orang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kaum Muslimin..tampaknya punya persepsi yang mirip tentang Orang Yahudi, yaitu sebagai bangsa yang dikutuk dan dilaknat Allah. Tentunya, itu didasarkan pada pemahaman terhadap ayat-ayat Al Qur'an yang secara eksplisit memang "mengutuk" perilaku orang-orang Yahudi atau Bani Israel. Karena itulah...kesalahan yang dilakukan oleh beberapa orang yahudi, langsung membangkit semangat melaknat yang rupanya sudah terpendam dalam alam bawah sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya coba mendaftar beberapa alasan mengapa orang Yahudi dikutuk Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengaku sebagai kaum yang dikasihi Allah...tapi dalam kenyataan hidup sering bertindak khianat terhadap amanat yang diberikan Allah.&lt;br /&gt;2. Mengaku sebagai umat pilihan, lebih mulia dibandingkan bangsa-bangsa atau umat lain..tetapi perilakunya tidak membuktikan demikian: mereka banyak berbuat kenistaan.&lt;br /&gt;3. Sering memutarbalikkan ayat-ayat Allah. Kebenaran diputarbalikkan jadi kekeliruan. Sebaliknya, kekeliruan dianggap sebagai kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah:&lt;br /&gt;Apakah semua manusia yang dilahirkan sebagai orang Yahudi pasti melakukan hal-hal terkutuk sebagaimana di atas?&lt;br /&gt;Sayang sekali saya tak punya tetangga orang Yahudi...tapi, setidaknya, dari berbagai buku dan berita yang saya baca, ada banyak orang Yahudi yang baik-baik, baik perilakunya, baik perkataannya, baik pikirannya. yang pasti, Albert einstein itu orang yahudi...dan melihat secara hidupnya, dia termasuk orang baik2. Apakah dia termasuk orang yang layak dikutuk? Sepertinya tidak....bahkan semestinya dia dimuliakan..apalagi dalam akhir perjalanan hidupnya...melalui fenomena alam yang dia teliti, dia bisa menyaksikan Keagungan Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah bayi-bayi Yahudi pantas dikutuk? Apakah orang-orang Yahudi yang kesehariannya diwarnai dengan perilaku mulia: suka menolong orang, tak pernah merugikan orang, juga patut dikutuk semata-mata karena dia dilahirkan sebagai Orang Yahudi? Dengan akal sehat dan hati yang jujur, kita selayaknya menjawab: Tidak...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan berikutnya: Apakah perilaku-perilaku buruk yang dilakukan orang Yahudi, kini tidak sedang kita ambil alih? Rasanya, berbagai perilaku buruk yang dinisbatkan kepada orang Yahudi..dulu dan kini ternyata kita juga melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita, sebagai Muslim, merasa diri kita sebagai satu-satunya umat yang bisa masuk surga? Padahal, dalam kenyataan, banyak di antara kita yang Muslim ini bejatnya luar biasa?&lt;br /&gt;Bukankah banyak di antara kita yang suka memutarbalikkan ayat-ayat Allah demi kepentingan ekonomi dan kekuasaan? Bahkan, seperti orang Yahudi jaman dulu...kita memanipulasi agama untuk kepentingan politik dan ekonomi kita....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah..yang dulu memenggal kepala Sayiddina Husein adalah mereka yang mengaku sebagai Muslim?&lt;br /&gt;Bukankah yang kini menembaki Masjid milik jamaah Ahmadiah di Lahore adalah mereka yang mengaku sebagai Muslim? Juga yang menyerbu masjid Ahmadiah di Bogor, di Kuningan, bukankah mereka Muslim?&lt;br /&gt;Bukankah yang menghukum mati Syaik Mahmud Thaha di Sudan, hanya karena tak setuju pada pandangannya, adalah mereka yang juga mengaku muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah yang banyak korupsi di Indonesia sebagian besarnya juga Muslim?...Yang berlaku curang ketika pemilihan kuwu, bupati, gubernur hingga presiden...sebagian besarnya adalah juga Muslim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa bedanya kita dengan orang yahudi? Mereka punya Taurat dan banyak berbuat nista! Kita punya Al Qur'an dan ternyata banyak berbuat nista!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, kita demikian mudah mengutuk orang Yahudi. Tidakkah kita bisa sedikit reflektif, untuk terlebih dahulu lebih banyak mengutuk diri kita sendiri? Karena, pada faktanya, kebusukan kita tidaklah sedikit....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku...berbicara tentang Palestina...sesungguhnya hanya ada satu jalan untuk menciptakan kedamaian di sana...dan itu harus dimulai oleh kita yang mengaku sebagai Muslim. Kita harus berani berhenti membenci orang Yahudi. Kita harus berani memulai mencintai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedamaian di sana, hanya bisa terwujud jika kita bersedia menyingkirkan kebencian rasial kita. Karena kebencian itulah yang mengundang hadirnya kebencian dari pihak lain! (Inilah sunnatullah..benci pasti menarik benci...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh...perdamaian di Palestina hanya bisa terwujud jika kita mau dengan tulus sama-sama berdoa, agar Allah memberikan jalan terbaik buat orang yahudi...membuat hati nurani sebagian pemimpin mereka yang keras kepala bisa terbuka...lalu pintu taubat bagi merekapun terbuka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, jika kita berharap dunia ini damai...kita harus belajar untuk mencintai semua orang. Kita mencintai orang Yahudi, Palestina, Amerika, semuanya...kita berdoa agar mereka semua mendapatkan hal-hal terbaik dalam kehidupan mereka...lalu kita belajar untuk hidup berdampingan dilandasi semangat menghargai kemanusiaan kita masing-masing!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulitkah? Tidak, jika hati kita sudah kita beningkan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-5749578352598412053?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/5749578352598412053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=5749578352598412053' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/5749578352598412053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/5749578352598412053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/06/sulitkah-untuk-mencintai-orang-yahudi.html' title='SULITKAH UNTUK MENCINTAI ORANG YAHUDI?'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-6586003565062417248</id><published>2010-06-09T05:15:00.001-07:00</published><updated>2010-06-09T05:15:54.385-07:00</updated><title type='text'>SEMBAHYANG = MEDITASI (HASILNYA ADALAH WAHYU)</title><content type='html'>Tulisan ini, adalah tanggapan untuk sahabatku tercinta Dindien. Saya muat di note supaya ada sahabat lain yang bisa mendapatkan manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disebut dengan wahyu? Apa pula yang disebut dengan kekuatan akal? Atau lebih tepat, apa yang disebut dengan hasil pemikiran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat hakikat kata-kata itu satu persatu: Setiap manusia, seperti yang sudah sering saya paparkan, memiliki unsur-unsur jasmani sekaligus unsur ruhani. Unsur jasmani itu adalah badan kita, yang secara garis besar terdiri dari elemen tanah, air,api, dan udara. Sementara unsur ruhani itu adalah Ruh (yang ditiupkan oleh Allah, atau dalam bahasa sufistik: yang merupakan manifestasi (tajjali) Dzat Yang Maha Lembut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam khazanah kebudayaan Jawa...ruh itu disebut juga dengan sukma (bisa juga disebut dengan Sukma Sejati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah..hasil "perkawinan" antara unsur langit dan unsur bumi itu, lahirlah "jiwa" (nafs)...ialah sang aku, yang merasa dan menyadari keberadaannya sebagai sosok yang punya jatidiri dan keberbedaan dengan "aku" yang lain (sebagaimana Dindien merasa berbeda dengan Setyo). --- Oh ya, sebagai salah satu rujukan yang bagus tentang masalah ini adalah karya Sachiko Murata, The Tao of Islam, di Indonesia diterbitkan Mizan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, sesosok aku (sang manusia), memiliki beberapa perangkat jasmani yang mencerminkan keberadaannya sebagai makhluk bumi: antara lain itu adalah panca indera (mata, telinga, dll)...termasuk juga otak....Pada dimensi ini, kelebihan manusia dibandingkan hewan adalah bahwa perangkat mereka lebih canggih...khususnya berkenaan dengan "Otak"...(karena otak manusia lebih berat, dan lebih rumit instrumennya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang aku, atau nafs...pada prakteknya bisa memanfaatkan perangkat2 yang dimiliki itu untuk menemukan Kebenaran. Jika ia menggunakan panca indera, maka pendekatannya disebut dengan pendekatan empirik. Jika ia memanfaatkan fungsi otak, yaitu akal, atau rasio, maka ia menggunakan pendekatan rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sang aku juga bisa mempergunakan hati nuraninya, yang merupakan salah satu pengejawantahan dari keberadaan Ruh yang Suci di dalam diri manusia. Mereka yang terlatih mempergunakan instrumen ini, biasa disebut dengan mereka yang melakukan pendekatan secara intuitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran yang bisa dihasilkan oleh panca indera, terbatas oleh daya jangkaunya...ia hanya bisa menentukan kebenaran pada lapisan paling luar dari sebuah fenomena (yaitu sejauh yang bisa dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan seterusnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kebenaran rasional, tergantung dari sejauh mana seseorang bisa menyelaraskan pikirannya dengan prinsip-prinsip rasional, yang antara lain dirumuskan oleh guru kaum rasional, yaitu Aristoteles, yang di kalangan Muslimin, diikuti dengan setia oleh Ibnu Rusyd dan kaum filsuf pengikutnya. Namun, sekalipun pendekatan ini sangat membantu umat manusia untuk bisa menyingkirkan berbagai mitologi yang menyesatkan, ia sesungguhnya tidak bisa "berbicara" tentang kebenaran yang berada di balik hijab fenomena..selain hanya bisa menduga-duga (berspekulasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut hal-hal yang tidak bisa dicerna oleh pancaindera dan hanya bisa diduga-duga oleh akal/rasio, berperanlah hati nurani, atau ain al-basyirah (matahati). Ialah sumber dari Kebenaran...dalam rumusan Imam Al Ghozali, ia disebut juga dengan dzauq. Dan sesungguhnya, hatinurani tidak pernah salah...matahati tidak pernah keliru...karena ia merupakan manifestasi dari Al-Haqq itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hanya sedikit mereka yang bisa berpegang atau berhubungan dengan hati nuraninya..yaitu hanya mereka yang mau bersikap jujur dan telah terbiasa menundukkan hawanafsu mereka, sehingga sang jiwa bisa menjadi bening, dan cahaya nuranipun bisa menyembul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan paparan di atas, apa yang disebut dengan wahyu, adalah “buah” dari relasi seorang Muhammad dengan Sukma Sejati atau Ruh Al-Quds di dalam dirinya, melalui pintu gerbang hati nurani atau ayn al-basyirahnya. Dan itu bisa terjadi, setelah Nabi Muhammad bertahanutsdi Gua Hira…dan tahanuts ini, hakikatnya adalah proses pensucian jiwa, pembeningan diri dari segala ilusi pikiran dan panca indera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyu yang diterima Nabi Muhammad, bagi Muhammad sendiri, adalah sebuah “Kebenaran Mutlak”….karena itulah bimbingan Ilahi kepadanya. Kebenaran mutlak ini, tentu saja hanya Nabi Muhammad sendiri yang memahaminya secara utuh…karena itu memang merupakan hasil dari pengalaman bathinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaanya, ketika wahyu yang semula ada di dalam hati seorang Nabi Muhammad itu disampaikan kepada manusia lainnya….apakah tingkat kebenarannya masih setara dengan yang semula dipahami hanya oleh Nabi Muhammad sendiri? Begini maksud saya….ketika Nabi berbicara tentang surga, tentang neraka, tentang malaikat, tentang Allah, apakah yang kemudian tertuturkan melalui lisan sang Nabi itu, benar-benar merepresentasikan kebenaran yang sebetulnya muncul secara intuitif di dalam dirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ketika ada yang mendengar wahyu yang tertuturkan itu….apakah otomatis, ia bisa memaknainya persis sama dengan yang dimaknai sang nabi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik inilah, kita harus jujur, bahwa wahyu yang pada diri nabi merupakan sebuah kebenaran intuitif yang mutlak nilai kebenarannya, bagi diri kita, telah “turun” derajatnya menjadi sekadar “dilalah” (petunjuk) atau “ayat” (tanda-tanda) terhadap Kebenaran itu sendiri. Nah, ketika kita coba memaknainya, tingkat kebenaran yang bisa kita hasilkan, sungguh tergantung dari pendekatan yang kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh manusia hanya menggunakan tradisi tafsir konvensional, maka pendekatan yang dilakukan tak lebih dari pendekatan empirik (atau lebih bertumpu pada pancaindera). Pada titik ini, yang dipentingkan adalah soal sanad atau kesahihan riwayat…untuk memastikan bahwa kata-kata yang didengar oleh seseorang itu adalah benar-benar telah ada yang mengatakannya. Nah, pemaknaan yang biasa dilakukan oleh seorang Muslim terhadap wahyu, biasanya memang berupa “katanya…” yang diwariskan secara turun temurun, dari generasi ke generasi…..Misalkan…menyangkut ayat tentang surga dan neraka..maka makna dari kata-kata itu yang kemudian diyakini sebagai kebenaran, pada faktanya adalah “makna” yang ditangkap seseorang pada masa lalu (entah sahabat, atau ulama, atau siapapun) yang kemudian disampaikan lewat sanad atau periwayatan tertentu..hingga sampai pada kita sekarang. Sesungguhnya, dengan pendekatan ini, kita tak bisa menangkap kebenaran yang hakiki, karena kita hanya tahu “katanya” tanpa kita sendiri pernah memverifikasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika kita mempergunakan pendekatan rasional, wahyu itu akan dimaknai sedemikian rupa, sehingga munculllah ta’wil rasional yang bisa jadi berbeda dengan apa yang diyakini kebanyakan umat yang masih berpegang pada “kata-kata orang terdahulu”…Maka, misalnya, muncullah pemahaman bahwa neraka itu tak lebih dari keadaan penuh penderitaan yang sebetulnya sudah ada pada saat ini, demikian pula surga sebagai keadaan bahagia yang juga sudah dirasakan pada saat ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mempergunakan pendekatan empirik..jelas kita mudah untuk tersesat...karena pertama, pendekatan ini hanya mengantarkan kita mengenali kebenaran pada lapisan permukaan, dan kedua, tafsir kita terhadap apa yang kita dengar dan kita lihat bisa saja disimpangkan oleh hawa nafsu sendiri. Demikian juga jika kita mempergunakan rasio kita...kita bisa mudah tergelincir, ketika rasio kita dipengaruhi oleh syahwat kita (sehingga ada istilah satu kepala satu pikiran, lain kepada lain pikiran..ini adalah pikiran yang sudah dipengaruhi ego sehingga setiap orang bisa berpikir berbeda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu…ada juga pihak yang mencoba masuk ke dalam relung bathin mereka, berdialog dengan hati nurani bahkan ruhul quds yang ada di dalam diri mereka.. Dalam hal memaknai sebuah ayat atau sekalimat wahyu…..mereka juga mempergunakan metode yang dipergunakan oleh Nabi Muhammad sendiri dalam “memproduksi” wahyu…Maka, makna yang didapat sebetulnya identik dengan wahyu itu sendiri….Hanya, dalam tradisi Islam, ia dihaluskan menjadi sekadar ilham (padahal hakikatnya dan sumbernya sama dengan wahyu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah hanya mereka yang ber-KTP Islam yang bisa berdialog dengan ruh al-quds atau sukma sejatinya? Pada faktanya, jelas semua orang bisa melakukannya, apapun agama yang tertera di KTP-nya. Jalan untuk sampai pada titik inilah yang dalam khazanah agama timur disebut dengan meditasi. Dalam khazanah kebudayaan Jawa ia disebut dengan semedi + laku prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun berbeda-beda wujud lahiriahnya, sebetulnya meditasi yang dilakukan oleh orang dari berbagai tradisi keagamaan dan spritual memiliki kesamaan prinsip: Pertama, ia adalah kegiatan untuk memasuki alam hening, untuk bisa bertemu dengan Sang Guru Sejati di dalam diri; Kedua, meditasi itu harus juga mewujud dalam kehidupan sehari-hari..sehingga hidup dan perilaku kita sendiri sudah merupakan meditasi (karena selalu dilandasi oleh kesadaran akan kehadiran-Nya, atau meminjam istilah Jawa, karena selalu dilandasi sikap eling lan waspada…kalau orang Islam menyebutnya, selalu berdzikir…).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun yang menjalankan prinsip-prinsip di atas, pasti ia akan sampai pada kebenaran..ia akan menerima “wahyu” yang hakikatnya adalah “Cahaya Ilahi” yang disinarkan kepada hati manusia! Maka, kita bisa menyaksikan, para spiritualis dari berbagai agama, maupun yang berbeda agama, bisa berdampingan secara harmoni..dan bahasanya saling selaras..karena mereka telah sama-sama ada dalam Limpahan Cahaya-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu yang bisa saya jelaskan…Salam!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-6586003565062417248?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/6586003565062417248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=6586003565062417248' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/6586003565062417248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/6586003565062417248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/06/sembahyang-meditasi-hasilnya-adalah.html' title='SEMBAHYANG = MEDITASI (HASILNYA ADALAH WAHYU)'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-5789713882282962057</id><published>2010-06-09T05:14:00.000-07:00</published><updated>2010-06-09T05:15:27.295-07:00</updated><title type='text'>TENTANG SEMBAHYANG</title><content type='html'>Sembahyang yang dilakukan oleh kaum Muslimin itu benar-benar merupakan sembahyang yang tata caranya merupakan petunjuk Tuhan, sementara cara sembahyang yang lainnya bukan merupakan petunjuk Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban saya adalah: Saya setuju dengan pendapat bahwa tatacara sembahyang kaum Muslimin (yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dan di dalamnya ada rukuk dan sujud) memang didasarkan pada petunjuk Tuhan. Mengapa saya bisa berkata demikian? Karena saya sudah membuktikan langsung…bahwa jika kita sungguh2 menjalankan sembahyang yang demikian, kita akan betul2 merasakan kehadiran Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, sekaligus Maha Lembut. Ya, saya bersaksi, bahwa dengan sembahyang dengan tatacara yang diajarkan guru ngaji saya sejak kecil, plus dengan penghayatan yang maksimal, saya betul2 bisa merasakan kenikmatan ruhaniah, saya betul-betul bisa merasakan suasana asyik masyuk bercengkerama dengan Sang Kekasih, Allah Yang Maha Agung itu….dengan kata lain, saya sudah buktikan bahwa sembahyang ala kaum Muslimin, atau shalat, memang merupakan wasilah untuk mengalami mi’raj (kenaikan ruhani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saat yang sama, saya juga menyaksikan dengan jelas…bahwa sebagian besar kaum Muslimin melaksanakan shalat atau sembahyang itu semata-mata karena merasa bahwa itu adalah kewajiban….mereka terpaksa saat melakukannya, karena takut masuk neraka…dan kasihan sekali…shalat berkali-kali, mereka tak bisa menikmatinya. Lebih dari itu, apa yang dibaca ketika shalat, juga tak terwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka membaca takbir..tapi dalam kenyataan sehari-hari yang mereka besarkan adalah ego mereka, kepentingan mereka. Mereka berkata Kuhadapkan wajahku hanya kepada wajah Allah..tapi mereka tak sadar bahwa Allah selalu hadir lewat berbagai ciptaan-Nya, dan mereka juga tak bisa menjaga agar Allah tetap menjadi kiblat hati mereka. Sebaliknya, kiblat hati mereka adalah tahta, harta dan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, shalat tidak banyak memberi maslahat kepada sebagian kaum Muslimin: ya..kita shalat dan tetap korupsi..kita shalat dan tetap saling bertikai untuk alasan2 yang sepele..kita shalat dan tetap merusak hutan…kita shalat dan tetap tak bisa hidup bahagia, tak bisa hidup tenteram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi…..yang penting bagi kita semua untuk direnungkan adalah, apakah selama ini shalat kita sudah betul2 membuat kita “bertemu” dengan Gusti Allah…lalu membuat kita bisa “takhaluq bi akhlaqillah”?&lt;br /&gt;Atau, jangan-jangan, kita masih tergolong ke dalam kaum yang disebut Allah, ….”fawailul lil musholin”..maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat…..&lt;br /&gt;(Saya sungguh berdoa…semoga kita semua yang melaksanakan shalat…betul-betul bisa menjadi kekasih Allah…).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, saya menjawab dengan tegas…bahwa berdustalah mereka yang mengatakan bahwa hanya sembahyang ala kaum Musliminlah yang sesuai dengan petunjuk Allah!&lt;br /&gt;Apakah panjenengan tahu apa yang disebut dengan petunjuk Allah? Apakah panjenengan tahu apa yang dimaksud dengan Allah? Apakah panjenengan membayangkan Gusti Allah itu adalah sosok yang hanya bisa berbahasa Arab, yang hanya memilih berkomunikasi dengan salah seorang makhluk-Nya yang ada di Arab, dan tidak berkenan memberi petunjuk kepada makhluk-Nya yang ada di tempat lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah itu sendiri tak lebih dari konsep manusiawi tentang Tuhan yang tak bisa didefinisikan….Sungguh, kata itu bukanlah Tuhan yang sesungguhnya…karena Dia yang sesungguhnya…laisa kamitslihi syaiun…Dia tak seperti apapun, termasuk apa yang kita bayangkan, bahkan sesungguhnya Dia tak bisa disebut dengan kata Dia…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pula kita bisa membatasi wujud yang tanpa batas? Bagaimana kita mengklaim sebagai pemilik tunggal wujud yang kita sendiri tak ketahui keberadaan-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa kita lakukan adalah sekadar mengagapai-gapai, menjemput secercah cahaya untuk bisa mengenal dan merasakan kehadiran-Nya. Dan kalau kita percaya bahwa Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang sekaligus Maha Adil…salah satu konsekuensinya adalah Dia tak pilih kasih dalam memberi petunjuk! Dia memberi petunjuk kepada orang Jawa, kepada orang Papua, kepada orang Indian, kepada orang Eskimo, sebagaimana juga kepada orang Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan, atau pintu Dia yang Maha Misteri itu memberi petunjuk adalah melalui hati nurani manusia…yang menjadi perantara antara manusia dengan ruh-Nya yang ada di dalam diri manusia…dan ingatlah bahwa semua manusia…baik orang Arab, maupun orang Eskimo, Jawa, Papua, dan lainnya…diberi keistimewaan yang sama: Memiliki Ruh yang Dia tiupkan …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sesungguhnya….jika ada orang India, dalam hal ini sang Budha..menemukan petunjuk bagaimana cara sembahyang kepada-Nya…benarlah cara sembahyang itu…&lt;br /&gt;Jika para empu di Jawa menemukan cara sembahyang kepada-Nya..maka juga benarlah cara sembahyang itu…&lt;br /&gt;Sebagaimana jika seorang Muhammad, merasa mendapatkan petunjuk tentang tata cara sembahyang, maka benarlah juga ia…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cobalah, sebelum mata hati panjenengan benar-benar hidup, cukuplah dengan panca indera…lihatlah…apakah kebahagiaan, ketenteraman, dan perilaku mulia, itu hanya bisa ditampilkan oleh mereka yang bersembahyang ala Muhammad? Lihatlah, perhatikanlah, tetapi dengan kejujuran, maka panjenengan akan temukan bahwa itu semua juga adalah milik mereka yang bisa jadi baju agamanya Budha, Kejawen, Hindu, Katholik dan lainnya….(dan merekalah yang benar-benar telah bersembahyang..bukan saja pada tataran raga, tapi juga pada tataran jiwa dan sukma…!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada di antara panjenengan yang belum juga bisa memahami penjelasan ini, ya mboten napa2…tapi, sebagai orang yang (kemungkinan besar) pernah mengalami fase atau telah menyinggahi stasiun perjalanan ruhani seperti yang panjenengan saat ini alami dan singgahi…saya katakan dengan penuh cinta: perjalanan panjenengan masih jauh dari kata sampai….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu panjenengan masih jauh dari sempurna…! Karena itu..tak perlu merasa telah berada di jalan kebenaran….lha wong panjenengan itu, sungguh, belum tahu kok, apa itu Kebenaran!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-5789713882282962057?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/5789713882282962057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=5789713882282962057' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/5789713882282962057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/5789713882282962057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/06/tentang-sembahyang.html' title='TENTANG SEMBAHYANG'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-9208179792931613426</id><published>2010-06-09T05:12:00.000-07:00</published><updated>2010-06-09T05:14:40.487-07:00</updated><title type='text'>SAPAAN SANG KEKASIH</title><content type='html'>Saat mendung menggelayuti hatiku, Sang Kekasih berkata: "Duhai, kenapa Engkau biarkan hidup menjadi demikian muram? Bukankah sudah Kuhamparkan Wajah-Ku yang demikian indah? Bukankah di hadapanmu bisa engkau saksikan segenap keagungan yang semestinya membuat hatimu terpesona?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, terbakarlah hatiku. Berkilauan cahaya menerpa diri ini. Birunya langit, keanggunan Gunung Ciremai dengan warna hijau yang mempesona...juga hamparan padi yang mulai menguning di sekelilingku..membuat Keindahan Sang Kekasih menjadi demikian nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat diriku gundah gulana memikirkan kesulitan hidup, Sang Kekasihpun dengan segera menyapa: "Apa yang engkau khawatirkan? Bukankah Keagungan-Ku meliputimu? Bukankah Aku yang maha kaya ada bersamamu? Bukankah Aku ini welas asih dan tak akan pernah membiarkanmu dalam kenistaan? Bangunlah! Lakukan saja apa yang menjadi tugasmu, dan biarkanlah Aku yang menjamin hidupmu! Kuberikan semua yang engkau butuhkan, Kucukupkan semua yang engkau perlukan. Apa yang kau lakukan hanya satu: Jalankan semua tugasmu dengan sepenuh hati, dengan cinta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka akupun bangkit dengan energi yang berlipat. Kubalas segenap kebaikan Sang Kekasih, dengan mengukir karya terbaik dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di hadapanku hadir sosok yang tanpa alasan jelas membenciku dan menampakkan kebengisannya, Sang Kekasihpun berbisik: " Duhai, buatlah hatimu lapang bagai samudera. Jangan biarkan apapun merusak kedamaian hatimu. Kasihanilah dia yang terjebak dalam amarah dan benci! Sayangilah dia yang tak kuasa menaklukkan hawa nafsunya sendiri! Ya, sayangilah bahkan mereka yang membenci dan ingin mencelakakanmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dihatikupun terbit cinta kepada mereka yang menebar benci. Hatiku menerima amarah dengan percikan air bening yang mendinginkan. Damai. Tentram. Abadi. Karena Cinta Sang Kekasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-9208179792931613426?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/9208179792931613426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=9208179792931613426' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/9208179792931613426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/9208179792931613426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/06/sapaan-sang-kekasih.html' title='SAPAAN SANG KEKASIH'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-714535056422774879</id><published>2010-06-09T05:11:00.000-07:00</published><updated>2010-06-09T05:12:36.935-07:00</updated><title type='text'>DIALOG AKU DAN NURANI</title><content type='html'>Aku:Mengapa orang mesti beragama?&lt;br /&gt;Nurani: Siapa yang mengatakan mesti?&lt;br /&gt;Aku: Sejak kecil aku dinasehati untuk menjadi orang yang taat beragama, karena hanya dengan demikian orang akan masuk surga. Lebih khusus, lagi, aku juga diajari bahwa hanya yang memeluk Islam yang bakal masuk surga.&lt;br /&gt;Nurani: He, he...dan engkaupun percaya?&lt;br /&gt;Aku: Mau tidak mau, karena hanya dengan begitu aku bisa masuk surga. Siapa yang tak ingin masuk surga?&lt;br /&gt;Nurani: Lantas, apa yang kau maksud dengan surga?&lt;br /&gt;Aku: Menurut berita yang kuterima, itu adalah sebuah tempat yang teramat indah, yang didalamnya ada kebun yang indah, sungai mengalir di bawahnya, dan yang paling menarik..ada bidadari-bidadari yang teramat cantik...&lt;br /&gt;Nurani: Ooooo....jadi engkau berjuang menjadi pemeluk agama yang taat agar bisa menikmati semua itu?&lt;br /&gt;Aku: Ya, kurang lebih begitu....&lt;br /&gt;Nurani: Bagaimana jika semua itu tak ada? Apakah engkau masih akan taat beragama?&lt;br /&gt;Aku: Aku belum memikirkannya....&lt;br /&gt;Nurani: Ternyata...engkau itu pribadi yang tak ikhlash..kau berbuat sesuatu karena ada maunya...&lt;br /&gt;Aku: Bukan begitu...aku hanya mengikuti apa yang diajarkan kepadaku....&lt;br /&gt;Nurani: He, he...kini engkau berkilah......Tapi baiklah...apakah yang mengajarkanmu demikian, pernah melihat surga? Apakah mereka tahu pasti bahwa surga itu ada?&lt;br /&gt;Aku: Aku tak yakin..yang kutahu..mereka mengatakan surga itu ada karena itulah yang dikatakan Kitab Suci...&lt;br /&gt;Nurani: Oh..jadi, diapun belum pernah tahu dan melihat sendiri.....&lt;br /&gt;Aku: Lalu apa salahnya..bukankah yang dikatakan Kitab Suci itu pasti benar?&lt;br /&gt;Nurani: Yang bilang salah siapa? Aku hanya ingin tanya, apakah pemahamanmu, dan pemahaman orang-orang yang mengajarimu tentang yang dikatakan di dalam Kitab Suci itu pasti benar?&lt;br /&gt;Aku: Kalau boleh jujur, kemungkinannya bisa benar ya bisa salah...&lt;br /&gt;Nurani: Lalu, apa yang bisa menjadi tolak ukur bahwa pemahaman itu benar atau salah...&lt;br /&gt;Aku: Bukankah..pemahaman terhadap Kitab Suci itu sudah baku? Bukankah semua ulama memahami bahwa memang surga itu seperti yang dikatakan di dalam kitab suci, dan bahwa itu hanya diperuntukkan bagi orang Islam?&lt;br /&gt;Nurani: Itulah masalahnya....kamu menganggap sesuatu yang cuma merupakan pemahaman, persepsi, hasil olah pikiran, sebagai sebuah kebenaran yang mutlak dan baku...&lt;br /&gt;Aku: Lalu...bagaimana semestinya...?&lt;br /&gt;Nurani: Mari kita bicara tentang sebuah samudera. Menurutmu, bagaimana caranya agar kita bisa tahu tentang samudera itu? Apakah kita sudah punya alat untuk mengetahuinya?&lt;br /&gt;Aku: Dengan mataku, aku bisa melihat permukaan samudera yang biru...kadang aku bisa melihat kapal berlayar di permukaan samudera itu...&lt;br /&gt;Nurani: Baik...lalu apa yang ada di balik permukaan samudera itu? Ada apa di kedalamannya?&lt;br /&gt;Aku: Aku bisa menduga-duga dengan pikiranku..mungkin di dalamnya banyak ikan...mungkin juga ada terumbu karang..atau barangkali ada kapal selam....&lt;br /&gt;Nurani: Apakah pasti demikian yang ada di dalam samudera?&lt;br /&gt;Aku: Ya belum tentu.....&lt;br /&gt;Nurani: Satu2nya cara untuk mengetahui apa yang sesungguhnya ada di dalam samudera itu kamu harus menyelam..kamu harus masuk ke kedalaman....&lt;br /&gt;Aku: Tentu saja...&lt;br /&gt;Nurani: Lalu, bagaimana caranya agar kamu bisa tahu hakikat surga?&lt;br /&gt;Aku: Pertama, aku sekadar mempercayai apa yang dikatakan oleh orang yang menurutku pintar...Kedua, aku gunakan akalku untuk menduga-duga seperti apa surga itu...Tapi, jelas, aku memang tak akan tahu banyak tentang surga jika begitu...Yang paling mungkin membuat aku tahu kebenaran surga..ya aku harus masuk dulu ke situ..aku harus menyaksikannya langsung....&lt;br /&gt;Nurani: Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukannya?&lt;br /&gt;Aku: Bukankah itu tak perlu? Bukankah sudah ada kitab suci? Bukankah sudah ada ulama yang membimbing kita?&lt;br /&gt;Nurani: Kalau kau tak lakukan, kau tak akan pernah tahu kebenaran sesungguhnya...kau hanya akan terus dalam praduga, prasangka....bahkan sejatinya, kau juga tak akan tahu apakah yang selama ini kau yakini, yang kau terima sebagai ajaran dari sekian banyak orang yang kau anggap pandai itu, benar atau salah....&lt;br /&gt;Aku: Kamu benar.....tapi mungkinkah?&lt;br /&gt;Nurani: Di dalam dirimu...sesungguhnya ada pintu gerbang untuk mengetahui hakikat kebenaran yang selama ini tersembunyi?&lt;br /&gt;Aku: Aku tak pernah mendengar hal itu...&lt;br /&gt;Nurani: Ha..ha...ha....&lt;br /&gt;Aku: Mengapa tertawa..&lt;br /&gt;Nurani: Kau naif sekali...Kau yakin sekali sebagai pemilik tunggal surga, tapi hal sepele begitupun kau tak tahu...&lt;br /&gt;Aku: Ajari aku....aku sadar bahwa aku memang naif..&lt;br /&gt;Nurani: Untuk bisa menemukan gerbang itu..kau harus melakukan banyak hal: kau harus singkirkan kedengkian, amarah, keserakahan, dan berbagai keburukan lainnya dari dalam hatimu...&lt;br /&gt;Lalu, kau sering-seringlah memasuki alam keheningan..buat pikiranmu diam sejenak..biarkan dirimu berhubungan dengan suara di dalam hatimu...Berikutnya...kau harus berbuat baik kepada semua yang ada di sekitarmu...termasuk kepada pepohonan, bebatuan, langit, penghuni langit, tetangga, leluhur, dan semuanya...&lt;br /&gt;Aku: Berat sekali....&lt;br /&gt;Nurani: Ha, ha..begitu saja berat kok yakin jadi pemilik surga....&lt;br /&gt;Aku: Maaf...&lt;br /&gt;Nurani: Kini terserah padamu...maukah engkau mengikuti nasihatmu, dan kelak akan terbuka sedikit demi sedikit kebenaran sejati. Atau kau mau tetap ada dalam keyakinan kosong....&lt;br /&gt;Aku: Beri waktu padaku untuk berpikir......&lt;br /&gt;Nurani: Ya..bagus...berpikirlah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-714535056422774879?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/714535056422774879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=714535056422774879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/714535056422774879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/714535056422774879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/06/dialog-aku-dan-nurani.html' title='DIALOG AKU DAN NURANI'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-6057311237908598960</id><published>2010-05-20T21:03:00.001-07:00</published><updated>2010-05-20T21:03:47.626-07:00</updated><title type='text'>PERINGATAN AGAR TAK TERGELINCIR DALAM AGAMA</title><content type='html'>"Semua agama, seperti para teolog dan pengikut mereka memahami kata itu, adalah sesuatu yang lain dari apa yang diperkirakan orang. Agama adalah sebuah kendaraan. Ekspresinya, ritualnya, moralnya, dan ajarannya yang lain dirancang untuk menimbulkan pengaruh tertentu yang memperbaiki, pada waktu tertentu, komunitas tertentu.&lt;br /&gt;Sahabat, berikut ini saya sampaikan dua nasihat dari dua orang arif yang pernah hidup di muka bumi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...agama dilembagakan sebagai sebuah alat mendekati kebenaran. Bagi mereka yang berpikir dangkal, alat selalu menjadi tujuan, dan kendaraan menjadi berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya orang-orang yang bijak, bukan orang yang beragama atau berpengetahuan, yang dapat membuat kendaraan itu bergerak lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fariduddin Attar, Sufi dari Nishapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akan tiba waktunya bagi umatku, ketika tidak ada yang tersisa dari Al-Qur'an kecuali bentuk luarnya dan tidak ada Islam kecuali namanya dan mereka akan memanggil diri mereka dengan nama tersebut walau mereka adalah umat yang paling jauh dari itu. Mesjid mereka akan penuh dengan jamaah tapi kosong dari petunjuk. Para pemimpin agama (fuqoha) masa itu merupakan para pemimpin agama paling jahat di bawah langit, kemungkaran dan perselisihan akan muncul dari mereka dan kepada mereka semua itu akan dikembalikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidina Ali dalam Bihar al-Anwar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHD&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8510708488456870830-6057311237908598960?l=setyochannel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setyochannel.blogspot.com/feeds/6057311237908598960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8510708488456870830&amp;postID=6057311237908598960' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/6057311237908598960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8510708488456870830/posts/default/6057311237908598960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setyochannel.blogspot.com/2010/05/peringatan-agar-tak-tergelincir-dalam.html' title='PERINGATAN AGAR TAK TERGELINCIR DALAM AGAMA'/><author><name>Setyo Hajar Dewantoro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10846368552905237163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-QC2xe8XuQx8/TohwVBXXNEI/AAAAAAAAAII/dpdpbT1-U10/s220/shd.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8510708488456870830.post-6771292760311431476</id><published>2010-05-20T21:02:00.001-07:00</published><updated>2010-05-20T21:02:53.222-07:00</updated><title type='text'>TANDA-TANDA PENCERAHAN</title><content type='html'>Seorang pencari kebenaran sejati, niscaya akan terus menerus melakukan penziarahan ruhani, hingga hadirlah pencerahan..sebuah momen transformasi jiwa yang kian mendekatkan diri ini dengan Kebenaran Hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah tanda-tanda seseorang mengalami pencerahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator yang paling penting apakah penziarahan itu telah melahirkan pencerahan adalah; Apakah kita semakin bahagia? Apakah panjenengan semakin rendah hati dalam memandang kasunyatan (kebenaran sejati)? Apakah kita semakin memiliki daya kasih sayang yang semakin meluap kepada segenap titah dan seluruh makhluk? Apakah relasi dengan diri sendiri semakin akrab? Apakah “spirit” itu memiliki daya lecut untuk meningkatkan pencapaian diri dan memotivasi kesadaran evolusi? Apakah pencerahan itu menerangi bentang pandang kita dalam membaca setiap gejala? Dan yang paling mendasar adalah: Apakah pencerahan itu memotivasi kita untuk menjalankan “peran kesucian” di tengah kepalsuan, ketemaraman dan berbagai ilusi-ilusi kekuasaan materialisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut Anda?&lt;br /&gt;SHD&lt;div class="bl
